Di kota kecil yang selalu berisik oleh toa masjid dan lonceng gereja setiap Minggu pagi, Nabila belajar hidup dalam dua dunia yang tak pernah benar-benar bertemu.
Ia hijaber, dengan kerudung warna-warna lembut yang selalu rapi menutup rambutnya. Ambivert, kata teman-temannya—kadang cerewet dan berani, kadang tenggelam dalam diam yang panjang. Ia suka duduk di pojok kafe, memesan teh hangat, dan menulis catatan kecil tentang hidup yang sering terasa terlalu rumit untuk seusianya.
Di kafe itu pula ia pertama kali bertemu Samuel.
Samuel datang seperti musim panas yang tak diundang. Tertawa keras, berbicara pada barista seolah sudah kenal lama, dan memesan minuman dengan penuh percaya diri. Ia Tionghoa, bermata sipit hangat, dengan senyum yang seolah bisa memecahkan kebekuan siapa saja. Ekstrovert yang tak pernah kehabisan cerita.
Pertemuan mereka sederhana—Nabila menjatuhkan buku, Samuel memungutnya.
“Puisi?” tanya Samuel sambil mengangkat alis.
Nabila mengangguk pelan. “Kadang.”
“Kadang puisi, kadang realita?” godanya.
Ia seharusnya tersinggung. Tapi entah kenapa, ia justru tersenyum.
Sejak hari itu, Samuel selalu menemukan alasan untuk duduk di meja yang sama. Awalnya sekadar bertanya soal buku, lalu tentang keluarga, lalu tentang hidup.
Samuel bercerita tentang keluarganya yang memiliki restoran khas Tionghoa. Tentang ayahnya yang keras tapi penyayang. Tentang ibunya yang selalu menyajikan opor ayam saat Lebaran untuk tetangga Muslim mereka, sebagai tanda hormat.
“Namanya opor naga,” kata Samuel suatu sore. “Resep opor ayam, tapi ditambah jamur dan bumbu khas keluarga kami. Ayah bilang, hidup itu kayak opor naga—dua rasa beda tapi bisa jadi satu.”
Nabila tertawa kecil. “Ayah kamu filosofis.”
“Dia cuma nggak mau kehilangan pelanggan,” jawab Samuel sambil terkekeh.
Waktu berjalan seperti tak ada yang perlu ditakutkan. Mereka mulai berjalan berdampingan—menonton film, belajar bersama, saling menunggu hujan reda di bawah satu payung.
Nabila tak pernah benar-benar menyadari kapan Samuel menjadi lebih dari sekadar teman. Mungkin saat Samuel hafal pesanannya tanpa bertanya. Atau saat ia menjemput Nabila pulang hanya untuk memastikan gadis itu tak kehujanan. Atau mungkin saat Samuel berkata, dengan suara lebih pelan dari biasanya, “Aku nyaman banget sama kamu.”
Kata nyaman itu sederhana, tapi bagi Nabila, ia seperti pintu yang terbuka perlahan menuju ruang yang belum pernah ia masuki.
Mereka resmi bersama tanpa deklarasi yang dramatis. Tanpa bunga atau cincin. Hanya satu kalimat dari Samuel saat senja turun.
“Aku nggak mau kamu pergi dari hidupku.”
Dan Nabila, yang biasanya penuh pertimbangan, menjawab, “Aku juga.”
---
Awalnya, semuanya terasa ringan.
Samuel menghargai batasan Nabila. Ia tak pernah menyentuh sembarangan. Ia menunggu saat Nabila ingin bercerita. Ia bahkan belajar mengucap “Assalamualaikum” dengan logat yang lucu.
Nabila pun berusaha memahami dunia Samuel—tentang perayaan Imlek, tentang dupa dan doa di altar kecil rumahnya, tentang makna keluarga yang begitu dijunjung tinggi.
Mereka seperti dua anak kecil yang mencoba menyatukan dua puzzle dari kotak berbeda.
