Desa itu bernama Desa Sungsang, sebuah titik terpencil di peta yang seolah sengaja disembunyikan oleh jajaran bukit kapur yang angkuh. Di sana, waktu seperti berhenti berputar. Tidak ada tower pemancar, tidak ada bising kendaraan. Hanya ada suara gesekan daun jati dan gemuruh sungai purba yang membelah desa.
Aris memarkirkan motornya dengan napas tersenggal. Ia baru saja menempuh perjalanan tujuh jam dari kota demi satu tujuan: pemakaman kakeknya, Kiai Usman. Sebagai satu-satunya cucu, ia merasa berdosa karena hanya bisa datang saat sang kakek sudah terbujur kaku di bawah kain jarik.
"Jangan masuk ke masjid sebelum kau membasuh muka di sumur tua, Rism," bisik ibunya melalui telepon sebelum sinyal benar-benar hilang di perbatasan desa. Aris hanya mendengus. Baginya, takhayul desa adalah rantai yang membelenggu logika.
Saat Aris tiba di depan Masjid Al-Ikhlas, waktu sudah menunjukkan pukul 17.50. Langit berubah warna menjadi jingga yang memar, serupa luka yang baru saja mengering. Masjid itu berdiri kokoh dengan kayu jati yang menghitam dimakan usia. Arsitekturnya janggal—atap tumpang tiga yang puncaknya terlalu runcing, seolah ingin menusuk langit.
Di pelataran masjid, Aris bertemu dengan seorang lelaki tua yang sedang menyapu daun kering. Namanya Pak mantra, marbot masjid yang matanya sudah putih sebelah.
"Nak Aris, sudah sampai rupanya," suara Pak Mantra parau, seperti gesekan batu. "Segeralah ambil wudhu. Magrib sebentar lagi. Tapi ingat satu hal..."
Aris berhenti melangkah. "Apa, Pak?"
"Hitung jumlah orang di dalam sebelum kau menginjakkan kaki di atas sajadah. Pastikan jemaahnya tidak lebih dari dua belas orang."
Aris tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang di tengah kesunyian desa. "Kalau tiga belas memangnya kenapa, Pak? Masjid ini kan rumah Tuhan, siapa pun boleh masuk."
Pak Mantra tidak menjawab. Ia hanya menatap Aris dengan mata putihnya yang tak berkedip, lalu kembali menyapu dengan gerakan yang kaku, seolah ia hanyalah sebuah mesin tua.
Azan Magrib berkumandang. Suaranya tidak seperti azan pada umumnya. Nada-nadanya panjang dan menyayat, membuat bulu kuduk Aris berdiri tanpa sebab. Ia segera berwudhu di keran samping masjid. Airnya terasa sangat dingin, hampir seperti es yang membekukan tulang.
Aris melangkah masuk ke dalam ruang utama masjid. Aroma kayu jati tua bercampur dengan wangi bunga kamboja yang menusuk hidung. Ia melihat beberapa orang sudah berdiri bersiap melakukan salat. Sesuai pesan Pak Mantra yang dianggapnya konyol, Aris mulai menghitung dalam hati.
Satu, dua, tiga... sebelas, dua belas.
Termasuk sang Imam yang berdiri paling depan dengan jubah putih yang sangat panjang hingga menyentuh lantai, jumlah mereka pas dua belas. Aris ragu sejenak. Jika ia masuk, maka ia akan menjadi orang ketiga belas.
"Logika, Aris. Ini cuma angka," bisiknya pada diri sendiri.
Ia melangkah masuk, mengambil posisi di saf paling belakang. Begitu kakinya menginjak karpet hijau yang kasar itu, sebuah dentum keras terdengar dari arah luar. Petir menyambar meski langit tidak mendung. Pintu jati masjid yang berat itu tertutup sendiri dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Allahu Akbar...
Sang Imam memulai takbir. Suaranya berat, sangat berat, seolah berasal dari dasar sumur yang sangat dalam. Aris mengangkat tangannya, mencoba berkonsentrasi. Namun, ada yang salah. Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin hingga napasnya mengeluarkan uap putih.
