Di pagi hari yang cerah, Aku sedang duduk di depan rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Tidak lama terdengar suara ibuku sedang berbicara dengan seseorang dari balik telepon, ibu terus berbicara dengan seseorang yang terdengar seperti sedang menangis.
" Tolong jangan menangis dulu dan berikan alamatnya padaku secepatnya, ucap ibu yang sudah berada di samping ku.
Samar-samar terdengar suaranya seseorang yang sedang menahan tangis dari balik telepon;
" Ada apa ibu?" Tanya ku.
" Saudara ibu yang di kampung menelpon, sebentar ibu selesaikan dulu pembicaraan kami" kata ibuku.
Setelah mendengar semuanya, aku bisa menyimpulkan bahwa dia adalah Saudara jauh dari ibu ku yang berada di kampung, Sebut saja dia tante Zahrah. Dia mengabari ibu ku tentang anak laki-lakinya yang sedang kuliah dan hidup sendiri di kota yang sama dengan kami, dan sekarang dia sedang terbaring sakit di kost-kostannya.
Ibu ku meminta alamat rumah dan nomor teleponnya, setelah mencari tau ternyata tempat tinggalnya tak jauh dari rumah kami. Ibuku memintaku untuk mengantarnya dan menemuinya sekarang juga untuk sekedar tau kabar dan kondisinya, Selagi ibuku bersiap-siap aku pun mengeluarkan motor dan mengambil jaketku.
Saat di jalan Ibuku terus menelpon ponakannya dan memberitahukan arahnya padaku, Hingga kami sampai di sebuah kos-kosan khusus laki-laki, Ibuku masuk kedalam kosan dan di susul olehku karena harus memarkirkan motorku lebih dulu.
Beberapa laki-laki yang melihatku di depan pagar langsung menghampiriku dan menyapanya ku, atau untuk sekedar Berbasa basi menanyakan apa yang aku lakukan disini, Saat ingin menjawab pertanyaan mereka ibu memanggilku dari balik pintu kamar kos milik ponakannya, aku hanya melihat mereka sambil tersenyum dan berjalan masuk kedalam kamar. Dari balik pintu terlihat sesosok pria yang tengah duduk sambil melihat ke arahku dengan tatapan matanya yang sayu, Aku tersenyum padanya sambil berjalan ke arah ibuku dan duduk di sampingnya.
" Apa kamu mau Tante bawa ke rumah sakit sekarang?" Ucap ibu ku dengan lembut pada ponakannya.
"Kalau bisa aku ingin coba minum obat dulu Tante, kalau sampai tidak ada perubahan besok pagi baru aku ikut Tante ke rumah sakit" ucapnya lemas.
Aku hanya mendengar percakapan mereka berdua sesekali melihat ke arahnya yang begitu pucat pasih ( apa tidak apa-apa meninggalkannya semalaman di kosan ini sendiri dengan kondisi seperti itu, gumam ku dalam hati).
Saat aku terus memperhatikannya, dia seketika memalingkan pandangannya padaku. Mata kami bertemu sebentar sebelum aku memalingkan wajahnya dan melihat ke arahnya lain, untung saja ibu tidak menyadarinya karena sibuk dengan ponselnya untuk menelpon saudara yang berada di kampung untuk meminta pendapatnya. Sementara ibu sibuk mengobrol di luar kamar dan meninggalkan kami berdua, jujur suasananya agak canggung namun aku tidak bisa mengabaikannya yang sedari tadi batuk tak berhenti.
" Ini minumlah" aku memberikan air botol yang berada di mejanya.
" Terima kasih" jawabannya.
" Apa kamu masih butuh yang lain?" Tanyaku.
" Ini saja sudah cukup, terimakasih" jawabnya.
Setelah selesai menelpon ibu masuk ke dalam kamar dan menyuruhku untuk membeli obat di apotek terdekat, Aku menerima uang yang di berikan ibu dan bergegas pergi membeli obat. Saat keluar dari dalam kamar terlihat begitu banyak laki-laki yang sedang belajar bersama di ruang tamu, awalnya aku ingin masuk kembali ke dalam kamar dan meminta ibu mengantar ku keluar, namun ku urungkan niat ku dan beranikan diri untuk berjalan dan melewati mereka sambil mengatakan permisi pada mereka, Dengan serentak mereka mempersilahkan aku untuk jalan melewati mereka yang sedang belajar bersama.
