Bagian 2
Kekacauan di aula hotel adalah musik bagi telinga Alana. Ia melangkah turun dari panggung, mengabaikan teriakan histeris Maya dan tatapan memelas Adrian yang mencoba mengejarnya. Di pintu keluar, para wartawan sudah mengerumuninya seperti hiu yang mencium aroma darah.
Namun, sebelum kilat kamera pertama menyentuh wajahnya, sebuah payung hitam besar terbuka lebar menghalangi pandangan mereka. Dua pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi membelah kerumunan, memberi jalan bagi seorang pria yang kehadirannya sanggup membekukan suhu ruangan.
Baron Pratama.
Pria itu berdiri di sana. Tingginya hampir 190 cm, dengan rahang tegas dan mata setajam elang yang tersimpan di balik kacamata frame perak. Di kehidupan sebelumnya, Baron adalah satu-satunya orang yang pernah memperingatkan Alana tentang niat busuk Adrian, namun Alana yang naif saat itu justru menganggap Baron sebagai pria sombong yang iri pada kebahagiaannya.
"Nona Alana," suara Baron berat dan tenang, namun penuh otoritas. "Mobil saya sudah menunggu. Kurasa Anda tidak ingin menghabiskan malam ini dengan menjawab pertanyaan tentang mantan tunangan yang... menjijikkan itu."
Alana tersenyum tipis. Ia menerima uluran tangan Baron yang kokoh. "Terima kasih, Tuan Baron. Anda datang tepat waktu."
Di dalam mobil mewah Rolls-Royce yang kedap suara, suasana menjadi sunyi. Alana menatap ke luar jendela, melihat hotel yang baru saja ia tinggalkan kini menjadi pusat skandal terbesar tahun ini.
"Kenapa kau membantuku, Baron?" tanya Alana tanpa menoleh. "Kita adalah rival bisnis. Proyek Blue Ocean yang baru saja kuhancurkan juga merupakan target incaran perusahaanmu."
Baron menyandarkan punggungnya, menatap Alana dengan ketertarikan yang tidak ditutup-tutupi. "Karena musuh dari musuhku adalah temanku. Dan sejujurnya... aku lebih suka melihatmu membakar dunia daripada melihatmu menangis di pojok gudang seperti yang pernah kuprediksikan."
Alana menegang. Kalimat Baron terasa sangat dekat dengan kenyataan pahit di kehidupan sebelumnya. "Aku tidak akan menangis lagi, Baron. Aku akan membuat mereka merangkak."
---
Keesokan harinya, berita utama di seluruh media nasional hanya berisi satu hal: "Pewaris Grup Dirgantara Membatalkan Pertunangan: Skandal Perselingkuhan Adrian Adiguna Terbongkar!"
Saham perusahaan Adrian, Adiguna Corp, anjlok hingga titik terendah dalam sejarah. Para investor menarik diri secara massal. Namun, Alana belum puas.
Ia duduk di kantor ayahnya, memegang kendali penuh setelah meyakinkan sang ayah bahwa Adrian adalah benalu. Di depannya, ada laporan rahasia mengenai penggelapan pajak yang dilakukan Adrian untuk membiayai gaya hidup mewah Maya di luar negeri.
"Alana! Buka pintunya!" suara gedoran keras terdengar dari luar kantor.
Itu Adrian. Ia tampak berantakan. Rambutnya yang biasa rapi kini acak-acakan, kemejanya kusut, dan matanya merah karena kurang tidur. Ia berhasil menerobos masuk melewati sekretaris.
"Alana, kumohon! Itu semua salah paham. Foto-foto itu... itu hanya editan! Maya menjebakku!" Adrian berlutut di depan meja Alana, mencoba meraih jemari wanita itu.
Alana tidak menjauhkan tangannya. Ia justru membelai rambut Adrian dengan lembut, sebuah gerakan yang membuat Adrian merasa punya harapan. Namun, kata-kata Alana berikutnya justru seperti siraman air es.
"Adrian, tahukah kau apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?" bisik Alana. "Bukan saat kau melakukannya, tapi saat kau berpikir aku masih cukup bodoh untuk mempercayaimu lagi."
Alana melemparkan map cokelat ke wajah Adrian. Isinya adalah bukti penggelapan pajak dan surat sita dari bank atas rumah mewah yang ditinggali Adrian—rumah yang sebenarnya dibeli menggunakan dana yayasan milik ibu Alana.
