Lonceng perunggu di menara kapel Kastil Bran berdentang dua belas kali, namun suaranya tenggelam oleh deru angin Transylvania yang membawa aroma karat dan daging busuk. Di dalam ruang perjamuan yang remang, lilin-lilin lemak babi meneteskan air mata api yang gemetar. Di ujung meja ek panjang yang dipernis darah kering, duduklah sang tuan rumah: Vlad III Dracula.
Wajahnya sepucat rembulan yang tertutup awan badai. Kumis melintangnya membingkai senyum yang lebih mirip sayatan belati. Di depannya, sebuah cawan perak berisi cairan kental berwarna merah tua beriak pelan. Vlad tidak sedang menunggu tamu biasa. Ia sedang menunggu bayang-bayang masa lalunya.
"Kau terlambat, Sultan," bisik Vlad. Suaranya serak, seperti gesekan amplas di atas tulang kering.
Dari kegelapan di balik pilar-pilar batu yang lembap, muncul sebuah siluet. Langkah kakinya mantap, tidak tergesa-gesa. Jubah kebesarannya yang berwarna hijau zamrud tampak kontras dengan kegelapan aula tersebut. Di kepalanya, sorban putih melingkar sempurna dengan bros permata yang memancarkan cahaya redup. Itulah Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel.
Namun, ini bukan medan perang Wallachia tahun 1462. Ini adalah ruang hampa di antara sejarah dan legenda, tempat dendam diberi nyawa untuk satu perjamuan terakhir.
"Aku tidak terlambat, Vlad," suara Al-Fatih bergema, tenang namun penuh otoritas yang menggetarkan fondasi kastil. "Aku hanya memberi waktu bagi jiwamu untuk menyadari bahwa kegelapan ini tidak akan melindungimu selamanya."
Al-Fatih duduk di kursi seberang Vlad. Di antara mereka, sebuah papan catur gading terbentang. Namun, bidak-bidaknya bukan kayu, melainkan replika kecil dari kepala manusia yang diawetkan—sebagian mengenakan serban, sebagian lagi mengenakan mahkota salib.
"Kau masih membawa bau doa-doa yang membosankan itu ke rumahku," Vlad mendesis, taringnya berkilat di bawah cahaya lilin. "Apakah Tuhanmu tahu bahwa hamba-Nya yang paling agung sedang duduk semeja dengan iblis?"
Al-Fatih menatap mata Vlad yang merah menyala dengan pandangan yang dingin dan tak gentar. "Tuhanku mengetahui setiap helai daun yang jatuh dan setiap tetes darah yang kau tumpahkan di atas tiang-tiang kayu sula itu. Aku di sini bukan sebagai tamu, tapi sebagai pengingat akan janji yang belum kau tunaikan."
Vlad tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti tulang yang patah. "Janji? Janji untuk patuh pada Ottoman? Aku sudah membayar upetiku dengan kepala sepuluh ribu prajuritmu yang kupasang di sepanjang jalan menuju Tirgoviste. Apakah kau lupa pemandangan 'Hutan Orang Mati' itu, Sultan?"
Wajah Al-Fatih sedikit pun tidak berubah. Ia menggerakkan bidak pion gadingnya ke depan. "Kejahatanmu bukan hanya pada manusia, Vlad. Kau telah menantang fitrah penciptaan. Kau menukar kemanusiaanmu dengan keabadian yang terkutuk. Dalam agamaku, tidak ada yang lebih buruk daripada mereka yang mencoba menandingi kekekalan Tuhan dengan sihir hitam dan dendam."
"Sihir hitam?" Vlad berdiri, bayangannya memanjang di dinding batu seperti sayap kelelawar raksasa. "Ini adalah keadilan! Kau dan saudaramu, Radu si Cantik, adalah sandera yang manja di istana ayahmu. Tapi aku? Aku belajar tentang pengkhianatan di sel-sel bawah tanah Ottoman. Aku belajar bahwa ketakutan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami manusia. Aku bukan iblis, Sultan. Aku adalah cermin dari kekejaman dunia yang kau bangun."
Aula itu mendadak menjadi sangat dingin. Suara dzikir samar terdengar dari kejauhan, kontras dengan jeritan roh-roh penasaran yang merayap di sela-sela dinding kastil. Al-Fatih mulai memutar tasbih kayu zaitun di tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap di atas papan catur.
"Radu memilih cahaya, Vlad. Kau memilih bayangan karena hatimu memang sudah gelap sejak awal," Al-Fatih berbisik lembut, namun setiap katanya mengandung tekanan spiritual yang membuat Vlad terbatuk darah hitam. "Kau menyiksa rakyatmu, meminum darah bayi, dan membakar orang-orang miskin di dalam aula perjamuanmu sendiri. Kau pikir itu keadilan? Itu hanyalah syahwat kekuasaan yang dibalut dendam kesumat."
Vlad menerjang meja, wajahnya berubah menjadi moncong serigala yang mengerikan. "Darah adalah kehidupan! Tanpanya, sejarah hanyalah tinta kering! Kau menaklukkan kota dengan meriam, aku menaklukkan jiwa dengan kengerian!"
Al-Fatih bangkit perlahan. Energi di ruangan itu pecah. Aura keislaman yang kuat—tenang namun tajam seperti pedang Damaskus—mulai menyelimuti ruangan. "Kengerianmu hanyalah debu di hadapan kebesaran Allah. Kau mengira dirimu abadi karena kau bisa bangkit dari kubur? Ketahuilah, Vlad, setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan kematianmu bukan sekadar berhentinya detak jantung, tapi pemisahan abadi dari rahmat-Nya."
Tiba-tiba, pemandangan di aula berubah. Dinding-dinding batu kastil runtuh, berganti menjadi hamparan padang pasir yang luas di bawah langit yang merah darah. Di sana, ribuan tiang kayu sula tertancap, namun korbannya bukan lagi prajurit Turki. Mereka adalah bayangan dari Vlad sendiri, yang menjerit dalam siksaan yang tak berujung.
"Ini adalah nerakamu, Vlad," ujar Al-Fatih, suaranya kini terdengar dari segala arah. "Tempat di mana dendammu menjadi bahan bakar api yang tidak akan pernah padam."
Vlad meraung, mencoba mencakar udara, namun tubuhnya mulai retak seperti tanah yang kering. "Aku tidak akan kalah! Aku adalah naga! Dracul!"
"Kau hanyalah cacing yang menggeliat di bawah kaki takdir," sahut Al-Fatih. Sang Sultan mengangkat tangannya, dan cahaya putih menyilaukan membelah kegelapan padang pasir itu. "Bismillah. Pergilah ke tempat di mana sejarah tidak akan lagi menyebut namamu dengan bangga, melainkan sebagai peringatan akan kehinaan."
Dalam sekejap, kastil itu lenyap. Badai salju Transylvania kembali menyelimuti reruntuhan batu tua yang sudah lama ditinggalkan. Di sana, di atas sebuah altar batu yang hancur, tergeletak sebuah pedang salib yang patah dan sebuah tasbih kayu yang masih menyisakan aroma gaharu.
Dendam itu tidak pernah menang. Karena pada akhirnya, kegelapan paling pekat sekalipun akan luruh saat fajar kebenaran menyapa. Vlad III Dracula tetap menjadi legenda yang terkunci dalam tanah, sementara Al-Fatih berjalan menuju keabadian dalam doa-doa yang melintasi zaman.
Aula perjamuan itu kini sunyi. Hanya menyisakan desir angin yang terdengar seperti bisikan Istighfar di tengah malam yang paling kelam.