Namaku Raka Ardiansyah.
Seumur hidup, aku percaya bahwa nasib manusia itu seperti layang-layang: terbang tinggi atau tersangkut di kabel listrik, tergantung siapa yang memegang talinya.
Ibuku meninggal ketika aku kelas dua SMA. Di batu nisannya hanya tertulis satu nama: Sinta Arum. Tanpa nama ayah. Tanpa cerita. Tanpa sejarah.
Orang-orang kampung sudah lama menatapku dengan dua jenis mata: iba dan curiga. Anak tanpa ayah selalu lebih mudah dijadikan teka-teki daripada manusia.
Aku tumbuh dengan satu keyakinan sederhana—aku yatim, dan dunia tidak berutang apa pun padaku.
Sampai suatu sore, ketika hidupku yang biasa saja dipelintir oleh sebuah iring-iringan mobil hitam yang berhenti tepat di depan kontrakanku.
---
Pria tua itu turun perlahan. Rambutnya memutih rapi. Jasnya gelap, mahal, dengan pin kecil berbentuk burung garuda di dada kirinya. Wajahnya sering kulihat di televisi, terpampang di baliho-baliho kota, tersenyum penuh wibawa di balik janji-janji negara.
Presiden Republik ini.
Namanya Arman Pradipta.
Aku sempat mengira ini lelucon. Atau adegan sinetron yang salah alamat.
“Raka?” suaranya berat, tapi tidak setegas ketika ia berpidato di layar kaca.
Aku mengangguk, tenggorokanku tiba-tiba kering.
“Aku perlu bicara denganmu. Tentang ibumu.”
Namanya disebut seperti kunci yang memutar sesuatu di dadaku.
Kami duduk berhadapan di ruang tamu sempit. Ia memandangi foto ibuku yang tergantung di dinding. Matanya—yang biasa tampak dingin di layar televisi—kini redup oleh sesuatu yang menyerupai penyesalan.
“Aku ayahmu,” katanya pelan.
Kalimat itu tidak terdengar seperti pengakuan. Lebih seperti vonis.
Aku tertawa kecil. Refleks. “Maaf, Pak Presiden. Ini tidak lucu.”
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari tas kulitnya. Di dalamnya ada foto lama: ibuku muda, tertawa di samping seorang pria berambut hitam legam. Pria yang sama dengannya, hanya lebih muda.
Di belakang foto itu tertulis tangan:
Untuk Arman. Jika suatu hari kamu rindu pada yang tidak sempat kamu miliki.
Tanganku bergetar.
“Aku dan ibumu bertemu sebelum aku mencalonkan diri,” lanjutnya. “Hubungan kami tidak direstui keluargaku. Aku memilih ambisi. Ia memilih pergi.”
“Dan aku?” tanyaku.
“Ia tidak pernah memberitahuku tentangmu. Sampai dua tahun lalu.”
Dua tahun lalu. Berarti saat ibuku sakit keras.
Ia menatapku lama. “Aku ingin menebus semuanya.”
Menebus.
Seolah aku adalah utang yang bisa dilunasi.
---
Sejak hari itu, hidupku tak lagi sederhana.
Pengawal diam-diam mengikutiku. Nomor tak dikenal mengirim pesan agar aku “menjaga sikap”. Media sosialku mulai dipenuhi akun anonim yang menyebutku anak haram tanpa menyebut namaku.
Rahasia itu belum resmi terbuka. Tapi aroma skandal sudah mengambang di udara politik yang lembap.
Dan di tengah pusaran itu, aku bertemu Livia Mahendra.
Kami pertama kali bertabrakan—secara harfiah—di depan gedung fakultas. Berkas-berkasku berserakan. Ia membantu memungutnya sambil tersenyum cepat.
“Maaf, aku terlalu fokus baca ini,” katanya, menunjukkan buku kecil penuh coretan.
Namanya Livia. Mahasiswa jurnalistik. Penulis lepas untuk portal berita yang sedang naik daun karena kritik-kritiknya terhadap pemerintah.
Aku tidak tahu siapa ayahku ketika pertama kali menatap matanya yang jernih dan tajam seperti pagi setelah hujan.
Kami berteman karena diskusi. Tentang negara, tentang keadilan, tentang mahasiswa yang turun ke jalan dan pejabat yang turun dari nurani.
“Aku tidak benci presiden,” katanya suatu sore di kafe kampus. “Aku benci sistem yang membuatnya merasa tak tersentuh.”
Aku hanya tersenyum tipis.
Jika saja ia tahu.
---
Skandal itu akhirnya pecah.
Sebuah artikel investigasi anonim mengangkat dugaan hubungan lama presiden dengan seorang perempuan dari kalangan biasa. Foto lama ibuku muncul dengan wajah diburamkan. Netizen mulai berburu identitas.
Nama ibuku trending selama tiga hari.
Dan aku… mulai menerima panggilan dari nomor asing yang menawariku “perlindungan”.
Presiden memanggilku ke istana secara diam-diam.
“Ini akan menjadi badai,” katanya. “Aku bisa menempatkanmu di luar negeri sampai semuanya reda.”
“Aku bukan rahasia yang harus disembunyikan,” jawabku.
Ia menatapku dengan tatapan campur aduk antara bangga dan takut.
“Aku tidak ingin kamu hancur karena kesalahanku.”
Kesalahannya.
Aku ingin marah. Tapi yang muncul justru lelah.
---
Livia datang ke kontrakanku malam itu. Wajahnya tegang.
“Raka, aku sedang menulis sesuatu besar,” katanya tanpa basa-basi. “Tentang presiden.”
Dadaku seperti dipukul dari dalam.