"Rumah itu akan disita sore ini. Dan oh, aku lupa memberitahumu... Maya sudah mengemasi barang-barangnya. Dia mencoba kabur ke Singapura pagi tadi, tapi aku sudah meminta pihak imigrasi mencekal paspornya atas tuduhan pencucian uang."
Adrian ternganga. "Kau... kau merencanakan ini semua?"
"Tidak, Adrian. Aku hanya sedang memberikan 'kesempatan kedua' padamu untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah yang tidak punya apa-apa."
---
Malam itu, Alana bertemu Baron di sebuah bar privat yang tertutup untuk umum. Baron menuangkan segelas wine merah untuknya.
"Adrian sudah hancur secara finansial. Tapi dia masih punya koneksi dengan keluarga mafia di pelabuhan. Dia bisa sangat berbahaya jika terdesak," ujar Baron memperingatkan.
Alana menyesap minumannya, matanya berkilat di bawah lampu remang-remang. "Itulah sebabnya aku datang padamu, Baron. Aku tahu kau ingin menguasai jalur logistik di pelabuhan utara yang selama ini dikuasai oleh sekutu Adrian."
Baron mendekat, hingga Alana bisa mencium aroma maskulin kayu cendana dari pria itu. "Dan apa imbalannya untukku?"
Alana meletakkan gelasnya, menatap langsung ke mata Baron. "Aku akan memberikan 30% saham dari Dirgantara Group dan... akses penuh ke teknologi pengolahan limbah yang selama ini dirahasiakan ayahku."
Baron terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Tawa yang terdengar seksi sekaligus mengancam. "Kau sangat berani, Alana. Kau memberikan aset berhargamu kepada 'Iblis' hanya untuk menghancurkan seekor 'kecoa' seperti Adrian?"
"Iblis lebih bisa dipercaya karena tujuannya jelas," jawab Alana tegas. "Daripada malaikat palsu yang menyembunyikan pisau di balik punggungnya."
Baron menarik tangan Alana, mengecup punggung tangannya dengan perlahan. "Kesepakatan tercapai. Mulai besok, Adrian Adiguna tidak akan menemukan tempat bersembunyi di kota ini. Bahkan tikus got pun tidak akan mau berbagi ruang dengannya."
---
Sementara itu, Maya sedang berada di sebuah apartemen murah, bersembunyi dari kejaran polisi. Ia terus menelepon Adrian, namun nomor pria itu sudah tidak aktif.
"Sialan! Adrian benar-benar membuangku!" teriak Maya frustrasi.
Tiba-tiba, pintu apartemennya didobrak paksa. Sekelompok pria berbadan tegap masuk, namun mereka bukan polisi. Mereka adalah orang-orang suruhan Baron yang dipimpin langsung oleh Alana.
Alana melangkah masuk dengan anggun, mengenakan sepatu hak tinggi yang bunyinya berdentum di lantai kayu seperti lonceng kematian.
"Maya, kau terlihat sangat... kumal," ejek Alana, menatap sahabatnya yang kini tampak menyedihkan.
"Alana, tolong! Ini semua ide Adrian! Dia yang memaksaku mendekatinya agar dia bisa mendapatkan informasi rahasia perusahanmu!" Maya memohon sambil bersujud di kaki Alana.
Alana berjongkok, menjambak rambut Maya hingga wanita itu mendongak. "Kau ingat saat kau memberiku racun perlahan di tehku setiap pagi di kehidupan... ah, maksudku, di masa lalu? Kau pikir aku tidak tahu?"
Maya terbelalak. Bagaimana Alana bisa tahu tentang rencana racun itu? Padahal ia baru saja mulai memesan zat tersebut dari pasar gelap minggu lalu.
"Nikmatilah masa mudamu di balik jeruji besi, Maya. Dan jangan khawatir, Adrian akan menyusulmu besok. Aku sudah menyiapkan sel yang berseberangan untuk kalian, agar kalian bisa saling melihat betapa hancurnya hidup kalian setiap hari."
---
Alana berdiri di balkon kantor barunya, menatap cakrawala kota. Adrian dan Maya telah runtuh, namun ia tahu ini baru permulaan. Masih ada sosok misterius di balik Adrian—sosok yang memerintahkan pembakarannya di masa depan—yang harus ia cari tahu.
Baron muncul di belakangnya, menyampirkan jas di bahu Alana. "Sudah selesai?"
"Belum," jawab Alana sambil tersenyum sinis. "Permainan sesungguhnya baru saja dimulai."