kisah tentang keajaiban yang muncul dari sela-sela halaman kertas, tentang seorang "Jomblo Ngenes" (Jones) yang menemukan bahwa terkadang, cinta yang paling nyata justru datang dari fiksi.
...
■ Ritual Malam Minggu Sang Jones.
Gendis adalah definisi dari kata "statis". Di usianya yang menginjak 25 tahun, pencapaian terbesarnya adalah menjadi pelanggan tetap di toko buku bekas dan memiliki koleksi mi instan dari berbagai negara. Statusnya? Jomblo ngenes sejak lahir. Bukan karena dia tidak cantik, tapi karena standar cowoknya terlalu tinggi: mereka harus setampan karakter di buku dan seharum aroma buku baru.
Malam Minggu ini, sementara teman-temannya sedang candle light dinner, Gendis mendekam di kamarnya yang berantakan.
"Duh, kenapa sih tokoh utama cowok di novel ini harus mati?" keluh Gendis sambil menyeka air mata yang jatuh ke halaman 342 novel berjudul The Last Knight.
Nama karakter itu adalah Arion. Dalam buku itu, Arion digambarkan sebagai ksatria yang setia, memiliki tatapan mata sedalam samudra, dan bicara dengan tata bahasa yang sangat sopan. Gendis sudah jatuh cinta pada Arion sejak bab pertama.
"Andai aja lo nyata, Ion. Gue nggak bakal jomblo karatan begini," gumam Gendis.
Tiba-tiba, lampu kamarnya berkedip. Angin kencang bertiup dari jendela yang tertutup rapat. Novel di tangannya bergetar hebat, halaman-halamannya membalik sendiri seolah ada tangan tak kasat mata yang mencarinya. Cahaya biru neon memancar dari sela kertas, membutakan mata Gendis.
BRAAAKKK!
Gendis jatuh dari tempat tidur. Saat ia membuka mata, seorang pria sedang tersungkur di atas karpet bulunya yang kotor. Pria itu memakai jubah beludru hitam, celana kulit, dan memegang sebuah pedang perak.
...
■ Ksatria di Atas Karpet
"Di mana... di mana naga itu?" pria itu bergumam, suaranya berat dan bariton.
Gendis melongo. "Naga? Mas, naga udah punah di sini. Yang ada cuma cicak."
Pria itu berdiri dengan sigap, mengarahkan pedangnya ke arah Gendis.
"Siapa kau, Gadis Aneh? Mengapa kau memakai pakaian yang sangat pendek?"
Gendis melihat kaus oblong kebesaran dan celana pendek gemoy-nya. "Ini namanya gaya santai! Dan lo... lo mirip banget sama ilustrasi di sampul buku gue."
Gendis meraih bukunya, lalu menatap pria itu. "Arion? Arion dari Kerajaan Eldoria?"
Pria itu menurunkan pedangnya, matanya yang biru menatap Gendis dengan bingung. "Bagaimana kau tahu namaku? Dan... benda apa itu yang menampilkan wajahku?"
"Ini buku, Ion. Cerita hidup lo. Dan lo... lo baru aja keluar dari sana," kata Gendis dengan nada yang lebih mirip orang kesurupan daripada orang jatuh cinta.
...
■ Adaptasi Sang Karakter Fiksi
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Gendis. Ia harus menjelaskan bahwa sekarang mereka berada di Jakarta tahun 2024, bukan di Eldoria abad pertengahan.
"Jadi, ini adalah kotak ajaib yang bisa mengeluarkan suara?" tanya Arion sambil menunjuk televisi.
"Itu TV, Ion. Jangan ditebas, harganya masih cicilan," sahut Gendis lemas.
"Dan ini?" Arion menunjuk ke arah kulkas.
"Itu lemari es. Tempat gue nyimpen harapan yang beku... dan sisa ayam mcd."
Interaksi mereka sangat kikuk. Arion bicara seperti pujangga, sementara Gendis bicara seperti anak Twitter. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri: Arion sangat tampan.
Tubuhnya tegap, rahangnya tegas, dan setiap kali dia menatap Gendis, jantung Gendis seperti melakukan "adu mekanik" yang luar biasa kencang.
"Gendis," panggil Arion.
"Ya?"
"Mengapa kau tinggal sendirian di menara ini? Di mana pelayanmu? Di mana pria yang melindungimu?"
Gendis tertawa pahit. "Gue jones, Ion. Jomblo ngenes. Nggak ada yang mau sama cewek yang lebih suka baca buku daripada dandan."
