Gerimis pagi yang tipis menusuk kulit, tapi sudah menjadi kawan akrab setiap kali jarum jam menunjuk angka lima. Udara masih sejuk, bahkan cenderung menggigit, saat aku—Bima, guru honorer dengan status “digantung” yang entah sampai kapan—menarik tuas choke motor bebek bututku. Bunyi mesinnya yang batuk-batuk sebelum akhirnya meraung, seolah ikut mengeluhkan nasib kami berdua. Mio sporty keluaran 2009 ini sudah menemaniku menembus kabut, menerjang lobang, dan mengarungi genangan air sepanjang 20 kilometer dari rumah petakku di pinggiran kota sampai ke gerbang SD Merah Putih 07. Kalau saja motor ini bisa bicara, mungkin ia akan berbisik, "Mas, kapan kita pensiun bareng?"
Jalanan yang masih sepi pagi itu memberiku waktu untuk melamun, menghirup aroma tanah basah dan bensin campur. Di balik helm yang kacanya buram, bayangan masa lalu seringkali muncul seperti pop-up iklan di layar ponsel. Enam tahun lalu, semangatku membara seperti api unggun. Lulusan terbaik pendidikan Sejarah, dengan IPK cum laude, dan segudang piagam penghargaan olimpiade. Orang tua bangga bukan main, tetangga menyanjung, bahkan adik-adikku menganggapku pahlawan. "Mas Bima kan pintar, pasti jadi guru PNS sukses!" begitu kata mereka. Aku mengangguk yakin waktu itu, dunia seolah berada dalam genggamanku, penuh warna cerah seperti sampul buku pelajaran anak SD.
Tapi realita, oh, realita. Ternyata ia punya selera humor yang gelap. Setelah berkali-kali mencoba tes CPNS dan P3K tanpa hasil, akhirnya aku diterima sebagai guru honorer paruh waktu di SD Merah Putih 07, sebuah sekolah pelosok yang kekurangan tenaga pengajar. Awalnya, status "paruh waktu" itu terdengar keren, seolah aku punya waktu luang untuk mengembangkan diri. Tapi kenyataannya, paruh waktu berarti gaji paruh hati.
Setibanya di sekolah, embun masih menempel di dedaunan mangga yang rindang di halaman. Beberapa anak sudah datang, bermain kejar-kejaran dengan tawa riang yang memecah kesunyutan. Mereka, para malaikat kecilku, adalah alasanku tetap bertahan. Senyum polos mereka, mata berbinar saat menangkap materi pelajaran yang rumit, dan teriakan "Pak Bima!" yang riang saat aku datang, adalah oksigen bagi paru-paruku yang kadang terasa sesak.
Aku segera menuju ruang guru, ruang kecil yang kami juluki "kubikel curhat". Di sana, sudah ada Bu Ida, guru senior yang sebentar lagi pensiun, dan Pak Joni, guru honorer lain yang juga bernasib sama denganku. Mereka berdua sama-sama menghela napas panjang saat membahas kabar terbaru soal formasi CPNS yang lagi-lagi didominasi guru IPA dan Matematika, sementara kami, guru IPS dan Bahasa, seperti Cinderella yang tak punya sepatu kaca.
"Katanya sih, tahun depan kuotanya diperbanyak, Mas Bima," kata Bu Ida dengan senyum maklum yang lebih mirip belas kasihan.
"Tahun depan... tahun depan lagi... Sejak reformasi Pak, saya sudah dengar kalimat itu," sahut Pak Joni sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin.
Pukul tujuh teng, bel sekolah berbunyi nyaring. Ritme pagi yang tadinya melankolis berubah menjadi simfoni keramaian. Anak-anak berbaris, menyanyikan lagu kebangsaan dengan suara lantang yang menggetarkan. Hatiku selalu menghangat di momen ini. Ada rasa bangga yang menguar, melihat deretan wajah polos yang sebentar lagi akan kuisi dengan cerita-cerita pahlawan, sejarah peradaban, dan nilai-nilai luhur. Mereka adalah kanvas kosong yang siap kuwarnai.
"Selamat pagi, anak-anak!" seruku, disambut koor riang "Pagi, Pak Bima!" dari murid kelas 5.
Pelajaran Sejarah hari ini tentang Perang Diponegoro. Aku mendongeng dengan penuh semangat, menggunakan mimik muka dan gerakan tangan agar kisah Pangeran Diponegoro yang gagah berani itu hidup di benak mereka. Mata-mata kecil itu membulat, mulut mereka sedikit terbuka, terhanyut dalam cerita tentang perjuangan dan pengorbanan. Saat Rina, murid paling pendiam, mengangkat tangan dan bisa menjawab pertanyaan tentang strategi gerilya, hatiku serasa mekar. Semua kelelahan, semua keluh kesah, semua pertanyaan "sampai kapan?" itu seolah lenyap ditelan kebahagiaan sesaat. Momen itulah yang membuatku merasa berharga, merasa punya arti.