" Maafkan aku mengganggu kegiatan belajar kalian" ucap ku sambil melewati mereka.
" Tidak apa-apa kak, kami tidak terganggu sama sekali" balas seseorang pria yang sepertinya adalah seniornya.
Sesampainya di apotek Aku membeli semua yang di butuhkan dan membayarnya.
" Totalnya 30 ribu kak," ucap Mba apoteker.
Aku mengambil uang di saku jaketku dan memberikannya, Setelah membayar semuanya aku segera bergegas untuk kembali sebelum hujan deras. Dan benar saja saat aku memarkirkan motorku di depan kos-kosan itu, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
" Yang bener aja" ucapku.
Aku dengan cepat ambil kantong belanjaan ku dan berlari masuk kedalam kost-kostan, ku letakkan Kantong belanjaan ku dan sedikit menyeka air hujan di rambut dan jaket ku. Setelah menyeka badan ku, Aku segera masuk dan membawa barang belanjaanku dan lagi-lagi aku meminta izin untuk melewati mereka yang sedang belajar.
" Kenapa kamu basah kuyup seperti itu? Tanya ibu yang melihat ku basah kuyup.
" Aku terkena hujan saat memarkirkan motorku di depan," jawabku sambil memberikan barang belanjaan
Ku membuka jaketku dan duduk di belakang ibu sambil bersandar pada dinding;
"Oh iya, kalian belum berkenalan yah? Ini Cia anak ibu yang ketiga" ucap ibuku sambil memperkenalkan anaknya pada ponakannya.
" Ayo kalian kenalan" ucap ibuku.
" Cia " kata ku sambil menjulurkan tangan.
" Dani," jawabnya sambil mejabat tangan ku.
" Besok kita ke rumah sakit yah kalau misal belum ada perubahan," ucap ibu ku pada Dani.
" Iya Tante," jawab Dani.
Kami akhirnya pamit pulang pada Dani, Dani yang ingin mengantar kami sampai depan pintu gerbang di hentikan oleh Ibu ku.
" Tidak apa-apa sampai sini saja, kamu masuklah dan istirahat." Ucap ibu ku
" Bye, ucap ku pada Dani sambil tersenyum.
Ibu ku sempat berbincang pada anak lelaki yang berada di ruang tengah untuk menjaga Dani yang sedang sakit;
" Tante minta tolong jagain ponakan Tante yah" ucap ibu ku.
Aku hanya melihat Mereka dari belakang ibu ku sambil tersenyum;
" Tante jangan khawatir, ada kami di sini" ucap seorang pemuda mewakili semuanya.
" Terima kasih yah, kalau begitu Tante pamit pulang dulu" ucap ibu ku.
" Hati-hati di jalan Tante" seru mereka bersamaan.
Melihat hujan yang sudah sedikit redah, aku berlari kearah motor ku dan mengeluarkan jas hujan Tidak lupa memberikan jas hujan pada ibu juga. Sesampainya di rumah ibu melihat kakak ku yang sudah pulang kerja dan menceritakan semuanya, dari Tante Zahrah yang menelpon ibu sambil menangis hingga ponakannya yang ngekos tidak jauh dari rumah kami.
Keesokan harinya, karena masih hari kerja jadi hanya Ibu ku saja yang mengurus selaga perlengkapan dan berkas Dani karena tidak ada perubahan dari semalam. Saat jam makan siang ibu menelpon untuk memberitahukan keadaan Dani yang sudah rawat inap di rumah sakit
" Bagaimana ibu, Apa katanya dokternya?" Tanyaku.
" Ada virus yang masuk dari telapak kakinya, mungkin dia terjangkit virus saat kkn kemarin," kata ibu.
" Nanti sehabis pulang kerja aku akan kesana," jawabku.
Sore harinya setelah pulang kerja aku menyempatkan diri untuk ke rumah sakit tempat Dani di rawat, Rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari rumah mengingat rumah ku sangat strategis dan berada di tengah kota. Aku bahkan bisa menyempatkan diri ku untuk mandi dan mengganti bajuku, Tak lupa aku membawa bantal dan selimut untuknya. Karena Dani hanya tinggal seorang diri otomatis tidak ada yang bisa menjaganya disini, Ibu ku sempat ingin tinggal dan merawat Dani namun di hentikan oleh kakak ku karena ibu tidak boleh merasa lelah atau kurang tidur mengingat ibuku mempunyai riwayat hipertensi.
