BAGIAN DUA
Aku melakukan aktivitas pagi ku seperti biasanya, saat sedang menyisir rambut ku notifikasi ponsel ku berbunyi.
" Sayang aku menunggumu di depan, aku akan mengantarmu hari ini" pesan Nolan.
" Tunggu aku sebentar lagi" balas ku.
Aku mengambil tas ku dan mengunci pintu rumah ku, melihat Nolan yang sudah menunggu sedari tadi;
" Kamu tidak lama menunggu kan?" Aku berjalan ke arahnya dan duduk di atas motor sambil memeluknya.
" Aku akan sabar menunggumu sampai kapanpun" ucap Nolan sambil menggenggam tangan ku.
Sepanjang perjalanan aku terus memeluknya, punggungnya yang lebar dan hangat saat nyaman di gunakan untuk bersandar, Nolan terus menggenggam tangan ku tanpa melepaskannya. Aku mendapati Nolan terus melihat ku dari spion motornya;
" Sayang fokus ke jalan" kedua tangan ku memegang kepalanya.
" Habis kamu terlihat cantik hari ini, hari-hari biasanya juga cantik sih tapi hari ini cantiknya bertambah " ucap Nolan.
" Kamu pintar menggoda yah" balasku.
" Aku hanya begini sama kamu saja tau" balas Nolan.
" Benarkah seperti itu?" Ucapku, Aku kembali memeluknya dengan erat.
Sesampainya di depan kantor Nolan membantu membuka helem yang ku Gunakan;
" Terima kasih sayang" ucapku manja.
" Kamu jangan nakal atau ngelirik laki-laki lain yah" ucap Nolan.
" Aku tidak seperti itu" balasku.
" Aku hanya bercanda sayang, kalau begitu aku kuliah dulu yah" ucap Nolan dan mencium pipiku.
Aku hanya diam terpaku melihat Nolan pergi, aku mulai melihat sekitar memastikan tidak ada yang melihat ( semoga saja tidak ada yang melihat, gumam ku dalam hati). Saat sedang bekerja ada beberapa orang yang menghampiri ku sekedar menanyakan keadaanku ku, aku yang merasa bingung akan kelakuan teman-teman kerjaku mulai melihat mereka satu-persatu.
" Kalian kenapa?" Tanya ku dengan nada penasaran.
" Tidak apa-apa, cuma tadi ada yang melihat pemandangan bagus di depan kantor pagi ini" jawabnya berbasa basi.
"Pemandangan apa? Apa ada kejadian alam tadi pagi?" Jawabku ngawur.
" Gini-gini nih kalau orang lagi jatuh cinta, jawabannya suka ngawur" ucap salah satu teman ku.
Wajah ku mulai memerah karena tau arah pembicaraan Mereka mengarah pada diri ku, ( jangan-jangan tadi pagi ada yang melihat ku bersama Nolan, Gumam ku dalam hati) sambil menutup mulut ku dengan kedua tanganku. Aku melihat teman-teman ku yang sedari tadi menggoda ku;
" Siapa pria itu?" Tanya seseorang yang ada di hadapanku ku.
" Aku akan menceritakan nya ketika jam makan siang" jawabku malu-malu.
" Baiklah kami akan menunggu cerita mu" jawab mereka sembari kembali ke meja kerjanya.
Ponsel ku terus berbunyi sedari tadi, aku melihat pesan Nolan yang mengatakan dia rindu padaku.
" Aku terus memikirkan mu, bahkan tidak ada satupun mata kuliah yang masuk kedalam otak ku" chat Nolan.
" Aku juga terus memikirkan mu" balas ku dengan menggunakan emoticon hati.
( Apa aku cerita pada Nolan yah bahwa ada yang melihat kita tadi pagi, tiap apakah aku benar-benar harus memberitahu nya soalnya itu atau jangan, fikir ku bimbang).
Saat jam makan siang beberapa cewek-cewek yang sedari tadi menggoda ku mulai berkumpul di meja makan dan membentuk lingkaran, mereka terlihat sangat bersemangat bahkan ada yang sudah salting di luan sebelum ceritanya di mulai. Cowok-cowok yang sedari tadi memperhatikan kami berusaha untuk menguping pembicaraan kami, termasuk juga dia yang pernah dekat ku namun sekarang terasa asing.
" Jadi siapa dia?
"Tinggal di mana?
" Berapa usianya ?
" Di mana kalian berkenalan?" Tanya mereka bergantian.
" Bisa satu-persatu enga sih pertanyaannya, Via jadi bingung nanti" ucap seseorang yang bernama Tami.
