Gerimis tipis menyambut Reitama Azzai dan gengnya saat kaki mereka turun dari kereta lokal di Stasiun Kiso-Fukushima. Stasiunnya sepi, cuma ada satu petugas yang sudah sepuh dan suara mesin otomatis yang humming pelan.
"Rei, yakin ini tempatnya? Gue ngerasa kayak lagi masuk ke set film horor A24, deh," celetuk Bagas sambil membetulkan letak beanie-nya. Dia sibuk nge-scrolling Google Maps yang sinyalnya naik-turun kayak mood gebetan.
Rei cuma ketawa tipis, tipe ketawa cool yang bikin dia punya 50k followers di TikTok. "Tenang, Gas. Lo liat sendiri kan di TikTok si @J-VibesKemarin? Ini hotel 'hidden gem' paling aesthetic se-Nagano. Old money vibes, klasik Jepang, jauh dari hiruk pikuk Shibuya. Healing beneran ini mah."
Di belakang mereka, Anya dan Chika sibuk mirror selfie di kaca stasiun yang agak berdebu. "Pokoknya gue butuh konten quiet luxury buat Reels gue. Capek banget dibilang 'turis mainstream' mulu," timpal Anya sambil mengibaskan rambutnya yang dicat ash grey.
Mereka berempat akhirnya naik taksi tua menuju hotel bernama "Komorebi No Mori". Perjalanannya makin ke dalam hutan, makin bikin merinding. Pohon cedar raksasa berjejer rapi, menutupi cahaya matahari yang emang udah redup. Pas nyampe, bangunan hotelnya beneran kayak dari zaman Edo, tapi versi yang sangat terawat. Kayu gelap, lampion kertas yang bergoyang kena angin, dan keheningan yang... well, agak terlalu hening.
Pas masuk ke lobi, baunya langsung beda. Bau dupa kayu cendana dicampur aroma tanah basah. Nggak ada musik lofi atau pop Jepang yang biasa diputar di kafe Tokyo. Cuma suara aliran air dari pancuran bambu di taman tengah.
"Permisi... Sumimasen?" panggil Rei.
Seorang nenek berbaju kimono warna indigo muncul dari balik pintu geser (shoji). Jalannya pelan banget, nggak ada suaranya sama sekali. Dia cuma nunduk, lalu tersenyum tipis banget—tipe senyum yang nggak nyampe ke mata.
"Gila, vibe-nya dapet banget. Ancient core," bisik Chika sambil berusaha nggak kelihatan takut.
Setelah proses check-in yang minim kata-kata, mereka diantar ke kamar di lantai dua. Lantainya kayu asli, bunyinya kriet-kriet setiap kali diinjak. Bagas bisik-bisik ke Rei, "Eh, ini bukan bunyi kayu biasa kan? Katanya bangunan Jepang dulu punya 'nightingale floor' biar pencuri ketahuan. Tapi ini bunyinya kayak lagi njerit, shay."
"Halah, paranoid lo. Ini namanya authentic experience," balas Rei, meski sebenarnya tengkuknya mulai terasa dingin.
Malam itu, mereka makan malam di kamar dengan menu Kaiseki yang super lengkap. Sashiminya segar, wasabinya asli, tapi suasananya awkward parah. Soalnya, selain mereka berempat, kayaknya nggak ada tamu lain. Hotel sebesar ini, tapi lorongnya gelap gulita kalau lampu lampion nggak nyala.
Selesai makan, mereka nongkrong di beranda kayu yang menghadap langsung ke hutan gelap.
"Eh, kalian ngerasa nggak sih?" tanya Anya tiba-tiba. Dia naruh HP-nya di meja. "Sinyal gue dead total. Padahal tadi di lobi dapet LTE."
"Sama," sahut Chika. "Gue mau nge-post foto hot spring tadi sore aja failed terus. Mood banget emang ini hutan, mau kita digital detox paksa apa gimana?"
Rei mencoba tetap santai. "Ya bagus dong. Kita emang ke sini buat deep talk, bukan buat scrolling FYP. Coba dengerin deh, suaranya tenang banget."
Mereka diam. Tapi bukannya tenang, suara hutan itu malah kedengeran... ramai. Ada suara seperti orang berbisik di antara pohon-pohon, suara gesekan kain, dan bunyi klontang lonceng kecil yang jauh tapi jelas.
Tiba-tiba, pintu geser di kamar sebelah—yang harusnya kosong—terdengar terbuka. Sreeeeek.
Lalu ada suara langkah kecil yang sangat cepat. Tap-tap-tap-tap.
Bagas langsung nempel ke punggung Rei. "Anjir, itu apaan? Tadi si nenek bilang nggak ada tamu lain di lantai ini!"
"Mungkin staf lagi beresin kamar?" tebak Rei, walau suaranya agak gemetar.
"Beresin kamar jam 11 malem? Di hotel klasik yang lampunya aja redup-redup gini? Make it sense, Rei!" Anya mulai panik.
Rasa penasaran (dan rasa nggak mau kelihatan penakut di depan cewek-cewek) bikin Rei mutusin buat ngecek keluar. Bagas terpaksa ikut sambil megang payung transparan, jaga-jaga kalau perlu alat bela diri darurat.
