Dengung itu. Apakah kamu tidak pernah benar-benar menyadarinya sampai dia memutuskan untuk pergi tanpa pamit, tanpa lambaian tangan, hanya sebuah jlep yang kasar dan seketika. Kota ini, Jakarta yang biasanya menggeram seperti binatang purba yang kelaparan, tiba-tiba kehilangan pita suaranya.
Alan berdiri di depan jendela apartemen lantai dua puluh dua. Tangannya masih menggenggam gelas kopi yang sudah mendingin, jemarinya meraba tepian keramik yang retak halus, retakan yang—kalau dia punya lampu—mungkin tidak akan dia pedulikan. Tapi sekarang, kegelapan adalah lensa mikroskop yang sangat kuat. Kegelapan membuat segalanya jadi raksasa.
Lampu-lampu kota di bawah sana, yang biasanya seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam, mendadak padam satu per satu. Bukan serentak. Tapi bergelombang. Seperti sebuah napas panjang yang terakhir kali diembuskan oleh raksasa yang sekarat. Blok A gelap. Blok B senyap. Lalu, menara-menara kaca di seberang sana, tempat orang-orang ambisius mengetik masa depan mereka, berubah jadi pilar-pilar batu nisan yang dingin.
"Sial," bisik Alan. Suaranya memantul di dinding ruang tamu yang kosong. Kosong, Kenapa mendadak terasa sangat kosong? Mungkin karena biasanya ada pendar biru dari router WiFi yang berkedip-kedip seperti jantung janin, atau lampu indikator televisi yang merah menyala seperti mata iblis kecil yang berjaga, atau setidaknya setidaknya ada layar ponselnya.
Dia meraba sakunya tapi Kosong.
Ingatannya melompat ke meja makan. Ponsel itu tertinggal di sana, layar menghadap bawah, sedang mengisi daya yang kini mustahil didapatkan. Arlan mencoba melangkah. Kakinya menyentuh sesuatu yang empuk. Karpet? Bukan, itu tumpukan majalah yang lupa dia bereskan. Dia tersandung. Dunianya miring. Bahunya menabrak sudut lemari brak! nyeri itu tajam terasa menjalar dari saraf di pundak, naik ke leher, berdenyut-denyut seperti lampu strobo yang rusak di dalam kepalanya.
Kegelapan ini tak gelap. Tidak, Aran menyadari itu sekarang. Kegelapan ini berwarna ungu tua yang pekat, penuh dengan bintik-bintik statis seperti televisi rusak yang tidak mendapat sinyal. Matanya berusaha mencari cahaya, mencari apa saja, setitik saja. Pupil matanya melebar, memaksa masuk partikel atom atom yang mungkin tersisa dari sisa-sisa cahaya bulan yang tertutup polusi.
Napas Arlan, napas.
Tapi udara terasa berat kental. AC nya mati. Kipas angin berhenti berputar dengan suara nging yang panjang dan menyedihkan. Tanpa sirkulasi, ruangan itu mulai memakan oksigennya sendiri. Bau ruangan itu berubah. Bukan lagi aroma kopi atau pewangi ruangan otomatis yang menyemprotkan aroma "Ocean Breeze" setiap lima belas menit. Sekarang baunya seperti bau debu tua, bau kayu yang memuai karena panas, dan bau keringat dingin yang mulai merembes ke dalam pori-pori kulitnya.
Pikiran Alan mulai berantakan. Kalimat-kalimat di kepalanya tidak lagi punya subjek, predikat, objek. Semuanya kata kerja yang saling tabrak.
Gelap sekali...... Mati listrik........ Kenapa senyap sekali? Di mana orang-orang? Apa mereka juga berdiri di jendela atau mereka berteriak atau mereka sedang tidur dan tidak tahu kalau dunia sudah berakhir? Dunia tidak berakhir hanya karena trafo meledak, Alan, jangan bodoh, tapi bagaimana kalau ini bukan trafo, bagaimana kalau ini sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang membuat listrik tidak akan pernah kembali lagi dan kita harus belajar cara menyalakan api dari batu lagi sementara tangan kita sudah terlalu halus karena terlalu sering mengusap layar sentuh yang licin dan dingin.
