Di SMA Persada Internasional, nama Willedium adalah sinonim dari kesempurnaan. Dia adalah "bunga sekolah" pria yang seolah-olah di pahat oleh seniman terbaik.
Prestasi nya di bidang basket, deretan piala Olimpiade Sains dan matematika, hingga senyumnya yang mampu membuat koridor sekolah seketika senyap karena terpesona, menjadikannya sosok yang tak terjangkau. Namun, bagi Natalie, Willedium bukanlah pangeran. Baginya, Willedium adalah "Hama masa kecil."
Sejak mereka berusia tujuh tahun dan bertangga, Willedium adalah sumber penderitaan Natalie. Willedium lah yang menaruh cacing di kotak bekalnya saat TK, yang mengikat tali sepatunya ke kaki meja saat SD, dan yang menyebarkan rumor bahwa Natalie takut badut saat mereka masuk SMP. Natalie membenci setiap inci dari kejahilan pria itu.
Suatu sore di laboratorium seni yang sepi, Natalie sedang merapikan kuas-kuasnya. Ia ingin segera pulang dan merebahkan diri, namun langkah nya terhenti ketika sesosok tubuh tinggi menghalangi pintu.
"Minggir, Wille. Aku capek," ketus Natalie tanpa mendongak.
Willedium tidak bergerak. Ia tidak tertawa seperti biasanya. "Nat, aku mau bicara serius."
Natalie mendengus. "Serius? Apalagi sekarang? Mau menaruh lem di kursi atau menyembunyikan tasku di atas atap lagi? Aku sudah tidak punya tenaga untuk meladeni kejahilanmu hari ini."
Willedium menarik napas panjang. Ia melangkah mendekat, membuat Natalie terpaksa mundur hingga punggung nya menyentuh meja kayu. Willedium menatap menatap nya dengan intensitas yang berbeda, tidak ada kilatan nakal di matanya, hanya ada ketulusan yang terasa asing bagi Natalie.
"Natalie, aku tahu aku sering menjahatimu. aku tahu aku membuatmu benci kepadaku selama bertahun- tahun," suara Willedium rendah dan serak. "Tapi itu satu-satunya cara yang aku tahu agar kau selalu memperhatikanku. Bodoh, memang. Tapi hari ini, aku tidak ingin bercanda lagi. Natalie... Aku menyukaimu. Lebih dari sekadar teman masa kecil. Maukah kau menjadi pacar ku?"
Natalie terdiam. Hening menyelimuti ruangan itu hingga detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum. Kemudian, Natalie tertawa. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa skeptis yang penuh ketidak percayaan.
"Wille, ini lelucon paling tidak lucu yang pernah kamu buat," ujar Natalie dengan mata berkaca-kaca karena kesal. "Kamu populer, kamu tampan, semua orang memujamu. Dan kamu memilihku hanya untuk dijadikan bahan taruhan dengan teman-teman basketmu? Atau ini bagian dari rencana jahil mu yang baru?"
"Ini bukan taruhan, Nat!" Potong Willedium cepat. "Aku bersumpah semua prestasi yang pernah aku raih. Aku menyukaimu sejak kita masih kecil. Aku menjahilimu karena aku cemburu melihatmu tertawa dengan pria lain. Aku pengecut yang hanya bisa menarik perhatianmu lewat amarahmu.
Natalie menggeleng kuat-kuat. Ingatannya tentang masa lalu saat ia menangis karena ulah Willedium terasa begitu nyata." Kamu tahu betapa aku membencimu dulu, Wille? Setiap kali kamu tertawa melihatku kesal, itu menyakitkan. Bagaimana bisa aku percaya pada orang yang hobinya merusak hariku?"
Willedium meraih tangan Natalie perlahan. Kali ini, Natalie tidak menarik tangannya. Tangan Willedium terasa hangat, berbeda dengan kesan dingin yang selalu ia tempilkan di depan orang banyak.
"Aku tahu butuh waktu seribu tahun untuk menghapus kebencian mu, bisik Willedium. "Tapi biarkan aku mencoba. Aku tidak minta kamu langsung menjawab 'iya' aku hanya ingin kamu tahu bahwa di balik semua kejahilanku, hanya ada kamu di kepalaku. Perbedaan antara kita, kau yang membenciku dan aku yang memujamu, dan biar waktu lah yang menyatukannya."
