_ Genre: fantasy romance
_ Tema: cinta di tengah bencana
_ Judul tema: Kota di Bawah Langit Retak
Langit pecah pada hari Selasa.
Bukan kiasan retakan bercahaya benar-benar membelah langit di atas Kota Lumeria, seperti kaca yang dipukul dari dalam. Dari celah-celah itu turun serpihan cahaya yang berubah menjadi hujan api biru. Orang-orang berlarian. Menara jam meleleh seperti lilin. Sungai mendidih tanpa panas.
Aruna berdiri terpaku di jembatan, menggenggam liontin berbentuk daun yang berdenyut pelan. Sejak kecil ia bisa merasakan getaran aneh dari benda itu, tapi baru hari itu denyutnya seirama dengan retakan langit.
“Run! Jembatannya mau runtuh!” teriak seseorang.
Sebuah tangan menarik lengannya. Seorang pemuda berjaket abu dengan mata seterang senja menatapnya tajam. “Kalau mau selamat, jangan diam.”
“Aku tidak diam,” jawab Aruna refleks. “Aku… bingung.”
“Bingung nanti saja.” Ia setengah menyeret Aruna ke bawah lengkungan jembatan saat bagian tengahnya ambruk menjadi debu cahaya.
Namanya Elvar. Mereka bersembunyi di lorong rel tua sementara kota di atas mereka berubah menjadi bayangan biru. Dari celah tangga, tampak makhluk-makhluk seperti burung kristal berputar di udara, menjerit tanpa suara.
“Itu bukan monster,” kata Elvar pelan. “Itu pecahan dunia.”
Aruna menoleh. “Kamu bicara seolah ini biasa.”
“Aku sudah menunggu ini,” katanya.
Jawaban itu seharusnya membuat Aruna menjauh. Tapi nada suaranya bukan gila melainkan lelah.
Liontin Aruna tiba-tiba bersinar lebih terang. Elvar menatapnya kaget. “Dari mana kamu dapat itu?”
“Warisan ibu.”
“Itu Kunci Akar.”
“Semua orang bilang itu cuma perhiasan.”
“Semua orang salah.”
Sebelum Aruna sempat bertanya, tanah bergetar. Dari ujung lorong, dinding dipenuhi sulur cahaya yang tumbuh seperti tanaman cepat. Elvar berdiri di depannya, refleks melindungi.
“Ada yang bangun,” katanya. “Dan dia mencari kunci itu.”
“Maksudmu… aku?”
“Kita,” koreksinya singkat. “Kalau kunci aktif, pemegangnya tidak pernah sendirian.”
Mereka keluar lewat terowongan lain dan mendapati kota berubah menjadi hutan cahaya. Gedung-gedung dililit akar transparan. Langit retak semakin lebar, seperti membuka mata raksasa.
Elvar memimpin jalan seolah hafal rute rahasia. Di sebuah lapangan terbuka, berdiri pohon perak raksasa yang sebelumnya tidak pernah ada. Daunnya seperti cermin.
“Ini Jantung Penopang,” kata Elvar. “Dunia kita ditopang akar dari dimensi lain. Retakan langit artinya sambungan putus.”
Aruna menatapnya. “Kamu ini siapa sebenarnya?”
Ia tersenyum kecil. “Penjaga sambungan. Tidak resmi. Gagal berkali-kali.”
“Gagal?”
“Tiga kota sebelumnya hilang.”
Jawaban itu menusuk, tapi bukan karena menakutkan melainkan karena cara Elvar mengatakannya tanpa membela diri.
Dari balik pohon, muncul sosok tinggi berjubah cahaya gelap. Wajahnya seperti topeng retak. Udara menjadi berat.
“Pembawa Kunci,” gema suaranya. “Kembalikan. Dunia ini tidak stabil. Biarkan runtuh.”
Aruna gemetar. Elvar berdiri di depannya. “Dia tidak runtuh. Dia sakit.”
“Semua yang sakit harus diakhiri,” jawab sosok itu.