“Kasus apa?”
“Ia menyalahgunakan kekuasaan untuk menutup skandal lama. Ada tekanan pada media. Ada intimidasi.”
Aku menelan ludah.
“Kalau itu benar, kamu akan tetap menulisnya?”
“Tentu. Tugas jurnalis bukan menjaga reputasi penguasa.”
Lalu ia menatapku. Lama. “Kamu kenal seseorang di lingkarannya, ya?”
Aku terdiam.
Di situlah cinta dan darah mulai saling berhadapan.
---
Aku jatuh cinta pada Livia secara perlahan. Seperti embun yang tak terasa sampai pagi tiba dan segalanya basah oleh kehadirannya.
Ia keras kepala. Idealistis. Percaya bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang.
Dan aku… adalah noda dalam cerita yang sedang ia tulis.
Suatu malam, ia menemukan foto lama di meja kerjaku. Foto yang sama dari amplop cokelat itu.
Wajahnya pucat.
“Ini… presiden.”
Aku mengangguk.
“Dan ini ibumu?”
Aku mengangguk lagi.
Lalu dunia terasa berhenti.
“Kamu…” suaranya tercekat. “Kamu anaknya?”
Aku ingin membohongi waktu. Menghapus detik itu. Tapi kenyataan sudah berdiri di antara kami seperti tembok kaca.
“Iya.”
Ia mundur selangkah.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Beberapa bulan.”
“Kamu tahu aku sedang menyelidikinya?”
“Iya.”
“Dan kamu diam?”
Aku menatapnya. “Aku takut kehilanganmu.”
Kalimat itu terdengar kecil di tengah gemuruh politik.
Air matanya jatuh, bukan karena benci—melainkan karena dikhianati oleh kenyataan.
“Aku mencintaimu, Raka. Tapi aku juga mencintai kebenaran.”
---
Berita itu akhirnya terbit.
Judulnya tajam. Investigatif. Mengguncang.
Nama presiden disebut. Skandal lama dibuka. Tekanan terhadap media diungkap. Dan di bagian akhir, terselip kalimat yang membuat napasku terhenti:
Jika benar ada anak yang selama ini disembunyikan, maka publik berhak tahu—bukan untuk menghukumnya, tapi untuk melihat sejauh mana seorang pemimpin berani jujur pada kesalahannya sendiri.
Ia tidak menyebut namaku.
Tapi semua orang mulai menebak.
Istana gempar. Oposisi bersorak. Pendukung marah.
Presiden akhirnya tampil dalam konferensi pers.
“Ada bagian dari masa lalu saya yang tidak saya banggakan,” katanya di depan kamera. “Saya telah menghubungi pihak terkait untuk memastikan semua hak dipenuhi. Namun saya juga memohon agar kehidupan pribadi tidak dijadikan alat politik.”
Ia tidak menyebutku sebagai anak.
Tapi ia tidak menyangkal.
Itu lebih dari yang kuharapkan.
---
Livia tidak datang lagi ke kontrakanku.
Aku melihatnya dari jauh saat ia dikerumuni wartawan. Namanya ikut terangkat bersama berita itu.
Aku tidak tahu apakah aku harus bangga atau hancur.
Suatu malam, ia mengirim pesan singkat:
Kita berada di dua sisi yang sama-sama kita yakini benar. Mungkin cinta memang tidak selalu cukup.
Aku membalas:
Aku tidak pernah ingin memilih antara kamu dan darahku. Tapi dunia memaksaku.
Ia tidak membalas lagi.
---
Beberapa bulan berlalu.
Presiden menyelesaikan masa jabatannya dengan reputasi yang retak tapi tidak runtuh. Skandal itu justru membuatnya tampak lebih manusiawi di mata sebagian orang.
Aku menolak tawarannya untuk tinggal di istana.
“Aku ingin hidup sebagai Raka,” kataku. “Bukan sebagai rahasiamu.”
Ia mengangguk pelan. “Aku akan tetap menjadi ayahmu, meski tidak di depan publik.”
Hubungan kami canggung, tapi jujur.
Dan tentang Livia—
Suatu sore di taman kota, aku melihatnya duduk sendirian, menatap anak-anak kecil bermain layang-layang.
Aku duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Kamu masih menulis?” tanyaku.
“Selalu,” jawabnya.
Kami terdiam, membiarkan angin sore membawa sisa-sisa luka.
“Aku tidak menyesal menulis itu,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Tapi aku menyesal kehilanganmu.”
Kalimat itu tidak dramatis. Tidak meledak-ledak. Justru karena sederhana, ia terasa lebih menyakitkan.
Aku tersenyum tipis. “Kita tidak kehilangan. Kita hanya… diuji oleh kenyataan.”
Ia menatapku. Mata yang dulu membuatku jatuh, kini membuatku belajar berdiri.
“Kalau suatu hari aku menulis tentang cinta yang tak selesai, bolehkah aku meminjam namamu?”
“Selama kamu tidak menulisnya sebagai tragedi,” jawabku.
Ia tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak lama.
Di langit, layang-layang seorang anak terbang tinggi, talinya ditarik angin yang tak terlihat.
Aku menyadari sesuatu.
Mungkin hidup memang seperti itu.
Kita tidak selalu bisa memilih siapa yang memegang talinya. Tapi kita bisa memilih, saat tali itu hampir putus, apakah kita akan jatuh… atau belajar terbang dengan cara lain.
Aku adalah anak haram sang presiden.
Dan aku jatuh cinta pada perempuan yang berani menjatuhkannya.
Cerita kami belum selesai.
Karena di negeri ini, politik dan cinta sama-sama tak pernah benar-benar usai.