Di Kerajaan Medang Kamulyan Digital, ada sebuah anomali hidup bernama Raden Mas Baskoro. Jika wajah adalah aset investasi, Baskoro adalah saham gorengan yang sedang suspend. Mukanya tidak bisa dibilang estetik; hidungnya agak ke kiri seolah sedang mencari alamat, matanya sayu seperti orang yang belum tidur sejak zaman kerajaan Majapahit, dan postur tubuhnya sangat standar—tipe-tipe orang yang kalau hilang di kerumunan pasar, polisi pun malas mencarinya karena terlalu umum.
Namun, Baskoro adalah bukti nyata bahwa semesta itu punya selera humor yang sangat mahal. Di saat rakyat jelata sibuk mengantre bansos kuota internet, Baskoro sibuk memikirkan cara menghabiskan emas batangannya yang ditumpuk di gudang belakang sampai-sampai rayap di sana mati karena keracunan kemewahan. Saldo di kitab tabungannya tebalnya sudah menyaingi tebal dosa-dosa para koruptor di negeri seberang.
Yang paling membuat rakyat Medang Kamulyan ingin pindah kewarganegaraan ke Mars adalah fakta bahwa Baskoro punya empat istri. Dan bukan sembarang istri. Mereka adalah kuartet bidadari yang kalau jalan bareng, aspal jalanan pun merasa tidak pantas diinjak oleh kaki mereka. Ada Arini yang matanya sebening embun, Sarah yang senyumnya bisa membatalkan puasa orang sekampung, Maya yang kecerdasannya melampaui ChatGPT, dan Jelita yang kulitnya seputih kapas kualitas ekspor.
"Gusti Prabu Baskoro itu pakai pelet apa ya?" bisik seorang pemuda pengangguran di warung kopi pinggir istana. "Muka kayak saringan tahu begitu kok istrinya modelan iklan sampo semua?"
Temannya menyahut sambil menyeruput kopi sasetan, "Itu bukan pelet, Bos. Itu namanya 'Pelet Saldo'. Kamu kalau punya emas segunung, muka kamu yang mirip knalpot bobokan itu pun bakal terlihat seindah lukisan Monalisa di mata mertua."
Baskoro sendiri sebenarnya santai saja. Dia sadar betul posisinya. Dia tidak pernah merasa ganteng. Setiap pagi, saat bercermin, dia sering bertanya pada bayangannya sendiri, "Kok bisa ya?" Tapi kemudian dia melihat saldo di aplikas Mobile Banking-nya yang digitnya lebih panjang dari derita mahasiswa abadi, dan dia pun kembali percaya diri.
Politik di bawah kepemimpinan Baskoro sangatlah unik. Rakyat sangat sejahtera bukan karena dia rajin pidato soal visi misi, tapi karena dia menerapkan prinsip "Ekonomi Sat-Set". Dia tidak suka birokrasi berbelit. Kalau ada jalan rusak, dia tidak panggil kontraktor pakai tender yang disunat sana-sini. Dia langsung turun, lempar sekarung emas ke lubang jalan, lalu bilang, "Tutup pakai beton terbaik, kembaliannya ambil buat beli bakso sekecamatan."
Istri pertamanya, Arini, pernah bertanya saat mereka sedang santai di paviliun bertabur permata. "Kanda, kenapa Kanda tidak operasi plastik saja ke Negeri Ginseng? Uang kita kan cukup buat mengubah Kanda jadi mirip aktor drakor."
Baskoro tertawa, suaranya parau seperti suara pintu gerbang yang butuh oli. "Dinda, kalau wajahku jadi ganteng, nanti rakyatku jadi minder. Sekarang, mereka lihat aku yang begini tapi kaya raya, mereka jadi punya harapan. Mereka pikir: 'Kalau si Baskoro yang mukanya mirip ubi cilembu saja bisa sukses, apalagi saya yang gantengnya lumayan ini'. Aku ini motivasi berjalan, Dinda."
Strategi politik Baskoro memang di luar nalar. Dia mengerti bahwa rakyat tidak butuh pemimpin yang gantengnya selangit kalau perut mereka keroncongan. Dia membangun pasar yang pajaknya nol persen, karena menurutnya, "Negara sudah terlalu kaya dari investasi kripto kerajaan, buat apa malakin pedagang cabai?" Hasilnya? Rakyat Medang Kamulyan hidup makmur. Semua orang punya iPhone seri terbaru, bahkan pengemis di sana minta sedekahnya pakai QRIS.
Namun, jangan dikira kehidupan dengan empat istri cantik itu tanpa drama ala "Agak Laen". Suatu hari, keempat istrinya mogok bicara karena berebut siapa yang paling berhak mendampingi Baskoro ke acara "Gala Dinner Para Sultan Se-Asia Tenggara".
"Aku yang harus ikut! Aku kan yang paling pintar bicara soal geopolitik!" seru Maya.
"Enak saja, aku yang paling glow up kalau difoto wartawan!" balas Jelita sambil membenarkan bulu mata palsunya yang seberat dosa kecil.
Baskoro masuk ke ruangan dengan gaya santai, memakai sarung sutra dan kaos oblong merek internasional yang harganya bisa buat beli sawah lima hektar. Dia melihat keempat bidadarinya sedang perang dingin.