Pertarungan tidak seperti pedang atau api melainkan benturan cahaya dan bayangan. Elvar menciptakan garis-garis simbol di udara, menahan gelombang gelap. Tanah di sekitar mereka berubah menjadi pasir berkilau.
Aruna merasa liontinnya panas. Suara lembut seperti bisikan hutan memenuhi kepalanya.
Tanam kembali.
“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya.
“Dekati pohon!” teriak Elvar, terhuyung. “Kunci harus ditautkan ulang!”
“Aku tidak tahu caranya!”
“Percaya saja dulu teknis menyusul!”
Aneh, tapi Aruna tertawa tegang mendengarnya. Di tengah kiamat kecil, candaan itu terasa hangat.
Ia berlari ke pohon perak. Sosok berjubah mencoba menghalangi, tapi Elvar menahan dengan sisa tenaga. Cahaya dan gelap saling mengikat seperti dua badai.
Aruna menempelkan liontin ke batang pohon. Retakan menjalar bukan merusak, tapi membuka lapisan. Di dalamnya ada cahaya hijau lembut, berdenyut seperti jantung.
Kenangan muncul bukan miliknya: dunia-dunia yang terhubung akar, orang-orang yang saling menolong tanpa saling kenal, dan seorang penjaga yang selalu datang terlambat.
Elvar.
“Maaf,” bisik Aruna, tidak yakin kenapa.
Pohon menyerap liontin. Akar cahaya meledak ke langit, menjahit retakan satu per satu. Hujan api biru berubah menjadi hujan daun.
Sosok berjubah menjerit tanpa suara lalu pecah menjadi debu bintang.
Sunyi turun perlahan.
Kota tidak sepenuhnya kembali, beberapa bangunan tetap transparan, beberapa jalan menjadi jalur akar bercahaya. Tapi langit utuh.
Elvar jatuh berlutut. Aruna berlari menghampiri. “Hei! Kamu hidup?”
“Sejauh definisi longgar,” katanya lemah.
“Kamu selalu bercanda setelah hampir hancur?”
“Statistik menunjukkan itu membantu.”
Aruna duduk di sampingnya. “Kamu bilang sudah gagal tiga kota.”
“Iya.”
“Berarti kali ini tidak.”
Elvar menatap pohon perak yang kini mengecil menjadi tunas. “Kali ini karena kamu.”
“Karena kita,” koreksi Aruna.
Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum. “Aku tidak terbiasa ‘kita’.”
“Biasakan.”
Angin membawa daun cahaya berputar di sekitar mereka. Kota yang rusak tampak seperti lukisan yang belum selesai aneh tapi indah.
“Elvar,” kata Aruna pelan. “Setelah ini kamu ke mana?”
“Biasanya pergi sebelum dirayakan.”
“Coba sekali ini jangan.”
“Kenapa?”
Aruna berpikir, lalu jujur. “Karena aku ingin mengenalmu saat tidak ada kiamat.”
Elvar berkedip, jelas tidak siap. “Itu. Alasan yang sangat tidak heroik.”
“Aku juga bukan pahlawan.”
“Hm.” Ia menatapnya lama, bukan canggung—lebih seperti memastikan sesuatu nyata. “Baik. Tapi kalau langit retak lagi”
“Kita perbaiki lagi.”
“Kamu optimis sekali.”
“Aku punya pengalaman satu kali berhasil,” katanya ringan.
Elvar tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, tidak terdengar lelah.
Di atas mereka, langit senja terbentuk ulang—tanpa retakan. Namun garis tipis cahaya masih terlihat, seperti bekas jahitan. Pengingat bahwa dunia pernah hampir runtuh, dan dua orang asing memilih berdiri, bukan lari.
“Aruna,” kata Elvar.
“Ya?”
“Terima kasih sudah tidak diam di jembatan.”
Aruna tersenyum. “Terima kasih sudah menarik tanganku.”
