Tok tok tok...
Seseorang datang mengetuk pintu rumah Ami. Saat membuka pintu, ia terkejut bukan main. Ternyata, Rangga dan Dyah lah yang datang ke rumahnya. Ia pikir Rangga berniat untuk bertamu, maka ia berkata,
"Silakan kalian duduk dulu, saya buatkan minum sebentar."
Dengan segera Rangga menghentikan niat Ami,
"Eh, ngga usah, kami ngga lama kok. Kami kesini cuma mau ngasih ini." Ujarnya sambil menyerahkan sebuah amplop kepada Ami.
Bagai disambar petir di siang hari, Ami terkejut bukan main saat ia membuka amplop itu. Ternyata, di dalamnya berisi undangan pernikahan. Ia masih mencoba berpikir positif, mungkin ada teman mereka yang sebentar lagi akan menikah. Namun, pikiran buruknya lah yang menjadi kenyataan. Rangga, orang yang dikagumi Ami dari dulu lah yang akan melangsungkan pernikahan. Bukan dengan dirinya, bukan pula dengan orang lain. Melainkan dengan orang yang bersama Rangga saat ini, Dyah Pitaloka, teman sekelas mereka saat SMA.
Dyah adalah salah satu teman yang dekat dengan Ami. Ia juga mengetahui, bahwa Ami sempat menyukai Rangga sewaktu SMA. Maka dari itu, ia merasa tak enak hati.
"Maafin aku, Ami. Aku terpaksa." Ujar Dyah dengan air mata yang menggenang
Ami menghela napas dengan perlahan,
"Ngga apa, Dyah. Aku ikhlas, dan aku yakin ini sudah menjadi garis takdir yang terbaik. aku tau kalian sudah pasti akan dijodohkan, karena kalian bersahabat dari kecil. Semoga kalian selalu berbahagia."
Dyah langsung memeluk Ami,
"Terima kasih, Ami."
Ami langsung membalas pelukan Dyah dengan tulus.
*
*
*
Hari ini adalah hari pernikahan Rangga dan Dyah. Ami menyapa dengan sangat hangat kepada kedua mempelai dan keluarga.
"Selamat nggih, Bu Nyai," Ujarnya
Senyuman terukir indah di wajah Betari,
"Maturnuwun, Ndhuk. Semoga kamu segera menyusul."
Ami tersenyum tulus,
"Aamiin, pangestunipun, Bu Nyai."
"Selamat ya guys," Ujar Ami kepada Rangga dan Dyah
"Udah, Mba Ami ngga usah sedih. Tuh abang saya yang paling tua belum laku-laku." Ujar Juan, Adik Rangga
"Hushh, ora waton matur to dek." Timpal Bari
"Loh, bener iku jare adekmu, siapa tau berjodoh." Bisik Umar Fathir kepada putra sulungnya
Ami dan Bari menjadi sedikit salah tingkah ketika mereka tak sengaja saling menatap.
"Cie cie cie" Ujar Juan mengompori mereka
*
*
*
Di kediaman Umar Fathir...
Bari datang menemui ayahnya dengan sejuta rasa penasaran
"Abi, aku mau nanya sesuatu."
"Ada apa, nak?" Tanya Umar
Bari menghela napas gusar,
"Abi malu ngga punya anak seperti aku?"
Umar terkejut mendengar pertanyaan anak sulungnya itu.
"Kenapa kamu bertanya demikian?"
"Karena, adik-adik Bari sudah menikah semua. Dan istri mereka bukan orang biasa. Mereka semua adalah orang yang hebat." Ujar Bari menjelaskan keluh kesahnya
"Apakah Abi dan Umi pernah mengatakan bahwa kami malu memiliki anak seperti Bari?" Tanya Umar dengan lembut
"Ngga pernah," Ujar Bari
Umar tersenyum tipis
"Ketahuilah, Nak. Rangga telah berhasil meraih impiannya menjadi seorang musisi, Juan juga berhasil menjadi seorang aktor. Dan adik-adikmu itu sudah berhasil sebelum mereka menikah. Jadi, pernikahan itu menurut Abi bukan penentu keberhasilan seseorang."