Dia merangkak. Lantai keramik terasa dingin di telapak tangannya. Dia mencari korek api. Tapi di mana dia meletakkan korek api itu? Terakhir kali ia merokok adalah tiga hari lalu, atau empat? Waktu menjadi cair. Tanpa jam dinding yang berdetak (jam dindingnya digital, mati), dan tanpa ponsel, Alan kehilangan jangkar realitasnya.
Jari-jarinya menyentuh kaki meja yang Tajam. Dia merayap lagi. Sesuatu yang dingin menyentuh kakinya.Apa Kucing? Dia tidak punya kucing. Itu hanya kabel charger yang melintang seperti ular mati.
"Lisa?" dia memanggil. Nama itu keluar begitu saja. Lisa sudah pergi enam bulan lalu. Tapi dalam kegelapan, ruang dan waktu adalah ilusi yang murah . Dia merasa Lisa ada di pojok ruangan, duduk di kursi malasnya, memperhatikan Alan yang merangkak seperti bayi yang kehilangan arah.
Lisa pasti tertawa melihat ini. Alan yang gagah, Alan sang desainer grafis yang bisa mengatur jutaan warna dalam satu piksel, sekarang tidak bisa membedakan mana pintu dan mana dinding.
Dia sampai di dapur. Tangannya meraba countertop. Granitnya terasa seperti nisan yang lembap. Jari-jarinya menelusuri permukaan, mencari kotak korek kayu atau pemantik gas. Ada sesuatu yang licin. Gelas? Dia menggesernya. Prang! Suara pecahnya kaca itu terdengar seperti ledakan granat di ruangan yang kedap suara. Alan berjengit. Jantungnya berdegup kencang di kerongkongan. Gila, gila, gila. Dia bisa merasakan adrenalin memompa, tapi tidak ada tempat untuk lari. Musuhnya adalah ketiadaan.
Dia menemukan pemantik itu. Terjepit di antara tempat sendok dan stoples gula. Dia menekan pelatuknya. Cetik. Cetik. Hanya percikan bunga api kecil yang menyambar-nyambar seperti kunang-kunang sekarat. Cetik. Lalu, woosh.
Api muncul Kecil. Kuning kebiruan.
Cahaya itu kecil sekali, tapi bagi Alan, itu adalah matahari. Bayangan-bayangan di dapur mendadak meloncat ke dinding. Bayangan lemari es jadi raksasa hitam yang membungkuk. Bayangan gagang pintu jadi jari yang menunjuk. Cahaya itu bergoyang-goyang mengikuti napas Alan yang tidak beraturan.
Dia menyalakan lilin putih pendek yang sisa setengah. Bau sumbu terbakar yang hangus mulai memenuhi indra penciumannya. Alan membawa lilin itu kembali ke ruang tamu. Cahayanya menciptakan lingkaran kecil kehidupan di tengah samudra maut yang gelap.
Dia duduk di lantai. Menatap api lilin.
Kenapa aku takut? Ini cuma mati lampu. Dulu waktu kecil di desa kakek, mati lampu adalah pesta. Kami main bayangan tangan di dinding. Burung, anjing, harimau. Kami lari ke luar, melihat langit yang penuh dengan taburan garam perak yang kita sebut bintang. Tapi di sini? Di lantai dua puluh dua? Di luar tidak ada bintang. Di luar hanya ada polusi dan kegelapan yang pekat. Aku terjebak di kotak beton. Kalau lift mati, aku harus turun dua puluh dua lantai lewat tangga darurat yang mungkin juga gelap dan bau pesing dan penuh dengan hantu-hantu modern yang tidak punya tempat di surga atau neraka.
Pikiran Alan melantur lagi. Kalimatnya mulai pecah, hancur, tidak beraturan.
Lilin ini. Berapa lama dia bertahan? Satu jam? Dua jam? Kalau habis, aku kembali ke nol. Nol. Kosong. Kenapa ponselku tidak menyala saja, meskipun tidak ada sinyal, setidaknya ada cahaya, aku butuh cahaya untuk merasa bahwa aku masih ada, bahwa aku belum mati, karena kalau aku tidak bisa melihat tanganku sendiri, apakah tanganku masih ada di sana atau dia sudah melebur dengan kegelapan dan menjadi bagian dari malam yang rakus ini?