Daun-daun cahaya berjatuhan seperti salju hangat, dan di tengah kota setengah ajaib itu, sesuatu tumbuh, bukan dari akar dimensi lain, tapi dari keputusan sederhana tetap tinggal.
----------------
Setelah menikah
Hujan turun ke atas.
Bukan ke tanah melainkan naik ke langit, membentuk aliran air terbalik seperti sungai yang pulang. Itulah tanda dunia mulai terlepas dari porosnya. Orang-orang bersembunyi di rumah, menutup jendela, berdoa agar gravitasi ingat caranya bekerja.
Di tepi kota, di sebuah rumah kayu dengan lampu teras yang masih menyala, Aruna melipat pakaian dengan tangan gemetar. Bukan karena takut tapi karena ia tahu tanda itu.
Waktu yang dijanjikan akhirnya datang.
Pintu terbuka pelan. Elvar masuk membawa kayu bakar, seolah tidak ada yang aneh di langit. Ia tersenyum saat melihat istrinya.
“Aku kalah,” katanya ringan. “Ayam-ayam itu lebih dulu masuk kandang daripada aku.”
Aruna menatapnya lama, menghafal wajah itu seperti halaman terakhir buku. “Kamu lama.”
“Aku sengaja muter dulu. Kalau dunia mau rusak, setidaknya aku lihat desa sekali lagi.”
“Kamu bercanda terus.”
“Karena kamu tegang terus.”
Mereka sudah menikah 4 tahun. Rumah itu dibangun dari sisa kapal karam dan doa panjang. Di dinding tergantung peta langit penuh coretan simbol milik Elvar.
“Kapan mulai?” tanya Elvar lembut.
“Segera,” jawab Aruna.
Ia tidak pernah berbohong padanya. Itu aturan kecil pernikahan mereka.
Elvar meletakkan kayu, lalu mendekat. “Berapa lama?”
Aruna menggeleng. “Tidak ada hitungan waktu di sana.”
“Berarti lama.”
“Elvar.”
“Aku cuma ingin dengar kamu bilang jangan pergi,” katanya pelan. “Walau aku tetap pergi.”
Aruna tertawa kecil, tapi air matanya jatuh. “Kamu keras kepala sejak pertama kenal.”
“Kamu tetap menikahi ku.”
“Itu kesalahanku yang paling tepat.”
Di luar, hujan yang naik berubah menjadi butiran cahaya. Langit seperti danau retak.
Elvar penahan retakan salah satu dari sedikit orang yang bisa menutup robekan dimensi. Harga kemampuannya sederhana dan kejam setiap penutupan besar membutuhkan satu penahan untuk tinggal di sisi lain.
”Selamanya.” Elvar
“Cincinmu hangat,” kata Aruna.
“Punyamu juga.” Elvar mengangkat tangan mereka. Cincin kayu berukir akar itu berdenyut pelan terhubung satu sama lain oleh sihir lama. “Masih sinkron. Berarti kamu masih mencintaiku.”
“Masih?”
“Aku cek rutin.”
Aruna memukul lengannya pelan. Lalu memeluknya erat. Tidak dramatis justru seperti kebiasaan. Itulah yang membuatnya menyakitkan.
“Aku benci takdir ini,” bisik Aruna di dadanya.
“Aku juga. Tapi aku suka kamu ada di takdirku.”
Rumah bergetar halus. Debu jatuh dari langit-langit, melayang ke atas.
“Sudah buka gerbang,” kata Aruna lirih.
Elvar mengangguk. “Aku pamit ke dapur dulu.”
“Kenapa?”
“Kompor belum ku matikan. Dunia boleh berakhir, rumah jangan meledak.”
Aruna tertawa sambil menangis. “Dasar.”
Mereka berjalan bersama ke halaman. Di udara terbuka lingkaran cahaya seperti cermin air. Di dalamnya tampak hutan terbalik dan bintang di bawah kaki.
Gerbang Retakan.
“Dulu waktu menikah,” kata Elvar, “kamu janji ikut aku ke mana pun.”
