Dulu aku merasa, pria yang pernah ku temui di kala malam datang menyapa dan menghapus tangisanku adalah pahlawanku. Hanya karena sebuah ice cream rasa vanila, membuatku harus menemukanmu kelak. Sulit.. ya pasti sulit.. aku hanya ingat senyumanmu saja, dan masih ku mengingatnya hingga sekarang.
🍁🍁🍁
"Aku menyukaimu Ayra." Ucap pria di hadapanku, yang ku tahu bernama Angga.
"Maukah kamu jadi pacarku." Pintanya.
Ku menarik nafas panjang, mencoba memberanikan diri menatap pria yang ada di hadapanku, dan mencoba untuk menetapkan jawaban untuknya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Ku harap kamu tidak membenciku karena ini."
Namaku Ayra. Banyak yang bilang aku cantik dan manis. Banyak pria yang mencoba mendekatiku dan menyatakan cintanya. Namun hatiku sudah tersimpan rapi hanya untuk pria yang ku temui lima tahun yang lalu.
Aku tumbuh menjadi wanita yang ceria, tersenyum dan ramah terhadap semua orang. Itu janjiku saat ku bertemu dengannya waktu itu.
"Berjanjilah untuk tersenyum menghadapinya, kau akan terlihat cantik jika tersenyum." Ucap pria itu setelah menyerahkan ice cream untukku.
Di mana dia? Aku selalu berharap kita akan bertemu lagi. Aku selalu berkunjung ke tempat pertama kali ku bertemu dengannya. Di depan sebuah minimarket, tepatnya di sebuah bangku panjang yang bersebrangan dengan minimarket itu. Ada sebuah lampu taman yang makin menyinari senyummu malam itu.
Saat itu aku menangis, tak kuat rasanya saat di tinggal seorang ibu, diusia yang masih sangat muda. Ibuku pergi selamanya, dan kau hadir, memberikanku sebuah harapan.
"Huff..."
Ku tertunduk sekarang, setelah Angga pergi meninggalkanku. Aku tidak bisa langsung menyukainya. Aku tak pernah sekalas dengannya. Kamipun jarang bertemu, entah bagaimana dia bisa menyukaiku.
"Dia pria yang keberapa yang sudah kau tolak?" Ucap suara pria yang ku tak sadari kedatangannya.
"Arya." Panggilku.
"Sejak kapan kau di situ? kau menguping pembicaraan kami?" Tanyaku kesal dan segera bangkit dari dudukku dan menghampirinya.
"Sejak dia datang dan menyatakan cintanya." Ucapnya sangat dekat dan aku melihat wajahnya sangat jelas sekarang.
"Kenapa kau selalu menolak pria-pria itu?"
"Bukan urusanmu." Jawabku kesal.
"Hemm baiklah.. Bagaimana kalau mulai sekarang kita berpacaran?"
"Hah.." Teriakku
"Kau tidak bilang tidak, berarti kau menerimaku." Ucapnya dan tersenyum menatapku.
"Mulai sekarang, kau urusanku." Bisiknya dan berlalu pergi.
Bagaimana bisa hanya dalam hitungan detik aku menjadi pacaranya. Arya, pria yang sudah dua tahun ini selalu sekelas denganku, di sekolah menengah atas yang cukup terkemuka di Jakarta.
Sepengetahuanku dia anak yang cerdas, cuek dan pendiam. Tapi semenjak saat itu, aku mulai memahami dia. Arya yang selalu memberikan perhatiannya kepadaku walaupun dia tak pernah menunjukkannya langsung. Arya yang selalu menyayangiku walaupun ia tak pernah mengatakannya secara jelas padaku. Arya yang selalu melindungiku dan menemani hari-hariku. Arya yang berhasil membuatku hampir melupakan pahlawanku.
Namun sore itu.. aku melihat pahlawanku. Ia tersenyum, ya itu senyum miliknya. Aku tak mungkin salah. Perlahan ku melangkah memastikan dugaanku adalah benar.
Lalu, apa yang sedang Arya lakukan bersama pria itu. Mereka saling kenal, tertawa dan berbicara satu sama lain. Langkah kakikupun terhenti saat diriku sudah berada diantara mereka. Aku terus menatapnya.. menatap pria yang ku cari-cari selama ini.
"Ayra." Panggil Arya menatapku.
"Dia Agra, abangku." Ucap Arya menjawab yang kupertanyakan sejak tadi seakan tahu apa yang ada di fikiranku.
Ingin sekali ku bertanya saat itu, ingatkah dia akan diriku. Seorang gadis kecil yang dulu pernah ditemuinya. Aku terus menatapnya, aku berharap dia mengingat diriku.
"Ayra." Panggil Arya kembali dan aku diam. Tangannya menggenggam jemariku sekarang dan akupun menatapnya.
