Langit sore menggantung kelabu ketika mobil tua yang dikendarai Pak Broto berderak melewati jalanan berbatu. Anto duduk di kursi depan, sesekali memegang dashboard agar tidak terbentur. Di kursi belakang, Nurma sibuk memeriksa ulang berkas proposal KKN, sementara Intan menatap keluar jendela dengan perasaan tak menentu.
Desa tujuan mereka bernama Desa Pasir Wengi—desa terpencil yang bahkan namanya jarang terdengar di kota. Akses menuju ke sana belum tersentuh aspal, hanya batu dan tanah merah yang licin jika hujan turun. Sinyal menghilang sejak satu jam lalu.
“Masih jauh, Pak?” tanya Anto.
Pak Broto hanya tersenyum tipis. “Kalau jalan tidak berubah, sebentar lagi sampai.”
Kalimat itu terdengar aneh. Kalau jalan tidak berubah? Intan ingin bertanya, tapi urung.
Beberapa menit kemudian, mobil melambat. Di depan mereka berdiri sebuah gapura tua yang nyaris roboh. Besinya berkarat, catnya terkelupas. Tulisan di atasnya hampir tak terbaca, namun masih jelas membentuk kata:
DESA PASIR WENGI
Angin tiba-tiba berhenti.
Intan menahan napas.
Di bawah gapura itu berdiri seorang laki-laki. Tubuhnya tinggi, terlalu tinggi untuk ukuran normal. Wajahnya pucat, nyaris abu-abu. Matanya kosong, menatap lurus ke arah mobil mereka.
“Anto…” bisik Intan. “Kamu lihat itu?”
Anto menyipitkan mata. “Lihat apa?”
“Laki-laki di depan gapura…”
Nurma ikut melihat. “Tidak ada siapa-siapa, Tan.”
Intan menelan ludah. Sosok itu jelas ada. Diam. Tidak bergerak. Tidak berkedip.
Mobil berhenti mendadak.
Pak Broto turun tanpa berkata apa-apa. Ia mengambil sesuatu dari bagasi—bungkusan kain kecil dan beberapa batang dupa. Ia berjalan ke samping jalan, ke arah sebuah batu besar yang tertutup lumut.
Anto dan Nurma saling pandang. “Kita turun?” tanya Nurma.
“Turun saja,” jawab Anto.
Mereka membuka pintu. Udara terasa dingin, menusuk tulang. Tak ada suara serangga. Tak ada burung.
Pak Broto menyalakan dupa di samping batu besar itu. Asap tipis mengepul, berputar aneh seperti tertiup angin yang tak terlihat.
Intan menoleh kembali ke arah gapura.
Masih ada.
Masih berdiri.
Sosok tinggi itu kini tampak lebih dekat. Atau mungkin hanya perasaannya saja.
Tiba-tiba suara berat Pak Broto terdengar di belakangnya.
“Jangan menoleh, Mbak.”
Intan membeku.
“Kalau sudah melihatnya, jangan beri dia balasan.”
Jantung Intan berdegup keras. “Siapa… itu, Pak?”
Pak Broto tidak langsung menjawab. Ia hanya memejamkan mata, bibirnya berkomat-kamit seperti membaca doa.
“Penjaga.”
Nurma tertawa gugup. “Penjaga apa, Pak? Desa ini kan masih ada.”
Pak Broto membuka mata perlahan. “Desa itu sudah lama tidak ada.”
Angin mendadak berembus kencang. Intan refleks menoleh lagi.
Gapura itu… menghilang.
Yang tersisa hanya hutan lebat.
Dan sosok laki-laki itu—kini berdiri tepat di tengah jalan, tak sampai lima meter dari mereka.
Wajahnya bukan lagi pucat. Tapi kosong. Seperti tidak memiliki mata.
Anto mundur setapak. “Pak… ini apa maksudnya?”
Pak Broto cepat-cepat memadamkan dupa. “Masuk mobil! Sekarang!”
Mereka berlari. Intan hampir terjatuh karena tanah yang terasa lembek seperti lumpur hidup.
Begitu pintu tertutup, mobil melaju kencang. Tak ada yang berbicara. Tak ada yang berani menoleh ke belakang.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya mereka melihat lampu-lampu rumah.
“Sudah sampai,” kata Pak Broto pelan.
Desa itu tampak normal. Ada anak-anak bermain. Ada ibu-ibu menjemur pakaian. Gapura berdiri kokoh dan baru dicat.
DESA PASIR WENGI
“Ini… beda,” gumam Nurma.
Pak Broto menoleh ke mereka. Tatapannya serius.
“Kalau nanti ada yang memanggil kalian saat malam… jangan jawab.”
“Kenapa, Pak?” tanya Anto.
“Karena tidak semua warga di desa ini… hidup.”
Malam pertama mereka menginap di balai desa.
Sekitar pukul dua dini hari, Intan terbangun.
Ada suara ketukan.
Tok… tok… tok…
Pelan. Teratur. Dari bawah lantai.
Ia menahan napas.
Lalu terdengar suara lirih memanggil.
“Intan…”
Itu suara ibunya.
Air mata Intan menetes. Mustahil. Ibunya berada ratusan kilometer dari sini.
“Intan… buka pintunya…”
Anto terbangun. “Kamu dengar itu?”
Nurma juga duduk tegak, wajahnya pucat. “Suara… dari bawah?”
Ketukan berubah menjadi benturan keras.
BRAK! BRAK! BRAK!
Lantai kayu mulai retak.
Dan dari celahnya, muncul tangan panjang kurus dengan kulit abu-abu.
Tangan itu merangkak naik.
Disusul kepala sosok tinggi yang mereka lihat di gapura.
Wajahnya kini tersenyum lebar.
Terlalu lebar.
“Selamat datang… di desa yang tidak pernah kalian tinggalkan.”
Lampu padam.
Keesokan paginya, warga menemukan balai desa kosong.
Tak ada Anto. Tak ada Nurma. Tak ada Intan.
Tak ada Pak Broto.
Dan yang lebih aneh—
Tak ada mahasiswa yang terdaftar melakukan KKN di sana tahun ini.
Beberapa bulan kemudian, seorang pendaki tersesat di daerah itu.
Ia menemukan gapura tua berkarat di tengah hutan.
Tulisan di atasnya samar.
DESA PASIR WENGI
Dan di bawahnya, berdiri empat sosok.
Diam.
Menatap lurus ke arahnya.