Dia memperhatikan lelehan lilin. Cairan putih yang panas itu menetes ke jempolnya. Panas, Dia tidak menjauhkan tangannya. Rasa sakit itu adalah bukti. Aku merasa, maka aku ada.
Dia mulai mendengar suara-suara. Bukan suara dari luar, tapi suara dari dalam gedung. Langkah kaki di koridor. Tap. Tap. Tap. Sangat pelan. Apakah itu tetangganya? Siapa nama tetangganya? Dia tinggal di sini dua tahun dan hanya tahu kalau tetangga sebelah kiri punya anjing yang suka menggonggong dan tetangga sebelah kanan sering memasak terasi di jam tiga pagi.
Tap. Tap. Langkah itu berhenti di depan pintunya. Akan menahan napas. Api lilin bergoyang, seolah-olah ada seseorang yang meniupnya pelan dari balik lubang kunci.
"Siapa?" Alan mencoba bertanya, tapi suaranya hanya berupa gesekan pita suara yang kering.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang tebal, sejenis kesunyian yang bisa kamu dengar berdenyut di telingamu.
Mungkin itu hanya imajinasiku. Kegelapan adalah kanvas bagi kegilaan. Orang-orang zaman dulu menciptakan monster karena mereka tidak punya lampu LED. Mereka menciptakan buto ijo, genderuwo, kuntilanak, karena mata manusia tidak suka pada kekosongan. Kita harus mengisinya dengan sesuatu, bahkan jika sesuatu itu ingin memakan kita.
Alan memejamkan mata. Percuma membuka mata kalau hasilnya sama dengan memejamkan mata. Di hanya melihat kegelapan total, mata hanyalah bola daging yang tidak berguna.
Ingat waktu itu? Lisa membawa lampu ke apartemen. Katanya supaya romantis. Cahayanya kecil-kecil, warna-warni, seperti peri yang mabuk. Sekarang lampu itu di mana? Di gudang? Di tempat sampah? Kita bertengkar karena hal sepele, Listrik. Tagihan listrik yang membengkak karena aku lupa mematikan komputer selama tiga hari. Dia bilang aku boros. Aku bilang dia cerewet. Lalu dia pergi. Dan sekarang, tagihan listrik bukan lagi masalah. Tidak ada listrik. Tidak ada tagihan. Tidak ada Lisa. Hanya ada Alan dan lilin yang tinggal satu senti lagi.
Lilin itu mendesis. Sumbunya tenggelam dalam kolam lilin cair. Cahayanya meredup, memanjang, lalu—puf.
Gelap lagi.
Kali ini, Alan tidak mencari korek api lagi. Dia membiarkan kegelapan itu menyelimutinya seperti selimut wol yang berat dan basah. Dia berbaring di lantai. Pipi kanannya menempel pada parket yang keras.
Di luar, sayup-sayup dia mendengar suara sirine. Jauh sekali. Seperti suara dari dunia lain. Mungkin ada kebakaran, atau penjarahan, atau hanya ambulans yang membawa seseorang yang jantungnya berhenti berdetak bersamaan dengan berhentinya aliran listrik di alat pacu jantungnya.
Kota ini bergantung pada kabel. Kita semua adalah boneka yang digerakkan oleh arus AC/DC. Putuskan kabelnya, dan kita semua jatuh, Ambruk. Tak berdaya. Kita tidak lebih hebat dari kecoak yang sedang merayap di dekat kaki meja itu, aku bisa mendengarnya, suara gesekan kaki-kaki kecilnya di atas lantai, dia lebih siap menghadapi ini daripada aku. Kecoak punya radar. Aku hanya punya ego yang butuh di charge setiap malam.
Kalimat-kalimat di kepalanya sekarang hanya berupa kata-kata tunggal yang melayang tanpa makna.
Haus. Dingin. Sunyi. Hitam. Pulang. Lisa. Ayah. Lampu. Tolong. Tidur. Habis.
Dia mulai tertidur, atau mungkin pingsan karena stres. Dalam mimpinya, dia melihat Jakarta dari atas. Tapi Jakarta tidak gelap. Jakarta terbakar. Setiap rumah adalah lilin raksasa yang menyala. Dan di tengah-tengah api itu, orang-orang berdansa, merayakan kembalinya mereka ke zaman purba. Mereka tidak lagi butuh ponsel. Mereka bicara lewat bahasa api.