Aku mengambil nafas panjang dan mulai menceritakan awal pertemuan kami di angkot, rumah kami yang hanya beda satu blok, alasan dia naik angkot setelah seminggu tidak bertemu dengan ku lagi dan hal-hal romantis yang kami lakukan tiap harinya.
"Kya!!!" Teriak Tami yang merasa salah tingkah ketika mendengar cerita ku.
" Kalian sangat romantis, aku yang mendengarnya saja merasa malu dan berbunga-bunga seperti ini" ucap sindy.
" Kapan yah aku bisa merasakan hal romantis seperti itu juga" ucap Tami berkhayal sambil menopang dagunya.
Saat sedang asik mengobrol dengan teman kerja sembari menikmati makanan siang kami, ponsel tiba-tiba berbunyi memperlihatkan sebuah telepon dari seseorang yang bernama Nolan. Teman-teman kerja yang semeja dengan ku dengan cepat mengambil ponsel ku dan berikannya padaku;
" Ayo cepat angkat, jangan lupa speaker" ucap sindy yang sangat antusias.
Karena tidak bisa menolak aku akhirnya menuruti mereka;
" Hallo" ucap ku.
" Sayang aku kangen kamu, apa boleh aku ke tempat kerja mu agar kita bisa makan bersama" ucap Nolan manja.
Teman-temanku yang mendengar perkataan Nolan wajahnya mulai memerah malu begitu pun dengan ku, Nolan yang tidak mendapat balasan dari perkataannya mulai memanggil ku terus menerus;
" Sayang kamu kenapa diam saja? Kamu baik-baik saja kan" ucap Nolan dengan khawatir.
" A-aku ti-tidak apa-apa" jawabku gugup setengah mati.
" Kamu membuatku khawatir setengah mati" ucap Nolan sedikit lega.
" Aku masuk kelas dulu yah sayang, sudah ada dosennya. Nanti aku jemput di tempat biasa. Love you" ucap Nolan sebelum mematikan telponannya.
" Love you more" jawabku dan langsung mematikan teleponnya. Saat cewek-cewek di sekitar ku histeris ada seseorang Dari kejauhan yang menatap tidak senang ke arah kami.
Akhirnya jam pulang kerja, aku menunggu Nolan di tempat biasanya namun sekian lama aku menunggu Nolan belum tiba juga.
Di tempat lain...
Nolan masih bergelut dengan perkuliahannya, Nolan tidak menyangka akan di tahan oleh dosennya hingga malam hari sampai Nolan akhirnya di izinkan pulang, Nolan berlari ke arah parkiran mengabaikan semua sapaan teman-temannya dan menancap gas motornya untuk menjemput ku.
Aku yang masih duduk menunggu Nolan sambil menatap ponselku berulang kali, Dari kejauhan ada seorang lelaki yang menghampiri ku dan lelaki itu sudah berdiri tepat di samping ku. Dia melihat ke arah ponsel yang ku genggam sedari tadi dan melihat nama seseorang yang tidak di sukainya, apa lagi di samping nama pria itu aku meletakkan emoticon love.
" Kenapa kamu belum pulang Via?" Ucap pria itu.
Aku yang terkejut langsung melihat ke arahnya;
" Agus?" Ucap ku pelan.
Agus adalah pria yang sempat dengan ku, Agus mungkin menganggap hubungan special saat itu karena perlakuan ku yang begitu baik membuatnya jadi salah mengartikan kedekatan mereka, tapi bagi ku Agus hanya sekedar sahabat atau teman dekat dan tidak lebih.
" Apa yang kamu lakukan di sini Via?" Tanya Agus sekali lagi.
" Aku menunggu seseorang" jawab ku sambil melihat ponsel ku untuk kesekian kalinya.
" Dia mungkin tidak akan datang, bagaimana kalau aku yang mengantar mu pulang" tawar Agus.
Aku yang bingung hanya terdiam sebentar;
" Ayo" ajak Agus sambil menarik paksa tangan ku.
Aku mengikuti Agus dari belakang, namun di sisi lain aku yakin Nolan akan datang menjemput ku.
" Aku tidak bisa ikut dengan mu Agus, aku takut Nolan akan mencari ku nanti" ucap ku.
Agus yang muak mendengar nama itu mulai meninggikan suaranya;
" Lagi-lagi Nolan, Nolan dan Nolan terus" teriak Agus.
Aku yang baru pertama kali melihat Agus seperti itu mulai merasa takut;
" Agus tolong lepaskan tangan ku, rasanya sangat sakit" ucap ku sambil menarik-narik tangan ku.
