Siang itu aku sedang duduk di pos ronda yang berada di seberang jalan depan bengkel Mas Lukman. Mas Lukman itu anak dari pamanku keluarga dari ibuku.
Dia memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi yang ada di bengkel miliknya.
"Hei, kesini kamu jangan disitu. Nanti kesambet." Mas Lukman terkekeh.
"Yaelah iya, kesambet apaan. Nyumpahin gue, gue gibeng lu." Akupun ikut tertawa.
Aku duduk mengambil posisi bersila di atas kursi tunggal sembari memangku toples kaca berisi cemilan. Entah cemilan apa ini namanya, bentuknya bulat empuk rasanya manis yang jelas ini sangatlah enak menurutku.
Saat aku tengah asik menikmati cemilan itu, tiba-tiba mataku mengamati lelaki paruh baya yang kini juga tengah duduk di pos ronda yang tadi sempat aku juga duduk di sana.
Namun ada yang aneh pada lelaki itu. Dia tampak tersenyum sendiri dan berbicara sendiri. Seperti orang yang terganggu jiwanya.
Sepertinya aku kenal dengan lelaki itu. Memang sudah lama sekali aku tak melihatnya karena aku pindah rumah di luar kota. Suyatno, ya itulah nama lelaki paruh baya itu. Akupun memberanikan diri untuk bertanya kepada Mas Lukman yang masih sibuk memperbaiki mesin mobil klasik berwarna hijau.
"Mas, Orang itu Pak Suyatno, kan?" Ucapku dengan mengerutkan dahi dan kedua alisku seperti akan menyatu.
"Ah, iya." Jawab Mas Lukman sembari menggerakkan lehernya kebelakang dan melihat Suyatno yang tengah duduk di pos ronda itu.
"Sepertinya jiwanya terganggu, apa yang terjadi?"
"Ih, kepo lu." Goda salah satu montir anak buah Mas Lukman. Aku tidak menanggapinya dan hanya tersenyum kecut.
Tapi memang benar, akh sangat kepo dan jiwa keingin tahuanku meronta-ronta.
Mas Lukman menghampiriku dan duduk disampingku sembari memakan cemilan enak ini. Dia pun mulai bercerita.
#Flashback On
Dua bulan lalu, Dia duduk di pos ronda itu sendirian. Di saat terik matahari terasa menyengat di kulit dan orang-orang pun memilih berdiam diri dirumah untuk sekedar menikmati es dalam teko dan bersantai di dalam rumah.
Suyatno duduk sembari memandangi jalanan dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Tiba-tiba ia melihat ada ular yang melintas menuju kearahnya. Ular itu sangat besar dan sangat panjang. Warnanya hijau dengan corak yang khas di kulitnya. Kulitnya terlihat berkilau terkena sinar matahari.
Seperti terhipnotis, Suyatno mengikuti ular itu dengan penuh kekaguman. Namun tiba-tiba ular itu menghilang. Saat ia menyadari itu, Suyatno langsung terkejut dan tersadar dari lamunannya.
Saat menyadari ular itu sudah menghilang dari hadapannya, Ia di kagetkan dengan sebuah pintu gerbang yang sangat kokoh dan besar. Tanpa berpikir panjang ia langsung melangkahkan kakinya memasuki wilayah itu.
Ia terus terkagum dengan apa ia lihat. Saat ini Suyatno melihat sebuah bangunan megah dan berlapis emas tengah berdiri gagah di hadapannya. Bangunan itu berhiaskan corak ular naga di setiap sudutnya.
"Wah, apa ini kerajaan?" Ucap Suyatno dengan pandangan yang tak berkedip.
Saat menikmati pemandangan itu, tiba-tiba ia melihat ular yang tadi ia lihat tengah melintas di hadapannya. Ia pun mengikuti ular itu lagi dan ia terkejut bukan main seolah jantungnya akan copot saat melihat ular itu menampakkan dirinya berubah menjadi sosok wanita yang sangat cantik dan mempesona. Ia tersenyum manis kepada Suyatno.
"Siapa kamu, bukakah tadi kamu seekor ular." Ucap Suyatno tanpa basa basi.
"Ya, aku memang wanita ular. Lebih tepatnya aku siluman ular. Selamat datang di kerajaanku. Aku adalah ratu di kerajaan ini." Ucap wanita ular itu sembari tertawa dan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"A... Apa maumu. Kenapa memandangiku seperti itu!" Suyatno mulai menggidik ngeri mendengar bahwa ia adalah siluman ular dan ia memundurkan langkah kakinya satu langkah ke belakang.
"Kamu tampan. Aku ingin kau menjadi suamiku." wanita ular itu berbicara penuh ambisi.
"Aku tidak mau! tidak, tidaakkk!!" Suyatno berteriak dan segera ia berlari sekuat tenaganya. Namun wanita itu merubah wujudnya menjadi ular, melata seolah sedang mengejar Suyatno.
Suyatno terus berlari namun lagi-lagi ia menemui jalan buntu. Ia tidak menyerah dan terus berlari mencari jalan keluar.
Ular itupin masih saja mengejar Suyatno dengan menjukirkan lidahnnya seolah ingi bermain main dengannya.
Setelah satu jam berputar-putar di tempat yang sama, akhirnya ia melihat gerbang yang tadi ia lewati saat pertama kali masuk tempat itu.
Tanpa berpikir panjang Suyatno berlari dan menerjang gerbamg itu.
***
Semua orang berkerumun mengerumuni Suyatno yang tak sadarkan diri di dekat pos ronda itu. Dua orang diantara mereka mencoba menyadarkan Suyatno. Sudah seharian Suyatno menghilang tanpa kabar. Dan kini ia di temukan dalam keadaan penuh luka dan tak sadarkan diri.
Dua jam kemudian Suyatno sadarkan diri. Semua orang menatapnya menunggu jwaban atas rasa penasaran mereka. Suyatno pun menceritakan apa yang ia alami. Ia masih ingat betul kejadian itu.
Semua orang menatap tak percaya dan terkejut dengan pernyataan Suyatno.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak bohong." Ucapnya meyakinkan semua orang.
Yang ia lihat saat itu adalah sebuah kerajaan. ya g sangat megah namu. pada kenyataannya itu adalah rimbunan pohon bambu dan semak belukar berduri. Ia telah tersihir memasuki dunia lain.
Dan satu minggu setelah itu, Suyatno sering memun, tertawa, sedih bahkan marah-marah sendiri tanpa sebab.
#Flashback Off
***
"Mungkin Ratu ular itu sakit hati karena dia tidak mau di jadikan suami." Uacapku sembari masih menikmati cemilan manis ini.
"Mungkin saja. Percaya tidak percaya begitulah adanya. Di dunia ini ada makhluk lain ciptaan Allah yang tidak nisa kita lihat, namun mereka bisa melih kita bahkan mengganggu pikiran kita. Mereka juga hidup di alam mereka sendiri." Ucap Mas Lukman sembari meninggalkanku dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara aku, aku masih menatap lelaki paruh baya itu yang masih diduk di temoat yang sama sedari tadi dengan nanar dan simpati.
"Sungguh, tidak beruntung Suyatno, apa salahnya sampai dia jadi seperti itu." Aki menghela napas ku dengan kasar.
Jujur saja aku masih tidak percaya dengan semua ini.