Sebelum memulai ceritanya, Aku ingin bertanya pada kalian semua. Pernah kah kalian merasakan perasaan yang tidak asing ketika melihat seseorang yang bahkan kalian sendiri tidak mengenalnya? Entah saat kalian tidak sengaja saling bertatapan mata atau bahkan sentuhan secara tidak sengaja, Memberikan kesan bahwa kalian pernah bersama-sama di kehidupan sebelumnya walau Ingatan itu agak samar untuk kalian ingat kembali.
Kalau kalian pernah merasakan hal tersebut komentar di bawah yah dan ceritakan pada siapa, di mana dan ingatan atau perasaan apa yang kalian rasakan ( ^_^) aku menunggu cerita kalian (≧▽≦).
SENTUHAN YANG KU RINDUKAN
Namaku Via, saat ini aku berumur 26 tahun. Aku seorang karyawan kantoran yang kesehariannya hanya untuk kerja kerja dan kerja, kebanyakan wanita di seusai ku sudah banyak yang menikah dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi tidak denganku, bahkan aku tidak pernah berpacaran, dekat iya tapi tidak sampai ke pacaran atau ke jenjang yang lebih serius.
Akhirnya jam pulang kerja, Aku merapihkan meja kerja ku dan memasukan semua barang-barangku kadalam tas kecil yang sering ku gunakan. Isinya tidak banyak, hanya ada ponsel dan uang karena aku selalu pulang menggunakan angkutan umum atau yang biasa di sebut angkot.
Pada tahun 2010 angkutan umum masih banyak di gunakan oleh masyarakat untuk berpergian, Salah satunya adalah aku, entah saat pergi kantor dan pulang kantor aku pasti selalu menggunakan angkutan umum karena aman dari panas dan hujan dengan tarif yang murah meriah.
Saat naik di angkot entah kenapa orang-orang selalu bergeser ke depan dan membiarkan ku duduk di bagian belakang, aku merasa ini sudah menjadi bagian dari tradisi ketika naik angkot. Aku duduk di samping seorang pemuda, hanya dia yang tidak bergeser ke depan seperti ibu-ibu yang lain. Mungkin karena dia seorang pemuda, fikir ku saat itu. Entah mengapa aku merasa angkot ini sangat special dari yang lain, mungkin karena dia memberikan kaca sebagai penghalang di antara kami dan supir angkot di belakang kursinya.
Kalau di lihat-lihat Supri angkot ini agak ugal-ugalan ketika membawa mobil, terkadang juga ngerem mendadak yang membuat aku kadang terpaksa memegang pundak ibu-ibu di hadapanku atau pemuda di belakang yang kadang menahan tubuh ku ketika sih supir ngeggas atau melambung kendaraan lain.
" Maafkan aku terus-terusan menghimpit mu, aku sungguh tidak bisa menahan keseimbangan tubuh ku " jawab ku.
" Tidak apa-apa " jawabnya singkat.
Awalnya kami hanya duduk menyamping, ada juga beberapa orang yang sudah turun dari angkot tapi ada juga yang naik dan duduk di tempat yang sama seperti orang baru turun tadi. Entah kenapa supir angkot masih mengambil penumpang padahal kami dalam sudah terdesak-desakan, aku terpaksa duduk membelakangi pemuda di belakang ku agar penumpang itu mendapat sedikit tempat duduk.
Senja sudah mulai menghilang di gantikan oleh langit malam, di dalam mobil angkot sangat gelap dan tujuan ku masih sangat jauh di tambah dengan macet di daerah tertentu. Saat melihat dari kaca angkot tak sengaja aku melihat bayangan pemuda di belakang ku yang membuka satu kancing bajunya sambil mengipas-ngipas dengan buku yang ada di tangannya, aku sedikit membuka jendela kaca agar ada udara yang masuk.
Saat berhasil melewati macet yang begitu panjang, supir angkot mulai menancapkan gas mobilnya kembali tanpa ancang-ancang. Aku yang terdorong ke belakang di tangkap oleh pemuda itu, dia dengan sigap memegang kedua pinggang ku namun kepala ku tidak sengaja mengenai hidungnya. Karena saat itu sudah malam dan gelap tidak ada yang menyadarinya, aku langsung berbalik ke arahnya dan memastikan keadaannya.
