Dulunya, aku seorang gadis ceria yang selalu menghangatkan hari kedua ibu ayahku. Kata mereka, aku adalah matahari kecil hangat mereka. Aku dilimpahkan kasih sayang penuh daripada orang sekitarku, sehingga aku tidak menyangka jika kebahagiaanku akan di regut.
Saat itu, aku membantah kerana mereka tidak mengizinkan aku untuk ikut mempertahankan kekuasaan. Atas kekerasan kepalaku, ibuku telah menyegelku untuk tertidur selama seratus tahun, waktu yang cukup untuk mereka para pengkhianat itu melupakan kejadian berdarah. Walaupun aku saat itu tidak sedarkan diri, aku dapat mendengar keteguhan ayah dan ibuku untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Tapi... mereka tewas. Bahkan, rakyat kami.
Sebelum ibuku meninggal, ia telah menyegel istana, dan ia membanjiri seluruh kekaisaran dengan sisa kekuatan. Ia... dan ayah, akhirnya pergi. Meninggalkan aku sendiri.
Aku hancur, aku sakit, aku kesendirian. Mereka meninggalkanku, tanpa membawaku.
Saat aku terbangun kembali, aku menangis dengan begitu menyakitkan. Aku meluahkan semua rasa yang aku pendam saat aku tertidur panjang.
Selalunya, aku ada sapaan hangat ketika aku bangkit dari tidur. Tapi kali ini, suasana dingin yang menyakitkan yang menyambutku.
Aku sakit... mereka meninggalkanku. Aku harus bagaimana? Siapa peyandarku? Aku hanya mampu menangis.
Sehingga kalung pemberian ibuku memberiku kekuatan. Aku kembali bangkit.
Dengan waktu singkat, aku berlatih memperkuat diriku. Sehingga waktu untuk membalas rasa sakitku. Membalas mereka yang merebut kasih sayangku.
Di perjalanan, aku bertemu dengan seorang siluman singa yang berserk. Pada awalnya, aku tidak mahu ikut campur. Namun, aku tidak menyangka jika ia bisa sedar kerana melihat kecantikanku. Ini... aku bingung.
Siluman singa itu, Makiel, kerana telah diracuni untuk berserk teruk, ia kehilangan ingatannya. Ia hanya ingat namanya.
Aku tidak terlalu mengambil acuh, tapi dia mengikutku! Aku begitu kesal. Pada akhirnya, aku menyerah. Lagipula, ia hanya bergantung padaku. Menyebalkan.
Kami memulakan perjalanan dengan penuh drama. Maikel begitu menyebalkan, ia selalu memuncakkan emosiku. Ia hampir mengoyak toping palsuku, wajah dingin kepada sifat asli yang selalu meluap. Ia begitu ingin ku pukul.
Banyak masalah yang ia lakukan. Namun, perjalanan itu terasa hidup atas segala tingkahnya. Tanpa sedar, aku mula menujukan sisi asliku. Dengannya, aku pergi membalas dendamku bersama. Ia begitu setia dan pengertian. Sehingga aku bergantung padanya.
Sikap yang awalnya hanya kebergantungan menjadi cinta. Aku cuba menyangkal kerana aku tidak ingin kembali sakit. Tapi aku tidak bisa. Ia juga ternyata menyukaiku. Akhirnya, kami adalah pasangan kekasih yang bahagia. Bersama, kami pergi membalas dendamku.
Sehingga peristiwa dahsyat yang membuat kami terluka parah. Dan Makiel, ia kembali memperolehi ingatannya. Dalam kesakitan, aku bahagia untuknya.
Namun, sikapnya berubah, ia seolah tidak mahu mengakuiku. Ia terlihat seperti menyesal kerana telah mencintaiku. Wajahnya sejak itu selalu dingin, risih dan jijik.
Sehingga aku mendapati ia meninggalkanku. Aku terpukul. Aku kembali terluka. Luka lama yang kembali mengeluarkan darah. Aku kembali sakit.
Sehingga aku tahu sesuatu akan dirinya. Aku hampir gila, aku menyalahkan semuanya. Kenapa begitu kejam? Tidak cukup merampas kasih sayangku, sehingga cinta sejatiku ternyata... siapa yang akan aku pertahankan? Cinta atau dendam.