Rumah panggung tua di sudut tempat itu selalu berbau minyak kayu putih dan kenangan. Di sanalah, Nenek Fatimah menghabiskan sisa senjanya. Matanya sudah kabur oleh katarak, dan ingatannya sering kali tersesat di lorong waktu yang ia sebut sebagai "masa lalu". Bagi warga desa, Nenek Fatimah adalah wanita tua yang malang; kehilangan anak tunggalnya, Arlan, dalam kecelakaan kapal sepuluh tahun lalu, dan kini hidup dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.
Aku, Salsa, mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengambil cuti, memutuskan untuk menemani Nenek. Awalnya, aku mengira tugas ini mudah. Namun, ada satu keganjilan yang membuat bulu kudukku berdiri setiap malam.
Tepat pukul 03.00 dini hari, saat dunia sedang lelap-lelapnya, sebuah suara dering cempreng akan memecah kesunyian. Itu bukan suara smartphone canggih, melainkan suara telepon mainan plastik berwarna merah muda milikku saat kecil yang masih tersimpan di atas meja kayu jati di kamar Nenek.
"Iya, Arlan... Ibu di sini, Nak. Kamu sudah makan? Di sana dingin tidak?"
Suara Nenek terdengar sangat lembut, begitu nyata, seolah-olah di ujung telepon mainan yang tidak tersambung kabel apa pun itu, benar-benar ada seseorang yang menyahut. Nenek akan tersenyum, tertawa kecil, bahkan sesekali terisak sambil memeluk telepon plastik murah itu ke dadanya.
"Nenek, tidurlah. Ini sudah malam," bisikku suatu malam, mencoba merebut telepon itu.
Nenek menatapku dengan mata sayunya yang mendadak terlihat sangat jernih. "Salsa, ayahmu titip salam. Katanya, maaf dia tidak bisa menemanimu wisuda nanti. Tapi dia janji akan berdiri di barisan paling belakang, memakai kemeja biru kesukaannya."
Aku membeku. Kemeja biru? Ayah memang dikuburkan dengan kemeja itu, rahasia yang hanya diketahui olehku dan Nenek saat kami memandikan jenazahnya yang tak utuh. Aku mencoba menganggap itu hanya kebetulan, sebuah fragmen ingatan Nenek yang muncul kembali.
Namun, segalanya berubah di malam ketujuh.
Malam itu, hujan lebat mengguyur desa. Angin menderu layaknya raungan binatang buas. Tepat pukul 03.00, dering itu kembali. Drrrttt... Drrrttt...
Aku yang sedang terjaga karena gelisah, memberanikan diri masuk ke kamar Nenek. Nenek sedang bersujud di atas sajadahnya, tertidur dalam posisi doa. Telepon merah muda itu tergeletak di lantai, berdering dengan lampu kecil yang berkedip-kedip.
Entah keberanian dari mana, aku memungut telepon plastik itu. Tanganku gemetar. Aku menempelkan gagangnya ke telinga.
"Halo?" suaraku tercekat.
Hening sejenak. Hanya ada suara desis seperti frekuensi radio yang jauh. Lalu, sebuah suara berat yang sangat familiar—suara yang selalu menghantui mimpiku selama sepuluh tahun—terdengar.
"Salsa... putri kecil Ayah."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Itu suara Ayah. Benar-benar suaranya. Berat, tenang, dan penuh wibawa.
"Jangan takut, Sayang. Ayah menelepon bukan untuk menakutimu. Ayah hanya ingin berpamitan pada Ibu. Waktu Ayah sudah hampir habis untuk memegang jembatan ini."
"Ayah? Ini benar Ayah?" aku terisak, luruh ke lantai di samping Nenek yang masih terlelap. "Ayah jahat! Kenapa tinggalkan Salsa? Kenapa cuma Nenek yang Ayah ajak bicara?"
Di ujung sana, terdengar suara tawa kecil yang hangat. "Karena hanya Nenekmu yang memiliki pintu doa yang tak pernah tertutup, Salsa. Kerinduannya adalah kabel yang menyambungkan dimensi kita. Salsa, dengarkan Ayah baik-baik. Malam ini, jangan biarkan Nenek tidur di kamar ini. Bawa dia keluar ke ruang tengah sekarang juga."
"Kenapa, Yah?"
"Jangan tanya kenapa. Lakukan sekarang. Dan katakan pada Nenek, kemeja birunya sudah dicuci bersih di sini. Ayah sayang kalian."
Klik. Sambungan terputus. Telepon plastik itu mendadak terasa dingin dan mati.
Aku tidak berpikir panjang. Aku mengguncang bahu Nenek, membangunkannya dengan paksa. Dengan sisa tenaga yang ada, aku memapah Nenek yang kebingungan menuju ruang tengah. Kami duduk di sofa lama sambil aku terus memeluknya erat.
Sepuluh menit kemudian, suara gemuruh hebat terdengar. Sebuah pohon jati raksasa di samping rumah tumbang akibat sambaran petir dan angin kencang. Pohon itu ambruk tepat menimpa atap kamar Nenek, menghancurkan ranjang dan meja jati tempat telepon itu berada hingga hancur berkeping-keping.
Jika kami masih di sana, kami pasti sudah terkubur hidup-hidup.
Nenek Fatimah hanya menatap reruntuhan kamarnya dengan tenang. Ia mengusap kepalaku yang gemetar hebat. "Ayahmu baru saja menyelamatkan kita, kan?"
Aku hanya bisa menangis di pangkuan Nenek. Ternyata, kasih sayang seorang orang tua memang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ayah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat, menjaga kami dari balik tirai gaib yang hanya bisa ditembus oleh ketulusan doa seorang ibu yang pikun namun penuh cinta.
Besoknya, aku menemukan telepon merah muda itu di bawah reruntuhan. Mainan itu sudah hancur, terbelah dua. Saat aku memungutnya, aku menyadari satu hal yang membuat air mataku kembali tumpah.
Mainan itu tidak pernah memiliki baterai di dalamnya sejak aku masih kecil.
EPILOG
Setahun kemudian, saat aku berdiri di atas panggung wisuda, aku melihat ke arah barisan paling belakang. Di sana, di antara kerumunan orang tua yang bangga, aku melihat sebuah bayangan samar. Seorang pria berdiri tegak, memakai kemeja biru yang warnanya paling cerah di antara semuanya. Ia tidak bertepuk tangan, ia hanya tersenyum dan memberikan hormat padaku sebelum perlahan memudar bersama angin.
Nenek Fatimah yang duduk di kursi roda di sampingku berbisik pelan, "Lihat, Salsa? Ayahmu menepati janjinya. Dia tidak pernah membiarkanmu sendirian."
Dunia mungkin menganggap Nenek gila, tapi bagiku, Nenek adalah pemilik kunci pintu surga, tempat di mana kerinduan bukan lagi sebuah kesakitan, melainkan sebuah percakapan jam tiga pagi yang menyelamatkan nyawa.