Pagi itu, Seoul masih berselimut kabut tipis, tapi jagat maya sudah membara. Pemicunya hanya satu foto buram yang diunggah akun anonim di Twitter (X). Foto itu memperlihatkan seorang pria jangkung berbahu lebar, mengenakan kaos singlet putih dan celana pendek garis-garis, sedang duduk nangkring di kursi plastik biru depan sebuah warung tenda di pinggir jalanan Canggu, Bali.
Pria itu adalah Ji-hun, center dari boygroup papan atas "A-Lister". Di depannya, sebuah piring berisi tumpukan nasi, kuah kental berwarna oranye, dan sate lilit yang sudah ludes setengah. Tanpa masker. Tanpa riasan. Tanpa gengsi.
Dalam hitungan detik, tagar #JiHunDisgrace merajai trending di Korea Selatan. K-Netz (Netizen Korea) bereaksi seolah-olah Ji-hun baru saja melakukan kejahatan internasional.
"Apakah dia gila? Sebagai wajah dari A-Lister, bagaimana bisa dia makan di tempat kumuh seperti itu tanpa masker? Ini penghinaan bagi standar kebersihan bangsa kita! #JiHunStepDown," tulis akun @K-Diamond99 di forum komunitas Pann.
"Aku kecewa. Aku menghabiskan jutaan won untuk photocard-nya, dan dia malah terlihat seperti paman-paman pengangguran di Bali. Imej 'Prince of Seoul' sudah hancur. Dia harus mundur demi martabat grup!" sahut netizen lainnya dengan ribuan upvote.
Siang harinya, di depan gedung agensi "Star-H" di Gangnam, sebuah truk protes sudah terparkir. Layar LED di truk itu menampilkan tulisan puitis namun menyakitkan: "Ji-hun, kau melukai cinta kami dengan debu jalanan. Kembalilah menjadi pangeran atau jangan kembali sama sekali."
Namun, K-Netz lupa satu hal. Ji-hun sedang berada di wilayah Seablings (South East Asian Brothers & Sisters). Dan jika ada satu hal yang paling dibenci Netizen Asia Tenggara, itu adalah orang yang merusak momen liburan seseorang dengan "ketegangan" yang tidak perlu.
Gelombang serangan balik pun dimulai. Dimulai dari Indonesia, lalu merembet ke Malaysia, Thailand, hingga Filipina.
"Lah, si abang malah asyik nambah kuah gulai, yang di Korea malah kena darah tinggi," tulis akun @BocahGakBahaya di X dengan lampiran foto Ji-hun yang sedang memegang kerupuk putih kalengan.
Seablings tidak mengirim truk. Mereka mengirim meme. Dalam waktu satu jam, tagar #JiHunDisgrace yang semula penuh makian K-Netz, dibajak total. Isinya berubah menjadi foto edit-an Ji-hun memakai caping di sawah, Ji-hun memegang bungkus kopi sachet, hingga poster palsu bertajuk: "RESMI: Ji-hun A-Lister Diangkat Menjadi Duta Seblak Internasional."
Perang komentar pun pecah di akun Instagram resmi agensi.
K-Netz (@OppasMoral): "Kalian netizen SEA tidak mengerti soal standar moral dan kebersihan. Perilaku Ji-hun bisa menurunkan harga saham agensi! Ini masalah serius!"
Netizen Indo (@SateKambingLover): "Halah maseh, saham-saham matamu. Itu Ji-hun mukanya cerah gitu habis makan nasi jinggo. Di sana kalian kasih makan salad terus, makanya dia kurus kayak lidi. Sini Bang Ji-hun, tak bungkusin rendang biar pipinya chubby lagi."
Netizen Malay (@TehTarikKing): "Betul tu! Daripada korang hantar lori (truk) kat Gangnam, baik korang hantar nasi lemak kat dia. Budak tu tengah healing, jangan kacau lah!"
K-Netz yang terkenal dengan argumen statistik dan logika moral yang panjang lebar, mulai frustrasi. Setiap kali mereka menulis esai panjang tentang "tanggung jawab sosial seorang idola", Seablings membalasnya dengan stiker WhatsApp bergambar kucing oren atau video jedag-jedug versi koplo dari lagu terbaru A-Lister.
