"I will stay alive, prying for myself!"
Doa yang banyak dilangitkan oleh makhluk bumi, juga doa yang menghisap mereka pada dunia baru.
Jika setiap doa bisa menjadi kenyataan, akankah ia membawa kebahagiaan?
Selamat datang di The World of Prayer. Dunia di mana setiap doa akan menjadi kenyataan.
Doa yang hanya bisa terucap sekali seumur hidup, jadi perhatikanlah doamu.
"Aku cinta kamu, Sun! Jadilah pacarku!"
Ungkap rombongan laki-laki, yang mengerubungi Sun–gadis yang digadang-gadang sebagai primadona kampus.
Ada yang melayangkan buket bunga, cincin berlian, bahkan tumpukan uang dan kartu padanya.
Sun menatap semuanya dengan kilatan biru dingin di matanya.
Bibirnya yang terlukis tahi lalat pemanis di bawahnya, sedikit menegang.
"Kenapa?"
"Karena kamu cantik!"
"Tubuhmu indah!"
"Mata coklatmu jernih!"
"Rambutmu membawa aroma kehidupan, Sun!"
"Senyumanmu, bagaikan mentari terbit!"
Berbagai jawaban dari rombongan laki-laki itu, hanya membawa sesak pada dada Sun.
Bagaimana tidak!? Mereka hanya menyebutkan bagian eksternal dari dirinya!
Rasanya seperti, ia hanya dilihat sebagai boneka hidup oleh mereka.
Senyuman Sun tampak sinis.
"No, thanks." tolaknya, tegas.
Seketika, para lelaki itu tampak muram secara serempak.
Setiap barang yang tadinya hendak diberikan, lenyap begitu saja.
Sun melanjutkan langkahnya mencari tempat makan siang.
Angin membelai setiap helai rambut hitamnya yang hanya sebatas telinga.
Diremasnya dengan erat ujung rok yang sebatas lutut.
"Menyebalkan!" gumamnya, pelan.
"Ini sudah tahun ke berapa, aku mendapatkan alasan cinta yang mengerikan!?"
"Dikira, perempuan waras mana yang suka mendengarnya!"
Ia terus menggerutu di sepanjang jalan, menyusuri pepohonan di sekitar kampus, seraya mengingat fakta akan dirinya.
Fakta bahwa sedari lahir, ia sudah diberikan doa agar hidupnya dipenuhi cinta.
Siapapun yang melihatnya, akan jatuh cinta padanya.
Apakah doa tersebut adalah sebuah anugerah?
Sun berhenti sejenak memikirkannya, tatapannya tertuju pada genangan air di bawahnya.
Wajahnya terpendar dalam air tersebut.
Biasa saja, baginya. Datar, dan bagai tak bernyawa.
Ia mencoba tersenyum lebar, namun hanya membuatnya tampak seperti iblis.
Ia berdecak.
"Anugerah apanya!? Setiap cinta ini adalah kutukan!" serunya, meluapkan amarah.
Ia menyadari bahwa dirinya hanya hasil dari doa orang tuanya, yang dikabulkan oleh Tuhan.
Apakah ia bahagia? Untuk saat ini, tidak.
Kecuali jika ia bisa menambahkan doa yang benar-benar ia inginkan.
Namun seperti orang pada umumnya, ia takut untuk berdoa.
Mengingat hanya bisa melangitkan satu doa, ia ragu harapannya bukan yang terbaik untuk hidupnya.
Jadi ia hanya bisa hidup membawa doa dari kedua orang tuanya. Dan itu cukup menyiksa.
Sun melanjutkan langkahnya dengan berat, melompati genangan air di bawahnya.
Ditendangnya sekaleng minuman kosong di sekitarnya, penuh amarah.
"Aku hanya ingin cinta yang menerimaku apa adanya, dan melindungiku sepanjang masa!"
Tanpa ia sadari, telah terucap sebuah doa dari bibirnya.
Seketika, genangan air di belakangnya beriak, tampak bayangan misterius yang bukan miliknya.
Bayangan lelaki samar, dengan telinga rubah di atas rambut tebalnya. Menyeringai halus.
Sedangkan kaleng yang tadi Sun tendang, melambung.
Lalu berhenti beberapa detik, sebelum mengenai kepala pria yang berjalan cukup jauh di depannya.
"Aduh!" seru pria itu, memegangi kepalanya.
Sun terbelalak, sontak ia berlari mendekati pria tersebut.
"Maaf! Aku nggak sengaja!"
