Angin sore berhembus pelan di Desa Cempaka. Sawah yang menguning berkilau disentuh cahaya senja. Dari jendela rumah kayu sederhana di ujung jalan, Aisyah memandang jalan tanah yang mulai lengang. Sudah hampir tiga bulan Farhan tidak pulang.
Ia merapatkan kerudungnya, lalu menoleh pada jam dinding. Pukul lima lewat dua puluh. Biasanya di jam seperti ini, Farhan akan mengirim pesan singkat.
“Sudah masak apa hari ini?”
“Jangan lupa istirahat.”
Sekarang pesan itu jarang datang. Bahkan kadang hanya satu kalimat kaku, tanpa tanda tanya, tanpa sapaan sayang.
Aisyah menarik napas panjang, “Mungkin dia lelah.” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Sejak dua tahun lalu Farhan bekerja di kota. Awalnya ia pulang setiap dua minggu. Membawa cerita, membawa tawa, membawa pelukan yang menghapus rindu. Namun setelah jabatannya naik di kantor, kepulangannya semakin jarang. Alasannya selalu sama: rapat, proyek, atau perjalanan dinas.
Malam itu, selepas salat Magrib, Aisyah kembali menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan. Ia memberanikan diri menelepon. Nada sambung terdengar lama.
“Halo?” suara Farhan terdengar tergesa.
“Assalamu’alaikum, Bang. Lagi sibuk?” suara Aisyah lembut, seperti biasa.
“Iya, lagi di luar. Ada apa?”
Aisyah terdiam sebentar. Ia sebenarnya hanya ingin mendengar suara suaminya lebih lama.
“Nggak apa-apa. Cuma mau tanya kabar.”
“Baik. Nanti ya, lagi rame.” Sambungan terputus.
Aisyah menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Hatinya seperti disentuh jarum halus. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya sadar bahwa ada yang berubah. Beberapa minggu kemudian, kabar itu datang tanpa ia cari. Malam itu hujan turun deras. Aisyah sedang melipat pakaian ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kamu istrinya Farhan, ya?”
Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan tangan gemetar ia membalas.
“Iya. Ini siapa?”
Balasan berikutnya membuat dunia Aisyah terasa berhenti.
“Saya tidak tahu harus bilang bagaimana. Tapi sepertinya kamu perlu tahu kalau suamimu sering bersama perempuan lain. Mereka terlihat seperti pasangan.”
Aisyah menahan napas. Matanya membaca ulang pesan itu berkali - kali, berharap huruf-hurufnya berubah.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Beberapa foto menyusul. Farhan duduk berhadapan dengan seorang perempuan berambut panjang, tersenyum lebar. Foto lain memperlihatkan mereka keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Air mata Aisyah jatuh tanpa suara. Ia tidak langsung menuduh. Tidak langsung marah. Ia menunggu sampai napasnya kembali teratur, lalu menghapus air matanya. Dalam hati ia berkata, Mungkin ini salah paham. Keesokan harinya ia menelepon Farhan.
“Bang… aku mau tanya sesuatu. Jawab jujur ya.”
“Kenapa?” suara Farhan terdengar waspada.
“Ada perempuan lain?”
Hening. Sunyi yang panjang dan menyakitkan.
“Siapa yang bilang?” akhirnya Farhan menjawab.
“Jadi benar?”
Farhan mengembuskan napas berat.
“Aisyah, kamu jangan berpikir macam-macam. Dia cuma teman kerja.”
“Teman kerja sampai berdua di luar jam kantor?” suara Aisyah tetap lembut, tapi nadanya bergetar.
“Itu urusan pekerjaan.”
Aisyah menutup mata. Ia tahu Farhan berbohong. Ia mengenal suaminya lebih dari siapa pun.
“Bang.” suaranya nyaris pecah, “kalau memang ada yang berubah di hati Abang, bilang saja.”
“Sudah, aku capek. Jangan bahas ini terus.” Telepon ditutup.