Arion mendekat, aroma hutan pinus dan tinta meruap dari tubuhnya. Ia menyentuh dagu Gendis dengan lembut—sebuah gerakan yang sangat "berbahaya" bagi kesehatan jantung Gendis.
"Di duniaku, wanita sepertimu adalah permata. Kau memiliki seluruh dunia di dalam pikiranmu," bisik Arion.
...
■ Kencan yang Tidak Masuk Akal
Gendis memutuskan untuk membawa Arion "jalan-jalan". Ia membelikan Arion baju modern—kaus polos hitam dan jeans—yang entah bagaimana malah membuat Arion terlihat seperti model majalah kelas atas.
Mereka pergi ke mal. Arion terus-menerus waspada, tangannya sering menyentuh pinggang Gendis setiap kali ada kerumunan orang.
"Tenang, Ion. Mereka bukan pasukan kegelapan, cuma orang-orang yang mau beli boba," kata Gendis menenangkan.
"Mereka menatapmu, Gendis. Aku tidak suka cara mereka melihatmu," geram Arion pelan.
"Mereka ngeliatin lo, bego! Karena lo terlalu ganteng buat jadi nyata!" batin Gendis.
Di sebuah taman kota, mereka duduk di bawah pohon. Arion tampak gelisah. "Gendis, aku merasa tubuhku semakin ringan. Seperti... seperti tinta yang menguap."
Gendis tersentak. Ia melihat ujung jari Arion yang mulai terlihat transparan. "Nggak, Ion. Jangan bilang lo bakal balik ke buku."
"Aku adalah cerita, Gendis. Dan cerita harus memiliki akhir," ucap Arion sedih.
...
■ Puncak Perasaan
Malam itu, di apartemen Gendis, suasana terasa sangat berat. Arion tahu waktunya tidak banyak. Ia menatap Gendis dengan intensitas yang bisa melelehkan kutub utara.
"Gendis, sebelum aku kembali menjadi tulisan yang bisu... aku ingin tahu satu hal."
"Apa?" suara Gendis bergetar.
Arion menarik Gendis ke dalam pelukannya. Pergumulan emosi di antara mereka memuncak. Arion menunduk, dan terjadilah "adu bibir" yang sangat lembut namun penuh kerinduan. Bagi Gendis, ini bukan lagi fiksi. Ini adalah rasa manis dan hangat yang paling nyata yang pernah ia rasakan.
Mereka menghabiskan waktu dengan berpelukan di sofa, melakukan "kontak fisik" yang intens namun manis, seolah ingin merekam tekstur kulit masing-masing ke dalam memori.
"Jangan lupain gue, ya?" tangis Gendis pecah.
"Kau adalah penulis dari takdirku sekarang, Gendis. Aku tidak akan pernah melupakan wanitaku yang paling berani," bisik Arion sebelum tubuhnya benar-benar pecah menjadi ribuan butiran cahaya biru dan kembali masuk ke dalam novel yang tergeletak di lantai.
...
■ Happy Ending yang Berbeda
Gendis terbangun keesokan paginya dengan bantal yang basah. Ia segera meraih novel The Last Knight. Ia takut melihat halaman terakhir di mana Arion mati.
Namun, saat ia membuka bab terakhir, tulisannya berubah.
...Dan sang Ksatria tidak mati di medan perang. Ia menghilang ke dunia lain, menemukan seorang wanita dengan mata seindah bintang, dan berjanji akan mencari jalan kembali untuk selamanya.
Tiba-tiba, bel pintu apartemennya berbunyi. Gendis membukanya dengan malas, mengira itu tukang paket.
Seorang pria berdiri di sana. Rambutnya hitam, matanya biru samudra, mengenakan kemeja yang sangat mirip dengan yang dibelikan Gendis kemarin.
"Permisi," kata pria itu. "Saya baru pindah ke unit sebelah. Nama saya Arion. Saya merasa... seperti kita pernah bertemu di suatu tempat?"
Gendis terpaku. Ia melihat ke tangannya, novel itu kini halamannya putih bersih, seolah semua tintanya telah pindah ke dunia nyata.
Gendis tersenyum, air mata bahagianya jatuh. "Hai, Arion. Mau masuk? Gue punya banyak cerita buat lo."
Status Jones Gendis resmi berakhir hari itu. Karena terkadang, kalau dunia nyata nggak bisa kasih kamu cinta, kamu cuma perlu menulis cerita kamu sendiri sampai dia jadi nyata.
...
Thanks yang dah baca.
Silahkan mampir ke karya aku yang lain.
Kalau kalian suka kalian bisa follow aku supaya lebih gampang mengakses karya-karya aku.
Arigatou!
...