Lalu, bunyi itu datang. Tik.
Sangat halus. Lebih halus dari patahnya ranting kering. Tapi bagi telinga Arip, itu seperti ledakan meriam. Keping nomor lima belas. Benang penghubungnya tidak kuat. Gesekan nilon pada bambu yang kurang halus amplasnya. Panas. Putus.
Naga itu terbelah dua.
Bagian ekor lima belas keping tanpa kepala melayang jatuh seperti dedaunan musim gugur yang bingung. Penonton berteriak. Orang-orang berlarian menghindar. Dan kepalanya? Kepalanya masih di tangan Arip, tapi dia kehilangan keseimbangan. Tanpa ekor yang panjang sebagai pemberat, kepala naga itu mulai berputar gila. Stall.
"Ulur, Rip! Ulur!" teriak Maman.
Tapi Arip diam. Dia melihat naga ciptaannya hancur di udara. Dia melihat keindahan yang dibangunnya dengan keringat dan darah itu terurai menjadi sampah bambu dalam hitungan detik. Dia menarik napas dalam. Bau debu, bau keringat Maman, bau kebebasan.
Dia tidak mencoba menyelamatkan kepalanya. Dia mengambil pisau kecil di sakunya. Sret.
Arip memutus benang utamanya. Kepala naga itu, yang sekarang ringan tanpa beban, justru melesat naik lebih tinggi lagi. Tertawa terbawa angin badai. Hilang ditelan kegelapan malam, menuju tempat di mana tidak ada lagi bumi yang bisa menahannya.
Lapangan kembali sepi. Lampu-lampu sorot dimatikan satu per satu. Arip duduk di tengah lapangan, memegang kaleng kosong. Maman dan Ujang duduk di sampingnya, diam, menghargai duka yang tak butuh kata-kata.
"Besok?" tanya Maman pelan.
Arip melihat tangannya yang terbalut perban darurat dari sobekan baju Ujang. Dia melihat sisa-sisa bambu naga yang hancur di ujung lapangan. Dia tersenyum. Bukan senyum sedih, tapi senyum seorang pencipta yang baru saja menemukan rahasia baru.
"Besok kita pakai nilon nomor sepuluh. Dan bambunya... bambunya harus direbus dulu biar nggak tajam," jawab Arip.
Dunia mungkin berantakan. Rencana mungkin putus di tengah jalan. Tapi di kepala Arip, sebuah naga yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih abadi sudah mulai mengepakkan sayapnya. Dia tidak butuh layangan utuh untuk merasa menang. Dia hanya butuh ruang untuk terus meraut, terus menempel, dan terus percaya bahwa langit seluas apa pun itu hanyalah sebuah kanvas yang menunggu coretan benangnya.
Arip bangkit melangkah pulang. Langkahnya ringan. Di atas, di antara awan hitam, mungkin naga itu masih terbang tanpa tuan, tanpa benang. Hanya sebuah mimpi jingga yang menolak untuk jatuh.