Musim angin hampir habis. Angin tenggara mulai melemah, digantikan oleh angin barat yang lembap dan membawa mendung. Ini adalah kesempatan terakhirnya.
Arip membawa Naga Malam ke lapangan. Kali ini tidak ada festival tak ada ribuan orang. Hanya ada dia, Maman, dan Ujang. Serta beberapa ekor sapi yang merumput dengan tenang, tak peduli pada drama manusia yang sedang berlangsung.
"Anginnya mati-matian, Rip," Maman memandang pohon kelapa di kejauhan. Daun-daunnya hanya bergerak malas.
"Justru itu," Arip mengikat tali penghela terakhir. "Naga ini nggak butuh angin besar. Dia butuh angin yang cerdas."
Dia menyerahkan tali itu pada Maman. Tangan Maman yang kasar memegang kendali. Arip berjalan mundur, Jauh. Lima puluh meter. Naga Malam itu terbentang di atas rumput basah. Panjangnya mencapai lima belas meter. Hitam mengkilap seperti bayangan yang terlepas dari tubuh pemiliknya.
"Satu... dua... TARIK!"
Maman menyentak. Ujang membantu mendorong ekornya. Naga Malam itu tidak meloncat. Dia merayap. Dia naik perlahan, satu keping demi satu keping, seperti tangga yang sedang dibangun menuju surga.
Sreeeeeet.
Benang itu bersiul. Suaranya rendah, berat, berbeda dengan siulan layangan kecil. Naga itu mulai meliuk. Dia tidak panik saat angin hilang sejenak. Dia mengambang. Menunggu. Mengumpulkan sisa-sisa udara di bawah sayap-sayap parasutnya yang tipis.
Tiba-tiba, dari balik awan mendung, sebuah layangan lain muncul. Kecil. Putih polos. Tanpa ekor. Dia terbang dengan lincah, menari-nari di sekitar kepala Naga Malam.
"Siapa itu?" Ujang menyipitkan mata.
,
Arip mengenali gerakannya. Tarikan yang pendek, cepat, dan agresif. Itu Koh Ahong. Dari kejauhan, di atas balkon rumahnya yang megah, pria tua itu berdiri memegang kaleng gelasan. Dia menantang. Dia tidak peduli dengan ukuran naga Arip. Dia ingin bertarung.
"Mau main, Koh?" Arip tersenyum tipis.
Dia mengambil alih kendali dari Maman. Dia merasakan beratnya Naga Malam. Tapi dia juga merasakan kelincahan si Putih. Si Putih menukik. Dia mencoba mengincar benang penghubung kepingan naga. Dia ingin membedah naga itu lagi, seperti minggu lalu.
Tapi Arip sudah belajar. Dia tidak menarik naga itu menjauh. Dia justru mengarahkan kepala naga itu untuk "memakan" si Putih. Dia menggunakan berat naga sebagai senjata. Dengan satu hentakan bahu yang mantap, dia memutar naga itu. Ekor naga yang panjang melilit udara, menciptakan pusaran kecil.
Sing!
Benang si Putih tersangkut di kumis naga yang terbuat dari kawat baja tipis. Satu detik. Dua detik. Si Putih tercekik. Dia tidak bisa bergerak. Dia terjerat dalam tarian raksasa hitam itu.
Lalu, Arip melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia tidak memutus benang Koh Ahong. Dia justru mengulur. Dia membawa si Putih terbang bersamanya. Seekor predator dan mangsanya, menari bersama di bawah langit yang mulai meneteskan air mata pertama.