"Ya! Park Seo-yeon! Kau pakai trik sulap murahan apa sampai kita bisa nyasar ke lokasi syuting kolosal begini? Cepat panggil manajerku atau aku laporin kau ke polisi karena penculikan idola nasional!" Kim Min-jae, calon bintang besar yang wajahnya biasanya terpampang di billboard Gangnam, sekarang malah terlihat seperti ayam sayur yang baru keluar dari mesin cuci. Dia berdiri di pinggir kolam teratai dengan jubah biru sutra yang beratnya minta ampun, sementara rambutnya yang tadi pagi sudah ditata habis-habisan oleh salon mahal, kini terikat dalam sanggul pria Joseon yang miring ke kiri.
Park Seo-yeon, yang tadinya baru saja dipecat Min-jae gara-gara salah pilih warna foundation yang bikin muka si idola jadi abu-abu monyet, cuma bisa melongo sambil memeras ujung bajunya yang terbuat dari rami kasar. "Heh, Kim Min-jae! Jaga mulutmu ya! Kamu pikir aku punya kekuatan magis kayak di anime? Lihat aku! Aku pakai baju goni! Aku ini budak pembersih kandang kuda, bukan sutradara film! Harusnya aku yang marah, kenapa aku harus terlempar ke zaman purba begini bareng cowok sombong kayak kamu?"
Dunia di sekitar mereka benar-benar sudah gila. Tidak ada suara klakson, tidak ada aroma kopi Starbucks, yang ada hanyalah bau kotoran kuda dan asap kayu bakar yang bikin hidung Min-jae gatal. Nasib memang sedang mengajak mereka bercanda dengan sangat kasar. Min-jae mendadak jadi Lee Min-hyuk, putra tunggal Menteri Pertahanan yang dikenal sebagai "Bunga Tampan Hanyang" karena wajahnya yang kelewat estetik, sementara Seo-yeon berakhir di barak pelayan dengan sapu lidi di tangan.
Selama seminggu pertama, kehidupan mereka adalah rentetan bencana komedi. Min-jae, yang biasanya tidak tahu cara mengancingkan baju sendiri, hampir mati kelaparan karena tidak tahu cara memakai sumpit kayu yang kasar. Dia sering memanggil Seo-yeon secara rahasia ke paviliun belakang hanya untuk hal-hal sepele. "Seo-yeon-ah, kemari! Cepat ikat tali jubah ini! Aku hampir jatuh tiga kali gara-gara kain ini belibet di kakiku!" bentak Min-jae saat mereka bertemu di balik semak-semak.
Seo-yeon memutar bola matanya malas, tangannya yang mulai kasar dengan terampil merapikan pakaian Min-jae. "Di Seoul kamu bintang, di sini kamu itu beban negara, tahu tidak? Kalau orang-orang tahu Tuan Muda Min-hyuk yang hebat ini nggak bisa pakai baju sendiri, kamu bakal dibuang ke hutan," sindirnya tajam. Min-jae hanya bisa bersungut-sungut, tapi diam-diam dia merasa tenang setiap kali melihat Seo-yeon. Di zaman yang asing ini, hanya gadis pemarah inilah satu-satunya jangkarnya pada kenyataan.
Ketegangan makin memuncak saat Min-jae, dengan insting trainee idolanya, melakukan tarian modern di depan perjamuan Raja demi menyelamatkan muka ayahnya. Dia menjadi sensasi instan di Joseon. Para putri bangsawan mulai mengejarnya, membuat Min-jae makin panik. Suatu malam, dia lari ke kandang kuda, tempat Seo-yeon sedang tidur beralaskan jerami. "Bangun! Kita harus pulang! Putri Mahkota mau menikahiku! Aku tidak mau punya istri yang hobinya minum teh sambil baca kitab kuno, aku mau pulang ke Seoul dan makan ayam goreng!"
Seo-yeon terbangun, menatap Min-jae dengan pandangan yang tiba-tiba berubah sendu. "Mungkin kamu memang ditakdirkan di sini, Min-jae. Kamu punya kasta tinggi. Kamu dihormati. Kenapa harus pulang ke dunia di mana kamu harus kerja keras tiap hari cuma buat dapet pujian orang?" Min-jae terdiam. Dia menatap Seo-yeon yang wajahnya kotor kena debu, tapi entah kenapa, di bawah sinar rembulan Joseon, Seo-yeon terlihat lebih cantik daripada artis manapun yang pernah dia temui.
"Aku nggak mau kasta tinggi kalau itu artinya aku nggak bisa denger kamu ngomel setiap hari," bisik Min-jae pelan. Suasana mendadak canggung, hanya suara jangkrik yang mengisi celah di antara mereka. Benci yang selama ini mereka pelihara mulai luruh, digantikan oleh debaran jantung yang frekuensinya mulai selaras. Namun, Joseon bukan tempat untuk cinta beda kasta. Faksi politik lawan mulai mencurigai Min-jae karena dia tidak bisa menulis aksara Hanja. Seo-yeon dituduh sebagai penyihir yang mengubah kepribadian Tuan Muda dan dia diseret ke lapangan istana untuk dihukum mati.
Tepat saat pedang algojo hampir menyentuh leher Seo-yeon, langit tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat. Gerhana matahari total. Angin kencang berputar-putar menciptakan pusaran air di kolam teratai. Min-jae tidak lari menyelamatkan diri, dia justru menerjang ke arah Seo-yeon dan memeluknya erat-erat di hadapan semua orang. "Aku tidak akan melepaskanmu lagi!" teriaknya. Cahaya putih menyilaukan meledak, menghisap mereka berdua ke dalam kehampaan.
Saat Min-jae membuka mata, dia sudah berada di bangsal rumah sakit dengan bunyi monitor jantung yang berisik. "Min-jae! Akhirnya kamu bangun!" seru manajernya. Min-jae mencari-cari Seo-yeon, tapi manajernya bilang Seo-yeon sudah lama pergi setelah dipecat. Min-jae berlari keluar rumah sakit dengan sisa tenaga, dan di taman, dia menemukan Seo-yeon sedang duduk sendirian. "Seo-yeon-ah!" panggilnya. Gadis itu menoleh, tapi tatapannya dingin dan formal. "Oh, Kim Min-jae-ssi? Ada apa mencari saya?"
Min-jae terpaku. Apakah semua itu hanya mimpi? Tapi saat dia melihat ke tangan Seo-yeon, gadis itu sedang meremas sesuatu di balik saku jaketnya. Di saat yang sama, berita di televisi rumah sakit menyiarkan: "Gerhana matahari kedua akan terjadi dalam lima menit lagi." Seo-yeon menatap Min-jae dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mengeluarkan sebuah tusuk konde perak yang masih basah dari sakunya. Langit mulai menggelap kembali. Min-jae melangkah maju, Seo-yeon berdiri diam, dan tepat sebelum kegelapan total menyelimuti mereka sekali lagi, sebuah suara gemuruh terdengar dari arah kolam rumah sakit. Apakah mereka akan tinggal, ataukah takdir akan menyeret mereka kembali ke tempat di mana mereka harus saling membenci demi bertahan hidup?