" Aku tidak apa-apa, maaf tadi memegang pinggang mu karena kalau tidak seperti itu kamu bisa terjatuh" ucapnya.
"Terima kasih karena sudah mau menolong ku" jawab ku tersenyum padanya.
Aku mencari sesuatu yang biasa aku pegang agar tidak terus menghimpit orang di belakang ku namun tidak menemukan apapun, aku terus melihat gerak gerik supir yg ada di hadapanku.
( Sepertinya di akan melambung kendaraan yang ada di hadapannya, fikir ku)
Ternyata yang aku fikiran itu benar, pemuda di belakang ku lagi-lagi memegangi ku dengan erat. Aku terus mengumpat dalam hati karena merasa kesal akan supir angkot ini, entah kenapa aku merasa nyaman dan tidak risih saat pemuda di belakang ku menjaga ku agar tidak terjatuh. Tangannya bahkan tidak melepaskan pinggang ku, untung saja itu gelap hingga tidak ada yang menyadarinya.
"Genggam tangan ku sebagai pegangan mu" bisiknya.
Entah kenapa saat itu aku langsung mengiyakan perkataannya, padahal aku yang biasanya sangat tidak nyaman ketika tidak sengaja bersentuhan tangan dengan teman kerja atau saat memberikan uang pada supir angkot. Tangannya terasa halus dan hangat, tangan yang seperti aku rindukan tapi aku tidak ingat tangan siapa yang aku rindukan itu. Seumur hidup aku tidak pernah memegang tangan lelaki manapun kecuali tangan almarhum ayah ku, namun tangan almarhum ayahku tidak terasa seperti ini.
Ingatan yang samar muncul dalam fikiran ku, seperti aku pernah merasakan ini di kehidupan sebelumnya, tapi apakah benar kehidupan sebelumnya itu beneran ada? Rasanya sangat nyaman dan tidak asing buat ku, ku beranikan diriku menatap wajah pemuda yang berada di belakang ku sadari tadi. Di sinar bulan dan lampu jalanan aku perlahan melihat sosok lelaki di belakang ku, badannya yang sedikit berisi dengan bahu yang lebar dan menggunakan kacamata. Kalau di lihat-lihat dia juga lumayan tinggi, wajahnya yang tegas dan gagah dan rambutnya yang rapih membuat ku tidak berhenti menatapnya.
Kami saling bertatapan cukup lama, mungkin dia juga melihat ku seperti yang aku lakukan saat melihatnya. Mungkin dia bertanya-tanya dalam fikirannya kenapa aku menatapnya terus menerus sambil terdiam, satu persatu penumpang mulai turun membuat keadaan dalam angkot mulai melonggar.
( Oh iya, sudah sejauh ini kenapa pemuda ini tidak turun-turun juga yah? Fikir ku.)
Akhirnya aku sudah hampir sampai di tujuan, Aku sempat berfikir apakah aku harus berpamitan dengannya atau langsung turun saja dari angkot. Beberapa saat aku berfikir hingga akhirnya aku sampai juga, aku mulai mengatakan kiri. ( Catatan: di daerah ku kata kiri itu artinya stop, aku juga tidak tau kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena sering menggunakan kata kiri ini, jadi tiap orang yang naik angkot dan mendengar mulai mengikutinya hingga jadi kebiasaan ketika ingin berhenti di tempat tujuan).
"Pak kiri" kata kami berdua kompak.
Aku langsung melihatnya yang ternyata sudah siap untuk turun, dia melihat ku seperti mengatakan( silahkan turun di luan). Siapa sangka ternyata kami satu tujuan, kami berdua terdiam beberapa saat sampai angkot itu pergi. Kami saling melihat satu sama lain;
" Mau pulang bersama? Sepertinya kita satu tujuan" tawarnya.
" Iya sepertinya kita satu tujuan" jawabku.
Kami mulai jalan bersama, beberapa saat kami saling diam tanpa ada pembicaraan apapun. Karena rasa penasaran yang sudah menumpuk di dalam fikiran ku, membuat ku tidak bisa menahan diri lagi;
" Kamu tinggal di blok berapa? Kita sudah melewati blok A,B dan C" tanya ku.
" Aku di blok O, masih agak jauh jalannya. Kamu di blok berapa?" Tanya nya.
