Rumah itu selalu beraroma melati, namun bukan melati segar yang mekar di taman. Aromanya berat, seperti bunga yang mulai membusuk di dalam vas yang airnya tak pernah diganti selama berbulan-bulan. Soni Negarawan, pria bertubuh gemuk dengan kulit hitam manis yang biasanya tampak berwibawa, kini terduduk lesu di kursi goyangnya. Lemak di tubuhnya seolah menggelambir tak berdaya, dan rona hitam manis di wajahnya telah berubah menjadi abu-abu pucat yang kusam. Ia terbatuk kecil, dadanya terasa sesak seolah ada segenggam pasir yang menyumbat paru-parunya setiap kali ia mencoba menarik napas dalam.
"Mas, aku berangkat dulu ya. Ada proyek interior di Bandung sampai tiga hari ke depan," suara Sintia memecah keheningan pagi yang mencekam.
Sintia berdiri di ambang pintu, tampak sangat memukau. Kulitnya bersinar seperti porselen, matanya berbinar tajam, kontras sekali dengan Soni yang terlihat seperti raga tanpa jiwa. Sintia adalah seorang desainer sukses—setidaknya itulah yang Soni tahu. Pekerjaannya sering menuntutnya keluar kota, meninggalkan Soni yang belakangan ini sering sakit-sakitan tanpa alasan medis yang jelas. Soni telah memeriksakan diri ke berbagai dokter spesialis, namun hasil rontgen dan laboratorium selalu menyatakan bahwa jantung dan paru-parunya bersih. Padahal, setiap malam Soni merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk ulu hatinya.
"Hati-hati, Sin. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai," bisik Soni lemah.
Sintia tersenyum tipis—senyum yang dingin dan tidak sampai ke mata—lalu mencium kening suaminya yang terasa sedingin es. Begitu pintu tertutup dan deru mobil mewah Sintia menjauh, senyum itu hilang seketika. Sintia melangkah menuju apartemen mewah di pusat kota Jakarta, namun tujuannya bukan untuk urusan pekerjaan. Di sana, seorang pria bernama Rendy sudah menunggu. Rendy adalah definisi kesempurnaan fisik; rahangnya kokoh, tubuhnya atletis, dan wajahnya sangat ganteng hingga mampu membuat wanita mana pun berpaling.
Sintia telah menjalankan poliandri selama satu tahun terakhir dengan sangat rapi. Ia memalsukan dokumen, menciptakan identitas baru, dan yang paling utama: ia memastikan kedua pria ini tetap berada di bawah kendalinya dengan cara yang tidak masuk akal. Di apartemen itu, Sintia adalah istri sah dari Rendy. Namun, hari ini ada yang berbeda. Rendy yang biasanya penuh energi tampak sedikit linglung. Matanya sayu, persis seperti mata Soni di rumah.
"Sayang, aku merasa sering mual belakangan ini," keluh Rendy sambil memeluk Sintia.
Sintia tertawa manja, namun jemarinya diam-diam meraba bungkusan kain hitam di dalam tasnya. Ia tahu persis kenapa Rendy merasa lemas. Karena cinta saja tidak cukup bagi Sintia untuk mengikat pria se-tampan Rendy. Ia butuh "pengikat" yang lebih kuat. Sintia pun membawa kabar mengejutkan; ia hamil. Kabar itu seharusnya menjadi berkat, namun bagi Sintia, ini adalah hasil dari sebuah ritual panjang. Ia mengandung anak Rendy, namun ia masih butuh harta dan status dari Soni Negarawan.
Masalah muncul ketika Soni mulai curiga. Suatu malam, adik Soni yang bernama Bayu datang berkunjung. Bayu tidak datang sendiri; ia membawa seorang teman bernama Abah Kamad, pria tua yang merupakan mantan pelaku teluh yang sudah bertaubat. Begitu menginjakkan kaki di teras rumah Soni, Abah Kamad langsung menutup hidungnya.
"Soni, rumahmu ini bukan lagi tempat tinggal manusia, tapi sarang perasenergi," ujar Abah Kamad dengan suara berat.
Bayu menatap kakaknya yang malang. "Mas Soni, aku sudah lama curiga. Mas sering sakit tapi dokter bilang sehat. Abah bilang, ada sesuatu yang ditanam di sini untuk membuat Mas pelan-pelan mati secara alami agar warisan jatuh ke tangan Sintia tanpa kecurigaan."
