Spanyol itu indah, tapi bagiku, Madrid adalah segalanya. Namaku Mateo. Aku tinggal di Madrid, napasku adalah aroma rumput Santiago Bernabéu, dan jantungku berdetak dalam ritme Hala Madrid. Bagiku, warna putih adalah kesucian, kejayaan, dan harga diri yang tidak bisa ditawar. Sampai suatu sore di sebuah kafe kecil di sudut jalanan Toledo yang berbatu, aku melihat sebuah kesalahan estetika yang luar biasa cantik.
Dia sedang duduk sendirian, menyesap Café con leche, sambil membaca koran olahraga Mundo Deportivo. Masalahnya cuma satu: dia memakai jersey kotak-kotak biru-merah yang sangat menyakitkan mata. Barcelona. Di tengah kota yang memuja Los Blancos, dia duduk dengan tenang seolah-olah sedang memakai baju zirah yang tak tembus peluru.
Aku mendekat. Bukan untuk mengajak berkelahi soal taktik tiki-taka, tapi karena dia terlalu cantik untuk diabaikan hanya karena urusan rivalitas abadi. Aku menarik kursi di depannya tanpa izin, membuat bunyi gesekan kayu yang cukup keras di lantai kafe.
"Permisi," kataku, mencoba memasang wajah seserius mungkin. "Apa tidak gerah memakai baju badut di kota seindah ini?"
Dia mendongak. Matanya cokelat jernih, tipe mata yang kalau kamu tatap terlalu lama bisa membuatmu lupa cara bernapas. Dia tersenyum sinis, tipe senyum yang bisa membuat pemain belakang Real Madrid kena kartu merah saking terpesonanya.
"¿Perdon?" katanya. "Ini bukan baju badut, Tuan Madridista. Ini adalah seni. Kamu tidak akan paham karena terbiasa menonton bola yang isinya cuma lari dan cetak gol tanpa estetika. Madrid itu membosankan, seperti robot yang diprogram untuk menang."
"Aku Mateo," kataku sambil menyodorkan tangan.
"Clara," jawabnya pendek, tapi dia tidak menyambut tanganku. Dia justru mendorong piring kecil berisi Tapas ke arahku. "Makanlah, biar mulutmu tidak sibuk menghina seleraku."
Suasana Spanyol yang hangat membuat perdebatan kami terasa seperti komedi putar. Kami memesan sepiring Churros tambahan. Sambil mengunyah, Clara mulai menyerang lagi. "Oye, Mateo, kenapa kamu suka sekali tim yang isinya cuma pamer kemewahan? Madrid itu seperti restoran mahal yang rasanya hambar. Menang karena uang, bukan karena hati."
Aku tertawa, hampir tersedak cokelat panas. "Dan Barca itu seperti sekolah dasar yang merasa paling pintar di dunia, Clara. Bermain oper-operan sampai kakek-nenek tapi tidak mencetak gol. Itu bukan seni, itu membuang waktu. Seni itu kalau kamu punya 15 trofi Liga Champions di lemari. Bukan cuma menang penguasaan bola tapi pulang sambil menangis di ruang ganti."
Clara melemparkan sepotong kecil roti ke arahku. Aku menangkapnya dengan mulut, persis seperti anjing peliharaan yang sedang pamer ketangkasan. Kami tertawa bersamaan. Di Madrid, menyukai fans Barca itu seperti makan pizza pakai nanas. Aneh, salah, melanggar hukum alam, tapi entah kenapa beberapa orang sangat menikmatinya. Termasuk aku, saat ini juga.
Malam semakin larut di Toledo. Lampu-lampu jalanan mulai menyala, memberikan efek emas pada bangunan-bangunan tua di sekitar kami. "Besok El Clásico," kataku, memecah kesunyian yang tiba-tiba terasa romantis.
Clara mengangguk mantap. "Aku akan menontonnya di bar dekat sini. Sambil memakai jersey ini lagi, tentu saja. Aku ingin melihat wajah lesu para Madridista saat gawang mereka dibobol."
"Bagaimana kalau taruhan?" tantangku. "Kalau Madrid menang, kamu harus menemaniku jalan-jalan ke Taman Retiro... tanpa jersey Barca itu. Kamu harus memakai baju putih. Kamu harus merasakan bagaimana rasanya menjadi suci seharian."
Clara terdiam sebentar, lalu matanya berkilat menantang. "¿Qué quieres? Oke. Tapi kalau Barca menang, kamu harus meneriakkan 'Visca Barça' dengan keras di depan patung Cibeles. Di depan markas suporter Madrid yang paling fanatik. Berani?"
Aku menelan ludah. Itu namanya bunuh diri sosial. Aku bisa dilempar sepatu oleh tetanggaku sendiri. Tapi demi melihat Clara tanpa warna biru-merah itu? Baiklah. "Trato hecho," kataku. Kita sepakat.
Hari pertandingan tiba. Stadion terasa seperti medan perang, tapi pikiranku tidak di sana. Aku tidak fokus pada pergerakan Vinícius atau penyelamatan Courtois. Aku terus memikirkan bagaimana caranya membuat Clara memakai baju putih dan berjalan di sampingku.
Hasilnya? Pertandingan berakhir 0-0. Sebuah drama tanpa gol. Benar-benar hambar. Seolah-olah para pemain di lapangan tahu kalau ada dua orang gila di Toledo yang sedang mempertaruhkan harga diri mereka, lalu para pemain itu sepakat untuk main aman saja.
Aku menemui Clara di kafe yang sama sejam setelah peluit panjang berbunyi. Dia tampak kesal karena timnya tidak menang, tapi juga tampak lega karena tidak perlu memakai baju putih pilihanku.
"Jadi... karena skornya kacamata, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah?" tanya Clara sambil memainkan sendoknya.
Aku menggeleng perlahan. Aku menatap matanya dalam-dalam, mencoba mencari celah untuk mencetak gol di hatinya. "Enggak. Karena seri, artinya kita harus nonton bareng di pertandingan berikutnya. Sampai ada yang benar-benar menang. Sampai salah satu dari kita harus menyerah."
Clara tersenyum, kali ini bukan senyum sinis yang biasa dia tunjukkan. "Itu alasan paling payah dan paling klise yang pernah kudengar dari seorang Madridista, Mateo."
"Lo sé," jawabku jujur. "Tapi berhasil membuatmu tidak langsung pulang, kan?"
"Iya. Berhasil," bisiknya.
Kami berjalan menyusuri trotoar Toledo yang diterangi rembulan. Aku fans Madrid yang kaku, dia fans Barca yang keras kepala. Di lapangan hijau kami adalah musuh bebuyutan, tapi di bawah langit Spanyol yang luas ini, kami hanya dua orang yang sedang jatuh cinta pada permainan yang sama. Permaianan yang tidak butuh bola, hanya butuh keberanian untuk tidak saling melepaskan.
"Mateo?" panggilnya saat kami sampai di persimpangan jalan.
"Ya?"
"Te odio," bisiknya sambil tiba-tiba merangkul lenganku erat-erat. Aku benci kamu.
"Aku tahu. Yo juga te amo," jawabku asal, mencampur bahasa Spanyol dan perasaanku yang berantakan.
Malam itu, di papan skor dunia, hasilnya tetap seri. Tapi dalam hatiku, aku sudah mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir babak tambahan. Ternyata, rivalitas paling indah adalah saat kamu ingin mengalahkan egomu sendiri hanya untuk melihatnya tersenyum.