Suara desingan peluru yang memecah kaca jendela Menteng terdengar seperti lonceng kematian. Di tengah kegelapan total, Luna bisa merasakan detak jantung Adrian yang berpacu kencang di balik setelan jas mahalnya. Pria itu tidak lagi terlihat seperti pengawal yang sopan; dia adalah predator yang kembali ke habitat aslinya.
"Jangan lepaskan tanganmu dari leherku, Luna. Tetap rendah," bisik Adrian. Suaranya dingin, namun ada kelembutan yang menyakitkan di sana.
Adrian menarik Luna menuju lorong rahasia di balik rak buku kayu jati. Dengan satu tangan, ia melepaskan tembakan balasan ke arah bayangan yang bergerak di taman. Setiap peluru yang keluar dari moncong pistol Adrian adalah presisi yang mematikan. Luna gemetar, ia benci fakta bahwa pria yang menghancurkan hidupnya adalah satu-satunya orang yang bisa memastikan ia tetap hidup.
Saat mereka sampai di ruang bawah tanah yang kedap suara, Adrian mendorong sebuah tombol yang mengunci pintu baja setebal sepuluh sentimeter. Kesunyian mendadak mencekam. Hanya ada deru napas mereka yang saling berkejaran.
"Kenapa, Adrian?" tanya Luna, suaranya pecah di tengah kegelapan. "Kalau kau memang pembunuh bayaran yang hebat, kenapa tidak bunuh aku saja sekalian? Bukankah itu akan menyelesaikan misimu?"
Adrian menyalakan lampu darurat yang berpendar kemerahan. Cahaya itu membuat wajahnya tampak makin misterius. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya mulai terlihat berat. Baru saat itulah Luna melihat noda darah yang makin melebar di pinggang Adrian. Ia tertembak saat melindunginya tadi.
"Karena aku tidak pernah punya pilihan untuk membunuhmu, Luna," jawab Adrian parau. Ia menatap Luna dengan mata yang mulai sayu. "Ayahmu... dia bukan orang baik. Dia adalah pengkhianat di dunia kami. Tapi saat aku melihat fotomu di atas mejanya sebelum aku menarik pelatuk... aku tahu aku sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku."
"Kesalahan?" Luna tertawa getir, air mata mengalir deras. "Kau menyebut nyawa ayahku sebagai kesalahan?"
"Aku menyebut pertemuanku denganmu sebagai takdir yang menghukumku," Adrian merosot duduk di lantai. Ia memegang luka di pinggangnya, mencoba menahan pendarahan. "Aku ingin memberitahumu, tapi aku egois. Aku ingin dicintai olehmu sedikit lebih lama sebelum kau akhirnya tahu bahwa aku adalah monster."
Luna terpaku. Di antara rasa benci yang meluap, ada bagian dari hatinya yang terasa remuk melihat Adrian dalam kondisi seperti ini. Pria ini gagah, kuat, dan ditakuti, namun sekarang ia tampak begitu rapuh di bawah kaki Luna.
"Berikan ponselmu," perintah Luna tiba-tiba.
"Untuk apa? Memanggil polisi? Mereka sudah dalam perjalanan, tapi musuhku punya orang di dalam kepolisian," Adrian menggeleng.
"Diam dan berikan ponselmu!" Luna merampas ponsel dari saku jas Adrian. Ia mencari kotak P3K di ruang tersebut. "Aku tidak mau kau mati sebelum aku benar-benar tahu apa yang harus kulakukan padamu. Kau berutang penjelasan padaku, Adrian Alister. Dan hutang nyawa dibayar nyawa, bukan dengan kematian yang mudah seperti ini."
Luna mulai membersihkan luka Adrian dengan tangan gemetar. Saat alkohol menyentuh luka terbuka itu, Adrian bahkan tidak merintih. Ia hanya menatap Luna dengan sorot mata yang penuh dengan penyesalan dan... pemujaan.
"Kau tahu," bisik Adrian sambil menahan perih, "kalau kau ingin aku mati, kau tinggal membiarkanku di sini. Kau bisa mengambil senjataku dan pergi lewat jalur evakuasi."
Luna berhenti bergerak. Ia menatap mata abu-abu Adrian. "Dan membiarkanmu menang sebagai martir dalam hidupku? Tidak. Kau akan tetap hidup, Adrian. Kau akan tetap hidup agar setiap hari kau bisa melihat wajah wanita yang ayahnya kau bunuh. Itu adalah hukuman yang lebih pantas untukmu."
Tiba-tiba, layar ponsel Adrian yang tergeletak di lantai menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor misterius: 'Target utama masih di dalam. Habisi keduanya. Black Mamba tidak menerima kegagalan.'
Luna membeku. "Black Mamba? Itu organisasimu, kan?"
Adrian melihat pesan itu dan senyum pahit muncul di bibirnya. "Dulu. Sekarang, aku adalah target mereka juga. Aku mengkhianati organisasi demi melindungimu. Aku menolak menyerahkan kode akses rekening ayahmu kepada mereka."
Luna menyadari sesuatu yang mengerikan. Adrian bukan hanya melindungi Luna dari musuh ayahnya, tapi juga dari kawan-kawannya sendiri. Adrian telah membuang seluruh dunianya hanya untuk seorang gadis pelayan kafe yang baru ia temui beberapa minggu.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Luna lirih.
Adrian meraih tangan Luna yang masih memegang perban. Ia mengecup punggung tangan itu dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan situasi berdarah di sekeliling mereka. "Karena sejak malam di kafe itu, duniaku bukan lagi tentang uang atau kekuasaan. Duniaku adalah kau, Luna."
Suara ledakan keras terdengar dari atas. Pintu baja ruang bawah tanah itu mulai digedor dengan palu godam. Musuh sudah masuk ke dalam rumah.
Adrian berdiri dengan susah payah, mencabut pistol cadangan dari pergelangan kakinya. Ia memberikan pistol itu kepada Luna. "Dengar. Lorong di belakang lemari itu menuju ke saluran pembuangan kota. Lari sejauh mungkin. Jangan menoleh."
"Lalu kau?"
Adrian mengisi peluru ke senjatanya. Wajahnya kembali menjadi dingin, ekspresi pembunuh yang tak kenal ampun. "Aku akan menahan mereka di sini. Ini adalah pembayaran cicilan pertama untuk hutangku padamu."
"Adrian, tidak—"
"Lari, Luna! Sekarang!" teriak Adrian saat pintu baja mulai retak.
Luna berlari menuju lorong rahasia, namun di ambang pintu, ia menoleh. Ia melihat Adrian berdiri tegak menantang pintu, siap menghadapi puluhan orang sendirian. Di tengah ketakutan dan kebencian, Luna menyadari satu hal: ia tidak bisa membenci Adrian sebanyak ia mencintainya.
Brak! Pintu baja itu jebol. Suara tembakan membabi buta memenuhi ruangan. Luna menutup pintu lorong rahasia dengan isak tangis yang tertahan, berlari menembus kegelapan lorong bawah tanah.