" Biar aku saja yang merawat Dani di malam hari," kataku.
" Apa tidak apa-apa? Kan besok kamu kerja," ucap ibu.
" Tidak apa-apa, akan aku usahakan untuk tetap tidur walaupun cuma sebentar." Kataku.
Karena sudah larut malam dan jam besuk sudah berakhir ibu dan kakak pamit pulang dan meninggalkan aku berdua bersama Dani. Aku mulai membersihkan tempat tidurku dan membuat jaket yang aku kenakan menjadi selimut,
" Cia bisa minta tolong ambilkan kantong plastik, Aku ingin muntah." Kata Dani
" Iya," ucap ku sembari memberikan kantong plastik yang di mintanya.
Selagi dia memuntahkan semua makanan yang baru di makannya Aku terus-menerus mengelus belakangnya;
" Minum dulu" ucap ku sembari memberikan air botol.
" Apa sudah merasa baikan?" Tanyaku
" Sudah lumayan walaupun masih sedikit mual," jawabnya.
" Sepertinya infus mu sudah habis" ucap ku sembari Melihat cairan infus yang sisa sedikit.
" Tunggu di sini, aku akan memanggil dokter" ucap ku meninggal Dani di dalam ruangan.
" Cepat kembali" ucap Dani sambil menggenggam tangan ku.
" Iya, tunggu aku" jawabku.
Tak lama aku datang bersama perawat, sembari perawat mengganti cairan infus Dani aku pun ngecas headphone ku.
" Infusnya sudah saya ganti" Kata perawat.
" Terima kasih suster" ucap ku.
" ini ada obat yang harus ibu ambil di apotik lantai satu. Kalau bisa secepatnya obatnya di ambil yah," kata perawat.
" Iya," kataku.
Akupun mengambil jaketku;
" Aku ambil obat dulu yah, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Tanyaku.
" Apakah lama?" Tanya nya dengan wajah memelas.
" Iya, tergantung apa tempat apoteknya dekat atau jauh soalnya ini pertama kali aku kerumah sakit ini" jawabku.
" Iya, cepat kambali yah" ucap Dani.
Aku hanya tersenyum menjawab ucapannya, ( kata suster tadi apotek ada di lantai bawah yah, gumam ku) . Aku ke arah lift sembari menunggu, sesekali aku melihat handphone ku dan melihat video di ngutub hingga Lift akhirnya terbuka, terlihat ada beberapa suster dan keluarga pasien di dalam. Aku masuk dah mengambil posisi paling belakang tepat berada di samping seorang suster, Sesampainya di lantai satu aku bertanya pada penjaga yang ada di lobby;
" Permisi saya ingin bertanya, apoteknya dimana yah?" Tanyaku
" Apotek, tinggal lurus saja trus belok kanan. Apoteknya paling ujung." Jawabnya
" Terima kasih," ucap ku.
" Mau saya antar?" Tawarnya.
" Tidak apa-apa pak, terima kasih." Ucap ku sambil tersenyum.
Aku berjalan sesuai arahan yang di berikan, terlihat beberapa orang sedang duduk sambil menunggu obatnya. Aku memberikan resep dokternya dan menunggu seperti yang lain, beberapa menit setelah menunggu akhirnya nama Dani di sebut. Akupun maju dan mengambil obatnya;
" Cairan infus dan obat minumnya di berikan pada perawat yah," kata apoteker.
" Iya, terima kasih." Jawabku.
Akupun berjalan kembali dan berdiri di depan Lift sambil menenteng kantong obat, Lift akhirnya kembali terbuka dan terlihat begitu banyak orang di dalamnya. Aku mencoba masuk meski harus berdesakan dengan yang lainnya sambil memeluk kantong obatku, perlahan orang-orang mulai berjalan keluar dari dalam lift Hingga Lift sudah menuju lantai tiga. Setelah keluar dari lift Aku berjalan menuju ketempat suster yang menjaga dan memberikan obatnya, karena merasa lelah akupun bergegas kembali ke kamar Dani.