"Sudah, sudah," kata Baskoro kalem. "Kalian semua tidak ada yang ikut."
"Lho, kenapa?" tanya mereka serempak.
"Aku mau ajak Pak RT dan tukang kebun kita. Biar mereka tahu rasanya makan steak berlapis emas. Kalian di rumah saja, belanja online sepuasnya, pakai kartu kreditku yang limitnya tak terhingga itu. Tapi ingat, jangan beli barang yang aneh-aneh, minggu lalu Jelita beli pulau di Pasifik cuma karena katanya 'pulau itu bentuknya mirip jerawat', itu boros namanya."
Sikap Baskoro yang tetap membumi meski dikelilingi kemewahan absurd itulah yang membuatnya dicintai. Dia sering nongkrong di angkringan istana, mengobrol dengan pengawal soal harga telur ayam yang naik seribu perak. Padahal, dia bisa saja membeli seluruh peternakan ayam di negeri itu kalau dia mau.
Inspirasi yang bisa diambil dari seorang Baskoro adalah: Dunia ini memang tidak adil soal wajah, tapi dunia sangat adil soal kesempatan bagi mereka yang mau memutar otak. Baskoro tidak lahir kaya. Dulu, dia adalah tukang cuci piring yang sering dihina karena wajahnya. Tapi dia punya satu prinsip: "Wajah boleh low budget, tapi otak harus high definition."
Dia belajar tentang perdagangan antar pulau, investasi rempah-rempah, sampai akhirnya menemukan formula rahasia "Pupuk Anti Gagal" yang membuat seluruh lahan di kerajaan panen tiga kali lipat. Kekayaannya adalah hasil dari kecerdasan, bukan warisan. Dan empat istrinya? Mereka mencintai Baskoro bukan cuma karena emasnya, tapi karena rasa aman yang diberikan oleh pria yang tahu cara mengelola hidup.
"Kalian tahu kenapa aku tetap biasa saja penampilannya?" tanya Baskoro pada rakyatnya dalam sebuah pertemuan akbar yang disiarkan lewat hologram ke seluruh pelosok negeri. "Karena kalau aku dandan maksimal, nanti kalian semua jatuh cinta sama aku, dan aku repot harus nambah istri lagi. Cukup empat, nanti kalau lima, pusingku jadi kuadrat."
Rakyat tertawa serempak. Mereka merasa relate. Mereka merasa bahwa pemimpin mereka adalah manusia biasa yang kebetulan punya tabungan luar biasa. Kesejahteraan di Medang Kamulyan bukan cuma soal uang, tapi soal martabat. Di sana, orang tidak dinilai dari seberapa mancung hidungnya, tapi dari seberapa banyak dia memberi manfaat buat orang lain.
Pernah suatu kali, kerajaan tetangga yang pemimpinnya sangat tampan dan bugar mencoba mengejek Baskoro. Raja tetangga itu mengirim surat diplomatik berisi: "Bagaimana bisa bidadari-bidadari itu betah dengan pria yang kalau dilihat dari jauh mirip karung goni sepertimu?"
Baskoro membalas surat itu dengan singkat dan sangat satire: "Raja yang terhormat, bidadari saya tidak butuh wajah tampan untuk makan. Mereka butuh kepastian. Dan di kerajaan saya, kepastian itu dicairkan setiap tanggal satu lewat transferan saldo yang membuat mereka lupa kalau saya ini kurang simetris. Salam hangat dari dompet saya yang sesak."
Setelah surat itu dikirim, Raja tetangga tersebut kabarnya langsung stres dan mendaftar jadi menteri di kerajaan Baskoro karena gajinya lebih besar daripada pendapatan kerajaannya sendiri.
Di akhir hari, Baskoro duduk di balkon istananya, dikelilingi empat istrinya yang sedang asyik diskusi soal tren fesyen tahun depan. Dia menatap rakyatnya yang sedang asyik bermain bola di lapangan berumput sintetis kualitas Piala Dunia. Dia tersenyum. Giginya memang tidak seputih artis iklan odol, tapi hatinya merasa puas.
Dia telah membuktikan sebuah teori hidup yang sangat "Agak Laen": Bahwa ganteng itu relatif, tapi saldo tebal itu mutlak. Dan yang paling penting, menjadi kaya adalah tugas mulia, karena dengan kaya kita bisa menutup lubang-lubang ketidakadilan di dunia ini dengan tumpukan kebaikan—atau tumpukan emas, terserah mana yang tersedia lebih dulu.
Baskoro menutup malam itu dengan memesan martabak manis lewat ojek kerajaan. Dia memberikan tip berupa jam tangan emas kepada si tukang ojek. Kenapa? Karena menurut Baskoro, "Waktu adalah uang, dan tukang ojek ini sudah memberikan waktunya untuk perutku. Jadi adil kalau aku beri dia jam tangan emas supaya dia tahu kapan waktunya jadi orang kaya berikutnya."
Itulah Raden Mas Baskoro. Lelaki yang mengajarkan kita bahwa meski muka kita pas-pasan, nasib kita tidak boleh pas-pasan. Bergeraklah, bekerja keraslah, dan buatlah dunia tunduk bukan pada ketampananmu, tapi pada angka-angka di saldo rekeningmu yang membuat malaikat pencatat amal pun ikut tersenyum bangga.