Kali ini bukan jarum halus yang menusuk hatinya. Tapi pisau yang diputar perlahan. Malam itu Aisyah tidak bisa tidur. Ia duduk lama di atas sajadahnya. Tangannya terangkat, bibirnya bergetar membaca doa.
“Ya Allah … kalau memang dia bukan lagi milikku, kuatkan aku. Tapi kalau masih ada kebaikan dalam rumah tangga ini, lembutkan hatinya. Kembalikan dia.”
Air mata jatuh membasahi mukena putihnya. Ia tidak memohon agar perempuan itu disingkirkan. Ia tidak meminta agar Farhan dihukum. Ia hanya meminta kekuatan untuk menerima apa pun keputusan Allah. Hari - hari berikutnya berjalan seperti kabut. Farhan semakin jarang menghubungi. Ketika dihubungi, jawabannya singkat dan dingin.
Hingga suatu siang, Farhan pulang tanpa kabar. Aisyah yang sedang menyapu halaman tertegun melihat mobil itu berhenti di depan rumah. Ia berlari kecil, berharap ada pelukan yang selama ini ia rindukan. Namun Farhan turun dengan wajah serius.
“Kita perlu bicara.”
Kalimat itu seperti pertanda buruk.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu sederhana. Suasana terasa asing.
“Aisyah … aku sudah tidak bisa bohong lagi. Aku memang dekat dengan seseorang.”
Aisyah merasa dadanya sesak. Meski sudah menduga, mendengar pengakuan itu tetap menyakitkan.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
“Kenapa?” hanya satu kata itu yang mampu keluar.
Farhan menunduk, “Aku merasa kamu terlalu … diam. Terlalu pasrah. Aku butuh seseorang yang bisa mendukung pekerjaanku, yang mengerti duniaku.”
Aisyah tersenyum tipis, meski air mata menggenang, “Bukankah selama ini aku selalu mendukung Abang?”
“Kamu terlalu sibuk dengan rumah, dengan doa-doamu. Dunia kita berbeda sekarang.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari pengakuan perselingkuhan.
“Aku sibuk dengan doa - doaku … untuk siapa?” suara Aisyah akhirnya pecah.
Farhan terdiam.
“Aku bangun malam, mendoakan pekerjaan Abang lancar. Aku menahan rindu supaya Abang fokus bekerja. Kalau itu salah, maafkan aku.”
Farhan menutup wajahnya dengan kedua tangan, “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.”
“Apakah Abang mencintainya?”
Pertanyaan itu menggantung.
“Iya.”
Jawaban itu merobohkan sisa harapan.
Aisyah berdiri perlahan. Lututnya terasa lemas, tapi ia tidak ingin terlihat rapuh.
“Kalau begitu … Abang ingin apa?”
“Aku ingin waktu.”
“Untuk memilih?” tanya Aisyah lirih.
Farhan tidak menjawab.
Hari itu menjadi awal dari jarak yang lebih nyata. Farhan kembali ke kota tanpa menyentuh tangan istrinya.
Rumah kecil itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tetangga mulai berbisik. Ibunya Aisyah yang tinggal di desa sebelah datang setelah mendengar kabar.
“Bersabarlah, Nak. Lelaki kadang khilaf,” ucap sang ibu sambil mengusap punggung putrinya.
Aisyah tersenyum, “InsyaAllah, Bu.”
Namun ketika malam tiba dan semua orang tidur, Aisyah kembali sendirian dengan luka yang tak terlihat. Ia membuka lemari, mengeluarkan album foto pernikahan mereka. Wajah Farhan yang dulu penuh cinta kini terasa seperti bayangan asing.
“Di mana kita yang dulu, Bang?” bisiknya.
Beberapa minggu kemudian, kabar lain datang. Farhan ingin menikahi perempuan itu. Bukan sekadar dekat. Bukan sekadar teman kerja. Ia ingin menjadikannya istri kedua. Aisyah membaca pesan panjang Farhan dengan tangan gemetar.
