Lampu kafe di kawasan Surabaya Barat itu berpijar kuning hangat, memantul di permukaan meja kayu yang estetis. Di atasnya, sebuah tongkat kayu sepanjang tiga puluh sentimeter tergeletak tak berdaya di samping segelas iced oat latte yang sudah berembun.
Vanya—namanya memang manis, tapi aslinya dia arek Surabaya yang sumbu pendek kalau urusan perasaan—menatap tongkat itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara ingin memujanya atau melemparnya ke selokan depan SMA mereka di kawasan Wijaya Kusuma. Di sebelahnya, Zizi, Lala, dan Caca sudah menunggu dengan wajah haus gosip, persis seperti adegan di kantin sekolah favorit, tapi kali ini dengan resolusi kamera yang lebih tinggi dan keresahan khas remaja masa kini.
"Dadi, benda iki beneran iso nggawe Gavin peka?" tanya Zizi sambil memutar-mutar iPhone-nya.
Vanya menghela napas, poni depannya tertiup pelan. "Iki dudu soal peka, Zi. Iki soal... frekuensi. Jarene kakekku, iki jenenge Tongkat Estetika. Dia nggak bakal ngabulin permintaanmu buat menang lotre, tapi dia bisa ngubah narasi hidupmu jadi apa yang kamu mau."
Dunia remaja mereka memang sedang di ambang batas. Sebentar lagi ujian akhir, sebentar lagi perpisahan, dan Gavin—si cowok penyendiri yang lebih suka baca buku filsafat di perpustakaan daripada nongkrong di kafe kekinian—masih saja sedingin es serut di depan sekolah.
Sore itu, langit Surabaya berwarna jingga keunguan, tipe langit yang sering muncul dalam shot-shot puitis sinematografer handal. Vanya membawa tongkat itu ke rooftop sekolah. Dia tidak tahu cara pakainya. Tidak ada mantra aneh-aneh. Hanya ada ukiran kecil di gagangnya: Tuliskan keresahanmu, maka semesta akan menyuntingnya.
Vanya memejamkan mata. Dia membayangkan Gavin. Dia membayangkan bagaimana Gavin menatapnya tadi pagi di koridor—sebuah tatapan yang penuh dengan kode keras, tapi tanpa kejelasan.
"Aku cuma pengen tahu, apa ada ruang buat aku di antara pikiran-pikiran dia yang rumit itu," bisik Vanya.
Tiba-tiba, tongkat itu bergetar. Bukan getaran sihir yang meledak-ledak dengan efek visual mahal, tapi getaran halus seperti notifikasi pesan masuk. Saat Vanya membuka mata, dunia di sekelilingnya berubah warna. Kontrasnya meningkat, saturasi warnanya menjadi lebih warm, mirip film-film indie klasik.
Lalu, musik instrumen lembut entah dari mana terdengar sayup-sayup terbawa angin panas Surabaya.
Di bawah sana, di pinggir lapangan basket, Gavin berdiri sendirian. Dia tidak sedang memegang bola, melainkan sebuah buku saku. Gavin mendongak. Mata mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah, Gavin melambaikan tangan. Sebuah lambaian yang sangat sinematik, dengan efek slow motion yang natural.
"Gila! Koen beneran pake itu tongkat, Van?" Lala berteriak heboh saat mereka kumpul di kamar Vanya malam harinya. Kamar itu penuh dengan poster konser dan tumpukan kaset lama koleksi ayahnya.
"Aku nggak tahu, La. Pas tak pegang, rasanya kayak aku lagi nulis skrip buat hidupku sendiri," jawab Vanya. Dia duduk di depan jendela, memandangi tongkat kayu itu.
Tapi sihir selalu punya efek samping. Namanya juga remaja Surabaya, kebahagiaan selalu sepaket dengan kegalauan yang nggateli.
Keesokan harinya, semua keinginan Vanya terkabul. Guru Fisika yang biasanya galak tiba-tiba jadi santai dan nggak jadi kasih kuis. Parkiran sekolah yang biasanya penuh mendadak kosong buat mobil Zizi. Dan yang paling gila, Gavin nyamperin Vanya di perpustakaan.
"Vanya," panggil Gavin. Suaranya rendah, bergema di antara rak buku.
Vanya membeku. "Ya, Vin?"
"Aku ngerasa hari ini aneh. Semuanya kerasa... pas banget. Kayak ada yang nyusun semua ini. Kamu ngerasa nggak?"
Vanya menelan ludah. Tongkat di dalam tasnya terasa panas. "Maksudnya?"
"Tadi pagi, aku nemu catatan yang udah lama aku cari di laci mejaku. Terus, pas aku jalan ke sini, sinar matahari jatuh tepat di wajahmu, dan aku ngerasa harus ngomong ini sekarang." Gavin menjeda, menatap mata Vanya dalam-dalam. "Aku suka kamu. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau ini semua cuma halusinasi. Takut kalau besok aku bangun, dan semuanya balik jadi hambar lagi."