Tapi seiring waktu, tembok itu semakin terlihat.
Saat Nabila harus pulang cepat karena pengajian keluarga, Samuel diam lebih lama dari biasanya.
Saat Samuel mengajak Nabila ke perayaan keluarga besarnya, Nabila menolak halus.
“Takut nggak nyaman,” katanya.
“Karena aku Tionghoa?” tanya Samuel, setengah bercanda, setengah tidak.
Nabila terdiam. “Karena beda.”
Kata itu menggantung di antara mereka.
Beda.
Beda keyakinan.
Beda doa.
Beda masa depan.
Mereka tak pernah membahasnya serius. Seolah dengan tidak menyebutnya, masalah itu akan hilang sendiri.
Namun cinta yang dibiarkan tanpa arah perlahan berubah menjadi rutinitas. Mereka masih bertemu, masih tertawa, tapi ada jarak tak kasatmata yang tumbuh di sela-sela.
Samuel mulai lelah menjadi satu-satunya yang selalu optimis.
Nabila mulai lelah pura-pura tak memikirkan ujung jalan.
Suatu malam, setelah hampir dua tahun bersama, mereka duduk di teras restoran keluarga Samuel. Hujan baru saja reda, dan aroma masakan masih menggantung di udara.
Ayah Samuel menyajikan opor naga hangat.
“Coba, Nabila,” katanya ramah. “Ini resep keluarga.”
Nabila tersenyum sopan dan mencicipinya. Rasanya unik—gurih santan berpadu dengan rempah yang asing tapi hangat.
“Enak,” bisiknya.
Samuel menatapnya lama. “Kita kayak opor naga ya.”
Nabila mengangkat wajah. “Maksudnya?”
“Kita beda rasa. Tapi berusaha jadi satu.”
“Berusaha,” ulang Nabila pelan.
Samuel menghela napas. “Bila, kamu pernah nggak sih mikir… hubungan kita mau dibawa ke mana?”
Kalimat itu jatuh seperti petir di tengah hujan yang baru reda.
Nabila sudah menunggu pertanyaan itu sejak lama. Ia tahu, cepat atau lambat, Samuel akan bertanya.
“Kamu pernah mikir pindah?” tanya Samuel pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Nabila menggigit bibir. “Kamu?”
Samuel tersenyum pahit. “Aku nanya duluan.”
Angin malam membuat kerudung Nabila berkibar sedikit. Ia menatap mangkuk opor di tangannya.
“Aku nggak pernah main-main soal keyakinan, Sam.”
“Aku juga nggak.”
“Terus?”
Samuel terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, ia terlihat kehilangan kata.
“Aku capek pura-pura nggak mikirin masa depan,” katanya akhirnya. “Aku sayang kamu. Tapi kalau ujungnya kita cuma jadi cerita sedih, apa kita nggak lagi menyakiti diri sendiri?”
Nabila merasa dadanya sesak.
Ia mencintai Samuel—dengan caranya yang tenang dan penuh pertimbangan. Tapi cinta itu selalu berjalan berdampingan dengan ketakutan.
“Kadang aku berharap kita ketemu di semesta yang lebih sederhana,” bisik Nabila.
“Semesta tanpa tembok?” tanya Samuel.
“Tanpa harus milih.”
Samuel tertawa kecil, getir. “Tapi ini semesta kita, Bila.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tak pulang dengan tangan saling menggenggam.
---
Hari-hari setelahnya terasa aneh.
Mereka masih bertukar pesan, tapi tak lagi sepanjang dulu. Masih bertemu, tapi percakapan sering berujung diam.
Samuel mencoba kembali ceria, tapi sorot matanya berubah. Nabila mencoba lebih terbuka, tapi hatinya semakin takut.
Hingga suatu sore, Nabila datang dengan wajah pucat.
“Ayahku tahu,” katanya pelan.
Samuel membeku. “Tentang kita?”