" Aku kira kamu hanya wanita kikuk, saat aku terus mendekati mu dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, kamu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa aku teman terbaik mu. Entah kamu bodoh atau pura-pura bodoh saat itu, makanya aku memutuskan untuk meninggalkan mu karena merasa kesal" ucap Agus panjang lebar.
" Agus lepaskan, aku mohon" pinta ku.
" Aku ingin hubungan kita lebih dari teman atau sahabat via" ucap Agus sambil menyudutkan ku ke tembok yang berada di parkiran. Aku terus memberontak sambil menangis karena takut;
" Kenapa kamu menangis Via, aku tidak akan menyakiti mu" ucap Agus.
Agus memegang kedua pipi ku dengan satu tangannya dan berusaha mencium ku, namun tanpa sengaja Aku menendang kemaluan Agus agak keras hingga membuat dia harus tersungkur dan berbaring kesakitan, saat melihatnya kesakitan aku mulai berteriak meminta tolong;
" Tolong!!! Nolan tolong aku" teriak ku dengan sangat keras. Aku yang mencoba kaburu di halangi oleh Agus, Agus memegang satu kaki ku dan menariknya hingga aku jatuh tersungkur di jalan.
Di sisi lain...
Nolan yang baru sampai di tempat biasa kami bertemu terus mencoba menelpon ku akan tetapi tidak di angkat, Nolan mencoba menelpon sekali lagi namun saat itu dia mendengar suara posel ku dari kejauhan di iringi teriak dan Isak tangis ku manggil namanya. Nolan segera berlari ke arah teriakan itu dan mendapati seorang pria tengah berusaha menciumnya;
" Bajin***" ucap Nolan sambil berlari dan menendang Agus tepat di wajahnya.
Nolan terus memukuli Agus hingga babak belur, aku yang melihat itu mencoba menghentikan Nolan dengan memeluknya dari belakang. Nolan langsung berbalik Arah dan memeluk ku erat;
" Sayang Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang luka kan?" Tanya Nolan khawatir.
Aku hanya bisa menangis di pelukannya, tubuh ku terus gemetar. Nolan yang melihat Agus sudah pingsan segera membawa ku untuk menjauh;
" Maaf aku datang terlambat, ini semua salahku" ucap Nolan sambil memeluk dan menenangkan ku.
" Aku ada sebotol air, Kamu duduk dan minumlah dulu" ucap Nolan.
Aku menuruti perkataan Nolan dan mulai menegak air minumnya sedikit demi sedikit, Nolan terus menggenggam tangan ku yang membuat ku sedikit demi sedikit merasa lebih baik;
" Aku tidak akan bertanya apapun untuk sekarang" peluk Nolan.
" Aku ingin pulang" ucap ku dengan suara sedikit gemetar.
" Baiklah kita pulang" ucap Nolan.
Nolan memakaikan helm ku seperti biasa dan membawa ku pulang mengendarai motor, sepanjang jalan Aku terus memeluk Nolan dengan erat. Nolan merasakan dingin pada kedua tanganku , tangan yang biasanya hangat kini terasa dingin karena rasa syok dan trauma yang di alaminya.
( Aku akan membuat pria bernama Agus itu mendapatkan ganjarannya, gumam Nolan dalam hati)
Nolan melihat jam di tangannya yang menunjukkan jam sembilan malam, Aku yang sedari tadi terdiam mulai mengatakan sesuatu pada Nolan;
" Aku lapar" ucap ku pelan.
" Ayo kita singgah makan sebenar sebelum pulang" jawan Nolan.
Nolan yang melihat ada penjual sate di pinggir jalan mulai menyalakan send lampunya untuk menepi, aku turun dari motor di ikuti oleh Nolan di belakangku.
" Pak satenya dua yah pakek lontong" kata Nolan.
Penjual sate mulai membuat pesanan kami dengan membakar dagingnya, Nolan hanya memperhatikan ku sedari tadi yang terus terdiam.
( Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku tidak bisa terus membuat Nolan mengkhawatirkan ku seperti ini, gumam ku dalam hati)
Aku mulai menatap mata Nolan kembali;
" Terima kasih sudah menolong ku tadi, saat itu aku yakin kamu akan datang" ucap ku.
" Tidak, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuat mu menunggu di tempat berbahaya seperti itu. Ini semua salahku" ucap Nolan menyalahkan dirinya.
" Itu bukan salah mu, mungkin saja hari ini aku sedang sial" jawab ku sambil menggenggam tangan Nolan.