Aku melihat Dani yang sudah tertidur pulas, Karena dia sudah tidur aku pun membersihkan tempat tidurku dan melepaskan jaketku. Aku duduk dan bersandar pada tembok sambil menikmati Angin yang berhembus lembut lewati jendela yang ada di atas kepalaku, Tanpa sadar aku ikut tertidur. Aku tertidur selama satu jam hingga Dani memanggilku karena ia ingin ke toilet, Aku segera bangkit dari tempat tidur ku dan menemaninya. Aku berdiri di depan pintu toilet sambil memegang cairan infusnya, sesekali aku mendengarnya muntah dari dalam, ada rasa ingin membantunya namun aku tidak boleh masuk.
Tak lama Dani keluar dan mencuci tangannya di wastafel, aku berjalan di belakangnya dan baru menyadari bahwa Dani sangat tinggi. Aku menyadari itu saat berjalan seirama dengannya. Ternyata Dani sangat tinggi, aku bahkan hanya setinggi bahunya saja aku mencoba berdiri di sampingnya.
" Pelan-pelan," Kataku
" Kepala ku sangat sakit," ucapnya padaku.
" Biar aku pijit ringan kepala mu" tawarku.
Aku duduk di samping tempat tidur Dani dan mulai memijit kepalanya, sesekali aku melihat wajahnya yang terlihat begitu kesakitan. Aku yang merasa jidat Dani begitu panas mulai berdiri dan mengambil kain yang berada di tasnya lalu membasahinya dengan air, Aku mencoba mengompresnya dengan kain basah itu berharap demamnya lekas turun, sesekali aku membasahinya kembali karena kainnya mulai terasa panas.
Aku duduk di samping tempat tidurnya dan terus mengompresnya;
" Kalau kamu lelah istirahat saja," ucap Dani melihatku.
Aku mengambil ponselku dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
" Aku tidak apa-apa, sudah sempat tidur tadi," Jawabku.
Sambil menahan rasa sakit pada tulang belakangnya, Dani mencoba untuk memperbaiki posisi tidurnya. Aku yang melihat itu dengan sigap membantunya, Dani memelukku begitu erat dan aku pun melakukan hal yang sama dengan kembali memeluknya. Perlahan aku mulai membaringkannya dan membenarkan posisinya, tanpa sengaja kami saling menatap satu sama lain begitu lama.
" Terima kasih," ucap Dani.
Aku hanya tersenyum sambil menyelimuti tubuhnya dan kembali berbaring di tempat tidur ku, lagi-lagi aku ketiduran hingga suster masuk dan mengganti cairannya dengan cairan baru yang berada di botol kaca;
" Kalau cairannya sudah sisa dikit tolong kabari kami," kata suster pada Dani.
" Iya, terima kasih suster" ucap Dani.
Hingga pukul empat pagi, Awalnya semua baik-baik saja namun lama kelamaan Dani merasakan perih yang membuat tangannya terasa sakit, sesekali dia menutupi wajahnya dan mencoba tidur namun tak bisa. Aku terbangun karena mendengar suara Dani yang begitu kesakitan, Aku berusaha melihat apa yang terjadi dan mulai duduk kembali di sampingnya, Aku menggenggam tangannya sambil mengusap lembut tangannya.
" Apa masih terasa sakit," tanyaku.
" Sudah tidak terlalu sakit saat kamu melakukan itu," jawabnya.
" Syukurlah, kenapa tidak membangunkan ku?" Tanyaku.
" Aku tidak tega membangunkan mu, melihat tidur mu yang begitu pulas" jawab Dani.
Dani mencoba untuk tidur kembali , sementara Aku masih terus menggenggam tangannya hingga aku tertidur di samping tempat tidurnya. Suster kembali masuk ke dalam kamar Dani tanpa sepengatahuan ku dan mengganti cairan dalam botol kaca yang sudah habis, Aku terbangun dari tidurku melihat cairan di botol kecil itu sudah terganti dengan yang baru. Aku langsung melihat Dani yang hanya tersenyum padaku;
" Apa demam mu sudah turun?" Aku memegang jidatnya untuk memastikan suhu tubuhnya.
" Iya, demamnya sudah turun berkat mu" jawabnya sambil melihat ku.
Aku memalingkan wajah ku dan berputar-putar mencari headphone ku, Karena sudah pagi aku bersiap-siap untuk berangkat kerja sambil menunggu ibuku datang. Dani akhirnya tertidur pulas akibat begadang semalaman, sementara Ibuku sudah datang untuk bergantian menjaga Dani.