Nabila mengangguk. “Beliau cuma bilang satu hal: jangan sampai kamu tersesat.”
Samuel tersenyum hambar. “Aku dianggap jalan sesat?”
“Bukan kamu,” Nabila cepat-cepat membela. “Keadaannya.”
“Bedanya apa?”
Hening.
Samuel berdiri dan berjalan beberapa langkah, lalu kembali lagi. “Orangtuaku juga mulai nanya. Mereka nggak marah. Tapi mereka realistis.”
“Kita juga harus realistis,” kata Nabila, meski suaranya gemetar.
Samuel menatapnya lama. “Kalau realistis berarti kita selesai?”
Pertanyaan itu seperti pisau tipis yang perlahan mengiris.
Nabila ingin berkata tidak. Ingin berkata mereka bisa melawan dunia. Ingin berkata cinta cukup.
Tapi ia tahu, cinta saja sering tak cukup.
“Aku nggak mau kamu kehilangan keluargamu karena aku,” bisik Nabila.
“Aku juga nggak mau kamu kehilangan Tuhanmu karena aku,” jawab Samuel.
Kalimat itu membuat mata Nabila berkaca-kaca.
Mereka duduk berdampingan, tapi terasa sangat jauh.
Samuel menggenggam tangan Nabila untuk terakhir kalinya malam itu. Hangat, familiar, menyakitkan.
“Kita udah coba ya,” katanya.
“Iya.”
“Kita nggak jahat kan?”
Nabila menggeleng pelan. “Kita cuma… beda.”
Samuel tertawa kecil. “Beda lagi.”
Hujan turun lagi, seperti malam pertama mereka membahas masa depan.
---
Beberapa minggu kemudian, mereka jarang bertemu.
Nabila kembali lebih sering ke pengajian. Samuel lebih sibuk di restoran.
Tapi cinta tak pernah benar-benar hilang begitu saja. Ia berubah bentuk—menjadi rindu yang tak boleh diucapkan, menjadi kenangan yang tak boleh disentuh.
Suatu malam, Samuel mengirim pesan.
*Bila, aku lagi bikin opor naga. Rasanya masih sama. Cuma kali ini agak hambar.*
Nabila menatap layar ponselnya lama sebelum membalas.
*Mungkin karena nggak ada yang nyicipin sambil senyum malu-malu.*
Samuel membaca pesan itu sambil tersenyum getir.
*Kalau suatu hari kita ketemu lagi, kamu masih mau coba?*
Nabila tak langsung menjawab.
Ia menatap cermin. Melihat dirinya—seorang perempuan yang mencintai dengan sungguh-sungguh, tapi juga takut kehilangan arah.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya ia mengetik:
*Kalau suatu hari temboknya runtuh, mungkin.*
Samuel membaca pesan itu dengan dada penuh sesak.
*Tembok nggak runtuh sendiri, Bila.*
Lama sekali Nabila menatap titik-titik di layar, menunggu pesan berikutnya.
Tapi tak ada.
Malam semakin larut. Di luar, suara azan Isya bersahut dengan lonceng gereja yang berdentang karena latihan paduan suara.
Dua suara berbeda, berdampingan, tapi tak pernah benar-benar menyatu.
Nabila mematikan ponselnya.
Di dapur restoran, Samuel menatap semangkuk opor naga yang mengepul.
Ia mengambil sendok, mencicipinya, lalu tersenyum pahit.
“Dua rasa beda,” gumamnya.
Ia tak tahu apakah suatu hari rasa itu akan benar-benar menyatu, atau selamanya hanya jadi cerita tentang apa yang hampir terjadi.
Dan di antara doa-doa yang berbeda, di kota kecil yang tak pernah benar-benar tidur, cinta mereka menggantung—seperti pertanyaan yang tak pernah selesai:
Akan dibawa ke mana hubungan ini?
Tak ada jawaban malam itu.
Hanya rindu.
Dan tembok yang masih berdiri.