" Aku di blok M No 21, siapa sangka kita tetangga hanya beda satu blok aja" kataku sambil tersenyum.
" Kamu kerja juga? Pulang jam segini?" Tanya ku.
" Aku masih kuliah, tapi rencana mau cari kerja sampingan juga" jawabnya.
" Kamu?" Dia menatap ku terus menerus.
" Aku kerja, biasa pulang jam segini tapi kadang juga tidak selarut ini kalau jalannya lancar tanpa macet" jawabku.
Tak terasa kami sudah sampai di blok M;
"Sudah sampai di blok M yah, tidak terasa karena jalannya berdua" kataku.
" Mau aku antar sampai depan rumah mu? Kan harus melewati beberapa rumah lagi" tawarnya.
" Tidak apa-apa, kamu juga pasti lelah, lagian rumah ku sudah dekat" jawabku.
" Baiklah, sampai ketemu lagi" jawabnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku melambaikan tangan padanya dan melihatnya berjalan pulang, karena merasa lelah aku pun mulai berjalan pulang melewati beberapa rumah hingga sampai di rumah ku. Aku terus melihat tangan ku yang tidak berhenti menggenggam tangannya saat di angkot atau saat berjalan pulang, Aku sempat bingung dengan perasaan nyaman yang aku rasakan padanya.
( Aku harap bisa bertemu lagi dengannya besok, fikir ku senang)
Beberapa hari berlalu kami tidak pernah bertemu lagi, padahal kami hanya beda satu blok saja tapi rasanya agak gengsi kalau aku berjalan-jalan di blok O hanya untuk mencarinya apa lagi dia lupa memberi tau nomor rumahnya bahkan namanya.
Hari-hari ku lewati tanpa bertemu dengan nya, hingga seminggu kemudian di hari Senin saat jam pulang kerja di angkot yang sama. Sebenarnya aku tidak ingin naik angkot itu lagi apa lagi isinya sudah full tapi entah kenapa rasanya aku ingin naik angkot itu hanya itu mengingat seseorang yang pernah ku temui, seperti biasa ibu-ibu dalam angkot memberikan aku tempat duduk paling belakang, akan tetapi pandangan mataku bertemu dengan seseorang pemuda yang tidak asing buat ku.
Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya,
"Deg...Deg..."
( Ohhh jantung ku tenang lah, senyum bahagia terus terpancar dari wajah ku).
" Kita bertemu lagi" ucapnya.
" Iya, kamu apa kabar?" Tanya ku berbasa-basi.
"Aku baik, apa aku boleh meminta Facebook mu?" Ucapnya sambil memberikan ponselnya padaku.
Aku mengambil ponselnya dan memberikan nama Facebook ku, sekalian aku mengirim pesan lewat messenger. Saat sedang mengetik lagi-lagi supir angkot mengerem mendadak membuat aku hampir menabrak ibu-ibu di samping ku, pemuda itu dengan sigap menangkap ku dan memeluk ku. Dengan kesadaran penuh tangan ku memegang dada bidangnya, ibu-ibu yang merasa kaget terus-terusan marah pada supir angkot yang ada di depan namun tidak di hiraukan orang sih supir.
( Sepertinya sekarang aku tau fungsi kaca penghalang itu di pasang, fikirku)
" Hemm" ( seperti kamu nyaman berada di pelukan ku , tatapan matanya mengatakan hal seperti itu). Aku langsung melepaskan diri darinya dan berikan ponselnya.
Aku melihat kebawah sambil menutup mataku untuk mengurangi sakit kepala yang ku rasakan ( supir sia***, baru kali ini aku merasa sakit kepala saat naik angkot, Gumam ku dalam hati).
" Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya dengan sedikit khawatir.
" Jujur aku agak pusing dan mual" ucap ku.
Ibu yang ada di hadapanku memberikan freshcare miliknya padaku;
" Oleskan di kepala mu" ucap ibu itu dengan nada lembut.
Aku mengoleskan freshcare di kepala ku dan belakang leherku, aku juga mengoleskan nya di tisu untuk aku hirup. Senja mulai menghilang di gantikan malam;
" Bersandar saja di pundak ku untuk meredakan sakit kepala mu," tawarnya.
" Kalian ini saling kenal?" Tanya ibu itu.
" Kami tetangga, kebetulan arah rumah kami sama hanya beda satu blok aja" jawab pemuda itu.