" Jangan di bangunkan ibu, Dia baru saja tertidur setelah begadang semalaman" ucapku pada ibu.
Aku menceritakan semua yang terjadi semalam sambil memakan roti yang di bawah oleh ibu;
" Tapi kamu ada waktu tidurnya juga kan?" Tanya ibu.
" Aku sempat tertidur tadi dan baru terbangun di pagi hari" jawab ku.
" Kalau begitu aku berangkat kerja dlu ibu" aku menciumi tangan ibu ku dan berjalan pergi meninggalkan ruang Dani.
" Hati-hati di jalan sayang" ucap ibu.
" Iya ibu" jawabku.
Jam sepuluh siang Dani terbangun dan melihat ibu ku sudah berada di sampingnya;
" Cia mana Tante?" Tanya Dani.
" Cia sudah berangkat kerja tadi pagi" jawab ibu ku.
Di tempat lain...
Aku melewatkan jam makan siang dan memilih untuk tidur di meja kerjaku, Teman kerja ku yang baru selesai makan siang menghampiri mejaku dan melihat ku tertidur bahkan terdengar kecil suara mendengkur.
"Cia Apa kamu sakit?" Tanya teman kerjaku.
Aku terbangun ketika merasa seseorang mengguncang tubuh ku.
" Aku tidak apa-apa, Hanya Kurang tidur saja." Jawabku.
" Tapi wajahmu yang pucat dan penampilan mu sangat berantakan tidak seperti biasa" teman kerja ku yang bernama sari memegang jidat ku dan jidatnya.
" Badanmu juga sedikit hangat, apa mau aku belikan sesuatu untuk kamu makan?" Tawar sari dengan nada khawatir.
Seseorang yang baru saja masuk kedalam kantor mendengar percakapan kami, seseorang yang dulu sempat dekat dengan ku namun berubah asing. Dia hanya melewati kami dan berjalan ke arah meja kerjanya, aku juga tidak terlalu menghiraukan nya saat itu, Sedangkan sari terus mengoceh karena khawatir padaku.
" Sari aku baik-baik saja" ucap ku sambil tersenyum.
" Apa benar tidak apa-apa" jawab sari dengan nada sedih.
Sari salah satu kariawan yang sama seperti ku, bedanya darinya sari sangat ceria dan pandai bergaul. Sari bahkan sering memberikan perhatian kecil padaku seperti sekarang yang dia lakukan, mungkin kalau tidak ada dia kantor ini akan terasa sepi dan membosankan.
" Terima kasih," ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Beritahu aku jika kamu membutuhkan sesuatu" ucap sari yang meninggalkan ku dan berjalan ke arah meja kerjanya.
Saat sedang melihat sari mata ku tak sengaja melihat sosok pria yang sedari tadi memperhatikan kami, aku dengan cepat mengalihkan pandanganku pada yang lain dan kembali fokus ke layar monitorku. Akhirnya jam pulang kerja, aku membuka pesan dri ibu yang menyuruh ku untuk membeli air dan beberapa tisu basah dan kering. Aku bergegas berjalan pulang namun ada seseorang yang mengikuti ku dari belakang;
" Cia" panggil seseorang dari belakang ku.
Aku berbalik dan melihat siapa orang itu, ternyata dia pria yang sempat dekat ku bernama hans.
" Ini untuk mu" kata Hans sambil memberikan sebungkus roti dan susu coklat.
" Makan sebelum kamu pulang, jangan membawa kendaraan dalam perut kosong" ucap hans.
Belum sempat membalas perkataannya dia sudah pergi meninggalkan ku dan masuk ke dalam mobilnya, aku melihat roti dan susu yang dia berikan. Sesampainya di motor milikku, Aku menyempatkan untuk makan dan minum susu pemberian hans.
( Kenapa dia memberi ku ini, fikir ku)
Alasan aku berpisah dengannya karena dia merasa bosan padaku dan sudah punya kekasih yang baru yang seribu kali lebih cantik dariku, tapi selama kami berpisah dia tidak pernah membawa kekasih nya itu di acara besar kantor ataupun acara pernikahan teman sekantor.
