Aku Kim Min-Jun, pewaris perusahaan teknologi yang namanya tidak perlu disebutkan (kau pasti tahu). Ponselku tidak pernah lepas dari genggaman, bukan karena pekerjaan, tapi karena notifikasi dari "nya". Dia, Raya Putri, selebriti dan influencer paling bersinar di Indonesia. Dan dia, sayangnya, terlibat dalam kegaduhan terbaru ini.
Aku sedang sarapan salmon asap dan kimchi di penthouse-ku saat notifikasi berdering. Raya mengirimiku screenshot dari sebuah postingan. Isinya? Drama konser DAY6 di Kuala Lumpur.
"Sayang, lihat ini," pesannya. "Orang Korea kita bikin ulah lagi."
Aku membaca beritanya. Seorang fansite Korea tertangkap menyelundupkan kamera DSLR ke konser. Aku mendesah. Bukan karena insidennya (hal seperti itu sudah biasa di kalangan fansite ambisius), tapi karena responsnya.
Ah, lagi-lagi. Aku tahu tipe mereka. Terlalu bangga dengan "standar" Korea, mengira mereka di atas segalanya. Bodyguard yang menegur mereka mungkin digertak dengan bahasa Korea, yang kalau aku tebak, bunyinya pasti seperti: "Kamu tahu tidak siapa aku? Aku datang dari negara yang bikin idola yang kamu suka! Kamu cuma penjaga pintu!"
Raya mengirimiku emoji kepala menggeleng. "Malunya tuh sampai sini, Min-Jun."
Aku tersenyum tipis. "Maafkan mereka, sayang. Tidak semua orang Korea begitu."
"Aku tahu," balasnya. "Tapi kenapa selalu ada saja?"
Lalu, drama itu merembet. K-netz mulai melancarkan serangan. Aku melihat tweet dari akun-akun anonim: "Orang Asia Tenggara itu cuma bisa meniru. Kalian tidak punya orisinalitas." Atau yang lebih parah, menghina fisik dan ekonomi.
Aku merasa kupingku panas. Raya adalah bintang di negaranya, dihargai dan dicintai. Bagaimana bisa orang-orang bodoh ini berbicara seperti itu?
"Min-Jun, kamu lihat komentar ini?" pesannya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Dia bilang fans K-Pop dari SEA itu cuma karena iri tidak punya idola sendiri."
Aku mengepalkan tangan. Raya, yang jadwalnya padat demi project film dan kampanye sosial, dibilang iri? Wanita yang menjadi panutan bagi jutaan pengikutnya? Ini tidak bisa dibiarkan.
Dulu, ada kasus Indosarang. Aku tahu itu membuat Raya kesal. Dia bahkan pernah bercerita bagaimana hal itu melukai hati teman-temannya di Indonesia. Aku sudah menenangkan Raya saat itu, meyakinkan bahwa tidak semua warga Korea seperti itu. Tapi sekarang, ini terjadi lagi.
Tapi kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi. Aku melihat timeline Raya dan teman-teman influencer-nya. Mereka semua me-repost dan me-mention satu sama lain dengan hashtag #SEAblings.
"Kita tidak akan diam!" - Dari seorang influencer Malaysia.
"Solidaritas Asia Tenggara adalah kunci!" - Dari seorang aktor Thailand.
"Indonesia siap pasang badan!" - Dari salah satu teman Raya.
Aku melihat Raya mengunggah sebuah video pendek. Dia tidak marah-marah, tapi suaranya tenang dan tegas. "Kita semua adalah tetangga. Kita menghargai budaya satu sama lain. Jangan biarkan segelintir orang merusak persaudaraan kita."
Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh tawa kini menunjukkan ketegasan seorang pemimpin. Aku bangga padanya. Dia tidak hanya cantik dan populer, tapi juga memiliki prinsip yang kuat.
Aku juga melihat balasan-balasan dari para "SEAblings" yang cerdas dan menohok. Ketika seorang K-netz mencoba menghina PDB Indonesia, seorang netizen membalas: "PDB kami mungkin belum setinggi kalian, tapi kami tidak perlu menyembunyikan kamera ilegal di balik jaket untuk konser."
Skakmat. Aku tersenyum. Raya dan "keluarganya" ini memang luar biasa. Mereka tidak hanya melawan dengan emosi, tetapi dengan fakta dan kecerdasan.
Malamnya, aku menelpon Raya.
"Kamu hebat, sayang," kataku tulus. "Kalian semua."
"Terima kasih, Min-Jun," suaranya terdengar lelah tapi bahagia. "Aku hanya tidak ingin melihat hal seperti ini terus-menerus terjadi. Budaya kita berinteraksi, bukan berarti yang satu boleh merendahkan yang lain."
Aku terdiam. Ya, dia benar. Aku tahu banyak orang Korea yang tulus mencintai budaya Asia Tenggara, termasuk K-Pop yang sangat populer di sana. Tapi, ada segelintir orang yang merusak citra itu dengan sikap merendahkan.
"Aku akan bicara dengan beberapa kenalanku di media," kataku. "Mungkin bisa meredakan situasi, atau setidaknya membuat mereka yang rasis berpikir dua kali."
Raya tertawa kecil. "Itu manis sekali, Min-Jun. Tapi kurasa, para SEAblings sudah cukup melakukan itu."
Aku mematikan telepon. Melalui kegaduhan ini, aku semakin mengerti mengapa aku mencintai wanita ini dan negerinya. Mereka punya semangat, persatuan, dan cara menghadapi masalah dengan kepala tegak, bahkan saat dihina. Ini pelajaran yang berharga bagi orang-orang seperti aku, yang kadang terlalu terbuai dengan kemudahan hidup.
Mungkin, lain kali, aku harus mengajak Raya ke Seoul dan memperkenalkan dia pada fansite bermasalah itu. Mungkin mereka butuh pelajaran tentang "Solidaritas Tetangga" langsung dari sumbernya. Dan dari pacarku, yang lebih kaya hati daripada dompetku.