Suara mesin ATM di minimarket itu terdengar seperti geraman monster yang lapar. Cekit-cekit-drrrrttt. Lembar-lembar uang berwarna merah keluar dengan kaku. Aku menatap saldo di layar.
Rp157.000,00.
Itu adalah angka pertahanan terakhirku setelah "dirampok" secara halus oleh keluarga sendiri selama seminggu di kampung. Aku, Aris, seorang staf administrasi di Jakarta yang makan siangnya seringkali hanya promosi buy 1 get 1 di aplikasi, kini resmi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, tapi penuh tanda tanya.
Semua bermula saat bus eksekutif yang kutumpangi berhenti di depan gapura desa. Aku turun dengan tas ransel dan satu kardus oleh-oleh berisi kue kering premium—yang cicilannya baru lunas bulan depan.
"Aris datang! Si Manajer Jakarta pulang!" teriak sepupuku, tawa melengkingnya seolah memberi sinyal pada seluruh penduduk kecamatan untuk bersiap melakukan penyerangan dompet.
Aku tersenyum kecut. Aku bukan manajer. Aku hanya orang yang duduk di depan komputer sepuluh jam sehari sampai tulang punggungku melengkung mirip udang rebus. Tapi di mata Ibuk, Bapak, dan seluruh sanak saudara, Jakarta adalah pohon uang, dan aku adalah cabangnya yang paling rimbun.
"Ris, lihat ini atap dapur sudah mau rubuh. Ibuk bilang sama tukang bangunan, nunggu Aris pulang saja, dia kan THR-nya gede," ujar Ibuk saat aku baru saja melepas sepatu. Belum juga minum air putih.
Aku menelan ludah. "Berapa, Buk, estimasinya?"
"Cuma tujuh juta. Masa buat Ibuk kamu perhitungan?"
Tujuh juta. Itu seluruh bonus tahunanku yang rencananya mau kupakai untuk mengganti ban motor yang sudah gundul dan bayar tunggakan BPJS. Tapi melihat mata Ibuk yang berbinar seolah aku adalah malaikat Mikail pembawa rezeki, suaraku tercekat di tenggorokan. Aku mengangguk pelan.
---
Hari kedua lebaran adalah puncaknya. Rumah kami mendadak berubah jadi kantor cabang bank tanpa AC.
Tante Lastri datang membawa tiga anaknya yang sudah SMA. "Duh, Aris, ini si bungsu mau beli HP baru buat sekolah. Katanya di Jakarta HP murah-murah ya? Titip uangnya saja ya, nanti kamu yang belikan, atau kasih mentahnya sekarang juga nggak apa-apa."
Belum sempat kujawab, Paklek paruh baya yang entah siapa namanya tiba-tiba menepuk bahuku keras. "Ris! Sukses ya di sana! Ini anak Paklek mau masuk kuliah, kurang dua juta buat uang gedung. Bagi-bagi dong berkahnya, biar rezekimu makin lancar!"
Aku tersenyum simpul, jenis senyum yang biasanya dipakai orang saat sedang menahan buang air besar. Aku merogoh saku. Amplop-amplop merah yang kupersiapkan mulai menipis.
"Mas Aris, THR-nya mana?" teriak anak-anak kecil yang jumlahnya seperti satu batalion infanteri.
Kalau aku memberi Rp20.000, Ibuk akan berbisik di belakangku, "Masa cuma segitu, Ris? Malu sama tetangga, kamu kan kerjanya di gedung tinggi." Akhirnya, jemariku dipaksa menarik lembaran Rp50.000. Setiap tarikan uang itu dari dompet terasa seperti mencabut bulu ketiak satu per satu. Perih, tapi aku harus terlihat tenang.
---
Puncaknya adalah saat makan siang keluarga besar. Kakak pertamaku, Mas Danu, yang tinggal di desa sebelah tapi hobi gonta-ganti knalpot motor, mulai angkat bicara.