( Apa kekasihnya itu sangat cantik yah sampai dia takut ada yang merebutnya, entah lah aku tidak ingin terlibat dalam kisah asmara orang lain Fikirku).
Aku sempat pulang ke rumah untuk mengganti baju sebelum pergi ke supermarket untuk berbelanja;
" Hari ini bagusnya pakek baju apa yah?" Ucapku sambil melihat isi lemari baju ku.
Setelah lama memilih akhirnya aku menggunakan celana hitam dan kemeja vororo berwarna pink dengan pengikat di bagian pinggang, Aku mengunci pintu rumah lalu menyalakan motor ku dan berangkat ke supermarket untuk berbelanja.
Aku membeli air dan tisu juga beberapa cemilan dan langsung membawanya ke kasir;
" Totalnya 125 ribu"
Setelah berbelanja tidak lupa juga membeli makan untuk ku dan ibu, ( Ibu pasti kurang makan, fikirku).
Sesampainya di rumah sakit aku melihat begitu banyak orang-orang yang mengantri di depan lift, mengingat ini sudah masuk jam besuk sepertinya wajar saja jika terlihat ramai. Karena tidak ingin menunggu terlalu lama aku memutuskan untuk menaiki tangga hingga ke lantai tiga, saat sudah tiba di lantai dua Aku berhenti dan mengambil nafas sejenak Tanpa tau ada seorang dokter muda yang ikut berhenti di belakangku, Aku tidak menyadarinya hingga dia menegurku.
" Permisi, kamu menghalangi jalanku," katanya.
Aku yang mendengar suara dari belakang langsung mengangkat belanjaanku dan mempersilahkannya untuk lewat;
" Sini biar aku bantu," katanya.
" Tidak apa-apa biar aku saja," tolak ku.
" Tidak apa-apa, lagi pula kita searah." Jawabannya.
Dia mengambil belanjaanku dan mulai berjalan, aku hanya mengikutinya dari belakang dengan nafas sedikit terengah-engah ( sepertinya aku harus rajin olahraga, fikir ku). Saat sampai di lantai tiga aku terduduk sebentar di kursi pengunjung;
" Kamar nomor berapa"? Tanya sih dokter muda.
" 301," jawabku.
Kami melanjutkan perjalanannya menuju kamar 301, beberapa perawat melihat ke arah dokter muda itu bahkan ada yang menyapanya juga. Namun tidak sedikit dari mereka ada yang melihat ke arah ku, aku berpura-pura tidak melihat semuanya seakan-akan aku berjalan seorang diri.
" Ini belanjaan mu" ucapnya sambil mengembalikan belanja ku.
" Terima kasih sudah membantuku," ucap ku.
" Iya sama-sama, lagi pula aku sudah bilang kalau tujuan kita sama," jawabnya.
Diapun pamit dan pergi ke salah satu pasien yang ada di kamar, ternyata itu adalah ayahnya yang sedang di rawat.
" Apa kamu sudah selesai bertugas?" Tanya seorang laki-laki tua yang berada di balik tirai itu.
" Iya aku sudah selesai, bagaimana kabar ayah?" Tanyanya.
" Ayah baru saja di beri obat tadi," jawabnya.
Samar-samar aku mendengar percakapan mereka, Suara sekecil apapun bisa terdengar di dalam ruangan ini.
" Cia...!," kata ibu memanggil ku.
" Kenapa kamu hanya berdiri saja di situ "ucap ibu.
" Aaa maaf tadi aku agak melamun dikit" jawabku.
Aku kembali melihat ibu bersama Dani yang sedari tadi melihat kearahku, Aku yang menyadari itu langsung mengeluarkan semua barang belanjaanku dan menatanya di meja dan sebagian aku letakkan dalam lemari.
Melihat ibu sedang berbicara bersama Dani, Aku mengambil ponselku dan melihat video di Ngutub sambil berbaring. Sesekali aku tidak sengaja mendengar percakapan orang di samping tempat tidur Nolan, ( aku merasa seperti menguping, Gumam ku).
" Aku akan tidur di sini sambil menjaga ayah, dari pada harus pulang ke apartemen" ucapnya.
( Jadi dia akan tidur di sini juga yah, tapi apa salahnya dia berjaga di sini itukan ayahnya. Ayolah Cia jangan berfikiran seperti itu, fikir ku)
Dari balik pintu aku melihat kakak aku yang datang untuk menjemput ibuku pulang, Sesekali kakak ku tinggal untuk ngobrol sebentar bersama Dani hingga waktu menunjukkan jam 21.00 WITA.