Alan terbangun ketika cahaya kelabu mulai menyelinap lewat celah gorden. Cahaya itu tidak hangat. Itu cahaya fajar yang sakit-sakitan, pucat seperti wajah orang yang baru sembuh dari tifus.
Dia duduk. Tubuhnya kaku. Lehernya terasa seperti dipukul palu kayu.
Dia melihat ke sekeliling. Apartemennya tampak menyedihkan dalam remang-remang pagi. Pecahan gelas di dapur. Lilin yang sudah jadi gumpalan putih tak berbentuk di lantai. Debu-debu yang melayang di udara, terlihat jelas karena ada seberkas cahaya yang menembus debu itu.
Dia berjalan ke kamar mandi. Memutar keran. Kosong. Tentu saja, pompa air butuh listrik.
Alan menatap cermin. Di sana, seorang pria dengan rambut acak-adakan dan mata merah menatapnya balik. Pria itu tampak asing. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja melakukan perjalanan ke dasar samudra dan kembali lagi.
Tiba-tiba—bzzzt.
Lampu di atas cermin berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu menyala dengan cahaya putih yang menyakitkan mata.
Alan memejamkan mata rapat-rapat. Sakit. Cahaya itu terasa kasar, menyerang retinanya tanpa ampun. Di kejauhan, dia mendengar suara ding dari lift yang kembali berfungsi. Suara kulkas yang mulai mendengung lagi. Suara televisi di ruang tamu yang tiba-tiba menyala, menyiarkan berita pagi dengan volume yang terlalu keras.
"Dunia sudah kembali," gumamnya.
Dia berjalan ke ruang tamu. Televisi itu menampilkan seorang pembawa berita yang tersenyum sempurna, membicarakan tentang kegagalan sistem di gardu induk pusat. Arlan mengambil ponselnya. Layarnya menyala. Persentase baterai cuma 1%saja.
Dia melihat ratusan notifikasi masuk. Pesan WhatsApp, email, mention di media sosial. Semuanya berteriak meminta perhatiannya. Semuanya mendesaknya untuk kembali menjadi bagian dari mesin besar yang berisik.
Alan menatap tombol power di ponselnya.
Jari jempolnya ragu-ragu. Cahaya pagi di luar apartemen semakin terang, menghapus bayangan-bayangan monster yang dia ciptakan tadi malam. Tapi di dalam sana, di lipatan otaknya yang terdalam, Alan merindukan kesunyian itu. Dia merindukan saat-saat ketika dia hanya seorang pria, sebuah lantai, dan satu detak jantung yang jujur.
Dia tidak men charge ponselnya. Dia malah berjalan ke arah jendela, membukanya lebar-lebar, dan membiarkan suara bising kota yang kembali pulih masuk memenuhi ruangan. Tapi dia tidak melihat ke bawah. Dia melihat ke atas, ke langit yang kini kosong tanpa bintang, menyadari bahwa cahaya yang paling terang sekalipun seringkali adalah cahaya yang paling membutakan.
Lampu itu memang sudah menyala, tapi di dalam kepala Alan, sekringnya masih meledak. Dia berdiri mematung di tengah ruangan yang sekarang mandi cahaya putih cahaya neon yang terlalu steril, terlalu jujur, terlalu menelanjangi setiap butiran debu di atas meja.
Bzzzt. Suara kulkas itu. Tadinya Arlan mengira itu suara malaikat penolong, tapi sekarang suara itu terdengar seperti gerinda yang mengikis gendang telinganya. Berisik. Kenapa dunia harus seberisik ini? Kipas angin berputar lagi, memotong-motong udara dengan bilah plastiknya, wus-wus-wus, seolah-olah sedang mencincang sisa-sisa ketenangan yang sempat mengendap di dasar lantai.
Alan melangkah ke dapur. Kakinya yang telanjang menghindari pecahan kaca kristal-kristal tajam yang berkilau jahat di bawah lampu plafon.