“Jangan pakai sumpah nikah untuk menipu.” kata Aruna
“Aku cuma negosiasi.” kata Elvar
“Ditolak.” Aruna
Ia mengeluarkan syal merah tua, syal pertama yang dirajut Mara saat mereka belum punya apa-apa. Elvar melilitkannya di pergelangan tangan.
“Biar kamu bisa marah kalau aku telat pulang,” katanya.
“Aku pasti marah.” kata Aruna
“Aku harap begitu.” kata Elvar
Aruna menatap wajah suaminya, mengingat semua hal kejadian di jembatan cara dia selalu memiringkan gelas sebelum minum, cara dia membaca peta terbalik, cara dia pura-pura tidak takut petir.
“Aku belum siap,” kata Aruna.
“Aku juga.” Elvar tersenyum tipis. “Tapi retakan tidak tanya kesiapan.”
“Kalau ada cara lain.” kata Aruna
“Sudah kucari sepuluh tahun.” kata Elvar
Elvar menggenggam bajunya. “Aku tidak mau kenangan jadi benda terakhir.” katanya Aruna
“Bukan terakhir.” Elvar menyentuh keningnya ke kening Aruna. “Cuma berubah bentuk.”
Cahaya gerbang makin kuat. Angin mengarah masuk.
“Aku mau kamu dengar ini,” kata Aruna cepat, seolah waktu bisa habis di tengah kalimat. “Kalau dunia menawarkan pengganti, jangan ambil. Kalau kesepian marahi aku di langit. Kalau lupa ingat aku keras kepala.”
Elvar tertawa pelan. “Perintah yang banyak untuk orang yang mau pergi sebentar.”
“Sebentar?” kata Aruna
“Dalam skala cinta, selamanya itu sebentar.” kata Elvar
Aruna terisak. “Gombal.”
“Aku latihan bertahun-tahun.” katanya Elvar
Ia mencium kening Aruna lama bukan penuh api, tapi penuh rumah. Sentuhan yang berkata "pulanglah" meski tahu tidak bisa.
“Terima kasih sudah jadi istriku,” katanya Elvar.
“Terima kasih sudah jadi suamiku,” jawab Aruna. “Itu lebih berat.”
Gerbang berdenyut seperti jantung.
Elvar melangkah mundur satu langkah ke cahaya. Syal merah menegang di antara mereka.
“Kalau aku berhasil,” katanya, “langit kembali biru.”
“Kalau gagal?” kata Aruna
“Kamu tetap hidup.” kata Elvar
“Aku tidak suka opsi itu.” kata Aruna
“Aku tahu.” kata Elvar
Syal itu mulai berubah jadi cahaya, terurai.
“Elvar!” panggil Aruna.
“Ya?”
“Aku akan tetap bicara padamu tiap malam.” kata Aruna
“Aku akan tetap mendengar.” kata Elvar
“Kamu tidak boleh jawab.” kata Aruna
“Seperti biasa kalau kamu cerita panjang,” katanya lembut.
Aruna tertawa di sela tangis.
Langkah terakhir diambil.
Cahaya menutup.
Langit berhenti retak. Hujan kembali jatuh ke tanah sebagaimana mestinya.
Halaman sunyi.
Di pergelangan tangan Aruna, bekas lilitan syal berubah menjadi garis cahaya hangat, seperti cincin kedua yang tidak terlihat orang lain.
Malam itu ia duduk di teras sendirian, menyiapkan dua cangkir teh seperti biasa.
Yang satu mendingin tanpa disentuh.
Ia tersenyum sambil berbisik ke langit biru yang telah sembuh,
“Aku tidak membatalkan janji. Aku tetap di sini.” katanya lembut.
Dan garis cahaya di pergelangan tangannya berdenyut pelan seperti jawaban.
Akhirnya ceritanya pun selesai dan terima kasih setelah membaca cerpen!
Ku persembahkan untuk : GC Ruang Menulis