Soni awalnya tidak percaya. Baginya, Sintia adalah istri yang sempurna. Namun, saat Soni mencoba berdiri untuk mengambilkan minum bagi tamunya, ia mendadak muntah hebat. Bukan makanan yang keluar, melainkan cairan kental berwarna hitam pekat yang di dalamnya terdapat helai-helai rambut manusia yang panjang dan paku berkarat. Soni jatuh tersungkur, menangis melihat kenyataan mengerikan di depan matanya.
"Kita harus bongkar kamarmu, sekarang!" tegas Bayu.
Mereka bertiga masuk ke kamar utama. Abah Kamad menunjuk ke arah tempat tidur King Size tempat Soni dan Sintia biasa tidur. Dengan sisa tenaganya, Soni membantu Bayu menggeser kasur yang sangat berat itu. Begitu kasur terangkat, bau busuk bangkai yang menyengat langsung menyeruak, membuat Soni mual luar biasa. Di bawah kolong tempat tidur, tepat di posisi kepala Soni saat tidur, terdapat sebuah bungkusan kain kafan yang sudah kotor oleh tanah kuburan.
Bayu membukanya dengan gemetar. Isinya membuat bulu kuduk berdiri. Ada foto Soni Negarawan yang wajahnya disilet-silet dan ditusuk jarum di bagian dada. Namun yang lebih mengejutkan, di dalam bungkusan itu juga terdapat sepotong celana dalam pria berwarna hitam yang jelas bukan milik Soni. Ada label nama 'Rendy' yang tertulis kecil di sana. Celana dalam itu dililit dengan rambut manusia dan diikat dengan benang mayat.
"Ini gila..." bisik Soni dengan suara bergetar. "Siapa Rendy?"
"Ini bukan cuma santet untuk membunuhmu, Soni," kata Abah Kamad sambil memeriksa alat-alat santet itu. "Istrimu melakukan poliandri. Dia mengikat pria bernama Rendy ini dengan ilmu pengasihan tingkat tinggi agar mau menjadi suaminya, sementara kamu dijadikan tumbal untuk menghidupi kecantikan dan kekayaan istrimu. Dia menyatukan energi kalian berdua dalam satu wadah kematian. Rendy akan diperas hartanya, dan kamu akan diperas nyawanya."
Soni merasa dunianya runtuh. Istri yang ia cintai ternyata seorang pemuja kegelapan yang tega menduakannya demi pria ganteng, bahkan berniat membunuhnya secara perlahan. Saat itu juga, ponsel Soni berdering. Sebuah pesan singkat dari Sintia masuk: "Mas, aku tidak akan pulang. Aku sudah bersama pria yang jauh lebih pantas darimu. Oh ya, aku hamil anak dia. Jangan cari aku kalau kamu masih ingin bernapas."
Soni meraung sejadi-jadinya, namun Abah Kamad segera memegang pundaknya. "Jangan senang dulu, Sintia tidak akan lari jauh. Janin yang dia kandung itu bukan manusia sepenuhnya. Itu adalah janin yang dibentuk dari sisa umurmu yang dia curi."
Tiba-tiba, suasana kamar menjadi sangat dingin. Alat-alat santet di atas lantai mulai bergetar. Celana dalam milik Rendy yang ada di genggaman Bayu mendadak mengeluarkan darah segar yang terus mengucur, sementara foto Soni mulai terbakar dengan api biru yang tidak panas namun terasa sangat perih di kulit Soni. Di saat yang sama, terdengar suara tawa melengking dari arah plafon kamar.
Soni menatap langit-langit kamar dengan mata terbelalak. Di sana, bayangan hitam besar mulai turun perlahan, sementara di luar rumah, terdengar suara mobil Sintia yang mendadak mengerem mendadak diikuti bunyi dentuman keras. Soni tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau takut, karena saat itu juga, ia merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremasnya dari dalam kotak santet yang baru saja terbuka. Rahasia besar itu terungkap, namun nyawa Soni kini berada di ujung tanduk, tergantung pada ritual pembersihan yang mungkin sudah terlambat untuk dilakukan.
Soni Negarawan, pria hitam manis yang malang itu, hanya bisa menatap celana dalam pria asing dan foto dirinya yang hancur, menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya berbagi ranjang dengan seorang istri, tapi juga dengan maut yang menyamar sebagai cinta.
Sungguh tragis apa yang dialami Soni. Korban Poliandri sekaligus guna-guna Sintia, istri sahnya sendiri!