Aris melirik ke samping kirinya. Ada seorang pria paruh baya yang memakai baju koko lusuh. Pria itu menunduk sangat dalam hingga wajahnya tidak terlihat. Aris kemudian beralih ke arah lantai. Cahaya lampu gantung yang remang-remang seharusnya menciptakan bayangan jemaah di atas karpet.
Jantung Aris hampir berhenti berdetak.
Semua jemaah di depannya tidak memiliki bayangan. Cahaya lampu menembus tubuh mereka seolah mereka hanyalah tumpukan asap yang memadat. Hanya ada satu bayangan di ruangan itu: bayangan Aris sendiri, yang tampak memanjang dan bergerak gelisah di atas karpet hijau.
Salat terus berlanjut. Saat ruku, Aris mencoba menoleh sedikit ke arah saf depan. Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan. Semua jemaah itu tidak bernapas. Tidak ada pundak yang naik-turun, tidak ada suara napas. Masjid itu menjadi sangat sunyi, kecuali suara sang Imam yang mulai membacakan ayat-ayat yang tidak pernah Aris dengar di Al-Qur'an mana pun.
Bahasa itu asing. Konsonannya tajam, vokal-vokalnya parau, seperti bisikan ribuan ular yang lapar. Aris ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku pada karpet. Setiap kali ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia merasa ribuan tangan tak terlihat menahan pundaknya.
Sami'allahu liman hamidah...
Mereka bangkit dari ruku. Kini saatnya sujud.
Saat dahi Aris menyentuh lantai, ia merasakan dingin yang luar biasa. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya sedikit. Di bawah celah saf di depannya, ia melihat kaki-kaki jemaah itu. Kaki mereka tidak menapak di lantai. Mereka mengambang beberapa senti di atas karpet. Dan kaki sang Imam... kaki itu tidak berbentuk manusia. Kaki itu berwarna hitam legam dengan kuku-kuku panjang yang mengait ke dalam kayu lantai.
"Ya Tuhan, tempat apa ini?" batin Aris berteriak.
Tiba-tiba, sang Imam berhenti membacakan ayat. Kesunyian yang lebih mengerikan menyelimuti masjid. Aris masih dalam posisi sujud, tak berani bangkit. Kemudian, ia mendengar suara gesekan kain. Sang Imam berbalik.
"Makmum ketigabelas..." bisik suara itu, terdengar tepat di atas kepala Aris.
Aris memberanikan diri untuk bangkit dari sujudnya. Seluruh jemaah kini sudah berbalik menghadap ke arahnya. Mereka semua memiliki wajah yang sama: wajah kakeknya, Kiai Usman, namun dengan mata yang sepenuhnya hitam dan mulut yang dijahit dengan benang kasar.
Sang Imam melepaskan sorbannya. Di balik kain putih itu, bukan wajah manusia yang terlihat. Melainkan sosok entitas dengan kulit serupa tanah kering dan tanduk kecil yang tumbuh dari pelipisnya.
"Kau datang untuk menggantikan kakekmu, Aris," ucap sosok itu. "Desa ini butuh penjaga. Perjanjian lama butuh darah baru. Jemaah dua belas ini adalah mereka yang gagal. Kau... adalah penggenap."
Aris merangkak mundur, mencoba mencapai pintu yang terkunci. "Tidak! Kalian sudah mati! Kakek sudah meninggal!"
"Kematian hanyalah cara kami berpindah saf," salah satu jemaah yang wajahnya mirip Kiai Usman berbicara tanpa menggerakkan mulut yang dijahit. "Hitunglah lagi, Aris. Hitunglah!"
Aris gemetar hebat. Ia melihat ke arah jajaran jemaah itu. Satu jemaah maju ke depan, berdiri di sampingnya. Lalu satu lagi. Mereka mulai membentuk lingkaran, mengurung Aris di tengah masjid yang kini berbau darah dan belerang.
"Setiap seratus tahun, Makmum Ketigabelas harus masuk secara sukarela. Dan kau, cucu Usman yang sombong, masuk dengan kaki kananmu sendiri," sang Imam tertawa, suara tawa yang meruntuhkan iman.
