Tokoh utama : Zia/Alya siswi yang keliatan kalem… tapi sebenernya pusat gravitasi drama satu sekolah.
Hari Senin.
Kamu baru masuk gerbang sekolah, dan suasana udah aneh.
Tiba-tiba ada kerumunan di depan papan pengumuman.
Di situ tertempel kertas besar bertuliskan:
“KALIAN PIKIR DIA ANAK BAIK?”
Dan di bawahnya… ada foto kamu lagi ngobrol sama seseorang secara close-up
Masalahnya?
Itu foto diambil diam-diam.
Dan orang yang lagi kamu ajak ngobrol itu adalah murid paling populer sekaligus paling banyak musuhnya di sekolah.
Semua orang mulai bisik-bisik.
Temen kamu nyamperin:
“Zia… kamu apaan sih sama dia?”
Tiba-tiba…
Orang yang ada di foto itu muncul dari belakang kamu.
Dia bilang pelan,
“Tenang. Aku yang urus.”
Kamu muter badan, natap dia tajem.
“Ini ulah kamu?” suara kamu rendah tapi tegas.
Kerumunan makin sunyi.
Dia—murid paling populer itu—ngelirik papan pengumuman, terus balik natap kamu.
“Aku nggak serendah itu.”
Bisik-bisik makin kenceng.
Tapi kamu nggak berhenti.
Kamu melangkah lebih deket.
“Kalau bukan kamu, berarti ada yang tau rahasia kita.”
Dia langsung kaku.
Rahasia.
Beberapa hari lalu…
Kamu nemuin sesuatu di ruang OSIS.
File rahasia tentang manipulasi voting ketua kelas.
Dan namanya ada di situ.
Dia tau kamu tau.
Dan sekarang foto itu muncul. Seolah-olah buat ngejatuhin kamu duluan sebelum kamu buka suara.
Dia berbisik, cuma kamu yang bisa denger:
“Kamu nggak akan berani.”
Kamu senyum tipis.
“Oh ya?”
Tiba-tiba dari belakang kerumunan, suara lain muncul.
“Kalau dia nggak berani, aku yang bakal bantu.”
Semua orang nengok.
Itu sahabat kamu… yang selama ini keliatan biasa aja.
Tapi ternyata dia juga punya salinan file itu
Sekarang situasi makin panas.
Kamu narik napas, terus bilang cukup keras biar orang-orang denger,
“Udah. Ini nggak penting.”
Kerumunan kecewa. Mereka mau drama, bukan kedewasaan 😌
Kamu noleh ke dia.
“Ke belakang perpustakaan. Sekarang.”
Dia ngikutin tanpa bantah.
Di belakang perpustakaan sepi. Angin sore agak dingin.
Kamu nyilang tangan.
“Aku nggak bodoh. Ini jelas pengalihan isu.”
Dia diem beberapa detik. Lalu ketawa pelan.
“Kamu pikir cuma aku yang main?”
Kalimat itu bikin kamu mikir.
Berarti…
Ada yang lebih besar dari sekadar dia manipulasi voting.
Kamu ngeluarin HP.
“Kita sama-sama tau ada yang ngawasin. Jadi kita kerja sama.”
Dia langsung tatap kamu serius. Nggak ada lagi aura populer-songong.
“Kalau kita kerja sama, kamu juga dalam bahaya.”
Kamu senyum tipis.
“Udah dari tadi.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malamnya…
Kamu dan sahabat kamu mulai kumpulin bukti tambahan.
Dan kamu nemuin sesuatu yang bikin jantung kamu turun.
Nama dalang utama itu…
Ketua OSIS.
Yang selama ini dikenal paling bersih dan paling disiplin.
Dan besok pagi…
Dia ngumumin rapat besar seluruh siswa.
🎭 Rapat Besar — Aula Sekolah
.
.
.
.
.
.
.
Semua siswa duduk.
Ketua OSIS berdiri di panggung, rapi, percaya diri.
“Belakangan ini ada isu tidak benar yang beredar…”
Kamu duduk di bangku tengah. Wajah datar. Seolah nggak tau apa-apa.
Si populer duduk dua baris di depan kamu. Dia cuma melirik sekilas. Kode diam.
.
.
.
.
Ketua OSIS lanjut bicara,
“Kita harus menjaga nama baik sekolah dan—”
Klik.
Lampu aula redup sebentar.
Proyektor nyala.
Semua kepala nengok ke layar.
Muncul folder bernama:
“Rekap Voting Final – Revisi”
Bisik-bisik mulai.
Ketua OSIS kaku.
Di layar muncul rekaman layar (yang kamu dan sahabat kamu siapin semalaman) — file asli sebelum diedit.
Angka voting beda.
Nama yang harusnya menang… bukan dia.
Suasana aula meledak.
.
.
.
.
.
“Eh itu apa?”
“Seriusan diedit?”