Ia membungkuk sopan, lalu mengambil kaleng yang tadi ditendangnya, hendak membuangnya ke tempat sampah.
Namun saat Sun kembali berdiri, matanya terpaku pada pria yang masih kesakitan dengan ekspresi elegan–menenangkan.
Angin berhembus di antara mereka, membawa aroma kesejukan di tengah teriknya sang mentari.
Rambut tebalnya yang berantakan, tatapannya yang teduh.
Sun sangat mengenali pria berparas tampan di hadapannya.
"Breeze?" suaranya pelan.
Terasa sensasi panas di pipinya, wajahnya berona merah.
Breeze adalah sosok pria yang tak begitu menonjol.
Tak ada perempuan yang mengenalnya, namun.
Sun sering melihatnya menyendiri di sudut taman kampus.
Sun mengetahui namanya, dari daftar kelas yang terpajang di mading kampus.
Mereka beda jurusan.
Sun di jurusan sastra bahasa, Breeze di jurusan musik.
Entah apa yang membuat Sun hanya bisa mengingat Breeze, di antara banyaknya laki-laki yang mengitarinya.
Di sisi lain, Breeze juga mengamati Sun lekat-lekat.
Seolah sedang mencari sesuatu darinya.
Pria itu sempat tersentak, hanya Sun yang mengetahui namanya meski ini kali pertama mereka bertatap muka.
Terputar juga bayangan samar, noda merah di kain putih, langit gelap yang retak.
Ia menyadari satu hal–Sun adalah gadis yang diramalkan.
Breeze buru-buru membuang muka, mengalihkan pandangannya.
"Jika sudah tahu namaku, cepat menyingkir!" usirnya, kasar.
"Eh?"
Sun tersentak polos, tak menyangka ada pria yang tidak terpikat olehnya.
Breeze menghela napas kasar.
"Buanglah kaleng itu, dan menyingkirlah dari hadapanku. Dasar cewek emosian!"
Untuk beberapa detik pertama, Sun mematuhi perintah kasar Breeze–bagaikan terhipnotis olehnya.
Namun saat Breeze mulai melanjutkan langkahnya, Sun menyadari satu hal–ia tertarik dengan pria dingin itu.
Sun berlari kecil menyusul Breeze yang belum terlalu jauh darinya.
Langkahnya terasa lebih ringan dari udara.
"Eh, tapi... Aku masih merasa bersalah! Perlu kubantu cek kepalamu? Masih sakit, kan?" ia mencari kesempatan.
Breeze menatapnya lebih dalam, namun datar. Kepalanya terasa pening.
"No, thanks!" tolaknya, dingin.
Detik itu juga, Sun membeku. Perasaannya campur aduk.
Kesal karena ditolak, juga tertantang untuk mengejarnya lebih jauh.
Breeze tak menghiraukan reaksinya, ia terus melangkah tenang ke tempat tujuannya–bangku taman dekat air mancur.
Namun Sun yang mulai bertekad, justru kian mengejarnya.
"Boleh aku duduk di situ?" pinta Sun, riang.
Ia menunjuk pada bangku beton kosong di sebelah Breeze.
Breeze menatapnya sinis.
"No, thanks!" tolaknya.
Sun menggembungkan pipinya manja.
"Tapi... Taman ini sudah penuh. Aku nggak tahu mau makan siang di mana lagi."
Breeze menatap lingkungan sekitarnya, dan memang bangku taman yang lain sudah terisi.
Ia akhirnya menghela napas pasrah, lalu sedikit bergeser.
Merasa diberikan izin, Sun duduk di sebelah Breeze dengan penuh semangat.
Namun ketika cukup dekat dengan Breeze, Sun merasakan ada kedamaian yang ia hiraukan.
"Namaku Sun." ia tersenyum manis.
"Udah tahu! Para bajingan itu sering menyebut namamu." balas Breeze, malas.
Sun kesal, mengingat para laki-laki hidung belang memang selalu mengejarnya.
Namun ia tak ingin larut dalam perasaan kesalnya.
Sun kembali menatap Breeze penuh binar.
"Mau tahu, gimana caranya aku tahu namamu?" tawarnya, ceria.
"No, thanks."
Sun memanyunkan bibirnya, mencari cara lain agar bisa menarik perhatiannya.
Ia membuka kotak bekalnya, lalu menyodorkannya pada Breeze.
"Ini aku yang masak sendiri, loh! Mau coba?"
Breeze melirik kotaknya sekilas.
Nasi goreng tanpa kecap, dengan telur dan sosis yang sudah dibentuk seperti taman bunga di tanah gersang.
Indah, rapi, aromanya juga nikmat.
Namun ia kembali fokus pada kotak bekal miliknya.
"No, thanks."
Tak menyerah di situ, Sun terus berusaha menarik perhatian Breeze.
"Breeze anak jurusan musik, ya? Aku jurusan sastra. Mau bikin musik pakai lirikku?"
"No, thanks."
Mereka tak sadar, ada seekor rubah hitam yang mengamati dari ranting pohon. Matanya menyala.
Berbagai penolakan, terus Breeze lontarkan.
Hingga berhari-hari, tak sedikitpun ia menghiraukan Sun dengan ramah.
Sampai suatu ketika, Sun lelah terus bersikap ceria di hadapan Breeze.
Untuk pertama kalinya, ia menangis pilu di hadapan pria yang mencuri perhatiannya.
"Kenapa kau selalu menolakku?"
"Apa ini karma, selalu menolak para bajingan?"
"Tapi, aku frustasi dikejar mereka!"
"Aku hanya butuh tempat aman!"
"Setidaknya... Sedikit saja, bersikap lembut padaku!"
Setiap makian bercampur permohonan, Sun tumpahkan.
Ia bersimpuh di hadapan Breeze yang sedang terduduk di taman.
Sun membenamkan wajahnya pada pangkuan Breeze, tanpa diizinkan.
Tubuhnya gemetar menahan segala perih di hatinya. Aura biru pekat menyelimutinya.
Breeze tertegun. Rasa prihatin menggerogoti hatinya.
Sejujurnya, ia ingin melindungi Sun dari apa yang ia lihat.
Ia tak ingin menghancurkan masa depannya, jika meneruskan rasa ini.
Cahaya putih, menuntun tangannya untuk mengusap lembut rambut Sun.
"Maaf." ucapnya pelan.
Sontak Sun mengangkat kepalanya, menatap Breeze dengan mata yang masih basah.
"Aku paham tentang segala hal yang kau rasakan, Sun."
Breeze menyeka air mata Sun dengan lembut, menatapnya penuh kasih.
"Jadi aku tak ingin menghancurkannya, lebih dari apa yang mereka berikan padamu."
Dada Sun terasa sesak mendengarnya, panas, seperti ada energi yang memaksa masuk.
Gadis itu menggeleng.
"Aku nggak ngerti." suaranya parau.
"Jika kau tak ingin menghancurkanku, harusnya kau tidak menolakku dong!?"
Breeze tersenyum samar, namun menenangkan–menghangatkan.
"Kau tak perlu mengerti. Rasakan saja."
Sejak hari itu, Breeze selalu mengikuti Sun kemanapun ia pergi.
Tak banyak sentuhan, hanya melangkah di sebelah Sun tanpa ekspresi.
Mendengarkan setiap cerita lucu darinya, menyicipi masakannya, berkolaborasi menciptakan musik bersamanya.
Tanpa banyak bicara, tanpa komentar. Hanya di sisinya sepanjang hari.
Setiap kali ada laki-laki hidung belang yang menggoda Sun, Breeze sigap berdiri di hadapan Sun.
Ia menatap tajam ke laki-laki itu, matanya merah menyala.
"Goda dia, jika mau lidahmu ku putuskan."
Setiap ada laki-laki yang hendak menyentuh Sun, Breeze menahan tangannya dalam hitungan detik.
Asap merah mengitari tangan Breeze.
"Sentuh dia, dan aku akan mematahkan tanganmu."
Bahkan, jika para laki-laki hanya memperhatikan tubuh Sun dengan sorot yang tak nyaman...
Breeze selalu menatap mereka dengan bringas.
"Mau kucolok mata kalian, huh!?"
Jujur saja, pada awalnya Sun terkejut melihat perubahan sikap Breeze.
Ia tak mengerti, mengapa pria dingin itu tiba-tiba peduli padanya.
Kepalanya hanya bisa menyimpulkan satu hal, mungkin ini adalah "rasakan" yang dimaksud oleh Breeze hari itu.
Lambat laun setiap perlindungan dari Breeze, menanamkan rasa yang lebih dalam pada hati Sun–rasa kedekatan yang spesial.
Hingga suatu hari di taman air mancur, Sun memutuskan untuk mengutarakannya.
"Kurasa, aku telah merasakan hal yang kau maksud, Breeze." ucapnya tiba-tiba.
Breeze menghentikan sejenak aktivitas makan siangnya.
"Aku mencintaimu, Breeze. Aku ingin hidup selamanya denganmu."
