Seorang perempuan paruh baya duduk di salah satu bangku yang ada di parkiran motor sebuah pabrik rokok lokal.
Perempuan itu tampak diam termenung seperti sedang memikul beban yang begitu berat hingga rekan-rekannya yang menyapanya tak ia hiraukan.
Seseorang duduk di samping Lilis dan menyapanya sembari menepuk bahu perempuan itu.
"Jangan suka bengong di pabrik Lis, nanti kesurupan tahu rasa!",ujar teman Lilis yang bernama Tantri.
"Setannya aja males nempelin orang jelesk kaya aku, Tan!",sahut Lilis.
"Sembarangan!",protes Tantri.
"Udah jelek, ngga guna lagi. Setannya juga mikir-mikir mau nempelin aku."
"Ngawur kamu tuh!"
Tantri semakin tak suka apa yang sahabatnya katakan itu.
"Pulang yuk! Di cariin lho sama suami mu itu. Anak mu juga biasanya udah pulang ngaji kan jam segini?",tanya Tantri.Lilis mengangguk pelan.
"Iya, jam segini udah pada pulang ngaji."
"Makanya pulang yuk!"
"Kamu duluan aja Tan."
Tantri menghela nafas panjang sesaat. Setelah itu ia mengubah posisi duduknya menghadap Lilis.
"Ada masalah apa lagi sih Lis? Cicilan bank emok? Mekar? Apa yang lain?",cerca Tantri.
Lilis menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku lagi mikir aja, kenapa suami ku ngga seberuntung saudara-saudaranya."
"Maksudnya?"
"Dua kakak perempuannya menikah dan jadi P** begitu juga suami mereka. Dan adiknya, yang baru menikah bisa ikut kerja di perusahaan istrinya. Sedangkan suamiku...hah!", Lilis membuang nafasnya pelan.
"Sepertinya aku bukan istri yang membawa keberuntungan buat dia."
"Kamu ini ngomong apa sih Lis? Ngga usah begitu, semua udah punya rejeki masing-masing."
"Tapi setidaknya mertuaku pasti bangga kalo aku kaya menantu nya lain."
"Kamu juga hebat lho,Lis!",Tantri mengusap pelan bahu sahabatnya itu.
Lilis tak lagi bicara karena tiba-tiba saja ada sosok lelaki yang menghampiri mereka.
"Kalian belum pulang?",tanya lelaki itu yang tak lain mandor mereka.
"Belum pak, sebentar lagi",jawab Tantri. Lilis hanya tersenyum tipis dan menyapa seadanya.
"Kalo kamu butuh apa-apa bisa lho ngomong sama saya Lis, nanti saya bantu!",kata mandor mereka. Lilis hanya tersenyum tipis lagi dan lagi. Sedang Tantri mencoba untuk pura-pura tak mendengar ucapan mandornya itu.
"Ya udah, saya duluan ya! Kalian hati-hati pulangnya!", pinta sang mandor.
"Iya pak", jawab Lilis dan Tantri.
Setelah mandor itu pergi, Tantri menyenggol lengan Lilis.
"Kamu nggak ikut-ikutan kaya yang lain kan Lis?", tanya Tantri.
"Pacaran sama sesama pekerja pabrik?"tanya Lilis. Tantri mengangguk. Sudah jadi rahasia umum seperti itu. Bahkan banyak yang tahu kalau mereka sudah punya pasangan masing-masing, tapi tatap saja main belakang dengan sesama pekerja.
Sebenarnya apa sih yang mereka cari?
"Punya satu saja ngga habis,Tan!",celetuk Lilis kembali menatap kosong ke halaman parkir pabrik yang luas.
"Kamu ada masalah apa sebenarnya Lis? Cerita sama aku, barangkali aku bisa bantu?"
"Kemarin aku ngga sengaja denger obrolan suamiku dan ibunya..."
"Terus?"
"Dia bilang akan pulang ke tempat ibunya saja."
Terdengar helaann nafas dari perempuan itu.
"Ya ngga apa-apa kan kalo dia mau pulang? Mungkin kangen sama keluarga yang lain di sana."
Lilis mengangguk pelan.
"Ya, ngga apa-apa. Itu hak nya kok. Tapi...justru aku ngerasa kalau seperti nya sekarang aku bukan tempat yang nyaman untuknya. Kadang aku mikir, kalau aku sudah tak di butuhkan lagi sama dia. Aku ikhlas, ngga apa-apa.Yang penting sebagai pasangannya, aku sudah melakukan kewajiban ku."
"Omongan mu ngelantur Lis! Kita pulang aja!",ajak Tantri yang tak suka sahabatnya berbicara seperti itu. Yang Tantri tangkap,Lilis akan meninggalkan suaminya karena merasa tak di butuhkan lagi.
"Dia bertahan selama ini hanya demi anak-anak juga keluarganya. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah jadi prioritas dalam hidupnya Tantri."
Tatapan mata Lilis begitu kosong. Tantri menarik Lilis ke dalam pelukannya.
"Kalau mau nangis,nangis aja Lis.Jangan di tahan!", Tantri mengusap punggung Lilis.
Tapi tidak ada air mata yang keluar dari mata perempuan itu. Entah sedalam apa luka dalam hatinya.
Yang pasti hanya Lilis dan Tuhan saja yang tahu.
💔💔💔💔💔💔