Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Salma duduk di tepi ranjang pengantinnya. Gaun putihnya menjuntai seperti doa yang belum selesai diucapkan. Wajahnya cantik—terlalu cantik untuk terlihat murung—namun di matanya ada jarak. Jarak antara ia dan lelaki yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya.
Benigno Adiwijaya.
Nama yang asing di hatinya, meski telah sering disebut dalam rapat keluarga, dalam obrolan para tante, dalam doa-doa panjang ibunya yang menginginkan menantu terpandang.
Pernikahan itu terjadi bukan karena cinta. Hanya karena kesepakatan.
Ayah Salma pernah menyelamatkan bisnis keluarga Benigno dari kebangkrutan bertahun-tahun lalu. Kini, ketika dua keluarga itu ingin mempererat hubungan, pernikahan adalah cara yang paling elegan dan terhormat.
“Maafkan Mama, Nak,” bisik ibunya sebelum akad dimulai. “Kami pikir ini yang terbaik.”
Salma tersenyum. Senyum yang sudah ia latih sejak lamaran diumumkan.
Di ruangan lain, Benigno berdiri tegak mengenakan beskap hitam. Wajahnya tampan, tegas, dengan rahang kuat dan mata yang terlihat selalu yakin. Lelaki itu terbiasa memimpin, terbiasa memutuskan. Namun hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasa seperti boneka yang digerakkan takdir.
Ia pernah mencintai seseorang.
Namanya Nindya.
Dan cinta itu belum benar-benar selesai.
---
Hari-hari pertama pernikahan mereka terasa canggung seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi rumah.
Rumah besar dua lantai itu menjadi saksi dinginnya percakapan mereka.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Salma suatu pagi.
“Terserah,” jawab Benigno tanpa menatap.
“Kalau ada yang kurang, bilang saja.”
“Iya.”
Hanya itu.
Tak ada sentuhan yang bermakna. Tak ada tatapan yang bertahan lebih dari tiga detik. Mereka berbagi kamar, tapi seperti berbagi dua dunia yang berbeda.
Salma adalah perempuan lembut, lulusan arsitektur yang sebenarnya bermimpi membuka studio desain kecil-kecilan. Ia suka pagi yang tenang, kopi pahit tanpa gula, dan buku-buku puisi yang membuatnya merasa hidup.
Benigno adalah direktur muda di perusahaan keluarga. Tegas, disiplin, perfeksionis. Dunia baginya adalah angka, kontrak, dan target.
Dan di sela kesibukan itu, bayang Nindya masih sering hadir.
Suatu sore, ketika Salma sedang menata ruang kerja kecilnya di rumah, bel berbunyi.
Seorang perempuan berdiri di depan pintu. Rambutnya panjang tergerai, wajahnya memesona dengan riasan tipis yang percaya diri.
“Aku Nindya,” katanya tanpa basa-basi. “Aku mantan Benigno.”
Salma tercekat.
Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia berusaha tenang. “Silakan masuk.”
Nindya melangkah masuk dengan tatapan menyapu ruangan, seperti ingin memastikan tempat itu masih menyimpan jejak dirinya.
“Benigno tidak cerita?” tanya Nindya.
“Tidak banyak,” jawab Salma jujur.
Nindya tersenyum tipis. “Dia pernah bilang ingin menikahiku.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di dada Salma.
Namun Salma tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya merasa… kosong.
Malam itu, ketika Benigno pulang, Salma berkata pelan, “Tadi Nindya datang.”
Langkah Benigno terhenti.
“Apa yang dia mau?”
“Entahlah. Mungkin hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Benigno mendesah panjang. “Kamu jangan dengarkan dia.”
“Kenapa?”
“Karena semuanya sudah selesai.”
Tapi nada suaranya tidak terdengar benar-benar selesai.
---
Di tengah kebekuan itu, hadir seseorang yang tak diduga.
Armany Pratama.
CEO muda dari perusahaan properti yang bekerja sama dengan keluarga Salma. Usianya tak jauh dari Benigno, tapi karakternya berbeda. Hangat. Luwes. Penuh perhatian tanpa terasa berlebihan.
Pertemuan mereka terjadi di sebuah acara peresmian proyek.
“Salma?” sapa Armany dengan senyum tulus. “Sudah lama tidak bertemu.”
Salma terkejut. “Armany? Kamu?”
Mereka pernah satu kampus, meski tak terlalu dekat. Armany ternyata menyimpan cerita yang tak pernah ia sampaikan.
“Aku dengar kamu menikah,” ucapnya hati-hati.
“Iya.”
“Kamu bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Salma terdiam.
“Aku… sedang belajar,” jawabnya akhirnya.
Armany menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang belum padam.
Sejak pertemuan itu, komunikasi mereka kembali terjalin. Awalnya hanya urusan proyek. Lalu sesekali makan siang. Lalu obrolan tentang mimpi yang dulu pernah mereka bicarakan di bangku kuliah.
Salma merasa didengar.
Sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya sendiri.
---
Suatu malam, Benigno pulang lebih awal. Ia mendapati Salma tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya.