Pecah Seperti kepalaku. Satu gelas untuk satu malam yang buta. Kenapa aku tidak membersihkannya semalam? Ah, ya, karena semalam tanganmu adalah buta yang meraba nisan granit. Sekarang lihat ini. Air yang meluap dari dispenser yang korslet. Genangan bening yang merayap seperti amuba, membasahi ujung kakiku yang kotor.
Dia tidak mengambil sapu. Dia hanya melihat. Menatap pantulan wajahnya di genangan air lantai. Wajah itu tampak seperti topeng lilin yang mulai meleleh. Pucat. Mata yang biasanya tajam kini seperti lubang hitam yang menghisap cahaya di sekitarnya.
Telepon itu. Berkedip Hijau. Satu persen. Satu persen nyawa digital. Kenapa aku tidak mencolokkannya ke dinding? Kenapa aku malah berdiri di sini seperti patung semen yang gagal jadi manusia? Lisa pernah bilang aku terlalu lambat merespons realitas. Mungkin dia benar. Realitas adalah kereta cepat dan aku adalah orang buta yang tertinggal di peron yang salah.
Dia berjalan ke jendela lagi. Jakarta sudah bangun sepenuhnya. Klakson-klakson di bawah sana bersahutan, sebuah simfoni kekacauan yang agung. Asap knalpot mulai membubung, mencoreng langit pagi yang tadi sempat biru pucat. Orang-orang di dalam mobil itu mereka pasti sedang mengumpat, memaki kemacetan, memaki listrik yang tadi padam, memaki kopi yang dingin. Mereka kembali ke mode "tempur".
Aku tidak ingin tempur. Aku ingin lampu itu mati lagi. Aku ingin kegelapan yang memelukku sampai aku tidak perlu tahu siapa diriku. Di kegelapan, aku bukan Arlan sang desainer yang gagal mempertahankan pacarnya. Di kegelapan, aku hanya... ada. Titik.
Pikirannya mulai meloncat-loncat lagi, seperti kaset rusak yang berputar di kecepatan yang salah.
Lapar tapi mual. Perutku melilit seperti kabel telepon yang kusut. Kenapa bau hangus lilin semalam masih menempel di hidungku? Aku mencuci muka. Airnya dingin. Terlalu dingin. Menusuk pori-pori seperti ribuan jarum es. Aku melihat sabun. Warnanya merah muda. Lucu, Kenapa sabun harus berwarna merah muda seolah mengejek kegelapan semalam. Alan menatap busa sabun yang meluncur turun ke lubang pembuangan, berputar-putar dalam pusaran kecil yang rakus hilang. Semuanya hilang secepat arus listrik yang kembali mengisi pipa-pipa tembaga di dinding.
Dunia tidak memberinya izin untuk tetap diam. Apartemen itu mulai "bernyanyi". Suara mesin cuci tetangga sebelah duk, duk, duk seperti detak jantung raksasa yang tidak sinkron. Suara televisi dari lantai bawah yang menembus celah beton, suara pembawa acara gosip yang melengking, tertawa di atas penderitaan orang lain. Semuanya masuk. Semuanya menyerang.
Alan mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku jarinya memutih, menonjol seperti barisan bukit kapur yang kering.
Berisik, Berhenti. Tolong, berhenti.
Tapi saklar dunia sudah di posisi menyala. Kamu tidak bisa mematikannya lagi kecuali kamu memotong nadinya. Alan melihat kabel microwave yang melingkar di sudut meja, hitam dan tebal seperti usus ular. Dia membayangkan dirinya adalah arus listrik itu. Mengalir cepat, tak terlihat, membawa pesan-pesan penting yang sebenarnya tidak penting, lalu berakhir dengan membakar diri sendiri demi sepotong roti tawar yang hangat.
Kenapa kepalaku masih di sana? Di kegelapan semalam? Di sana, di antara bayangan-bayangan yang menari, aku merasa jujur. Sekarang, di bawah sinar lampu ini, aku merasa seperti barang rongsokan yang dipamerkan di etalase toko yang bangkrut.
Dia berjalan kembali ke ruang tamu. Ponselnya benar-benar mati sekarang. Layar hitam itu memantulkan bayangan lampu plafon, sebuah titik putih kecil yang tajam di tengah kekosongan. Mati. Benar-benar mati.