Detik itu juga, wajah Breeze memucat. Sendok terlepas dari genggamannya.
"Kenapa?" suaranya bergetar.
Sun terkejut, pertama kalinya ia melihat Breeze tampak ketakutan.
"Karena... kamu selalu melindungiku, dan menerimaku apa adanya." jawab Sun, polos.
"Kurasa kalau kita hidup bersama, semua kutukan ini akan berakhir?" lanjutnya, ragu.
Breeze menunduk, sorot matanya gemetar, tangannya meremas erat kotak bekal di pangkuannya.
Bayangan itu tampak lebih jelas. Vas bunga pecah bersama darah.
"No, thanks."
Sun terbelalak, dalam waktu yang cukup lama, baru kali ini ia mendengar kalimat itu lagi.
"Kenapa?"
"Karena bukan rasa itu yang ku maksud, Sun! Itu akan semakin menghancurkanmu!"
"Nggak logis."
"Dikira di dunia Prayer ini, ada yang logis!?" Breeze menyentak keras.
Kini Sun sedikit memahaminya, ia menyentuh hangat tangan Breeze.
Aura jingga mengitarinya.
"Begitu? Kau juga korban doa orang tuamu?"
Breeze menggeleng pelan.
"Mereka justru mendoakan cinta yang tulus padaku." jawabnya.
"Hanya satu perempuan, yang tidak tulus takkan mendekat." lanjutnya.
Sun memiringkan kepala.
"Lalu, apa yang kau takutkan?" cemasnya.
"Doaku sendiri."
"Doa apa?"
"Aku ingin bisa melihat masa depan, agar memahami perempuan mana yang tulus."
Sun menatapnya lebih serius.
"Dan yang kau lihat dari masa depan kita?"
Breeze tertawa hambar.
"No, thanks." tolaknya bercerita lebih jauh.
"Ayolah! Mungkin kita bisa cari jalan keluar!" desak Sun.
"No, thanks."
"Kau tak mencintaiku?" Sun kian cemas.
"Bukan begitu, aku tulus ingin melindungimu sepanjang hidup."
"Lalu, kenapa nggak mau cari jalan keluar?"
"Karena memang tak ada masa depan untuk kita!" Breeze menyentak lagi.
"Apa?"
"Kita takkan sempat hidup sampai menikah, Sun! Bencana akan membunuh kita!"
Akhirnya Breeze mampu menceritakan segalanya dengan jujur.
Kejujuran itu sempat membungkam suara Sun, nyaris tak mampu mempercayainya.
Namun dengan kesadaran penuh, Sun menarik kepala Breeze pada dadanya, membelai lembut rambut tebalnya.
"Tak apa, Breeze. Setidaknya sebelum itu, kita masih ada waktu untuk berbagi cinta."
Breeze seketika mengangkat kepalanya, menatap Sun dengan kosong–terkejut.
"Kau?"
Sun tersenyum hangat.
"Mari berbagi cinta, dan saling melindungi hingga ajal." ajaknya, riang.
"Kau ingin menikmati waktu selagi masih diberi napas?" Breeze menyimpulkan.
Sun mengangguk yakin.
"Hidup ini singkat, sayang jika hanya dihabiskan untuk takut pada kematian."
Breeze termenung.
Untuk pertama kalinya, ada perempuan yang menawarkan cahaya abadi, bagai mentari.
Ia perlahan mengangguk, untuk pertama kalinya bisa tersenyum lebar, amat riang.
Didekapnya Sun amat erat.
"Mari kita penuhi sisa hidup dengan cinta!" ajaknya.
Dari balik pohon di taman, ada bayangan pria bertelinga rubah yang mengamati mereka.
"Andai aku bisa menghentikan waktu." gumamnya, pelan.
Waktu berlalu, Sun dan Breeze kian akrab dan bahagia menikmati hidupnya.
Hingga hari pernikahan mereka, berjalan lancar, tanpa bencana mematikan.
Sebenarnya keduanya tak mengerti, mengapa takdir tak sesuai ramalan.
Namun mereka menganggapnya sebagai mukjizat, yang disyukuri.
Mungkin saat ini Tuhan berkata "No, thanks," pada maut mereka.
"Andai aku bisa menghentikan waktu." ucap pria rubah dari balik tembok berbunga.
"Takkan kubiarkan maut menyentuh sepasang kekasih itu." lanjutnya.
Pria setengah rubah pun, melenyap dari area pernikahan mereka.
Membawa buku berisi doa.
-GC Rumah Menulis-