Kantor surat kabar Warta Harapan terasa lebih sepi dari biasanya malam itu. Lampu neon yang mulai berkedip-kedip menerangi lorong sempit, menciptakan bayangan panjang yang bergoyang seperti makhluk hidup. Kurnia duduk di mejanya, seluruh tubuh tertutup kain hitam—baju, celana, bahkan syal yang melingkari lehernya. Di atas meja ada gelas hitam bertuliskan "ALL BLACK EVERYTHING", isinya sudah dingin sepenuhnya.
"Sudah tiga orang dalam seminggu, Kurnia," ujar Ade dari depan pintu, gaun merahnya mencolok seperti percikan warna di tengah kegelapan. Rambutnya juga diikat dengan pita merah muda, setiap gerakannya membuat warna itu berkilau. "Semua menghilang tanpa jejak. Yang terakhir adalah Pak Jong dari bagian redaksi foto."
Kurnia tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada layar komputer yang menampilkan berita tak terbit tentang kasus hilangnya itu. "Kita tidak boleh berisik, Ade. Atasan bilang ini hanya masalah administrasi belaka."
"Tapi mereka menghilang bersama semua berkas kasus yang sedang mereka selidiki!" suara Ade sedikit meninggi, kemudian dia menutup mulutnya dengan cepat saat mendengar langkah kaki di lorong.
Dije muncul dengan jaket corak batik cerah yang selalu membuatnya terlihat seperti bintang di malam hari. Rambutnya yang keriting dipotong pendek, dan dia membawa secangkir kopi dengan cangkir warna oranye muda. "Kalian lagi bahas kasus itu kan?" dia duduk di kursi kosong di samping Kurnia, matanya berkelip dengan tatapan yang misterius. "Saya menemukan sesuatu di lemari arsip Pak Jong. Ada sebuah berkas dengan label... 'Semua Warna akan Kembali ke Hitam'."
Kurnia akhirnya menoleh, matanya yang gelap seperti malam tanpa bulan tak menunjukkan emosi apa pun. Dia mengambil gelas hitamnya dan mengangkatnya perlahan. "Kamu tidak boleh menyentuh berkas itu, Dije. Beberapa hal sebaiknya tetap tersembunyi di dalam kegelapan."
Malam semakin larut. Suara mesin pendingin yang berdecak menjadi satu-satunya teman mereka di kantor kosong. Ade mulai merasa bulu kuduk merinding—seolah ada pasangan mata lain yang mengawasi mereka dari balik tirai kantor yang kusam. Dije mencoba membuka lemari arsip lagi, tapi pintunya terkunci rapat. Saat dia memutar kunci dengan kuat, suara gesekan menembus ke telinga mereka—seolah ada sesuatu yang terlepas dari dalam.
Kurnia berdiri perlahan, lalu berjalan menuju jendela. Dari sana dia bisa melihat kota yang tertutup oleh malam hitam, hanya diterangi oleh lampu-lampu kecil yang seperti mata yang berkedip. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang menyentuh pundaknya—sebuah sentuhan dingin seperti embun pagi, padahal di sekitarnya hanya dia sendiri.
"Kalian tahu tidak," ujar Kurnia dengan suara yang lembut tapi menyakitkan, "setiap orang yang menghilang itu pernah mencoba membuka rahasia yang tidak seharusnya mereka ketahui. Mereka berpikir bisa mengubah warna dunia, tapi akhirnya mereka sendiri yang larut dalam gelap..."
Ade melihat Dije dengan wajah pucat. Kedua mereka menyadari bahwa sepanjang malam, Kurnia tidak pernah berubah posisi saat berbicara—bahkan ketika suara itu seolah datang dari arah berbeda. Dan di dinding belakang mereka, bayangan panjang dari sosok tak dikenal mulai terbentuk, menyatu dengan warna hitam yang dikenakan Kurnia...
Di dinding belakang meja Pak Jong, ditemukan beberapa kalimat yang dicoret-coret dengan cat hitam pekat, seolah ditulis dengan gerakan yang penuh tekanan:
"Bayanganmu tahu semua rahasiamu, dan ia mencari untuk berbagi tempat denganmu."
"Di kedalaman kegelapan, ingatan yang terlalu berat bagi cahaya untuk menampungnya mulai merayap keluar."
"Mereka yang menghilang tidak pergi—mereka hanya menjadi bagian dari kain yang membungkus dunia."
"ALL BLACK EVERYTHING… bahkan esensimu akan kembali ke warna asalnya."
"Ketika bayangan mulai menyatu dengan bayangmu sendiri, kamu akan menyadari—kamu tidak pernah sendirian."
...
Malam berikutnya
Kantor Warta Harapan tampak lebih menyeramkan. Lampu neon beberapa bagian sudah padam total, menyisakan hanya sedikit cahaya dari lampu darurat yang berwarna kemerahan. Ade duduk di mejanya, gaun merahnya sekarang terlihat lebih seperti percikan warna yang mengering di kain. Dia sedang menelusuri berkas lama Pak Jong di laptopnya, tangannya gemetar saat menemukan sebuah folder tersembunyi bernama "Kode Warna".
