Bagian 1
Rasa dingin merambat di sekujur tubuh Alana. Bau amis darah bercampur dengan aroma parfum melati yang menyesakkan. Di depannya, berdiri dua orang yang paling ia percayai di dunia ini—atau setidaknya, begitulah pikirnya selama lima tahun terakhir.
"Alana, jangan menyalahkanku. Salahkan dirimu sendiri karena terlalu bodoh menyerahkan seluruh saham perusahaan ayahmu padaku," bisik Adrian, suaminya, sambil menyeka noda darah di pisau lipatnya dengan saputangan sutra.
Di samping Adrian, Maya—sahabat karib Alana sejak SMA—tersenyum sinis. Ia mengenakan kalung berlian yang baru saja dibelikan Adrian minggu lalu. "Kau pikir Adrian benar-benar mencintaimu? Dia hanya butuh modal untuk membangun Grup Adiguna. Sekarang setelah dia di puncak, kau hanya sampah yang menghalangi jalan kami."
Alana terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Ia tergeletak di lantai dingin gudang tua itu, sementara di luar sana, pesta ulang tahun perusahaan yang ke-10 sedang berlangsung meriah. Semua orang merayakan kesuksesan Adrian, tanpa tahu bahwa pondasi perusahaan itu dibangun dari keringat dan air mata Alana yang kini sedang meregang nyawa.
"Selamat tinggal, Alana. Di kehidupan selanjutnya, jangan terlalu naif," ucap Maya sambil melambaikan tangan.
Adrian menyulut korek api, melemparkannya ke tumpukan bensin yang sudah disiram di sekeliling Alana. Api berkobar seketika. Dalam panas yang membakar kulitnya, Alana berteriak tanpa suara.
Jika ada Tuhan, jika ada keajaiban... aku bersumpah akan menyeret mereka ke neraka bersamaku!
---
"Nona? Nona Alana, bangun! Penata rias sudah menunggu."
Alana tersentak bangun. Napasnya tersengal-sengal. Ia meraba lehernya—tidak ada luka. Ia melihat tangannya—tidak ada luka bakar. Ia berada di sebuah kamar mewah yang sangat ia kenali. Kamar di rumah lamanya.
Ia melirik kalender digital di atas meja rias: 15 Februari 2021.
Jantung Alana nyaris berhenti. Ini adalah hari pertunangannya dengan Adrian. Hari di mana ia pertama kali menyerahkan hak kuasa atas aset ayahnya kepada pria itu sebagai tanda "cinta".
"Nona, Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali," tanya Sari, pelayan setianya yang di masa depan akan dipecat oleh Adrian secara tidak hormat.
Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tampak lima tahun lebih muda, cantik, dan belum hancur. Sebuah senyum dingin terukir di bibirnya. Tuhan benar-benar mendengarku.
"Sari, panggilkan pengacaraku, Pak Broto. Sekarang juga," perintah Alana tegas.
"Tapi Nona, acara pertunangan akan dimulai satu jam lagi..."
"Lakukan saja. Dan katakan padanya untuk membawa kontrak pembatalan pengalihan aset. Cepat!"
---
Di aula besar hotel bintang lima, Adrian tampak gagah dengan setelan tuksedo hitam. Ia tersenyum ramah kepada para kolega bisnis, namun matanya terus mencari sosok Alana. Ia sudah tidak sabar untuk menandatangani dokumen pengalihan saham yang akan menjadikannya raja bisnis baru di kota ini.
"Adrian, kau tampak sangat bahagia," sapa Maya, yang hari ini bertugas sebagai bridesmaid. Mereka saling melempar pandang penuh rahasia di tengah kerumunan.
Tiba-tiba, lampu aula meredup. Sorot lampu mengarah ke tangga besar. Alana muncul dengan gaun merah membara—bukan gaun putih suci yang seharusnya ia kenakan. Ia tampak seperti dewi perang, bukan pengantin yang sedang jatuh cinta.
Adrian terpaku. "Alana, kenapa kau berganti pakaian? Dan di mana dokumennya?" bisiknya saat Alana sampai di sampingnya.
Alana tersenyum manis, namun matanya sedingin es. "Sabar, sayang. Ada kejutan yang lebih besar."
Di depan mikropfon, Alana berbicara dengan lantang. "Terima kasih telah hadir. Hari ini, saya ingin mengumumkan sesuatu yang penting. Selain pertunangan saya, saya juga memutuskan untuk menarik seluruh investasi keluarga saya dari proyek Blue Ocean milik Adrian Adiguna."
Hening seketika. Wajah Adrian berubah pucat pasi. Proyek Blue Ocean adalah hidup matinya. Tanpa dana Alana, ia akan bangkrut dalam semalam.
"Alana! Apa yang kau lakukan?" Adrian berdesis, mencoba meraih tangan Alana, namun Alana menepisnya dengan kasar.
"Kenapa, Adrian? Kau takut tidak punya modal untuk berselingkuh dengan sahabatku?"
Alana memberi isyarat ke layar besar di belakang panggung. Seketika, layar itu menampilkan foto-foto rahasia Adrian dan Maya yang sedang bermesraan di sebuah hotel sebulan lalu—foto yang baru saja didapatkan Alana berkat bantuan informan bayaran yang ia hubungi secara kilat tadi pagi.
Gumam kaget memenuhi ruangan. Kamera wartawan mulai menjepret tanpa henti.
"Kau..." Maya gemetar, mencoba kabur dari ruangan, namun Sari dan beberapa petugas keamanan sudah menghalangi jalannya.
Alana mendekat ke telinga Adrian, membisikkan kata-kata yang pernah pria itu ucapkan padanya di gudang tua: "Jangan menyalahkanku, Adrian. Salahkan dirimu sendiri karena terlalu bodoh berpikir aku akan selamanya menjadi budak cintamu."