Bayangkan saja, kamu baru bangun tidur, nyawa belum terkumpul utuh, tapi jempol sudah otomatis melakukan ritual pagi paling sakral abad ini: scrolling layar ponsel yang cahayanya lebih terang dari masa depanmu sendiri. Baru juga lima menit menghirup udara dunia, sebuah notifikasi muncul dengan bunyi denting yang sopan tapi mematikan, mengabarkan bahwa saldo rekeningmu baru saja dipotong otomatis sebesar lima puluh ribu rupiah untuk biaya "Retribusi Sinyal Tidur Nyenyak". Kamu tertegun, menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mulai mengelupas, mencoba mencerna logika macam apa yang membuatmu harus membayar pajak hanya karena ponselmu tetap terhubung ke pemancar saat kamu sedang bermimpi jadi orang kaya. Inilah realita kita sekarang, sebuah dunia di mana bernapas saja rasanya seperti sedang berlangganan paket premium yang fiturnya sering error tapi tagihannya jalan terus tanpa ampun.
Kamu beranjak ke kamar mandi, mencoba membasuh muka agar rasa kantuk dan kemiskinan ini sedikit memudar, tapi cermin di atas wastafel tiba-tiba menyala dan menampilkan iklan asuransi jiwa dengan tagline yang sangat menyerang personal: "Yakin besok masih bangun? Cicilanmu belum lunas, lho!". Kamu mendengus, merasa privasimu sudah bukan lagi barang mewah, melainkan barang rongsokan yang diobral di pasar loak digital. Pemerintah baru saja mengesahkan Undang-Undang "Efisiensi Visual", yang artinya setiap kali matamu menangkap gambar iklan di ruang publik atau privat selama lebih dari tiga detik, sensor di bola matamu—yang wajib dipasang sejak lulus SMA—akan mencatatnya sebagai "Konsumsi Konten Berbayar". Jadi, kalau kamu melamun di depan baliho kampanye caleg yang senyumnya maksa itu, selamat, saldo dompet digitalmu akan berkurang seharga satu cup kopi kekinian hanya karena kamu dianggap "menikmati visualisasi penguasa".
Keluar rumah dengan perasaan dongkol, kamu berniat naik transportasi umum untuk menghemat pengeluaran, tapi di halte kamu baru sadar bahwa tarif bus sekarang menggunakan sistem "Dynamic Mood Pricing". Jika sensor di pintu bus mendeteksi wajahmu sedang cemberut atau terlihat stres, harganya naik dua kali lipat karena kamu dianggap "pencemar aura positif" bagi penumpang lain. Mau tidak mau, kamu harus menarik otot wajahmu, tersenyum lebar seperti orang gila di depan pemindai wajah hanya supaya bisa bayar harga normal. Kamu berdiri di dalam bus yang sesak, berimpitan dengan orang-orang yang semuanya juga sedang tersenyum palsu demi potongan harga, menciptakan suasana horor yang lebih mencekam daripada film pengabdi setan manapun. Kita semua adalah aktor watak yang dibayar dengan cara tidak ditagih lebih mahal, sebuah ironi yang kalau dipikir-pikir lucu juga, tapi lucunya bikin ingin sikat gigi pakai deterjen saking pahitnya.
Sampai di kantor, masalah baru sudah menunggu dengan wajah manis yang menyebalkan. Bosmu, yang selalu bangga dengan gelar "Hustle Culture King" di bio LinkedIn-nya, memanggilmu ke ruangan hanya untuk memberi tahu bahwa perusahaan akan menerapkan kebijakan "Pajak Oksigen Ruang Kerja". Alasannya sangat ilmiah menurut versi mereka: karena kamu bernapas lebih cepat saat sedang dikejar deadline, kamu dianggap mengonsumsi lebih banyak AC dan oksigen murni daripada rekan kerjamu yang kerjanya santai. Jadi, setiap kali kamu lembur dan stres, gajimu justru makin berkurang karena biaya operasional paru-parumu membengkak. Kamu ingin protes, ingin berteriak bahwa ini melanggar hak asasi manusia paling dasar, tapi kamu teringat bahwa di kontrak kerja poin ke-457 tertulis jelas: "Karyawan dilarang memiliki emosi negatif yang dapat meningkatkan suhu ruangan". Akhirnya kamu hanya bisa mengangguk, tersenyum tipis—yang lagi-lagi dipaksa—sambil membayangkan betapa indahnya hidup di zaman batu di mana satu-satunya masalah adalah dikejar harimau, bukan dikejar tagihan emisi karbon pribadi.