“Dengan siapa?” tanyanya tanpa sadar.
Salma menoleh. “Armany. Soal proyek desain.”
Benigno tak suka nada ceria itu. Entah kenapa dadanya terasa tak nyaman.
“Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya.”
“Kenapa?” tanya Salma.
“Karena kamu istriku.”
“Kita menikah bukan karena cinta, Benigno,” ucap Salma pelan. “Jangan bertindak seolah kamu peduli.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Benigno terdiam.
Ia tidak tahu kapan tepatnya ia mulai merasa terganggu melihat Salma bersama lelaki lain.
Mungkin sejak ia sadar rumah itu tak lagi terasa sepi ketika Salma ada.
Mungkin sejak ia menyadari aroma parfum lembut perempuan itu membuatnya ingin pulang lebih cepat.
Atau mungkin sejak ia melihat Salma menahan tangis sendirian di dapur setelah Nindya kembali mengirim pesan yang menyakitkan.
Benigno tidak ingin kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.
---
Konflik memuncak ketika Nindya muncul di kantor Benigno.
“Aku masih mencintaimu,” katanya blak-blakan.
“Kita sudah selesai.”
“Tidak. Kamu hanya terpaksa menikah.”
Benigno menatapnya lama. Ia pernah mencintai perempuan ini dengan segenap keyakinan. Tapi kini, perasaannya terasa seperti foto lama yang warnanya mulai pudar.
“Salma istriku sekarang.”
“Dan kamu mencintainya?” tantang Nindya.
Benigno tak bisa langsung menjawab.
Jawaban itu baru ia temukan beberapa hari kemudian.
---
Salma memutuskan tinggal sementara di rumah orang tuanya setelah pertengkaran besar.
“Kalau kamu masih ragu, lebih baik kita beri jarak,” katanya sebelum pergi.
Rumah itu mendadak sunyi.
Benigno berjalan ke kamar mereka. Melihat sisi ranjang yang kosong. Meja rias yang sepi. Cangkir kopi yang tak lagi terisi setiap pagi.
Ia baru menyadari sesuatu yang menggetarkan.
Ia merindukan Salma.
Bukan karena kewajiban.
Bukan karena status.
Tapi karena perempuan itu telah mengisi ruang-ruang kecil dalam hidupnya dengan cara yang tak pernah ia sadari.
Ia teringat bagaimana Salma selalu menyiapkan makan malam meski tak pernah diminta. Bagaimana Salma diam-diam memperbaiki ruang kerjanya agar lebih nyaman. Bagaimana Salma tidak pernah menuntut cinta, hanya waktu.
Dan ia tak pernah memberikannya.
Malam itu, Benigno berdiri di depan rumah mertua.
Salma membuka pintu.
Mata mereka bertemu. Ada luka. Ada rindu.
“Aku minta maaf,” ucap Benigno tanpa gengsi.
Salma menatapnya, tak langsung percaya.
“Aku memang tidak memilih pernikahan ini,” lanjutnya. “Tapi aku memilih untuk tinggal. Memilih untuk mencoba. Dan aku sadar… aku takut kehilanganmu.”
Air mata Salma jatuh perlahan.
“Beri aku waktu untuk mencintaimu dengan benar,” kata Benigno. “Tanpa bayang siapa pun.”
Salma terdiam lama.
“Aku juga tidak tahu kapan mulai berharap,” bisiknya. “Tapi aku tidak ingin jadi pilihan kedua.”
“Kamu bukan pilihan,” jawab Benigno tegas. “Kamu rumah.”
Di kejauhan, Armany menerima pesan singkat dari Salma.
Terima kasih sudah menjadi teman yang baik. Tapi aku ingin mencoba memperjuangkan pernikahanku.
Armany tersenyum pahit. Ia sudah tahu kemungkinan itu. Namun ia tidak menyesal pernah menyimpan rasa.
Karena cinta, kadang bukan soal memiliki. Tapi soal merelakan dengan dewasa.
---
Beberapa bulan kemudian, rumah itu tak lagi terasa asing.
Benigno belajar mengungkapkan perasaan, meski kaku. Salma belajar mempercayai, meski pernah ragu.
Mereka masih sering berbeda pendapat. Masih kadang berselisih.
Namun kali ini, mereka memilih duduk berdua dan menyelesaikan, bukan saling diam.
Suatu pagi, Salma berdiri di balkon sambil menatap matahari terbit.
Benigno memeluknya dari belakang.
“Terima kasih sudah memberiku waktu,” bisiknya.
Salma tersenyum. “Terima kasih sudah menggunakannya dengan benar.”
Cinta mereka tidak lahir dari ledakan besar. Tidak dari tatapan pertama.
Ia tumbuh pelan-pelan.
Dari sabar yang dirawat.
Dari ego yang diluruhkan.
Dari luka yang diakui.
Dan dari dua hati yang akhirnya sepakat untuk saling memilih, bukan karena terpaksa… tapi karena sadar, rumah terbaik adalah hati yang mau belajar mencintai.
Karena kadang, cinta memang tidak perlu dipaksa hadir.
Ia hanya perlu diberi waktu.