Sore itu, langit tak berwarna biru tapi Langit berwarna ungu lebam, seolah-olah baru saja dipukuli oleh badai yang gagal datang. Angin bertiup kasar. Bukan angin yang ramah, tapi angin yang ingin merobek apa saja yang berani naik ke wilayahnya.
Arip menyeret karung besar. Di dalamnya, Sang Naga terlelap. Di lapangan utama kota, ribuan orang berkumpul. Ini bukan lagi urusan bocah ingusan seperti Ujang atau preman pasar seperti Maman. Ini adalah panggung para raksasa.
Ada layangan berbentuk gurita sebesar rumah. Ada layangan burung garuda dengan bentang sayap sepuluh meter. Suaranya gemuruh. Wung... wung... wung... Suara senderan senar bambu yang bergetar ditiup angin membuat suasana seperti di dalam perut tawon raksasa.
Arip mencari tempat Di pojok yang agak sepi. Dia mulai mengeluarkan keping demi keping. Satu. Lima. Sepuluh. Orang-orang mulai menoleh. Anak-anak kecil berhenti berlari. "Lihat! Itu naga si Arip!"
Arip tidak bangga. Dia justru mual. Perutnya melilit. Bagaimana kalau kepalanya terlalu berat? Bagaimana kalau nilonnya putus dan naga ini terbang menabrak penonton? Bayangan jeruji besi dan ganti rugi jutaan rupiah menari-nari di kepalanya.
"Butuh bantuan, Rip?"
Itu Maman. Dia berdiri di sana, tanpa cutter, tanpa dendam. Hanya ada kekaguman yang jujur di matanya yang merah. Di sampingnya ada Ujang, memegang segulung besar tali tambang plastik kecil tali penghela.
Arip mengangguk. "Pegang ekornya. Jangan dilepas sampai gua teriak."
Angin datang dalam satu hantaman besar. Rumput-rumput lapangan merunduk. Debu naik setinggi dada. "SEKARANG!"
Maman melepas ekornya. Arip berlari sekuat tenaga. Kepala naga itu terangkat. Mulutnya menganga, seolah menghirup seluruh udara di lapangan. Sret! Benang menyayat telapak tangan Arip dia lupa memakai sarung tangan kulit. Darah segar membasahi tali tambang, tapi dia tidak peduli.
Satu keping naik. Dua keping. Sepuluh. Dua puluh. Di langit, naga itu mulai terbentuk. Jingga menyala di antara langit ungu. Dia meliuk. Dia tidak terbang lurus; dia benar-benar berenang. Ekornya yang panjang menari-nari, membelah awan tipis seperti pisau panas membelah mentega.
"NAIK! TERUS NAIK!" teriak Ujang kegirangan.
Arip merasakan bebannya. Berat sekali. Seolah-olah dia sedang menahan seekor kuda yang ingin lari ke hutan. Seluruh otot lengannya menegang. Tulang belikatnya terasa mau copot. Tapi dia tertawa. Ketawa yang gila, yang lepas, yang sudah dipendamnya selama sebulan di kamar gelap itu.
Di atas sana, Sang Naga melewati layangan gurita. Dia melewati garuda. Dia adalah yang tertinggi. Lampu LED di matanya menyala merah, berkedip-kedip, menantang bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu