Satu minggu berlalu. Kamar Arip bukan lagi sekedar kamar. Itu adalah kuburan massal bagi ambisi yang prematur. Bau kopi basi menyatu dengan aroma apak lem kanji yang mengering di pinggiran kaleng. Arip duduk di tengah-tengahnya. Bersila Kakinya kesemutan, mati rasa, tapi dia tidak peduli.
Dia menatap sebilah bambu petung yang baru. Warnanya kuning gading, tua, berumur. Bambu yang sudah direndam di lumpur sawah selama tiga bulan agar seratnya tidak gampang patah tapi tetap lentur seperti lidah ular.
"Jangan terlalu kaku, Rip," bisiknya pada diri sendiri.
Tangannya mulai meraut lagi. Sret, Sret, sret. Bunyinya lebih halus sekarang. Lebih hati-hati. Dia tidak lagi memburu waktu. Dia sedang mendengarkan serat kayu itu bicara. Dia merasakan urat-urat bambu yang menolak untuk menyerah pada pisau rautnya.
Di luar, hujan turun deras. Tik-tik-tik di atas atap seng. Suaranya seperti ribuan jari kecil yang mengetuk, menagih janji. Arip berhenti sejenak. Dia membayangkan naga jingganya yang putus waktu itu. Di mana dia sekarang? Apakah tersangkut di puncak pohon beringin keramat di pinggir desa? Atau sudah hancur lebur dihajar air hujan, menjadi bubur kertas yang menyedih di atas genteng orang asing?
Dia menggeleng. Tidak, Naga itu tidak hancur. Dia hanya... sedang mencari jalannya sendiri.
Arip mengambil benang nilon nomor sepuluh. Tebal. Dingin. Dia tidak mengikat keping-keping itu seperti kemarin. Kali ini, dia menggunakan sistem engsel. Bambu bertemu bambu dengan perantara sendi kulit kerbau yang liat.
"Biar dia bisa bernapas," gumamnya.
Dia menempelkan kain parasut yang lebih ringan. Bukan lagi jingga yang menyolok, tapi hitam pekat dengan aksen perak di tepiannya. Naga Malam, Begitu dia menamakannya dalam hati.
Pikirannya melompat-lompat. Teringat wajah Koh Ahong yang tertawa saat layangan kuningnya putus. Teringat mata Maman yang mendadak lembut saat melihat naga itu terbang. Teringat tangan ibunya yang selalu gemetar saat menuangkan nasi ke piringnya, tanpa pernah bertanya kenapa anaknya lebih sering bicara dengan bambu daripada dengan manusia.
Dunia di luar sana berantakan. Harga beras naik. Pabrik tahu tempat ayahnya bekerja mulai goyah. Tapi di kamar ini? Di bawah cahaya lampu tempel yang meredup? Dia yang menentukan siapa yang akan terbang, siapa yang akan jatuh, dan siapa yang akan tetap tinggal di bumi sebagai sampah.