Vanya terdiam. Galau itu datang menyerang. Inilah sisi gelap dari tongkat sihir itu. Dia menciptakan kebahagiaan yang begitu sempurna sampai-sampai terasa palsu. Vanya merasa seperti sutradara yang sedang memanipulasi aktornya sendiri. Dia mendapatkan cintanya, tapi dia kehilangan kejujurannya.
Malam itu, Vanya menelepon kakeknya di desa.
"Kek, tongkat ini bikin aku seneng, tapi aku ngerasa bersalah."
Suara kakeknya terdengar tenang di seberang telepon. "Vanya, sihir itu cuma alat bantu buat mempercepat apa yang sebentar lagi terjadi. Kamu pikir Gavin berani ngomong gitu cuma gara-gara tongkat? Tongkat itu nggak ngubah hati orang, dia cuma ngilangin kabutnya. Tapi kalau kamu nggak sanggup nanggung beban 'kesempurnaan' itu, kamu tahu apa yang harus kamu lakuin."
Vanya menutup telepon. Dia menatap ke luar jendela. Surabaya kalau malam tetap gerah, tapi selalu punya cerita.
Dia mengambil tongkat itu, lalu berjalan ke arah taman belakang rumahnya. Di sana ada sebuah kotak kayu tua. Vanya memasukkan tongkat itu ke dalamnya.
"Aku mau cerita yang jujur. Biarpun berantakan, biarpun ada adegan tengkar, biarpun nggak ada musik puitisnya," gumam Vanya.
Dia mengubur kotak itu di bawah pohon mangga.
Besok paginya, sihir itu hilang.
Guru Fisika masuk kelas dengan muka ditekuk dan langsung kasih tugas lima puluh soal. Mobil Zizi kena serempet motor di Jalan Ahmad Yani. Dan yang paling parah, Gavin nggak nyapa Vanya di koridor. Dia cuma lewat gitu aja sambil dengerin earphone.
Vanya duduk di kantin, mengaduk es tehnya dengan lemas. Gengnya memperhatikan dengan prihatin.
"Tuh kan, sihirnya abis. Galau maneh kan kon," celetuk Caca sambil makan pentol.
Vanya cuma tersenyum tipis. "Gak opo-opo, Ca. Seenggaknya sekarang aku tahu mana yang asli."
Saat bel pulang berbunyi, Vanya berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Langit mendung, tidak ada saturasi warna yang indah, tidak ada pencahayaan yang sempurna. Cuma Surabaya yang macet dan bising.
Tiba-tiba, ada tangan yang menahan pundaknya.
Vanya menoleh. Itu Gavin. Napasnya tersengal-sengal, rambutnya berantakan kena keringat, nggak ada efek slow motion sama sekali.
"Van! Tunggu!"
Vanya berhenti. "Eh, Gavin. Kenapa?"
Gavin mengatur napasnya. "Aku... aku dari tadi nyari kamu. Aku mau minta maaf soal kemarin. Kemarin aku ngomongnya kayak orang lagi baca puisi, ya? Kaku banget."
Vanya tertawa kecil. "Dikit sih, Vin."
Gavin menggaruk kepalanya. "Aku nggak tahu kenapa kemarin aku berani banget. Tapi hari ini, pas 'perasaan' aneh itu ilang, aku malah ngerasa lebih yakin. Aku nggak butuh cahaya yang pas atau momen puitis buat bilang kalau aku beneran pengen ngajak kamu jalan. Tanpa alasan yang dibuat-buat."
Vanya merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan getaran tongkat sihir. Ini getaran asli yang bikin perutnya kerasa ada ribuan kupu-kupu terbang.
"Dadi?" tanya Vanya menantang, khas arek Suroboyo.
"Dadi... kamu mau nggak tak ajak ke Tunjungan? Jalan-jalan cari makan yang beneran, bukan yang tiba-tiba muncul di laci."
Vanya tersenyum lebar. Dia menoleh ke arah teman-temannya yang mengintip dari balik kaca jendela kelas sambil kasih jempol.
"Boleh. Tapi naik motor aja ya? Biar kerasa aslinya," jawab Vanya.
Gavin tertawa. Mereka berjalan beriringan keluar gerbang sekolah menuju parkiran. Tidak ada kamera yang mengikuti mereka, tidak ada produser yang mengatur gerak-gerik mereka. Hanya dua remaja Surabaya yang sedang mencoba memahami arti rasa di tengah kota yang sibuk.
Hidup memang seringkali lebih indah tanpa skenario. Terkadang, galau adalah bumbu yang bikin kebahagiaan kerasa lebih nyata. Dan bagi Vanya, tongkat sihir terbaik adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Layar menggelap, musik indie lokal mulai mengalun, dan semua orang tahu, ini adalah awal dari sebuah cerita yang bener-bener jujur.