"Jadi, Abi ngga marah kalau aku belum menikah, dan belum bisa sesukses anak abi yang lain?" Tanya Bari
"Justru abi bangga sama kamu. Kamu selalu mengalah dan rela mengorbankan apapun demi keluarga. Kamu ikhlas ketika didahului oleh kedua adikmu." Ujar Abi
"Ada satu lagi pertanyaan buat Abi." Ujar Bari
Umar mengernyit, lalu mempersilakan anaknya untuk bertanya lagi
"Kenapa Abi ngga melarang anak-anak Abi untuk memilih jalan hidup kami sendiri? Kan Abi seorang ulama yang cukup disegani masyarakat, bukankah seharusnya Abi menyuruh kami untuk terus tinggal di pesantren dan mendalami agama?" Tanya Bari
"Pertanyaan yang sangat bagus. Menurut Abi, selagi kalian itu tetap mengingat Allah dan selalu mengutamakan adab dalam berperilaku, Abi dan Umi akan selalu merestui setiap langkah kalian."
Bari tersenyum,
"Dan, aku mau bilang sesuatu sama Abi."
"Kayaknya, aku mulai tertarik dengan Ami."
Umar sontak terkejut
"MasyaAllah, akhirnya anak sulung Abi ini membuka hati untuk seorang perempuan."
"Iya bi, InsyaAllah beberapa hari lagi aku pengen silaturahmi sama keluarganya." Ujar Bari
"Semoga Allah mudahkan yo, Le." Ujar Umar
*
*
*
Beberapa hari kemudian...
"Jadi, saya datang kesini bersama keluarga membawa niat baik, bahwa saya ingin melamar putri bapak" Ujar Bari
Semua sontak tersenyum
"Saya yakin bahwa kamu bisa menjaga anak saya dengan baik. Akan tetapi, semua saya serahkan kepada Ami. Gimana, Nak?"
Ami sedikit ragu, tapi...
"Iya, saya bersedia."
ALHAMDULILLAH...
Ujar semua orang yang ada di dalam ruangan itu
Hari berikutnya, akad nikah berlangsung,
Dengan berjabat tangan dengan ayah Ami, Bari mengucapkan janji suci pernikahan dengan mantap,
"Saya terima nikah dan kawinnya Kenari Paramitha binti Faris Amin dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?" Ujar penghulu
SAHH...
Bari Zulfikar dan Kenari Paramitha telah resmi menjadi suami istri yang sah.
*
*
*
Semenjak saat itu, pondok pesantren
As-Salam berkembang sangat pesat berkat kontribusi dari ketiga perempuan hebat.
*
*
*
Kenari Paramitha, Istri dari Bari Zulfikar.
Ia adalah seorang perempuan yang sangat berbakat dalam bidang apapun. Terutama dalam kepenulisan, Ami sudah beberapa kali menerbitkan buku. Ia dikenal sebagai sosok yang cekatan, telaten, dan penuh kelembutan. Seperti burung kenari yang berwatak mandiri, walaupun Ami dikecewakan oleh orang yang ia cintai sejak SMA, ia tetap tabah dan tak menyerah. Hingga akhirnya, ia mendapatkan cinta sejati yang sesungguhnya.
Dyah Pitaloka, Istri dari Rangga Radeya
Ia adalah seorang pengusaha perempuan yang sangat kompeten. Semenjak SMA ia sudah mulai berdagang kecil-kecilan, dengan pembelinya yang merupakan teman-teman dan gurunya sendiri. Berkat kerja keras, kecerdasan, dan kegigihannya, ia berhasil meluncurkan berbagai produk seperti makanan dan kosmetik.
Seperti namanya, ia cerdas dan memiliki teguh pendirian yang kuat seperti putri Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka Citra Rashmi.
Sinta Humaira, Istri dari Juan Aditya.
Ia adalah seorang designer yang berhasil memamerkan karya-karyanya dihadapan semua orang. Beberapa kali Sinta memperkenalkan desain gaun muslimah hasil guratan tangannya sendiri melalui banyak pameran dan fashion show muslimah. Seperti namanya, Ia anggun dan penyabar seperti Dewi Sinta, serta cantik seperti nama Humaira yang berarti berpipi kemerahan.