Dinding semen yang terkelupas itu seolah bernapas, mengeluarkan aroma debu lembap yang membuat Sekar merasa sesak napas. Ia duduk mematung di atas kursi kayu tua, menghadap tembok kosong yang hanya menyisakan jejak bingkai foto yang telah lama diturunkan. Di sampingnya, sebuah kursi kosong—sebuah kursi Thonet dengan lengkungan kayu yang elegan—setia menanti seseorang yang tak kunjung datang.
Dante telah hilang selama seratus hari. Pria itu pergi tanpa satu kata pun, meninggalkan cangkir kopi yang masih mengepul di atas meja kayu ini.
"Kau masih menunggunya?" Suara serak itu memecah keheningan.
Sekar tidak menoleh. Ia tahu itu Raras, tetangga sebelah rumah yang selalu muncul secara tiba-tiba di ambang pintu tanpa mengetuk. Raras adalah wanita paruh baya yang wajahnya terlihat serius dan tidak banyak bicara, selalu mengenakan daster berwarna netral dan aroma tubuhnya menyerupai bunga kamboja yang telah layu.
"Dia akan pulang, Raras. Dia berjanji," bisik Sekar. Rambut cokelatnya yang indah kini tampak kusam, tergerai menutupi tengkuknya yang kaku.
Raras menghela nafas pelan, melangkah masuk dengan kaki yang tertutup alas kaki tipis dan tidak membuat suara di atas lantai ubin. Ia berdiri tepat di belakang Sekar. "Dante tidak pergi ke mana-mana, Sekar. Kau hanya tidak mau melihat ke arah yang benar."
Ketegangan merayap di tulang belakang Sekar. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menembus dari arah kursi kosong di sebelahnya. Tiba-tiba, terdengar suara gesekan halus—suara kayu yang berderit, seolah-olah kursi kosong itu baru saja menahan beban sesuatu.
Sekar bernapas tersengal. "Apa yang kau bicarakan?"
"Kenapa kau tidak pernah bertanya padaku mengapa dinding di ruang tamu ini selalu terasa dingin, meski di siang bolong?" Raras mendekatkan wajahnya ke telinga Sekar, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang membuat bulu kuduk merinding. "Atau mengapa cat dinding ini terasa lebih tebal di satu bagian tertentu?"
Sekar membelalak. Ia menatap dinding di depannya. Di balik lapisan semen yang kasar dan retak, ia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah gumpalan kecil berwarna cokelat mencuat dari celah retakan yang dalam. Ia mengenal warna itu. Itu adalah serat kain dari sweter favorit Dante.
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip hebat. Suasana berubah menjadi sangat mencekam. Ruangan yang semula hening kini dipenuhi suara bisikan yang tampaknya memanggil namanya. Sekar mencoba berdiri, namun ia merasa seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang membuat tubuhnya sulit bergerak di kursi.
"Dante ingin kau tahu tentang apa yang terjadi padanya, Sekar," gumam Raras dengan ekspresi wajah yang tidak dapat ditebak. "Dia merasa sendirian di balik semen itu."
Raras kemudian berbalik dan berjalan keluar, membiarkan pintu rumah terbuka lebar hingga angin malam yang sejuk masuk dan memadamkan satu-satunya lampu di sana.
Dalam kegelapan total, Sekar merasakan sentuhan dingin yang lembut perlahan melingkar di bahunya dari arah kursi kosong di sampingnya. Ia ingin bersuara, namun suaranya seolah macet di tenggorokan.
Tepat saat itu, terdengar suara ketukan dari dalam dinding. Tok... tok... tok...
Bukan ketukan untuk masuk, tapi seolah ada yang ingin menyampaikan sesuatu. Dan di telinganya, sebuah suara yang sangat ia kenal—suara Dante yang kini terdengar lemah dan penuh kesusahan—berbisik lirih:
"Sekar... ada sesuatu yang harus kau ketahui."
Sekar memejamkan mata rapat-rapat, namun sensasi dingin itu justru semakin jelas. Sentuhan di bahunya mulai merayap perlahan, dan seolah ada yang ingin membuat wajah Sekar berpaling ke arah kursi kosong di sampingnya.
"Jangan lihat... jangan lihat..." batinnya menjerit, namun tubuhnya seolah digerakkan oleh kekuatan yang tidak dapat ia kendalikan.
Saat ia menoleh, kursi itu tidak lagi kosong. Di sana tampak sosok kabur dengan bentuk yang tidak jelas, dan di bawah kursi itu tampak noda gelap yang tidak dapat dikenali dengan pasti. Wajah sosok itu tidak terlihat jelas di kegelapan, namun Sekar merasa ada sesuatu yang mengarah padanya dari arah itu.
Di luar, suara tertawa Raras terdengar menjauh, datar dan tidak bersahabat, menyatu dengan suara jengkerik yang tiba-tiba terdiam.
"Dante?" bisik Sekar dengan suara bergetar hebat.
Dinding di depan mereka mulai bergetar. Retakan pada semen itu menjalar cepat seperti urat yang menyebar. Serpihan beton berjatuhan ke lantai, menyingkap apa yang selama ini tersembunyi di baliknya. Bukan sekadar sweter, tapi sebuah bagian dari benda yang mirip dengan tangan yang telah membengkak, mencuat dari balik reruntuhan semen, seolah sedang berusaha mencapai luar.
Tiba-tiba, sentuhan di bahu Sekar menghilang. Sosok di kursi itu lenyap dalam sekejap mata.
Keheningan yang lebih dalam menyelimuti ruangan. Sekar memberanikan diri untuk berdiri, kakinya lemah seperti tidak memiliki kekuatan. Ia melangkah perlahan menuju dinding yang retak itu, tangannya gemetar ingin menyentuh bagian yang menyembul dari sana. Namun, tepat sebelum jarinya bersentuhan, sebuah suara napas berat terdengar tepat di belakang lehernya.
Hah... hah... hah...
Bukan suara Dante. Itu suara napas Raras.
Sekar berbalik dengan cepat, namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya pintu rumah yang kini tertutup rapat dan terkunci dari luar. Saat ia kembali melihat ke arah dinding, bagian yang tadi mencuat kini telah menghilang, masuk kembali ke dalam lubang gelap di semen itu.
Lalu, dari kegelapan di dalam lubang dinding yang menganga, muncul kilatan cahaya merah yang menyala, seolah ada yang menatap tepat ke arahnya.
"Selamat datang di rumah, Sekar," bisik suara itu, kali ini terdengar dari segala penjuru ruangan, sementara lantai di bawah kaki Sekar mulai terasa tidak stabil, seolah-olah dasar rumah sedang mengalami perubahan yang tidak dapat dipahami.
Sekar mencoba berlari ke arah pintu, namun gagang pintu itu terasa sangat panas, dan di baliknya, ia mendengar suara Raras yang sedang menyanyi lagu yang tidak dikenal, semakin lama semakin keras, menyelimuti suara teriakan khawatir yang keluar dari mulut Sekar.