"Ris, itu mobil tetangga dijual murah. Kalau kamu tambahi lima juta lagi, Mas bisa ambil itu buat narik grab. Lumayan kan, nanti kalau kamu pulang kita nggak usah naik ojek," katanya enteng sambil mengunyah rendang yang dagingnya kubeli pakai uang lemburku bulan lalu.
"Mas, uangku sudah habis buat benerin dapur Ibuk dan bagi-bagi tadi," jawabku pelan, mencoba membela diri.
Seketika, suasana meja makan mendingin. Ibuk meletakkan sendoknya dengan dentang yang memilukan hati. "Oalah Ris... baru juga kerja beberapa tahun sudah pelit sama saudara sendiri. Padahal dulu Masmu ini yang nganter kamu ke terminal pas mau merantau."
"Bukan pelit, Buk... tapi Aris juga butuh bayar kos, butuh makan..."
"Di Jakarta kan makannya enak-enak, Ris! Lihat itu di Instagram, kamu fotonya di kafe terus!" sahut Tante Lastri tanpa dosa. Padahal itu foto setahun lalu saat ada acara kantor yang makanannya gratis.
Aku ingin berteriak. Aku ingin bilang kalau aku sering puasa Senin-Kamis bukan karena takwa, tapi karena uang di dompet memang tinggal dua lembar sepuluh ribuan. Aku ingin bilang kalau sepatu yang kupakai ini solnya sudah lepas dan hanya dilem pakai lem Korea. Tapi siapa yang peduli? Di kampung, aku adalah Simbol Kesuksesan. Dan simbol tidak boleh punya masalah keuangan.
---
Malam sebelum kembali ke Jakarta, aku duduk di teras. Bapak mendekat. Aku sudah bersiap, apakah Bapak akan minta uang lagi untuk beli pupuk atau bayar pajak tanah?
"Ris," suara Bapak berat. "Bapak tahu kamu berat. Tapi di kampung ini, harga diri orang tua itu ada pada keberhasilan anaknya. Ibukmu bangga sekali pamer kalau kamu itu 'bos' di Jakarta. Jangan rusak senyumnya, ya?"
Aku terdiam. Jadi, semua uang yang kukeluarkan ini bukan untuk kesejahteraan, tapi untuk membeli "wajah" di depan tetangga? Untuk sebuah gengsi yang bahkan tidak bisa dimakan?
Aku memberikan sisa uang di dompetku—lembaran terakhir seratus ribuan—kepada Bapak. "Ini buat pegangan Bapak."
Bapak menerimanya tanpa ragu. "Terima kasih, Ris. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kirim lagi bulan depan, ya?"
---
Kini, aku berdiri di depan mesin ATM minimarket dekat kosan di Jakarta. Angka Rp157.000,00 itu menatapku dengan sinis. Aku harus bertahan dengan uang ini sampai tanggal 25. Itu artinya, dua puluh hari ke depan, menu utamaku adalah mie instan yang dibagi dua: separuh untuk pagi, separuh untuk malam.
Ponselku bergetar. Notifikasi WhatsApp dari grup keluarga.
Ibu:"Terima kasih ya Aris, dapurnya sudah rapi. Besok-besok kalau pulang, bawakan Ibuk emas ya, biar nggak kalah sama Bu RT."
Mas Danu:"Ris, mobilnya nggak jadi diambil, uangmu kurang banyak. Pelit ah!"
Aku mematikan layar ponsel. Dadaku sesak. Ada rasa marah yang membubung, tapi tenggelam oleh rasa lelah yang luar biasa. Aku bukan mesin ATM. Aku bukan pohon uang. Aku hanya manusia yang ingin pulang untuk istirahat, bukan untuk dikuliti secara finansial.
Besok, aku akan kembali duduk di depan komputer itu. Bekerja seperti robot, demi sebuah "Aura Kesuksesan" yang sebenarnya adalah fatamorgana di mata orang-orang yang kucintai.
---