"Rip! Turunin! Nanti berat!" teriak Maman. Suaranya tenggelam dalam gemuruh air yang menghantam bumi.
Air hujan bukan sekadar air. Bagi layangan, itu adalah beban timah. Kertas minyak akan lumat, tapi parasut hitam milik Arip? Dia mulai mengisap air. Beratnya berlipat ganda. Tali senar di tangan Arip mulai terasa seperti kawat baja yang ditarik traktor. Pedih. Panas. Kulit telapak tangannya yang baru sembuh kembali terbuka, mengalirkan warna merah yang segera pucat tersapu hujan.
Tapi Arip tidak melepas. Di atas sana, si Putih milik Koh Ahong masih terjerat. Layangan kecil itu sudah basah kuyup, menempel pada tubuh si Naga Malam seperti anak burung yang kedinginan pada induknya.
"Gila lu, Rip! Putusin aja si Putih itu!" Ujang mencoba memayungi Arip dengan daun pisang yang sobek. Sia-sia.
Arip menggeleng. Matanya perih kena air hujan, tapi dia tetap menatap ke atas. Di sana, di antara kilat yang mulai menyambar di ufuk barat, dia melihat sesuatu yang lebih indah dari kemenangan. Dia melihat keseimbangan yang dipaksakan oleh alam. Si Naga tidak jatuh karena dia memegang si Putih, dan si Putih tidak hilang karena dia tertahan oleh si Naga.
Dunia di bawah mereka gaduh. Orang-orang berlari mencari tempat berteduh. Jemuran disambar asal-asalan. Bau tanah basah—petrichor—menguap kuat, menyesakkan dada. Tapi di langit, hanya ada sunyi yang dingin.
Arip mulai menggulung. Satu tarikan berat, Dua tarikan. Tangannya gemetar hebat. Maman maju, menaruh tangannya di atas tangan Arip, ikut menarik. Lalu Ujang ikut serta. Tiga pasang tangan, satu tujuan. Mereka bukan lagi pengejar layangan, mereka adalah pelaut yang sedang menarik jangkar dari dasar samudera langit.
Keping demi keping mendarat. Naga Malam itu tampak seperti monster laut yang terdampar. Hitam, licin, dan mengkilat. Dan di kepalanya, si Putih milik Koh Ahong terselip utuh.
Arip memungut layangan putih itu. Kertasnya sudah lecek, tapi rangkanya—bambu hitam yang sangat tipis—masih kuat. Di sudutnya, ada tulisan kecil dengan tinta China, Ahong.
"Ayo balik," ajak Maman. Suaranya sekarang lembut. Dia melihat Arip bukan lagi sebagai rival atau bocah ingusan, tapi sebagai seseorang yang telah melintasi batas kegilaan yang sama dengannya.
Malam harinya, di depan teras rumah Koh Ahong yang berlantai keramik putih, Arip berdiri. Dia basah kuyup. Di tangannya, layangan putih itu terulur.
Koh Ahong keluar. Dia hanya memakai kaos singlet dan celana pendek, memegang gelas teh hangat. Dia melihat layangannya. Dia melihat Arip.
"Kenapa nggak kamu potong tadi?" tanya Koh Ahong. Suaranya datar, tapi matanya menyimpan kerutan rasa ingin tahu.
Arip terdiam sejenak. Dia mendengarkan suara tetesan air dari talang. "Benang Koh Ahong bagus. Sayang kalau cuma jadi sampah di genteng orang."
Koh Ahong tertawa. Tawa pendek yang kering. Dia mengambil layangannya, lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, dia kembali membawa segulung besar benang gelasan. Warnanya biru laut, berkilau seperti permata.
"Ini gelasan dari Bandung. Belingnya pakai termos lama. Ambil. Buat naga kamu yang berikutnya," Koh Ahong melemparkannya.
Arip menangkapnya. Berat. Dingin. Berharga.
Arip berjalan pulang di bawah lampu jalan yang temaram. Kalimat-kalimat di kepalanya tidak lagi berantakan. Mereka mulai merangkai sebuah pola baru. Dia menyadari bahwa layangan bukan tentang menaklukkan langit. Bukan tentang siapa yang paling tinggi atau siapa yang paling tajam.
Layangan adalah tentang benang yang menghubungkan kita dengan sesuatu yang tak terjangkau. Tentang tangan yang tetap memegang meski perih. Tentang kerelaan untuk membangun kembali saat semuanya hancur berkeping-keping.
Di kamarnya, Arip meletakkan gelasan biru itu di samping bambu petungnya. Dia mengambil pisau tajam.
Sret. Sret.
Dunia luar mungkin masih kacau. Kemiskinan mungkin masih mengintip di balik pintu. Tapi selama dia memiliki sebilah bambu dan keberanian untuk bermimpi, Arip tahu dia tidak akan pernah benar-benar jatuh. Di dalam kepalanya, angin tenggara akan selalu bertiup. Dan layangannya jiwanya akan selalu menemukan cara untuk tetap terbang.
Satu rautan lagi, Satu mimpi lagi, Satu tarikan lagi.
Selesai.