Puncaknya terjadi ketika akun fansite terbesar Korea menutup akunnya sebagai bentuk protes. Mereka merilis pernyataan: "Kami tidak bisa mendukung seseorang yang tidak menjaga kehormatannya di tempat publik."
Seablings membalas dengan gerakan "Adopsi Ji-hun". Di Facebook, muncul grup baru bernama "Persatuan Perlindungan Ji-hun dari K-Netz yang Julid".
"Kalau kalian nggak mau Ji-hun, buat kami aja! Di sini dia nggak perlu pakai masker kalau lagi makan kerupuk. Mau nangkring di atas motor sambil makan cilok juga bebas! Hidup Duta Seblak!" tulis salah satu admin grup yang langsung viral hingga ke TikTok.
Bahkan, netizen Filipina mulai membuat petisi tandingan: "Mendesak Pemerintah untuk Memberikan Kewarganegaraan Kehormatan kepada Ji-hun agar Dia Bisa Makan Nasi di Pinggir Jalan dengan Tenang."
K-Netz makin panas. Mereka mulai menyerang dengan isu-isu sensitif. "Kalian itu hanya netizen dari negara berkembang yang tidak punya standar industri hiburan yang maju!" tulis akun K-Netz garis keras.
Balasan dari Seablings?
"Iya kami emang dari negara berkembang, tapi mental kami nggak gampang 'mental breakdown' cuma gara-gara idola makan nasi bungkus. Wkwkwkwkwk gwenchana ya maseh, sabar, jangan lupa sarapan bubur diaduk biar nggak emosi terus."
Tawa "wkwkwkwk" dan "55555" (tawa versi Thailand) membanjiri semua forum Korea. K-Netz bingung. Bagaimana cara mengalahkan orang yang bahkan bangga mengakui kekurangannya sendiri sebagai bahan candaan? Seablings tidak bisa di-gaslight, karena mereka adalah raja gaslighting diri sendiri.
Akhir dari "Perang Besar" ini terjadi secara tak terduga. Agensi Star-H, yang awalnya berniat merilis permintaan maaf resmi karena takut saham anjlok, melihat statistik yang aneh. Penjualan album A-Lister di Asia Tenggara justru melonjak 300% dalam semalam sebagai bentuk dukungan "anti-boikot".
Ji-hun sendiri akhirnya melakukan Live Streaming. Bukan untuk meminta maaf dengan wajah sedih dan baju hitam seperti standar Korea, tapi ia muncul dengan kaos singlet yang sama—kali ini sambil memegang mangkuk seblak level 5 yang merah membara.
"Halo... saya Ji-hun," ucapnya sambil kepedesan. "Terima kasih teman-teman di Asia Tenggara. Seblak... enak banget. K-Netz, jangan marah-marah terus, nanti cepat tua. Cobain kerupuk kulit, deh."
Dunia hening sejenak. K-Netz di Gangnam terdiam seribu bahasa melihat idola mereka justru terlihat lebih bahagia menjadi "Duta Seblak" daripada "Prince of Seoul". Truk protes di depan agensi akhirnya ditarik pulang karena malu, apalagi setelah seseorang menempelkan stiker "Sedot WC dan Ahli Sumur Bor" di bodi truk tersebut.
Malam itu, K-Netz dan Seablings akhirnya mencapai perdamaian sementara. Bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka bersatu menyerang agensi yang tiba-tiba mengumumkan harga tiket konser "World Tour" yang harganya tidak masuk akal.
"Wahai K-Netz, mari kita tunda dulu urusan nasi padang ini," tulis akun @BocahGakBahaya. "Ayo kita bersatu gebukin admin Star-H yang naruh harga tiket seharga ginjal ini!"
K-Netz menjawab pendek: "Setuju. Wkwkwkwk."
Dan begitulah, diplomasi nasi padang berhasil menaklukkan kaku-nya dunia K-Pop, membuktikan bahwa terkadang, satu mangkuk seblak lebih ampuh untuk mendamaikan dunia daripada seribu truk protes.