Siang hari, saat jam istirahat, aku menyantap bekal nasi dan tempe orek yang sudah dingin di bangku depan kelas. Pandanganku menerawang ke arah lapangan, di mana anak-anak berlarian mengejar bola, menertawakan teman yang terjatuh, dan membangun persahabatan tanpa beban. Mereka tidak tahu betapa rumitnya dunia orang dewasa, dunia di mana pengabdian tak selalu sejalan dengan kesejahteraan.
Pulang sekolah, rutinitasku berlanjut. Bukan langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke warung kopi Pak Edi untuk jadi operator fotokopi. Lumayan, bisa nambah sedikit recehan untuk beli bensin atau sekadar pulsa. Kadang, ada juga tawaran mengajar les privat, tapi jadwalnya seringkali bentrok dengan kebutuhan warung kopi. Dilema klasik para guru honorer: antara mengajar dengan hati atau mencari uang dengan realistis.
Minggu terakhir setiap bulan adalah momen paling campur aduk. Ada rasa cemas, sekaligus sedikit harapan. Hari gajian. Amplop cokelat tipis yang selalu menjadi simbol nasib kami. Kali ini, gajiku adalah 850 ribu rupiah. Delapan ratus lima puluh ribu. Angka yang jika dibandingkan dengan tagihan listrik rumahku yang 300 ribu, kontrakan 400 ribu, belum lagi makan, bensin, dan kebutuhan lainnya, rasanya seperti menertawakan diri sendiri.
"Selamat ya, Mas Bima," kata Bu Ida sambil menyerahkan amplop itu dengan senyum sendu.
Aku mengangguk, mencoba tersenyum balik. Di dalam amplop itu bukan hanya uang, tapi juga selembar surat keterangan honor yang mencantumkan status "guru tidak tetap" dan "paruh waktu". Kata-kata itu, seperti mantra, terus-menerus mengingatkanku akan posisiku yang tak kunjung pasti.
Dalam perjalanan pulang, gerimis kembali turun. Lampu motor bebekku yang redup menerangi jalanan berlubang. Aku teringat kemarin, saat tak sengaja berpapasan dengan Dani, teman seangkatanku saat kuliah. Dia dulu dikenal malas-malasan, sering mencontek, tapi entah bagaimana, ia sekarang sudah menjadi ASN di dinas pendidikan kota. Mobil barunya mengilat di bawah guyuran hujan, jasnya rapi, senyumnya sumringah. Ia sempat melambaikan tangan, "Gimana, Bim? Masih ngajar di SD pelosok itu?" tanyanya sambil tertawa kecil. Aku hanya bisa membalas dengan senyum getir.
"Oh, iya, Bim. Katanya ada wacana penghapusan honorer ya? Semoga kamu kebagian rezeki ya, sebelum terlambat."
Kalimat Dani itu bagai palu godam yang memecah kaca harapan. Wacana penghapusan honorer selalu menjadi momok, hantu yang menggentayangi tidurku. Bukan, aku tidak takut tidak punya pekerjaan. Aku takut tidak bisa mengajar. Aku takut tidak bisa melihat mata berbinar Rina saat ia mengerti, tidak bisa mendengar tawa polos anak-anak di pagi hari.
Sampai rumah, aku menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip, menerangi kamar petakku yang sempit. Aku mengeluarkan uang dari amplop cokelat. Delapan lembar seratus ribuan, satu lembar lima puluh ribuan. Aku menatapnya lama, lalu membandingkannya dengan tumpukan buku sejarah dan pedagogik di meja belajarku. Buku-buku itu berisi ilmu, idealisme, dan mimpi. Uang di tanganku adalah realita pahit yang harus kuhadapi setiap bulan.
Malam itu, aku membuka laptop bututku. Portal SSCASN kembali kubuka, berharap ada keajaiban. "Pengumuman Pembukaan Formasi PPPK Guru...". Jantungku berdebar. Tapi setelah membaca detailnya, lagi-lagi kekecewaan yang kudapat. Hanya untuk guru TIK dan Bahasa Inggris. Posisi Sejarah? Nihil. Aku menutup laptopku dengan desahan panjang.
Keesokan paginya, rutinitas yang sama kembali menanti. Gerimis, motor bebek batuk-batuk, 20 kilometer perjalanan, dan senyum polos anak-anak. Aku memandang langit pagi yang kelabu. Sebuah pesawat melintas di atas kepalaku, meninggalkan jejak putih panjang. Di ketinggian itu, barangkali impianku masih melayang-layang, belum juga menemukan tempat pendaratan. Pertanyaan itu kembali menghantuiku, berulang-ulang seperti kaset rusak di kepalaku:
Sampai kapan pengabdian ini bisa mengenyangkan perut?
Sampai kapan hati ini bisa terus bertahan, digantung di antara idealisme dan realita pahit yang begitu kejam?
Sampai kapan aku harus menggantungkan nasibku pada janji-janji angin surga, sementara kehidupan terus berjalan dan menuntut bayaran?
Jawabannya tak pernah datang, hanya gema pertanyaan itu yang terus bergema di setiap langkahku menuju sekolah, di setiap tawa riang anak-anak, dan di setiap amplop cokelat tipis di akhir bulan. Dan aku, Bima, sang guru honorer paruh waktu, masih terus menunggu, entah sampai kapan, dalam ketidakpastian yang abadi.