Jakarta mungkin punya debu, tapi Seoul punya obsesi. Di distrik Gangnam, aroma kemewahan bukan berasal dari parfum desainer, melainkan dari campuran antiseptik dan ambisi yang menguap dari ribuan klinik bedah plastik. Bagi Han Chae-young, Seoul adalah penjara kaca. Wajahnya yang "biasa saja"—istilah sopan untuk menyebut seseorang yang dianggap tidak layak tampil di depan kamera—telah membuatnya menjadi sasaran perundungan sejak bangku sekolah menengah hingga ke dunia kerja di sebuah agensi periklanan elit.
"Chae-young, kau punya otak yang bagus, tapi klien kita menjual kecantikan. Bagaimana kau bisa meyakinkan mereka jika wajahmu sendiri merusak estetika presentasi?" Kalimat itu, yang diucapkan bosnya dengan nada dingin, menjadi belati terakhir.
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang membasuh lampu neon Gangnam, Chae-young menemukan sebuah kartu nama hitam di saku mantelnya. Tanpa nama dokter, tanpa logo. Hanya alamat di sebuah lantai bawah tanah gedung tua yang hampir runtuh dan tulisan perak: “Kelahiran Kembali Tanpa Biaya.”
Lantai bawah tanah itu tidak terlihat seperti klinik. Lebih mirip galeri seni yang sangat sunyi. Dindingnya dilapisi beludru hitam, dan di tengah ruangan duduk seorang pria dengan masker sutra yang menutupi setengah wajahnya. Ia menyebut dirinya Dokter Jin.
"Kami tidak mencari uang, Chae-young-ssi," suara pria itu lembut, namun bergetar seperti gesekan biola tua. "Kami mencari mahakarya. Klinik kami disponsori oleh para kolektor kecantikan. Kau hanya perlu memberikan satu hal sebagai bayaran."
"Apa?" tanya Chae-young, tangannya gemetar.
"Identitasmu yang lama. Kau akan menjadi 'The New One'. Operasi ini meliputi struktur tulang wajah total, V-Line jaw, double eyelid, hingga porselen skin grafting. Kau akan menjadi standar kecantikan baru yang belum pernah dilihat dunia."
Chae-young menelan ludah. "Apa syaratnya?"
Dokter Jin mencondongkan tubuh. "Tiga puluh hari. Kau akan tinggal di ruang pemulihan kami yang tanpa cermin. Jika kau melihat bayanganmu sendiri sebelum hari ketiga puluh, proses penyatuan jaringan akan gagal. Wajahmu akan meluruh."
Ketamakan akan pengakuan mengalahkan rasa takutnya. Chae-young menandatangani kontrak dengan tinta merah yang berbau aneh. Bau besi.
Sepuluh hari pertama adalah neraka. Wajah Chae-young dibungkus perban ketat. Ia hanya bisa makan cairan melalui sedotan. Namun, ia merasa aneh. Kulit wajahnya tidak terasa seperti baru saja dioperasi. Tidak ada rasa sakit yang berdenyut atau memar yang perih. Sebaliknya, ia merasa sejuk, seolah-olah ada tangan dingin yang terus-menerus mengelus pipinya dari balik kain perban.
Di hari kelima belas, ia mulai mendengar bisikan. Bukan dari luar, tapi dari balik kulit wajahnya. Bisikan-bisikan pendek dalam bahasa yang tidak ia mengerti—tangisan lirih, tawa kecil, dan rintihan yang menyayat.
"Siapa di sana?" teriak Chae-young di kamarnya yang gelap.
Hening. Hanya suara detak jantungnya sendiri.
Hari kedua puluh, ia mulai merasa "wajahnya" bergerak. Bukan otot wajahnya, melainkan sesuatu di atas tulangnya. Seperti ada serangga yang merayap di bawah permukaan kulitnya, mencoba menyesuaikan diri dengan bentuk tengkoraknya. Chae-young hampir saja memecahkan lampu meja untuk melihat bayangannya di pecahan kaca, tapi ia teringat ancaman Dokter Jin. Wajahmu akan meluruh.
Hari ketiga puluh tiba. Dokter Jin membuka perban itu dengan gerakan ritual. Saat kain terakhir jatuh, ia tidak memberikan cermin. Ia memberikan sebuah ponsel. "Lihatlah dunia, dan biarkan dunia melihatmu."
Chae-young menyalakan kamera depan. Ia menjerit—bukan karena ngeri, tapi karena takjub. Wanita di layar itu bukan lagi Han Chae-young. Ia adalah dewi. Matanya seperti galaksi yang dalam, hidungnya sempurna dengan kemiringan yang matematis, dan kulitnya... kulitnya begitu putih, tanpa pori-pori, tampak bersinar seperti porselen transparan.