" Apa kamu tau, setiap kali aku menggenggam tanganmu seperti ini rasanya sangat nyaman" ucap ku.
" Aku akan terus menggenggam tangan mu sampai kapanpun" jawab Nolan.
Aku mulai bisa tersenyum kembali seperti biasanya;
" Silahkan,ini pesanan kalian" ucap penjual sate.
Kami menikmati malam dengan romantis, Nolan beberapa kali menyuapi ku dan aku melakukan hal yang sama. Setelah selesai makan kami sempat terdiam di depan motor milik Nolan;
" Bukankah besok hari libur, Sayang mau jalan-jalan berdua enga?" Ucap Nolan.
" Emang sayang mau kemana?" Tanya ku.
" Ayo kita ke pantai, tempat orang-orang biasa pacaran" ajak Nolan.
" Aku sudah lama tidak ke pantai" ucap ku.
" Kalau begitu ayo kita pergi Pantai" ucap Nolan.
Nolan kembali memakai helm pada ku, sepanjang jalan aku terus memeluk Nolan. Tangan yang begitu dingin kembali menjadi hangat, sesampainya di pantai kami berjalan-jalan berdua sambil melihat pemandangan yang begitu indah. Sering berjalan waktu kami memutuskan untuk duduk di sebelah bangku, Nolan menggenggam tangan ku erat. Nolan terus menatapku dengan penuh cinta namun ada rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan, aku yang menyadari itu mulai menceritakan semuanya tentang Agus. Dari awal kami kenal,terus menjadi teman baik sampai Agus mulai terobsesi dengan ku.
" Jika bertemu lagi dengannya aku akan menghajarnya" ucap Nolan.
" Aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah karena aku" ucapku.
" Aku tidak akan memaksa mu untuk mencium ku seperti yang di lakukan Bajin*** itu" ucap Nolan padaku.
Aku menggenggam erat tangan Nolan dan bersandar pada bahunya;
" Aku tau, Nolan bukan orang yang seperti itu" ucap ku sambil memainkan jemari tangannya.
Setelah dari pantai Nolan mengantarkan ku pulang, Nolan menurunkan ku tepat di depan rumah ku. Karena waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam keadaan sekitar sudah sangat gelap;
" Aku akan pergi setelah melihat mu masuk ke dalam rumah" ucap Nolan.
" Aku tidak apa-apa" ucap ku.
Aku berjalan membuka pagar dan pintu rumah, setelah selesai aku kembali melihat Nolan yang sudah nyalakan mesin motornya.
" Sayang" ucapku sambil berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
" Sayang kamu tidak apa-ap" belum menyelesaikan perkataannya, aku memegang kedua pipi Nolan dan mencium bibirnya. Nolan seketika membeku melihat ku, Aku terus mengatakan bahwa aku mencintainya. Saat ingin beranjak pergi darinya, Nolan menarik tangan ku Dan membalas ciumanku. Aku melingkarkan tangan ku di leher Nolan, sedangkan Nolan memeluk pinggangku dengan erat. Itu adalah ciuman pertama ku bersama Nolan, Nolan mulai melepaskan ciumannya dan mencium kedua pipi ku;
" Sudah larut malam, kamu harus istirahat" ucap Nolan membelai pipiku.
" Kamu juga istirahat yang cukup" jawabku.
" Besok aku akan menjemputmu, aku punya tempat yang bagus yang ini aku perlihatkan padamu" ucap Nolan.
" Baiklah" jawab ku.
" Sayang? Katanya aku harus beristirahat tapi kamu tidak melepaskan pelukan mu" ucap malu-malu.
" Rasanya sangat berat untuk melepaskan mu" ucap Nolan yang masih memelukku dan menyandarkan kepalanya di pundak ku.
" Bolehkah aku menginap saja di rumah mu" ucap Nolan.
" Boleh" jawabku.
Nolan yang masih tidak percaya akan mendapatkan izin dariku;
" Se-serisu?" Ucap Nolan gagap.
" Kenapa tidak" jawabku dengan wajah polosnya.
" Kapan-kapan saja ketika aku sudah siap" ucap Nolan.
Lagi-lagi Nolan mencium pipiku dengan gemas;
" Sayang aku pulang dulu yah" ucap Nolan.
" Hati-hati sayang" jawabku.
" I love you" ucap Nolan.
" Love you more" balasku.