"Kau kenapa?" Tanya Arya dan aku menggeleng. Rasanya aku masih tak percaya bahwa aku telah menemukannya.
"Hallo Ayra." Sapa Agra akhirnya dan aku hanya bisa tersenyum kecil.
Aku kecewa, sepertinya dia melupakanku. Dia tak mengingatku sama sekali.
"Maaf, aku pamit pulang." Izinku pada mereka.
"Tunggu, biar ku antar." Pinta Arya padaku dan aku hanya mengangguk pelan.
Aryapun pamit pada Agra. Dia mengantarku, sepanjang jalan aku hanya diam. Aku tak pandai menyembunyikan perasaanku padanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Arya akhirnya dan aku tetap diam.
"Kau kenal dengan abangku?" Tanyanya lagi dan aku menatapnya sekarang.
"Kau tahu, kenapa selama ini aku selalu menolak banyak pria yang menyukaiku?"
"Aku menanti seseorang, seseorang yang lima tahun lalu pernah ku temui." Jujurku padanya.
"Jadi, abangku adalah orang kamu maksud." Ucapnya memastikan.
Setelah percakapan itu, kami kembali diam. Kurasa itu percakapan terkahirku dengan Arya. Sudah tiga hari ini kami tak saling bicara. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Dia menjauhiku dengan sempurna.
Kenapa rasanya sangat menyakitkan.. lebih sakit dari rasa kecewaku saat Agra tak mengenali diriku. Ada apa dengan hatiku. Kedekatan kami terbilang tidak terlalu lama. Hanya karena pintanya yang mengagetkan aku waktu itu membuatku berpacaran dengannya. Aku merindukannya..
Sore ini, aku kembali melangkah seorang diri. Tanpa Arya menemaniku. Melamun menjadi kebiasaanku sepanjang jalan. Tanpa ku sadari aku dikejutkan dengan seseorang yang menepuk salah satu bahuku. Aku menatapnya, ya.. itu Agra. Dia ada di hadapanku sekarang.
"Bisa kita bicara?" Tanyanya dan aku menggangguk. Kamipun melangkah bersama menuju bangku di seberang minimarket.
"Sepertinya kalian sedang bertengkar ya." Ucapnya memastikan dan menatapku.
"Beberapa hari ini, Arya selalu telat pulang. Penampilannya berantakan. Terlihat sangat kacau." Ucap Agra memulai pembicaraan.
"Dulu dia pernah seperti ini, sangat kacau. Saat orang tua kami meninggal."
Aku terkejut mendengarnya. Aku tak mengetahui hal ini dari Arya sebelumnya. Akupun menatap Agra akhirnya.
"Aku tahu, aku memang tidak ada hak untuk mencampuri urusan kalian. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang baik untuk dilakukan."
"Maafkan aku" Ucapku akhirnya.
"Bolehkah aku bertanya." Pintaku memastikan.
"Apa?"
"Kau ingat, lima tahun yang lalu, ada seorang gadis yang duduk di bangku ini. Malam itu dia menangis, namun ada anak laki- laki yang menghampirinya dan memberikannya sebuah ice cream."
"Ah.. aku ingat, kau gadis itu kah." Ucapnya memastikan.
Aku merasa lega telah mengatakan itu semua. Walaupun kenyataannya perasaanku berbeda dengan perasaannya. Aku yang selalu menunggunya dan dia tak pernah menungguku.
"Pantas saja aku merasa, kita pernah bertemu sebelumnya." Ucapnya kembali.
"Kau tahu, saat itu Arya memaksaku untuk menemuimu. Dia juga yang memintaku untuk menyerahkan ice cream itu. Arya yang memilihkannya langsung, dia bilang rasa vanilla bisa menghiburmu. Hahh.. ternyata setelah sekian tahun, kalian dipertemukan kembali sekarang."
Sungguhkah demikan, aku terkejut kembali. Selama ini aku salah menentukan hatiku. Kau telah lama hadir, tapi ku tak pernah menyadarinya.
"Abang, Ayra.. kalian sedang apa?" Ucap pria mengagetkan kami.
Aku mengenali suara itu, itu milik Arya. Akupun menatapnya tak percaya. Aku bangkit dari dudukku. Ku berlari menghampirinya dan ku memeluknya seerat mungkin. Kali ini aku tak akan melepaskanmu. Kamu yang ku cintai, bukan pria yang tersenyum malam itu. Namun kau yang tak terlihat di mataku, tapi kau selalu mempedulikanku dari dulu hingga sekarang dan berharap selamanya kau mempedulikanku.
"Maafkan aku Arya, Aku mencintaimu." Ucapku padanya dan terus memeluknya.
-Selesai-
Semoga suka ceritanya, dan tinggalkan jejaknya😊🙏