" Kalau begitu aku pamit pulang dulu karena sudah lewat jam besuk," kata kakak ku.
" Terima kasih Tante, hati-hati di jalan," kata Dani.
" Ibu jangan lupa bawa nasi bungkus yang aku beliin tadi " ucap ku.
Aku mengantar ibu dan kakak sampai depan pintu dan melihat mereka berdua berjalan pulang hingga hilang di belokan, Aku menutup pintu perlahan-lahan dan berjalan kembali menuju tempat tidur Dani. Tak sengaja aku melihat ke dalam tirai pasien yang beda di samping kami, terlihat seorang laki-laki parubaya usainya sekitar 60 tahun tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya sambil berjalan kembali akan tetapi aku tidak sengaja melihat dokter muda itu dan dia juga melihat ku tanpa melepaskan pandangannya, Aku dengan kesadaran penuh langsung berlari pelan ke arah tempat tidur Nolan.
" Ada apa?" Tanya Nolan yang melihat ku dengan tatapan bertanya-tanya.
" Tidak apa-apa" jawabku.
" Apa kamu sudah makan?" Tanyaku.
" Aku sudah makan dan minum obat tadi dibantu sama Tante" jawabnya.
" Syukurlah, aku sangat lapar dan ingin makan sekarang" aku mengeluarkan nasi bungkus yang ku beli tadi.
( Sebenarnya tadi aku hanya ingin beli tiga bungkus nasi cuma karena tidak ada uang kembalian aku jadinya beli empat bungkus, satu untuk ibu dan satunya untuk kakak dan satunya lagi untukku, fikir ku sambil memakan nasi punya ku.)
Aku seketika ingat dokter muda di sebelah ku, aku tidak melihat ada makanan atau bahkan cemilan. Hanya ada air, mungkin karena baru masuk dia belum mempersiapkan semuanya apa lagi katanya dia habis bertugas ( apa aku kasih aja yah satu nasi ini padanya sebagai rasa terima kasih ku, baiklah ayo berikan padanya, Gumam ku dalam hati)
Aku bangun dan mengintip dokter muda itu bersama ayahnya;
" Permisi, Aku ada sebungkus nasi lagi" aku memberinya pada dokter itu.
Dia masih terlihat bingung saat menerima nasi bungkus itu.
" Itu sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu ku tadi" ucapku.
" Terus kamu makan apa?" Tanya pria parubaya itu.
" Aku sementara makan tadi, karena ada dua nasinya tidak mungkin aku menghabiskan keduanya" jawabku.
" Terima kasih yah, kebetulan anak ku juga belum makan apapun" ucap ayahnya.
" Semoga dia menyukainya, kalau begitu aku lanjut makan dulu" ucap ku.
Aku kembali duduk dan menikmati makanan ku lagi, Nolan yang terus melihat ku sedari tadi merasa ingin mencoba nasi bungkus yang ku makan;
" Bolehkah aku meminta satu suapan?" Tanya Nolan.
" Apa boleh?" Kataku sedikit ragu.
" Satu suap saja, tidak lebih " pinta Nolan.
" Baiklah " jawabku.
" Aku ingin tempe oreknya dan sedikit sayur juga sambal " ucap Nolan.
" Tidak, kamu tidak boleh makan sambal" jawab ku.
" Baiklah, Tanpa sambal " ucapnya
Aku menyuapkan sesuap nasi pada Nolan;
" Enak, apa aku boleh minta lagi" ucap Nolan.
" Tadi katanya hanya sekali" jawabku.
Aku langsung menghabiskan nasi milik ku hingga bersih, Nolan yang melihat itu seketika cemberut dan sedih.
" Untuk sekarang jangan makan yang berminyak atau yang pedas, kalau ibu sampai tau yang ada aku bisa kena marah" ucap ku sambil membersihkan sisa bungkus nasi.
Saat ingin membuat bungkus makanan ke tempat sampah yang ada di depan pintu kamar, aku berpas-passan dengan dokter muda itu ( ternyata dia makan secepat itu, fikir ku) kami membuang sampah bersamaan dan masuk kedalam ruangan secara bersamaan juga.