“Berarti dia curang??”
Dan kamu?
Masih duduk. Tenang.
Seolah kamu juga baru tau.
Ketua OSIS langsung teriak,
“Siapa yang melakukan ini?!”
Kamu angkat tangan pelan.
“Maaf, Kak… kayaknya proyektornya error. Tapi itu file dari laptop OSIS kan?”
Boom.
Semua mata ke dia.
Wajahnya mulai panik.
Karena cuma dia yang punya akses utama.
Si populer akhirnya berdiri.
“Aku saksi. File asli beda.”
Aula makin ricuh.
Ketua OSIS mulai kehilangan kendali.
Tapi…
Tiba-tiba dari pintu aula, guru BK masuk.
.
.
.
.
Dan beliau bilang kalimat yang bikin kamu kaget:
“File itu bukan cuma tentang voting.”
Ternyata ada data lain.
Dana kegiatan yang juga dimanipulasi.
Ini lebih besar dari yang kamu kira.
.
.
.
.
.
Aula makin ricuh.
Guru BK keliatan serius, tapi belum ngomong banyak.
Kamu berdiri.
Semua orang otomatis diem. Bahkan si populer langsung nengok.
Kamu jalan ke depan.
Langkah kamu tenang… tapi tegas.
“Kak,” kamu bilang, tatap langsung ketua OSIS,
“Kalau ini cuma salah paham, jelasin. Di depan semua orang.”
Sunyi.
.
.
.
.
Ketua OSIS narik napas, berusaha tetap tenang.
“Itu file belum final. Kamu nggak ngerti sistemnya.”
Kamu nyengir tipis.
“Revisi sampai angka berubah total?”
Bisik-bisik makin panas.
Dan tiba-tiba—
Seseorang berdiri dari barisan depan.
Itu wakil ketua OSIS.
“Cukup!” dia teriak.
“Kalian nggak tau apa-apa. Ketua cuma lindungin sekolah!”
Aula langsung pecah lagi.
Wakilnya lanjut, suara gemetar tapi nekat,
“Dana itu dipake buat nutup kekurangan acara karena sponsor batal. Kalau nggak, sekolah bakal malu!”
Semua orang terdiam.
Jadi… manipulasi itu bukan buat kepentingan pribadi?
Ketua OSIS akhirnya ngomong pelan,
“Aku salah nggak transparan. Tapi aku nggak nyuri.”
Sekarang situasinya berubah.
.
.
.
Ini bukan sekadar villain licik.
Ini orang yang ambil keputusan salah demi “nama baik”.
Guru BK maju, minta semua tenang.
Dan kamu?
Kamu jadi pusat momen ini.
Final arc dimulai.
.
.
.
.
.
.
.
Aula masih tegang.
Kamu tarik napas.
“Kalau memang niatnya buat sekolah,” kamu bilang tenang,
“jelasin semuanya. Transparan. Sekarang.”
Semua mata ke ketua OSIS.
Dia keliatan goyah… tapi akhirnya ngangguk.
.
.
.
.
“Iya. Sponsor acara seni batal H-3. Kalau gagal, sekolah bakal malu besar. Aku ambil dana cadangan kegiatan lain. Aku ubah laporan supaya nggak ketahuan panitia lain.”
Murmur terdengar lagi.
Kamu angkat alis.
“Kalau cuma itu… kenapa angka voting juga berubah?”
Sunyi.
.
.
.
.
Itu fakta yang belum dia jelasin.
Wakilnya langsung keliatan panik.
Kamu lanjut pelan tapi tajam,
“Dan kenapa cuma kamu yang pegang akses file malam itu… tapi login terakhir bukan dari akun kamu?”
Semua orang mulai sadar.
Wakil ketua OSIS mundur selangkah.
Kamu keluarkan screenshot terakhir — data login.
Nama yang muncul?
Akun wakil ketua.
Boom.
.
.
.
.
Aula pecah.
Ternyata—
Ketua OSIS memang manipulasi dana. Salah.
Tapi voting?
Itu ulah wakilnya.
Motifnya?
Dia pengen jatuhin ketua pelan-pelan, bikin dia keliatan nggak kompeten, biar bisa ambil posisi.
Dan foto kamu yang ditempel di papan pengumuman?
Juga dia yang sebar.
Karena dia tau kamu mulai curiga.
Wajahnya pucat.
Ketua OSIS menatap wakilnya, shock.
“Kamu…?”
Guru BK langsung maju, mengambil alih situasi.
Rapat bubar dengan keputusan investigasi resmi.
.
.
.
.
.
.
Setelah aula kosong…
Si populer nyamperin kamu.
“Kamu sadar nggak,” dia bilang pelan,
“kalau kamu baru aja ngalahin dua orang sekaligus?”
Kamu cuma senyum kecil.
Drama selesai.
.
.
.
.
Nama kamu sekarang?
Legenda sekolah.
THE END…