Waktu makan siang tiba, dan ini adalah puncak dari segala komedi tragis hari ini. Kamu ingin memesan makanan lewat aplikasi, tapi ternyata ada kebijakan baru bernama "Pajak Kalori Progresif". Jika berat badanmu naik sedikit saja bulan ini berdasarkan timbangan pintar di rumah yang datanya terhubung ke server kementerian kesehatan, harga nasi padang yang kamu inginkan naik 300%. Kamu dipaksa membeli salad hambar yang harganya setara cicilan motor hanya karena algoritma menganggap dirimu adalah aset negara yang tidak boleh rusak. Kamu duduk di pojok kantin, mengunyah daun-daun hijau yang rasanya seperti kertas fotokopian, sambil melihat teman sekantormu yang kaya raya sedang asyik makan steak karena dia mampu membayar "Denda Kolesterol" tanpa berkedip. Di titik ini, kamu sadar bahwa kesehatan bukan lagi soal bugar atau tidak, tapi soal seberapa tebal dompetmu untuk membayar ijin sakit kepada semesta digital.
Belum selesai sampai di situ, sore harinya kamu menerima notifikasi bahwa akun media sosialmu ditangguhkan sementara. Alasannya? Kamu terlalu banyak memberikan "Like" pada postingan kucing yang sedang sedih, yang menurut kebijakan "Stabilitas Mental Nasional" dapat memicu gelombang melankolis massal yang menurunkan produktivitas nasional. Kamu dituduh menyebarkan energi rendah dan diwajibkan membayar denda "Rehabilitasi Algoritma" sebesar dua ratus ribu rupiah atau melakukan live streaming menari ceria selama tiga jam tanpa henti sebagai kompensasi. Kamu terduduk lemas di kursi kerjamu, merasa seperti karakter di dalam gim simulasi yang dimainkan oleh bocah jahil yang sengaja ingin melihat karakternya menderita. Semua yang kamu lakukan, dari caramu melihat, bernapas, hingga merasa sedih, semuanya dipajaki, semuanya diuangkan, dan semuanya membuatmu rugi secara materi maupun harga diri.
Saat perjalanan pulang, hujan turun dengan derasnya, dan untuk pertama kalinya dalam hari itu kamu merasa senang karena sensor tidak bisa mendeteksi wajahmu di balik rintik air. Tapi kegembiraan itu cuma bertahan sebentar, karena tiba-tiba ponselmu berbunyi lagi: "Peringatan! Anda menggunakan air hujan publik untuk mendinginkan suhu tubuh tanpa izin. Biaya 'Sewa Rahmat Alam' sebesar sepuluh ribu rupiah telah dikenakan". Kamu tertawa terbahak-bahak di tengah jalan, tertawa sampai orang-orang menjauh darimu, karena ini sudah terlalu absurd untuk ditangisi. Kamu merasa seperti sedang diperas oleh sebuah tangan raksasa tak terlihat yang setiap kali kamu bergerak, tangan itu meminta upeti. Rugi materi? Jelas. Rugi non-materi? Kamu bahkan sudah lupa kapan terakhir kali merasa memiliki dirimu sendiri tanpa ada campur tangan sistem yang sok tahu.
Malam harinya, kamu berbaring di tempat tidur, mencoba memejamkan mata dan berharap besok pagi sistem ini mendadak crash atau kiamat kecil-kecilan terjadi agar semua hutang digitalmu lunas. Namun, sebelum terlelap, jam tangan pintarmu bergetar lembut, memberikan laporan harian yang sangat informatif: "Hari ini Anda telah menghabiskan 1.500 kata untuk mengeluh di dalam hati. Berdasarkan kebijakan 'Kebersihan Pikiran', Anda akan dikenakan denda pencemaran batin pada tagihan bulan depan. Selamat beristirahat!". Kamu hanya bisa menghela napas panjang—yang tentu saja napas itu juga akan dicatat sebagai biaya tambahan—dan memejamkan mata, menyadari bahwa satu-satunya tempat yang belum dipajaki adalah mimpi, itu pun kalau kamu beruntung tidak bermimpi tentang iklan atau kebijakan pemerintah terbaru yang lebih gila lagi.
Hidup di era ini memang terasa seperti lelucon panjang yang tidak ada ujungnya, di mana setiap kali kamu berpikir "Ah, tidak mungkin lebih buruk dari ini", sistem akan menjawab dengan "Tahan kopimu, perhatikan ini!". Kita semua terjebak dalam lingkaran setan di mana kita bekerja keras untuk membayar biaya hidup yang sengaja dibuat mahal oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ada. Tapi ya mau bagaimana lagi? Besok pagi kamu akan bangun lagi, menyentuh ponsel lagi, dan memulai ritual bayar-membayar ini dengan senyum paling tulus yang bisa dibeli oleh potongan harga transportasi umum. Karena pada akhirnya, menjadi Gen Z di dunia yang gila ini adalah tentang seberapa jago kamu menertawakan kemalanganmu sendiri sebelum tagihan berikutnya datang mengetuk pintu hati, eh maksudnya, mengetuk saldo rekeningmu.