Lampu gantung di atas kepala Aris mulai berayun kencang. Cahayanya meredup, menyisakan kegelapan yang pekat. Aris merasakan tangan-tangan dingin mulai menyentuh kulitnya, mencengkeram lehernya, menariknya untuk sujud kembali.
"Su-jud..." bisik mereka serempak.
Aris mencoba melawan, ia meraba sakunya dan menemukan sebuah pemantik api. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan api kecil itu. Cahaya api itu sesaat mengusir kegelapan, dan ia melihat sesuatu yang mengerikan di bawah kakinya sendiri.
Bayangannya bukan lagi berbentuk manusia. Bayangannya telah berubah menjadi sosok hitam besar dengan sayap yang patah, merayap menuju arah sang Imam.
"Jangan menoleh ke belakang sebelum salam, Aris," suara Pak Mantra tiba-tiba terdengar di kepalanya.
Aris memejamkan mata. Ia duduk di antara dua sujud dengan tubuh menggigil. Ia mulai membacakan doa-doa yang ia ingat saat kecil, doa-doa tulus yang diajarkan kakeknya sebelum ia pergi ke kota. Suaranya gemetar, tapi ia terus membacanya.
Allahu Akbar...
Suasana mendadak meledak. Suara teriakan memekakkan telinga terdengar di sekelilingnya. Masjid Al-Ikhlas berguncang hebat. Kayu-kayu jati itu berderit, kaca-kaca jendela pecah berantakan. Aris merasa tubuhnya dilempar oleh kekuatan yang sangat besar.
Saat Aris membuka mata, cahaya matahari pagi menusuk matanya. Ia terbangun di tengah rerumputan tinggi. Saat ia duduk dan melihat ke sekeliling, ia menyadari bahwa ia tidak berada di masjid.
Ia berada di tengah-tengah pemakaman tua Desa Sungsang.
Di depannya, ada nisan kayu yang masih baru. Nisan Kiai Usman. Dan di sebelah nisan itu, ada sebelas nisan lainnya yang sudah sangat tua, berlumur lumut. Aris menghitungnya dengan cepat. Pas sebelas. Ditambah kakeknya, jumlahnya dua belas.
Ia meraba dadanya, jantungnya masih berdegup. Ia segera berlari menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan desa. Saat ia melewati Masjid Al-Ikhlas, ia melihat bangunan itu tidak lagi gagah. Masjid itu hanyalah reruntuhan kayu yang terbakar habis, seolah-olah sudah hancur sejak puluhan tahun yang lalu.
Pak Mantra berdiri di sana, memegang sapu lidi yang sama.
"Kau beruntung, Nak Aris. Iman kakekmu masih melindungimu di sujud terakhir tadi," ucap Pak Mantra tanpa menoleh.
Aris tidak menjawab. Ia segera menyalakan motornya dan memacu dengan kecepatan penuh meninggalkan Desa Sungsang. Ia bersumpah tidak akan pernah menoleh ke belakang.
Namun, saat ia sampai di perbatasan desa dan melihat ke kaca spion motornya, ia membeku. Di kursi penumpang motornya, di balik pundaknya, ia melihat sebuah bayangan hitam sedang duduk dengan tenang. Bayangan itu tidak memiliki wajah, namun memakai sorban putih milik sang Imam.
Dan yang paling mengerikan, saat Aris menatap pantulan dirinya di kaca spion, ia menyadari satu hal.
Matanya sekarang sepenuhnya berwarna putih, persis seperti mata Pak Mantra.
"Sudah waktunya jemaah ketigabelas pulang..." sebuah bisikan terdengar tepat di telinganya, meski tidak ada siapa-siapa di jalanan sunyi itu.
Aris terus memacu motornya, menuju kota, menuju keramaian, tanpa menyadari bahwa ia tidak lagi membawa dirinya sendiri. Ia membawa 'sesuatu' yang akan mengubah setiap masjid yang ia masuki menjadi ruang dua belas orang mati.