“Aku tidak ingin menceraikanmu. Kamu tetap istriku. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya.”
Dunia Aisyah terasa runtuh. Ia bukan perempuan yang membenci takdir poligami. Tapi menerima kenyataan bahwa cinta suaminya terbagi bukan perkara mudah.
Malam itu ia kembali bersujud lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah … jika ini ujian, jangan Engkau uji aku di luar kemampuanku. Jika harus aku lepaskan, ikhlaskan hatiku.”
Air matanya tak berhenti mengalir.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat lelah. Bukan lelah rindu. Tapi lelah mempertahankan seseorang yang tak lagi berjuang untuknya. Beberapa hari sebelum Farhan melangsungkan pernikahan keduanya, ia pulang untuk meminta izin secara langsung. Aisyah menyambutnya dengan wajah pucat tapi tenang.
“Maafkan aku.” kata Farhan.
Aisyah menatapnya lama. Ia mencari sisa cinta di mata lelaki itu. Ada, tapi samar.
“Aku tidak bisa melarang kalau itu keputusan Abang.” ucapnya pelan.
“Tapi aku punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari nanti Abang sadar bahwa yang Abang kejar bukan kebahagiaanv… jangan kembali karena kasihan. Kembalilah hanya kalau memang hati Abang memilihku.”
Farhan terdiam.
“Aku tidak ingin menjadi pilihan kedua dalam hati suamiku sendiri.”
Kalimat itu menusuk Farhan lebih dalam dari tangisan. Setelah pernikahan itu terjadi, Aisyah memilih pindah sementara ke rumah ibunya. Ia butuh jarak. Bukan untuk lari, tapi untuk menata hati.
Di desa, ia mulai mengajar anak-anak mengaji. Waktu luangnya diisi dengan kegiatan di masjid. Ia mencoba menyembuhkan dirinya dengan memberi manfaat bagi orang lain. Setiap malam ia tetap berdoa. Tapi kini doanya berubah.
Bukan lagi meminta Farhan kembali.
Melainkan meminta agar ia diberi hati yang kuat, yang tidak bergantung pada manusia.
Perlahan, Aisyah belajar menerima bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Suatu malam, hampir setahun berlalu, ponselnya berdering.
Nama Farhan muncul di layar.
Dengan hati berdebar, ia mengangkatnya.
“Aisyah … bolehkah aku pulang?”
“Ada apa?”
“Aku ingin bicara.”
Ketika Farhan datang, wajahnya tampak lebih tua, lebih lelah.
“Aku salah.” katanya tanpa basa - basi.
“Aku pikir kebahagiaan ada pada sesuatu yang baru. Tapi aku kehilangan ketenangan.”
Aisyah mendengarkan tanpa menyela.
“Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Aku merindukan rumah. Aku merindukan doa - doamu.”
Air mata Aisyah mengalir lagi. Namun kali ini bukan karena hancur, melainkan karena sadar bahwa doanya didengar.
“Kenapa Abang pulang?” tanyanya pelan.
“Aku ingin memperbaiki semuanya. Jika kamu masih mau.”
Aisyah menatap langit - langit, menahan sesak di dada. Ia teringat malam-malam panjang penuh tangis. Teringat sujud yang tak pernah ia tinggalkan.
“Aku memaafkan Abang.” ucapnya akhirnya.
“Tapi memperbaiki bukan berarti melupakan. Kita mulai dari awal. Dengan jujur.”
Farhan mengangguk, air matanya jatuh.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aisyah merasa damai.
Ia kembali ke sajadahnya.
“Ya Allah … terima kasih. Engkau tidak mengubah takdirku, tapi Engkau menguatkan hatiku.”
Air mata kembali jatuh di ujung doanya.
Namun kini, air mata itu bukan lagi tanda kelemahan. Melainkan bukti bahwa setiap luka yang diserahkan kepada Tuhan, akan menemukan jalannya menuju cahaya.