Senja itu, Natalie pulang dengan perasaan campur aduk. Ia menatap ke arah jendela kamar Willedium yang berseberangan dengan kamarnya. Di sana, ia melihat Willedium sedang duduk di meja belajar nya, tidak sedang berlatih basket atau belajar, melainkan memandangi foto masa kecil mereka yang sudah kusam dia mana Natalie sedang menangis karena es krimnya jatuh ulah Willedium, namun di foto, Willedium kecil sebenarnya sedang berusaha memberikannya es krim miliknya yang baru.
Natalie baru menyadari satu hal. Selama ini, ia terlalu sibuk membenci hingga tidak melihat bagaimana cara Willedium menjaganya dari jauh. Saat Natalie sakit, Willedium lah yang diam-diam meletakkan obat di laci mejanya tanpa nama. Saat Natalie hampir jatuh di tangga, tangan Willedium lah yang selalu ada di belakang tasnya untuk berjaga-jaga.
Perbedaan di antara mereka bukan tentang kasta sosial atau popularitas, melainkan tentang cara mereka menunjukkan rasa. Willedium dengan cara yang salah namun tulus, dan Natalie dengan benteng pertahanan yang tinggi.
Keesokan harinya di sekolah, Willedium tidak lagi mengejek Natalie. Ia datang membawa satu buket bunga Krisan, buanga favorit Natalie yang bahkan Natalie sendiri tidak pernah bercerita pada siapapun.
"Aku akan terus begini sampai kamu percaya, Nat," ujar Willedium di depan kerumunan siswa yang ternganga, sang bunga sekolah berlutut di depan 'musuh bebuyutannya'.
Natalie tersenyum kecil. Mungkin rasa benci itu tidak benar-benar ada. Mungkin selama ini, kebencian itu hanyalah bentuk lain dari perhatian yang terpendam. "Satu Minggu, Wille. Berikan aku alasan untuk tidak membencimu selama satu minggu, dan aku akan mempertimbangkannya."
Willedium berdiri dengan binar mata yang paling cerah yang pernah dilihat Natalie. "Satu Minggu? Aku akan memberikanmu seumur hidup."
Ku lihat Willedium yang tersenyum ceria, dan tanpa ku sadari bibir ku tiba-tiba saja terurkir senyuman kecil, dan hal itu di sadari oleh Willedium.
Natalie yang tidak menyadari hal itu tertawa kecil lagi, melihat kelakuan lucu Willedium, saat itu Willedium keget, karena Willedium baru pertama kali melihat Natalie tertawa seriang ini. Wajah nya ia tiba-tiba memerah.
"Nat, kamu tertawa!!! Apakah kamu sesenang itu kepadaku. Dan aku yang menyadari telah melakukan kesalahan kecil itu langsung mengubah ekpresiku menjadi datar dan dingin lalu berkata. " Kamu menghalu Wille.
Saat itu Willedium bergumam dalam lubuk hati terdalam (aku tidak akan mengecewakan mu lagi, Natalie. Aku berjanji akan membuatmu tertawa dan tersenyum lagi seperti ini di masa depan.)
Saat itu Willedium mendekatiku inchi demi inchi, hingga punggung ku menyentuh sebuah tembok, disana aku menatap Willedium dengan tatapan tajam. " Apa yang kamu lakukan Wille? Cepat mundur dari hadapan ku. Kulihat Wille memegangi tangan ku yang kurus dan mencium nya, aku saat itu terdiam, tak tahu harus berkata apa, saat itu ia mendongakkan kepala nya tersenyum kepadaku dan berkata. "Aku ingin kamu tersenyum dan tertawa seperti ini lagi,Nat. Aku ingin kamu bahagia di sisiku, aku janji tidak akan mengecewakan mu lagi sampai hari hayat ku.
Dan di koridor sekolah itu, dia antara bisik-bisik siswa lainnya, sebuah perbedaan besar mulai terkikis. Sebuah kisah cinta baru dimulai, bukan dari kata-kata manis yang instan, melainkan dari sisa-sisa kejahilan masa lalu yang berubah menjadi janji masa depan yang indah.