"Kurnia, Dije—lihat ini!" jerit Ade dengan suara teredam. Di layar muncul daftar nama pekerja yang hilang, masing-masing diikuti oleh catatan warna: "Pak Jong - Hijau Tua", "Bu Rie - Biru Laut", "Mas Antoni- Kuning Emas". Dan di akhir daftar, ada tiga nama lagi dengan warna yang belum terisi: "Kurnia - Hitam", "Ade - Merah", "Dije - Campuran".
Kurnia masuk dengan langkah yang tidak membuat suara apa pun. Gelas hitamnya masih tergenggam erat di tangannya. "Kamu tidak seharusnya membuka itu, Ade." Suaranya dingin seperti malam pegunungan, tapi ada nada tekanan yang belum pernah muncul sebelumnya. "Setiap warna memiliki peran di dunia ini. Mereka yang hilang mencoba mengganti peran mereka sendiri."
Dije datang membawa secarik kertas yang ditemukannya di bawah karpet ruang rapat. Corak batiknya yang cerah kini terlihat kusam di bawah cahaya kemerahan. "Ini catatan tangan Pak Jong," katanya sambil membacanya pelan-pelan. "Ada sebuah tradisi kuno yang terkait dengan surat kabar ini. Pendiri kantor kita dulu adalah seorang seniman yang percaya bahwa warna bisa menyimpan esensi manusia. Siapa pun yang mencoba mengungkap rahasia ini akan dipanggil oleh 'Pelindung Warna' dan kembali ke warna dasar mereka..."
Di bagian bawah catatan itu, terdapat beberapa baris tulisan yang tampak ditulis dengan tangan yang gemetar:
"Setiap warna memiliki batas yang tak boleh dilampaui—melampauinya berarti menghilang dalam bayangan."
"Kode Warna bukan sekadar daftar nama—it adalah peta jalan menuju asal-usul kita."
"Pelindung tidak memilih secara kebetulan—mereka yang mencari rahasia akan ditemukan."
"Warna yang kamu pilih bukanlah identitasmu—melainkan rumah yang harus kamu kembalikan."
"Ketika tiga warna bertemu pada malam yang tepat, pintu akan terbuka untuk yang terakhir kalinya."
Ade merasa dada tertekan. Hubungan mereka yang dulunya hangat kini penuh dengan keraguan. Dia menatap Kurnia yang selalu serba hitam, lalu ke Dije yang selalu penuh warna. "Apakah salah satu dari kalian tahu tentang ini?"
Tiba-tiba lampu seluruh kantor padam total. Hanya ada cahaya dari layar laptop Ade yang berkedip-kedip. Suara langkah kaki pelan terdengar dari arah ruang arsip—tap... tap... tap—seolah dibuat oleh langkah yang tidak memiliki bentuk fisik.
Kurnia berdiri dan menghadap arah suara itu. "Pelindung sudah datang," katanya dengan suara yang tenang seperti sedang menyambut tamu lama. "Mereka yang hilang tidak mengerti bahwa hitam bukanlah warna akhir—melainkan tempat di mana semua warna kembali untuk menemukan kedamaian. Pak Jong mencoba mengambil warna dari orang lain, Bu Rie mencoba menyembunyikan warna aslinya, Mas Antoni mencoba menguasai semua warna..."
Dije meraih tangan Ade yang dingin. "Kita harus pergi dari sini," bisiknya. Tapi ketika mereka hendak berlari, pintu kantor terkunci rapat. Dari balik tirai gelap, sosok tinggi dengan jas hitam panjang muncul. Di tangannya ada sebuah ember berisi cairan hitam pekat yang mengkilap, dan di depannya ada tiga mangkuk kecil—satu hitam, satu merah, satu berisi campuran warna yang mengalir satu sama lain.
"Ade dengan warna merahnya yang penuh semangat—kamu selalu ingin menyala lebih terang dari yang lain," suara sosok itu seperti bisikan ribuan daun yang bergerak sekaligus. "Dije dengan warna campuranmu yang penuh kehidupan—kamu selalu ingin menyatukan segala sesuatu. Dan Kurnia dengan warna hitammu yang dalam—kamu yang telah memilih untuk menjadi penjaga pintu..."
Kurnia melangkah menuju sosok itu, lalu mengangkat gelasnya yang bertuliskan "ALL BLACK EVERYTHING". "Saya sudah tahu dari awal," katanya sambil melihat Ade dan Dije dengan mata yang penuh kesedihan. "Saya adalah satu-satunya yang bisa menjaga keseimbangan. Mereka yang hilang tidak hanya yang terpilih—mereka adalah bagian dari keseluruhan yang menjaga kantor ini tetap berdiri. Dan sekarang, giliran kita untuk memilih..."
Ade merengut, tangannya masih terpegang erat oleh Dije. Dia melihat mangkuk merah yang berkilau di bawah cahaya layar, lalu melihat wajah Kurnia yang kini tampak seperti seseorang yang telah membawa beban rahasia selama bertahun-tahun. Dije menatap mangkuk campuran warnanya, matanya penuh dengan ketidakpercayaan bahwa hubungan mereka yang dulu kokoh kini harus dihadapkan pada keputusan yang tak terduga. Pada saat yang sama, layar laptop Ade tiba-tiba menunjukkan pesan baru yang muncul dengan sendirinya: "Pilihanmu akan menentukan nasib semua warna..."