Lorong hotel itu panjang banget. Lampu minyak di dinding kayak nari-nari kena angin yang entah datang dari mana. Pas mereka lewat di depan kamar nomor 404 (nomor yang sebenarnya jarang ada di Jepang karena dianggap sial), pintunya sedikit terbuka.
Rei ngintip. Di dalam kamar yang gelap itu, ada seorang perempuan pakai kimono putih lagi duduk membelakangi pintu. Dia lagi nyisir rambutnya yang panjang banget sampai lantai.
"Misi, Mbak..." kata Rei pelan.
Perempuan itu berhenti nyisir. Kepalanya muter 180 derajat ke arah Rei. Wajahnya nggak ada matanya, cuma kulit rata yang pucat kayak kertas.
"CABUT, REI! CABUT!" teriak Bagas yang langsung narik jaket Rei.
Mereka lari maraton balik ke kamar, nggak peduli lagi sama aesthetic atau image cool. Pas nyampe kamar, Anya dan Chika lagi pucat pasi sambil ngetuk-ngetuk layar HP mereka yang mendadak nyala sendiri, nampilin gambar statis abu-abu kayak TV rusak.
"Tadi... tadi ada yang ngetuk jendela dari luar," isak Chika. "Padahal kita di lantai dua! Dan di luar itu cuma pohon-pohon tinggi!"
Malam itu mereka berempat meringkuk di satu futon yang sama, nggak berani tidur. Lampu kamar dinyalain semua. Rei nyoba buka internet lagi, dan entah gimana, ada satu bar sinyal muncul. Dia buru-buru cari sejarah hotel ini dalam bahasa Inggris.
Matanya melotot pas baca sebuah artikel blog lama dari tahun 2015.
> "Komorebi No Mori: Hotel yang dibangun di atas bekas kuil pembuangan 'Ubasute'—tradisi lama di mana orang tua yang sudah tidak berdaya dibuang ke hutan agar tidak membebani keluarga. Konon, mereka yang meninggal di sini tidak pernah benar-benar pergi dan selalu mencari 'cucu' untuk menemani mereka."
>
"Pantesan si nenek tadi mukanya kayak sedih gitu," gumam Rei. "Dia bukan pengelola... dia 'penjaga' biar mereka nggak keluar ke kota."
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar. Tok. Tok. Tok.
"Anak-anak... apakah kalian sudah tidur? Nenek bawakan teh hangat..." suara si nenek terdengar dari balik pintu. Tapi suaranya nggak cuma satu. Ada puluhan suara yang nyahut berbarengan di belakangnya, tumpang tindih kayak paduan suara hantu.
"Jangan dibuka! Jangan dijawab!" bisik Rei keras.
Mereka berempat cuma bisa pelukan, merem serapat mungkin, sambil ngerasain suhu ruangan drop drastis sampai napas mereka beruap. Di luar, suara tawa anak kecil dan langkah kaki berat mulai mengelilingi kamar mereka.
Pagi harinya, suasana hotel balik normal. Matahari masuk lewat celah-celah shoji, burung berkicau, dan hutan kelihatan hijau cantik banget—sama persis kayak di TikTok.
Nenek itu ada di lobi, masih tersenyum tipis pas mereka buru-buru check-out tanpa sarapan. "Sudah mau pergi? Sayang sekali, padahal teman-teman saya sangat senang kalian ada di sini."
Rei nggak nanya siapa 'teman-teman' yang dimaksud. Dia langsung bayar, pesen taksi paling cepet, dan nggak nengok ke belakang lagi.
Pas udah di kereta Shinkansen menuju Tokyo yang super modern dan berisik, barulah mereka bisa napas lega. Rei ngebuka galerinya mau hapus foto-foto di hotel itu.
Tapi pas dia liat satu foto mirror selfie Anya dan Chika di lobi hotel kemarin, jantungnya hampir copot.
Di belakang mereka, di antara bayangan tangga kayu yang gelap, ada puluhan wajah pucat yang lagi ngintip. Dan yang paling depan, tepat di belakang pundak Anya, adalah perempuan tanpa mata semalam, yang tangannya seolah-olah mau menyentuh rambut Anya.
"Rei, kenapa? Muka lo pucat banget," tanya Anya sambil nyemil Onigiri.
Rei buru-buru masukin HP-nya ke saku. "Nggak apa-apa. Cuma... gue rasa kita butuh liburan ke tempat yang lebih mainstream aja minggu depan. Dufan kek, atau mall di Shibuya aja."
"Setuju," sahut Bagas lemes. "Gue kapok sama yang namanya hidden gem. Mending yang visible gem aja lah yang banyak orangnya!"
Rei cuma diem, ngerasain getaran HP di sakunya. Pas dia liat sekilas, ada notifikasi dari aplikasi foto: "New Memory Found: A Night with Friends."
Fotonya? Foto mereka berempat lagi tidur di futon semalam. Tapi difoto dari sudut plafon.
Rei langsung factory reset HP-nya saat itu juga.