Walaupun Nolan sudah pulang entah kenapa suaranya motornya masih bisa terdengar dari rumah ku, Akupun masuk ke rumah dan menutup pagar dan pintu rumah ku.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit rumah ku, aku mengingat perlakuan Agus terhadap ku. Di sini lain aku masih merasa sangat takut Akan Agus yang memberi rasa trauma tapi di lain sisi ada Nolan yang memberikan ku kenangan manis, yang membuat ku bisa sedikit melupakan trauma ku hari ini.
" Aku rindu pada Nolan, dia lagi apa yah sekarang" ucap ku sambil melihat ponsel ku.
" Padahal aku memberikan nya izin untuk menginap tapi dia malah menolak" ucap ku seorang diri
Di sisi lain...
Nolan melakukan hal yang sama, dia menatap ponselnya berharap aku mengirimkan pesan padanya.
" Kenapa aku menolaknya tadi, seandainya aja aku mengiyakan aku tidak mungkin tersiksa seperti ini karena merindukannya" gumam Nolan.
" Mungkin sayang sudah tidur, aku harap dia tidak bermimpi buruk" Gumam Nolan.
Keesokan paginya, Aku terbangun dengan wajah yang terasa segar. Aku turun dari kasur ku dan mulai merapikannya, tidak lupa untuk nyapu dan mencuci sedikit sisa makanan ku kemarin. Setelah selesai beberes aku memilih baju yang akan aku gunakan hari ini, aku memilih menggunakan baju hitam berlengan panjang tapi memperlihatkan bagian bahu ku di pasang kan dengan celana jinsnya biru gelap. Setelah selesai mandi aku memakai baju yang sudah ku siapkan dan mulai berdandan sedikit. Di waktu yang sama Nolan sudah siap di depan rumah, Aku menyuruhnya untuk masuk sembari menunggu ku selesai berdandan.
" Kamu terlihat cantik" kata Nolan yang sudah berada di belakang ku.
" Maaf yah sayang, aku agak lama dandannya" ucap ku.
" Tidak apa-apa, aku akan tetap setia menunggu mu" ucap Nolan.
Nolan memperhatikan setiap sudut rumah ku, sesekali dia melihat dapur ku.
" Apa kamu ingin makan dulu sebelum kita berangkat?" Tawar ku.
" Apa yang kamu masak sayang?" Tanya Nolan.
" Aku habis membuat nasi goreng, ayo duduk d sini akan aku ambilkan nasi gorengnya" ucap ku.
Aku menyiapkan sepiring nasi goreng dengan telur dadar di atasnya, tidak lupa mengambil kan air putih untuknya.
" Makanlah yang kenyang sayang, aku akan menyelesaikan make-up ku" ucap ku sambil mencium pipinya.
" Baiklah sayang " ucap Nolan semangat.
Setelah menyelesaikan make-up ku, Aku
menghampiri Nolan yang baru selesai makan;
" Sayang aku sudah siap" ucap ku.
" Sayang pintar masak yah" aku ingin di buatin bekal tiap hari nanti sama sayang" pinta Nolan dengan manja.
" Aku akan membuat kan mu bekal Jika aku sempat untuk membuat nya" jawabku.
" Kita berangkat sekarang?" Tanya Nolan.
Aku memastikan semua alat elektronik dan kompor Ama saat aku tinggalkan, berikutnya memeriksa dapur. Nolan mengikuti ku sambil memeluk ku dari belakang;
" Apa semuanya sudah aman? Tanya Nolan.
" Sepertinya sudah" jawab ku.
" Tapi sepertinya hati ku yang tidak aman" jawab Nolan yang masih memelukku ku.
" Kamu kenapa sayang?" Tanyaku.
" Entah, semalam dada ku terasa sakit hingga membuat ku sesak nafas" ucap Nolan.
Aku yang tidak mengerti dengan perkataannya langsung melihatnya dengan tatapan serius;
" Kamu sakit yah? Tidak apa-apa jika ingin membatalkan jalan-jalan kita hari ini" ucap ku sambil memegang pipi Nolan.
" Tidak apa-apa sayang, dada aku terasa sakit ketika aku merindukan seseorang yang berada di hapapa ku sekarang" ucap Nolan.
" Ihh kamu buat aku khawatir aja" jawabku.
" Memang benar kog" ucap Nolan sambil memegang kedua pipiku dan mulai mencium bibirku.
" Ayo kita berangkat sekarang," ucap Nolan.
Aku mengunci pintu rumah ku dan pagar ku, Seperti biasa Nolan memakaikan helm pada ku. Aku naik ke atas motor Nolan dan memeluknya, Nolan menggenggam tangan ku dan mulai menancapkan gas motornya.