Langit sore itu berwarna jingga pucat, seolah menahan tangis yang tak jadi jatuh. Di bangku kayu dekat jendela, Rara duduk sendiri dengan secangkir teh yang sudah lama dingin. Ia memandangi jalanan yang basah oleh hujan, seperti hatinya yang belum benar-benar kering sejak kepergian Arka.
Mereka tidak berpisah karena benci. Tidak juga karena orang ketiga. Mereka hanya kalah oleh waktu dan jarak. Arka harus pergi ke kota lain demi pekerjaan impiannya, sementara Rara memilih tetap tinggal untuk merawat ibunya yang sakit. Tidak ada yang salah. Hanya saja, tidak semua yang benar bisa tetap bersama.
“Aku nggak mau kita saling menahan,” kata Arka malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram. “Kalau memang kita ditakdirkan bersama, kita akan kembali.”
Rara tersenyum waktu itu. Senyum paling kuat yang pernah ia pakai untuk menyembunyikan retak di dalam dada. Ia mengangguk, seolah merelakan sesuatu yang sebenarnya masih ingin ia genggam erat.
Hari-hari setelahnya terasa sunyi. Tidak ada lagi pesan selamat pagi. Tidak ada lagi cerita-cerita kecil sebelum tidur. Rara sempat ingin menghapus semua foto dan kenangan, tapi jemarinya tak pernah benar-benar tega menekan tombol “hapus”.
Suatu malam, sahabatnya, Dita, datang berkunjung. Melihat Rara termenung, Dita bertanya pelan, “Masih kangen?”
Rara tertawa kecil. “Kangen itu nggak pernah benar-benar pergi, Dit. Cuma sekarang aku belajar… memberi ruang untuk merindu.”
“Memberi ruang?”
“Iya,” jawab Rara, menatap langit yang bertabur bintang. “Dulu aku pikir kalau kangen itu harus segera diobati—ditelepon, ditemui, dipastikan. Sekarang aku tahu, rindu nggak selalu harus dikejar. Kadang cukup dirasakan saja.”
Dita terdiam, membiarkan Rara melanjutkan.
“Aku nggak mau lagi memaksa keadaan. Kalau aku terus mencoba menghubungi dia hanya karena rindu, itu bukan cinta, tapi ketakutan kehilangan. Aku mau percaya, kalau memang dia untukku, dia akan kembali tanpa harus aku tarik.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perpisahan, Rara tidak menangis. Ia membiarkan kenangan datang seperti angin—singgah, menyentuh, lalu pergi. Ia tidak lagi melawannya.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Rara mulai menata hidupnya. Ia membuka kelas kecil menggambar untuk anak-anak di sekitar rumah. Ternyata, mengisi hari dengan memberi warna pada hidup orang lain membuat hatinya perlahan ikut berwarna.
Sesekali, nama Arka masih terlintas. Saat melihat langit senja. Saat mendengar lagu favorit mereka. Tapi kali ini, Rara tidak merasa hancur. Rindu itu hadir seperti tamu lama—duduk sebentar, lalu pamit dengan sopan.
Hingga suatu sore, ketika Rara sedang membereskan kuas-kuas kecil milik muridnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
“Apa kabar, Ra? Aku lagi di kota. Boleh ketemu?”
Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali. Dulu, mungkin ia akan langsung membalas dengan tangan gemetar dan hati penuh harap. Tapi sekarang, ia menarik napas panjang.
Rara tersenyum.
Ia sadar, ia tidak lagi menunggu dengan putus asa. Ia tidak lagi merasa kosong tanpa kabar. Ia telah berdamai dengan rindu, bukan melawannya.
Dengan tenang, ia membalas, “Baik. Besok sore di tempat biasa?”
Langit kembali jingga saat mereka bertemu. Tidak ada pelukan dramatis. Tidak ada air mata berlebihan. Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, kini berdiri dengan versi diri yang lebih utuh.
“Aku kangen,” ujar Arka pelan.
Rara mengangguk. “Aku juga. Tapi kali ini, aku nggak takut lagi sama rindu.”
Arka menatapnya, bingung.
Rara tersenyum lembut. “Karena aku sudah belajar memberi ruang untuk merindu. Dan di ruang itu, aku menemukan diriku lagi.”
Entah bagaimana akhir kisah mereka nanti. Bersama atau tidak. Tapi satu hal yang Rara tahu—cinta yang dewasa bukan tentang saling menggenggam tanpa jeda, melainkan tentang percaya… bahkan saat jarak memberi ruang.
Dan dalam ruang itulah, rindu tumbuh bukan sebagai luka, melainkan sebagai bukti bahwa hati pernah sungguh-sungguh mencinta.