Dalam semalam, Chae-young menjadi fenomena. Ia mengganti namanya menjadi 'Min-ah'. Dengan wajah barunya, ia tidak perlu memohon pada klien. Agensi model terbesar di Korea bertekuk lutut di depannya. Akun Instagram-nya meledak dengan jutaan pengikut dalam hitungan hari. Ia menjadi Influencer nomor satu di Seoul.
Namun, kejayaan itu membawa kengerian baru.
Suatu malam, setelah sebuah pesta peluncuran kosmetik, Min-ah berdiri di depan wastafel kamar mandi mewah. Cahaya lampu meredup sejenak. Saat ia menatap cermin, matanya yang indah di pantulan itu tidak berkedip bersamanya. Mata di cermin itu tetap menatapnya dengan penuh kebencian selama satu detik lebih lama.
Min-ah mundur selangkah, napasnya memburu. "Hanya kelelahan," bisiknya.
Tapi kemudian, ia melihat sudut bibirnya di cermin mulai naik. Pantulannya tersenyum lebar, sangat lebar hingga sudut bibirnya mencapai telinga, padahal mulut Min-ah yang asli tetap tertutup rapat karena ketakutan.
"Terima kasih... sudah memberikan tubuhmu..." suara itu berasal dari pantulan cermin, tapi bergema di dalam kepala Min-ah.
Min-ah menyentuh pipinya. Kulitnya terasa dingin. Terlalu dingin untuk manusia hidup. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: kulit porselennya tidak lagi mengikuti ekspresi otot wajahnya. Jika ia sedih, wajahnya tetap tersenyum. Jika ia marah, wajahnya tetap tampak tenang dan cantik. Wajah itu telah menjadi topeng yang memiliki kehendaknya sendiri.
Konflik memuncak ketika Min-ah bertemu dengan seorang perawat tua yang pernah bekerja di klinik Dokter Jin. Perawat itu menemukannya di sebuah gang gelap setelah Min-ah melarikan diri dari sesi pemotretan karena wajahnya mulai "bergeser".
"Kulit itu... kau memakai kulit pasien yang gagal, bukan?" bisik perawat itu dengan wajah pucat.
"Apa maksudmu?!" seru Min-ah, menutupi wajahnya dengan syal.
"Dokter Jin tidak membedah wajahmu. Dia menguliti orang-orang yang mati di meja operasinya—mereka yang tidak tahan dengan rasa sakit, mereka yang jiwanya hancur. Dia menyatukan sisa-sisa kulit terbaik mereka dengan sihir hitam dan teknologi jaringan. Kau tidak cantik, Min-ah. Kau adalah pemakaman yang berjalan."
Min-ah berlari kembali ke klinik bawah tanah itu. Ia harus menuntut penjelasan. Namun, saat ia sampai di sana, tempat itu kosong. Tidak ada beludru hitam, tidak ada Dokter Jin. Hanya ada sebuah ruangan beton tua dengan ribuan toples berisi cairan formalin.
Di dalam toples-topres itu, terdapat potongan wajah manusia yang sudah dikuliti. Dan di toples paling tengah, tertempel sebuah label: Han Chae-young - Pemilik Tubuh No. 44.
Min-ah melihat ke arah cermin besar yang ada di ujung ruangan—satu-satunya cermin di sana. Ia melihat wajah 'Min-ah' miliknya mulai terkelupas. Bukan meluruh karena infeksi, tapi karena kulit itu mencoba melepaskan diri dari tulang tengkoraknya. Di bawah lapisan porselen itu, tidak ada daging merah. Hanya ada kegelapan hampa yang menghisap udara.
Ia melihat wajah-wajah lain muncul di permukaan kulitnya. Wajah gadis-gadis yang hilang di Gangnam. Mereka berteriak tanpa suara, memperebutkan kendali atas tubuh Min-ah.
"Kembalikan wajahku!" teriak sebuah suara dari pipi kirinya.
"Ini giliranku untuk dilihat!" seru suara lain dari dahinya.
Min-ah jatuh berlutut, mencakar wajah cantiknya hingga kuku-kukunya patah. Namun, tidak ada darah yang keluar. Yang keluar adalah cahaya neon putih yang menyilaukan dan suara tawa Dokter Jin yang bergema di seluruh ruangan.
Esok paginya, seorang petugas kebersihan menemukan sebuah mantel mahal tergeletak di lantai gudang bawah tanah itu. Tidak ada tubuh di sana. Hanya ada sebuah topeng porselen yang sangat cantik, tergeletak di lantai beton, dengan retakan kecil di bagian mata.
Di pusat kota Gangnam, sebuah papan iklan raksasa baru saja dipasang. Menampilkan wajah model baru yang bahkan lebih cantik dari Min-ah. Wajah yang memiliki mata yang sama, hidung yang sama, dan senyum porselen yang sama.
Dunia memuji kecantikannya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum sempurna itu, Han Chae-young dan puluhan gadis lainnya sedang menjerit di dalam penjara kulit yang baru. Karena di Seoul, kecantikan memang abadi—selama ada tubuh baru yang siap menjadi inangnya.