Alan merasakan sebuah dorongan yang aneh. Sebuah keinginan yang berdenyut di bawah kulitnya. Dia mengambil ponsel itu, bukan untuk mengisi daya, tapi untuk merasakan beratnya. Dingin. Alumunium dan kaca. Benda ini adalah barang kecil yang kita bawa di saku.
Dia melempar ponsel itu ke sofa, Pelan. Tanpa suara.
Langkah kaki. Tap, Tap, Tap. Langkah itu kembali. Bukan di koridor, tapi di dalam kepalanya. Kalimat-kalimat yang semalam terputus kini mencoba menyambung diri dengan cara yang salah. Subjek memakan objek. Kata sifat mencekik kata benda.
Hitam itu jujur putih itu dusta lampu itu luka sunyi itu nyawa. Aku lapar tapi tidak ingin makan aku haus tapi air itu terasa seperti merkuri yang berat menuruni kerongkonganku, Lisa. Apakah Lisa tadi malam juga kegelapan? Apakah dia takut atau dia malah merayakannya dengan kekasih barunya yang mungkin punya generator listrik pribadi di rumahnya yang mewah?
Alan tertawa. Suaranya pecah, kering, seperti daun gugur yang terinjak sepatu bot.
Dia melihat lilin yang sudah mati di lantai. Gumpalan putih itu tampak seperti janin yang gagal berkembang. Dia memungutnya. Masih ada sisa bau sumbu yang terbakar. Dia mendekatkan gumpalan lilin itu ke hidungnya, menghirupnya dalam-dalam seolah itu adalah oksigen terakhir di dunia.
Bau ini. Ini bau kenyataan. Bukan bau parfum "Ocean Breeze" yang palsu itu.
Alan berjalan ke pintu utama. Dia memegang gagang pintu yang dingin. Dia ingin keluar. Dia ingin melihat apakah tetangganya masih manusia atau sudah berubah jadi tumpukan kabel dan sirkuit setelah semalam suntuk terputus dari sumber daya mereka.
Dia membuka pintu. Koridor itu terang benderang. Terlalu terang. Lampu-lampu darurat masih menyala, bergabung dengan lampu utama, menciptakan lorong cahaya yang seolah menuju keabadian yang menyakitkan.
Di ujung koridor, seorang wanita tua sedang menyeret plastik sampah hitam yang berat. Suara plastiknya bergeser di atas lantai granit srak, srak, srak terdengar seperti suara napas orang yang sedang sekarat. Wanita itu menatap Alan. Matanya kosong. Tidak ada sapaan. Tidak ada "apa kamu baik-baik saja semalam?". Hanya dua pasang mata yang saling menatap dalam terang yang dipaksakan, menyadari bahwa mereka lebih asing saat cahaya ada daripada saat cahaya tiada.
Alan kembali masuk ke dalam. Dia tidak mengunci pintu. Dia membiarkan pintu itu terbuka sedikit, sebuah celah kecil untuk dunia luar masuk jika ia mau.
Dia duduk di lantai, tepat di tempat lilin semalam berada. Dia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Dia hanya membiarkan cahaya dari lorong menyelinap masuk secara bebas.
Cahaya itu membentuk garis panjang di lantai kayu. Alan meletakkan tangannya di atas garis cahaya itu. Terasa sedikit hangat.
Aku harus bekerja. Ada tenggat waktu. Ada warna yang harus diatur. Ada piksel yang harus disusun agar orang-orang bisa melihat iklan produk yang tidak mereka butuhkan. Tapi jariku terasa seperti batu. Otakku terasa seperti bubur yang diaduk-aduk dengan sendok besi.
Dia memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, kegelapan semalam masih ada di sana. Menunggu. Statis. Ungu pekat dengan bintik-bintik perak.
"Terima kasih," bisiknya entah kepada siapa.
Mungkin kepada trafo yang meledak. Mungkin kepada kegagalan sistem yang memberinya waktu delapan jam untuk menjadi manusia kembali. Alan menarik napas panjang, membiarkan udara pagi yang berdebu memenuhi paru-parunya, menyadari bahwa meskipun listrik sudah kembali, ada sesuatu di dalam dirinya yang telah diputus secara permanen. Dan anehnya, dia merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya.