Yaya duduk di bangku belakang kelas, menatap layar laptop dengan mata kosong. Kuliah hari itu terasa hambar, tapi bukan karena materi yang membosankan. Hatinyalah yang terasa berat. Selama beberapa minggu terakhir, ada ketegangan yang ia coba abaikan. Tapi ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Daera, sahabatnya sejak SMA, selalu ada untuknya. Mereka sering mengerjakan tugas kelompok bersama, berbagi kopi di kantin, atau sekadar mengobrol tentang kehidupan kampus yang melelahkan. Sementara Jeje, teman sekelas mereka yang terkenal santai dan humoris, selalu berhasil membuat Yaya tersenyum.
Namun, sesuatu telah berubah.
Hari itu, Yaya melihat Daera dan Jeje duduk berdekatan di bangku taman kampus. Awalnya ia tidak menaruh curiga. Bukankah mereka teman dekat? Tapi cara Daera menatap Jeje—meskipun hanya sekilas—membuat perut Yaya mual. Ada yang berbeda.
Ia mencoba menepis pikiran itu. “Ah, cuma kebetulan duduk dekat saja,” gumamnya. Tapi hatinya tidak tenang. Selama beberapa minggu terakhir, ia sering melihat mereka berbicara diam-diam, sering tertawa tanpa Yaya, bahkan kadang meninggalkan grup chat mereka berdua.
Malam itu, Yaya duduk di kamarnya, menatap layar ponsel. Ia membuka pesan dari Jeje.
“Yaya, maaf ya. Aku ada di luar sebentar sama Daera. Nanti balik,” bunyi pesan itu.
Yaya menelan ludah. Ada sesuatu yang salah dengan nada Jeje. Ia merasa ada yang disembunyikan. Jantungnya berdegup cepat, dan perasaan cemas mulai merayap ke seluruh tubuhnya. Ia memutuskan untuk menghubungi Daera.
“Da, kamu lagi di mana?” tanya Yaya.
Tidak ada balasan. Beberapa menit kemudian, pesan masuk:
“Lagi sibuk ngerjain tugas, nanti ketemu di kos aja.”
Tapi Yaya tahu itu bohong. Ia tahu mereka sedang bersama Jeje.
Hari berikutnya, Yaya tidak bisa fokus di kelas. Pikiran tentang Daera dan Jeje terus menghantuinya. Ia memperhatikan interaksi mereka, gerakan kecil, cara mereka saling menatap—semua tampak berbeda dari biasanya.
Akhirnya, Yaya memutuskan untuk menghadapi Daera. Setelah kelas selesai, ia menunggu di depan ruang kuliah.
“Daera, kita bisa bicara sebentar?” tanya Yaya, suaranya bergetar.
Daera tampak kaget. “Eh… Yaya? Ada apa?”
Yaya menelan ludah. “Aku… aku merasa kalian berdua… ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku.”
Daera tersenyum canggung. “Ah, itu… bukan apa-apa. Kita cuma sering ngobrol tentang tugas, serius deh.”
“Tapi… aku merasa kalian terlalu dekat, lebih dari teman,” Yaya menekankan, berusaha tetap tenang meskipun hatinya perih.
Daera mengalihkan pandangan. “Yaya, kamu nggak perlu cemburu gitu. Aku sama Jeje cuma teman, oke?”
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan.
Beberapa hari kemudian, Yaya memutuskan untuk memeriksa media sosial. Ia menemukan foto Jeje dan Daera dari akun teman sekelas yang berbeda—mereka sedang berpelukan di sebuah kafe. Foto itu seperti pukulan telak di dada Yaya.
Ia merasa dunia runtuh. Selama ini ia percaya pada persahabatan mereka, tapi ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan. Ia merasa dikhianati oleh dua orang yang paling dekat dengannya.
Yaya menatap langit-langit kamarnya, menahan tangis. “Kenapa harus begitu, ya? Kenapa kalian memilih aku yang tersakiti?” gumamnya.
Keesokan harinya, Yaya memutuskan untuk menghadapi Jeje. Mereka bertemu di taman kampus yang sepi.
“Jeje, aku lihat fotonya. Apa ini benar?” Yaya menatap tajam.
Jeje terdiam, wajahnya pucat. “Yaya… aku… aku nggak tahu harus mulai dari mana…”
“Tolong jangan bohong,” Yaya memotongnya. “Aku cuma mau jujur. Kalau kalian memang… ya udah, bilang aja. Tapi jangan sembunyikan dari aku.”
Jeje menunduk. “Yaya… aku dan Daera… kami… aku nggak bisa ngelakuin ini. Aku nggak sengaja… aku sayang kamu, tapi… aku juga ada perasaan sama Daera.”
Hati Yaya hancur. Kata-kata itu seperti belati yang menusuknya. “Jadi kalian sengaja selingkuh dari aku?” suaranya pecah.
Jeje menutup wajahnya. “Aku minta maaf. Aku nggak mau nyakitin kamu. Tapi semuanya terjadi begitu saja…”
Yaya menarik napas panjang. Ia merasa dunia seakan berhenti berputar. Ia tidak tahu harus marah, sedih, atau kecewa. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu rasa hampa yang berat.
Malam itu, Yaya duduk sendiri di kamarnya. Ia membuka pesan terakhir dari Daera:
“Kamu jangan salah paham. Aku sayang Yaya, tapi aku nggak bisa ngerasain itu sama Jeje. Maaf…”
Pesan itu membuat hatinya semakin bingung. Ia merasa persahabatan mereka telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Rasa sakitnya bukan hanya karena cinta yang dikhianati, tapi juga karena kepercayaan yang hancur.
Ia memutuskan untuk mengambil jarak dari keduanya. Tidak menghubungi, tidak menatap, tidak lagi memberi perhatian. Yaya tahu, ia butuh waktu untuk menyembuhkan diri sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Yaya mulai kembali fokus pada kuliahnya. Ia belajar menenangkan diri dan menerima kenyataan. Ia masih menyayangi Daera dan Jeje, tapi bukan dengan cara yang sama. Ada batas yang tidak bisa dilewati lagi.
Suatu hari, saat berjalan di koridor kampus, Yaya melihat Jeje dari jauh. Mereka saling menatap, tapi tidak ada kata-kata. Hanya anggukan kecil. Itu cukup. Yaya tahu, sekarang ia harus hidup untuk dirinya sendiri.
Ia belajar satu hal penting: persahabatan dan cinta bisa menyakitkan, tapi kehilangan bukan berarti akhir. Terkadang, hal terberat adalah membiarkan orang pergi agar diri sendiri tetap utuh.
Dan Yaya memilih untuk tetap berjalan, meski langkahnya berat, meski hatinya masih perih.
Ia tahu suatu hari nanti, luka ini akan sembuh, dan ia akan menemukan kedamaian—tanpa harus tergantung pada orang yang pernah mengkhianatinya.