Lampu stadion Lusail malam itu bukan lagi cahaya, melainkan ribuan mata pisau yang menguliti pori-pori kulitku. Gemuruh seratus ribu orang di tribun terasa seperti dengung statis di radio tua—pecah, menyakitkan, dan tidak masuk akal. Di titik putih itu, bola bermotif emas itu tampak seperti bom waktu yang detaknya hanya bisa kudengar sendiri.
Namaku Aris, dan aku adalah musuh publik nomor satu yang belum diumumkan.
"Ris, ambil napas. Fokus," bisik kapten tim di telingaku. Suaranya terdengar seperti dari bawah air. Jauh. Terdistorsi.
Aku mengangguk mekanis. Di kepalaku, notifikasi Instagram sudah seperti air terjun. Aku bisa merasakan ponselku di ruang ganti bergetar hebat, meski itu mustahil. Aku bisa membayangkan headline besok pagi. Aku bisa mencium aroma cancel culture yang sudah menyulut sumbu di Twitter.
Aku berjalan mundur. Lima langkah. Satu, dua, tiga, empat, lima.
Dunia mendadak hening. Ini adalah gejala disosiasi yang sering dibahas psikolog tim kami. Aku tidak lagi berada di Qatar. Aku berada di kamarku saat umur sepuluh tahun, menendang bola plastik ke arah tembok hingga catnya mengelupas. Tapi tembok itu kini berubah menjadi kiper lawan—monster setinggi dua meter dengan rentang tangan yang seolah mampu memeluk seluruh gawang.
Peluit wasit melengking. Tajam. Menembus lobus frontal otarku.
Aku berlari. Tumpuan kaki kiriku terasa pas. Ayunan kaki kananku sempurna. Aku memilih sudut kiri atas. Sudut yang tidak terjangkau manusia. Sudut yang seharusnya membuatku menjadi pahlawan nasional, membuat wajahku terpampang di baliho sepanjang jalan protokol, dan membuat kontrak jutaan dolar mengalir ke rekeningku.
Duar.
Suara itu bukan sorak sorai. Suara itu adalah dentum logam bertemu kulit bola. Tiang gawang.
Bola itu memantul keluar, menjauh dari garis putih, menjauh dari mimpiku, menjauh dari kewarasanku.
Hening yang tadi kurasakan pecah menjadi ledakan amarah kolektif. Aku tidak jatuh. Aku hanya berdiri mematung. Aku melihat kiper lawan berlari merayakan kemenangan mereka. Aku melihat rekan setimku ambruk, menutup wajah mereka dengan jersei.
Dalam hitungan detik, aku merasakan transisi dari "Striker Harapan Bangsa" menjadi "Beban Nasional".
"Goblok!"
Suara itu bukan dari tribun. Itu suara di kepalaku. Suara yang lebih keras dari caci maki penonton.
Aku berjalan lunglai menuju lorong pemain. Aku tidak berani menoleh. Aku tahu kamera close-up sedang memburu air mataku untuk dijadikan konten reels dengan lagu sedih sebagai latar belakangnya. Aku masuk ke ruang ganti, dan hal pertama yang kulakukan bukanlah mandi, melainkan meraih ponsel.
Kesalahan terbesar dalam sejarah kesehatan mentalku.
Scroll.
"Aris, mending pensiun aja lu!"
Scroll.
"Berapa lu dibayar bandar buat nendang ke tiang?"
Scroll.
Ejekan rasis, ancaman pembunuhan, hingga foto ibuku yang dikomentari dengan sumpah serapah.
Dadaku sesak. Ini bukan lagi soal sepak bola. Ini soal eksistensi. Di era ini, kegagalan di lapangan hijau adalah dosa yang tidak terampuni oleh algoritma. Aku merasa seperti sedang tenggelam di tengah lautan raksa. Berat, beracun, dan mematikan.
Aku masuk ke bilik kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin, dan duduk di lantainya tanpa melepas jersei. Warna merah di bajuku terasa seperti noda darah. Aku mulai bertanya-tanya: apakah aku benar-benar pemain bola, atau hanya gladiator modern yang disajikan untuk memuaskan haus validasi jutaan orang di layar smartphone mereka?
Pintu bilik diketuk. Itu Sandra, humas tim yang juga sahabatku.
"Ris, jangan buka media sosial dulu. Kita ada protokol krisis," suaranya tenang, tapi aku tahu dia juga gemetar.
"Sudah terlambat, San," sahutku pelan. "Gue udah mati di sana. Gue udah jadi meme."
"Lo cuma gagal penalti, Ris. Bukan gagal jadi manusia."
Aku tertawa pahit di bawah kucuran air. "Di zaman sekarang, apa bedanya? Satu kesalahan di puncak karir, dan lo akan diingat sebagai 'si gagal' selamanya. Algoritma nggak punya fitur pengampunan."
Aku memejamkan mata. Bayangan bola yang menghantam tiang itu terus terputar secara looping, seperti GIF yang tidak ada habisnya. Aku bisa merasakan depresi itu merayap, menjalar dari ujung kaki ke ulu hati. Sebuah lubang hitam yang siap menelan segala pencapaianku sebelumnya.
Malam itu, dunia merayakan juara baru. Dan aku? Aku pulang dengan sebuah lubang di jiwa. Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah pesan masuk dari adikku yang masih SMP.
“Kak, besok pagi kita main bola plastik di halaman belakang ya? Aku tetep pengen jadi striker kayak Kakak. Tendangan tiang tadi keren kok, dikit lagi gol.”
Aku terdiam. Air mataku akhirnya jatuh, bercampur dengan air pancuran. Mungkin dunia boleh membenciku. Mungkin satu planet boleh menghujatku. Tapi di sana, di halaman belakang rumah yang cat temboknya terkelupas, aku tetaplah seorang kakak yang hanya ingin bermain bola.
Aku menarik napas panjang. Aku tahu perjalananku setelah ini akan sangat berat. Terapi, hujatan di stadion tandang, dan tatapan sinis akan menjadi sarapan pagi. Tapi malam ini, di lantai kamar mandi yang dingin, aku memutuskan satu hal: aku tidak akan membiarkan satu tendangan penalti yang gagal menentukan seluruh nilai hidupku sebagai manusia.
Besok, aku akan bangun. Besok, aku akan menghadapi dunia yang marah itu. Tapi malam ini, biarkan aku berduka untuk diriku yang lama, sebelum aku lahir kembali menjadi seseorang yang lebih kuat dari sekadar angka di papan skor.