Malam itu, dinginnya lantai sel tahanan lebih menusuk daripada AC mewah di penthouse mereka dulu. Bau apak dan anyir bercampur dengan bisikan-bisikan keputusasaan dari bilik sebelah, merobek sisa-sisa harga diri Raka dan Sheila yang sudah tercabik-cabik. Mereka, pasangan pengusaha dan influencer yang pernah bersinar terang di jagat maya, kini meringkuk di balik jeruji besi, membayar harga dari kegilaan mereka pada Bitcoin dan crypto.
Segalanya bermula dari obrolan remeh tentang "peluang cuan maksimal" di sebuah grup Telegram eksklusif. Raka, yang dasarnya memang ambisius, terbuai oleh grafik-grafik kenaikan harga yang fantastis dan cerita sukses fiktif yang dibagikan oleh admin grup. Ia mulai mengalihkan modal bisnis clothing-nya, menjual aset tak bergerak, bahkan nekat mengagunkan rumah dan kendaraan mewah mereka ke bank demi dana segar untuk "memborong" koin-koin digital yang dijanjikan akan to the moon.
"Mas, ini gila. Kita bisa rugi besar kalau semua uang kita masuk ke sini," Sheila sempat berujar, meski suaranya samar. Ia sendiri tergiur dengan gaya hidup para trader sultan yang sering memamerkan jet pribadi dan kapal pesiar hasil trading harian. Tekanan untuk terus up-to-date dengan gaya hidup mewah di media sosial membuat otaknya ikut tersumbat.
Namun, Raka sudah kalap. "Rugi itu hanya mitos bagi yang berani mengambil risiko, Sayang! Lihat itu Bitcoin, sudah di angka 60 ribu dollar per koin. Sebentar lagi pasti tembus seratus ribu. Ini kesempatan seumur hidup!"
Kegilaan Raka semakin menjadi-jadi. Ia tidak hanya menginvestasikan uangnya sendiri, tetapi juga memaksa orang tuanya untuk menjual kebun warisan, menjanjikan imbal hasil berlipat ganda dalam waktu singkat. Ia juga meyakinkan beberapa teman dekatnya untuk menitipkan modal kepadanya, percaya bahwa Raka—si pengusaha sukses—pasti tahu jalan menuju kekayaan.
Sheila, dengan pengaruhnya sebagai influencer, tidak tinggal diam. Ia mulai menerima tawaran endorsement dari berbagai proyek altcoin yang menjanjikan keuntungan absurd. Tanpa riset mendalam, ia mempromosikan token-token yang bahkan tidak memiliki whitepaper jelas, hanya bermodalkan hype di media sosial. Slogannya yang dulu "Hidup Cerdas, Investasi Digital" kini berubah menjadi "Cuan Instan, Tinggalkan Hidup Susah". Ribuan pengikutnya, yang sebagian besar adalah anak muda yang haus akan kekayaan cepat, berbondong-bondong mengikuti jejaknya.
Mereka berdua seperti kerasukan. Setiap menit, mata mereka tertuju pada grafik di layar, melihat angka-angka yang terus bergerak. Jika harga naik sedikit, euforia memenuhi ruangan. Jika harga turun, panik sesaat akan terjadi, namun selalu diredakan oleh keyakinan buta bahwa "ini hanya koreksi sesaat" atau "beli saat harga diskon". Mereka tidak lagi tidur, tidak lagi punya selera makan. Dunia mereka hanya berputar pada Bitcoin, Ethereum, Dogecoin, dan puluhan koin lain yang kini hanya tinggal nama.
Puncaknya adalah saat mereka mendengar kabar tentang sebuah proyek crypto baru yang menjanjikan keuntungan 1000% dalam seminggu. Tanpa berpikir panjang, Raka dan Sheila menginvestasikan seluruh sisa dana mereka, termasuk uang hasil penjualan kebun orang tua dan modal titipan teman-teman. Mereka bahkan meminjam uang dari rentenir dengan bunga mencekik, yakin bisa melunasinya dalam hitungan hari.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Kabar crash besar-besaran di pasar kripto datang seperti tsunami. Bitcoin dan altcoin lainnya anjlok hingga 80-90% dalam semalam. Proyek crypto yang mereka investasikan habis-habisan ternyata adalah skema rug pull—tipuan di mana pengembang menghilang dengan semua uang investor.
Raka dan Sheila panik. Mereka mencoba menjual aset mereka, namun harganya sudah menyentuh nol. Platform investasi yang mereka ikuti pun ikut menghilang, meninggalkan jutaan investor dengan kerugian total.
Telepon mereka tidak berhenti berdering. Bukan lagi tawaran endorsement atau ucapan selamat, melainkan makian dan ancaman. Orang tua Raka sakit keras setelah mengetahui uang pensiun mereka ludes. Teman-teman yang dulu menitipkan modal berubah menjadi musuh.
"Raka, kamu harus tanggung jawab! Uang warisan Bapakku semua di situ!" teriak seorang teman di depan rumah mereka.
Sheila, yang biasanya tampil anggun, kini hanya bisa menunduk. Komentar-komentar di media sosialnya, yang dulu pujian, kini berubah menjadi lautan caci maki. Foto-fotonya diedit menjadi meme yang mengejek. Reputasinya sebagai influencer hancur tak bersisa.
Tekanan kian tak tertahankan. Pihak bank mulai menyita aset-aset mereka. Rentenir mengancam. Dan yang paling parah, para korban—termasuk ribuan pengikut Sheila yang tergiur promosinya—mulai melaporkan mereka ke polisi atas tuduhan penipuan dan investasi bodong.
Raka dan Sheila ditangkap di rumah mereka yang sudah separuh kosong. Saat borgol terpasang di pergelangan tangan mereka, dunia terasa berputar. Mereka dibawa ke kantor polisi, diinterogasi selama berjam-jam, dihadapkan dengan bukti-bukti transfer dan promosi yang mereka lakukan.
Akhirnya, palu hakim diketuk. Mereka dinyatakan bersalah atas kasus penipuan investasi. Vonis lima tahun penjara, plus denda miliaran rupiah sebagai ganti rugi para korban.
Di dalam sel, Raka menyandarkan kepalanya ke dinding dingin. Wajahnya kurus, matanya cekung. Ia kehilangan segala-galanya: uang, reputasi, kebebasan. "Sheila, kita telah melewati batas," bisiknya parau. "Kita terlalu tamak. Kita terlalu barbar mengejar kekayaan yang bukan hak kita."
Sheila terisak, air matanya membasahi pipi. Ia mengenang kembali hidupnya. Pakaian mewah, tas branded, liburan ke luar negeri. Semua itu kini terasa seperti mimpi buruk. Ia merindukan masa ketika ia hanya perlu memikirkan konten sederhana, bukan angka-angka digital yang mematikan.
"Aku membenci kripto, Mas. Aku membenci diriku sendiri," katanya getir.
Raka hanya bisa menatap langit-langit sel yang kotor. Dulu, ia bermimpi terbang to the moon bersama Bitcoin. Kini, ia hanya bisa terbang dalam mimpi di balik jeruji, menuju titik terendah dalam hidupnya. Kabut kelabu akan menemani mereka selama lima tahun ke depan, sebuah penebusan dosa atas kegilaan brutal mereka dalam mengejar kekayaan instan. Kisah mereka akan menjadi pengingat pahit bagi siapa pun yang tergoda kilauan uang digital tanpa memahami risikonya.