" Oh, syukurlah kalau kalian searah, kalau begitu ibu turun di luan" pamitnya.
" Terima kasih" ucap ku.
Ibu itu hanya tersenyum dan turun dari angkot, Aku sedari tadi bersandar pada pemuda di samping ku terus merasa terguncang akan keugalan supir angkot ( aku bersumpah ini terkahir kalinya aku naik angkot ini, gumam ku dalam hati).
( Ehhh, apa ini? Kenapa rasanya seperti ada yang memegang pinggang ku, Gumam ku dalam hati). Aku memberanikan diriku untuk menggenggam tangannya agar melepaskan pinggang ku ( aku baru sadar ternyata tangannya sangat besar, fikirku ) Aku terus memainkan jari tangannya. ( Tunggu dulu, bukan kah ini perbuatan mes**. walaupun gelap dan tidak ada yang nyadarinya tapi ini tidak benar, teriak ku dalam hati).
Karena kami tidak bisa berbicara dengan leluasa di karena kan banyak orang, sih pemuda di samping ku mengambil ponselnya dan mengirim pesan lewat messenger dan memperlihatkannya padaku.
" Bisakah kita ngobrol lewat pesan massager saja" pesanannya. Aku mengambil ponselku dan kami saling membalas pesan, isi pesannya seperti biasa menanyakan nama, kesukaan, hobi dan lain-lain seperti orang pdkt pada umumnya. ( Jadi namanya Nolan, usianya 20 tahun?)
" Serius kamu berusia 20 tahun?" Chat ku.
" Apa aku perlu memperhatikan KTP ku padamu" Balas Nolan.
" Apa kamu serius berusia 26 tahun?" Balas Nolan menirukan chat milik ku.
" Haruskah aku menunjukkan KTP ku juga? Balasku.
" Tapi kamu tidak terlihat seperti usia 26 tahun, aku kira awalnya kita seumuran" balasnya.
" Apa kamu sedang menggoda ku? Balasku.
" Apa aku terlihat seperti pria penggoda? Tanya Nolan.
" Menurut mu yang kita lakukan sekarang apa? Kamu bahkan memeluk ku dan memegang pinggang ku" balasku.
" Itu karena aku menjaga mu, kalau aku tidak menarik mu tadi mungkin kamu akan terhempas bersama ponsel ku" balas Nolan.
" Terima kasih sudah menjaga ku Nolan" balasku.
" Jadi aku harus memanggil mu apa? Kakak?via atau sayang?" Balas Nolan.
"Deg..Deg...
( Ohh jantung ku tenanglah, kamu terdengar dengan jelas, gumam ku dalam hati).
"Terserah kamu saja" balasku.
" Berarti aku panggil sayang saja yah" balas Nolan.
" Jujur aku tidak habis fikir" jawabku.
" Tadi katanya terserah" balas Nolan.
" Iya sayang" balasku.
"Deg...Deg..."
Seketika aku melihat Nolan yang sudah melihat ke luar jendela kaca, entah kenapa aku merasa puas bisa mengusilinya seperti ini.
Akhirnya kami tiba di tujuan, aku turun dari angkot dengan sedikit sempoyongan. Nolan membayar biyaya angkot untuk dua orang sambil tetap menggenggam tangan ku.
" Apa kamu bisa jalan?" Tanya Nolan.
" Sepertinya aku masih bisa jalan" jawabku.
" Apa mau aku gendong? Aku akan menggendong mu di belakang" tawar Nolan.
" Jangan, tidak baik di lihat tetangga nanti " jawabku malu.
" Lagi pula sudah malam, mungkin tetangga kita sudah pada tidur" ucap Nolan.
" Mending kita jalan berdua saja, aku tidak apa-apa " ucap ku.
" Baiklah" ucap Nolan.
Nolan menggenggam tangan ku ketika tidak ada orang-orang, namun melepaskan tangan ku ketika melihat sekumpulan orang masih berkumpul atau sekedar cerita di depan rumah mereka. Sesekali Nolan jalan lebih dulu dan menunggu ku di ujung blok dan menggenggam tangan ku lagi;
" Apa kita sudah pacaran sekarang?" Tanya Nolan memastikan hubungan kami.
" Menurut kamu Kita bergandengan seperti ini bukan pacaran?" Jawabku.
" Via apa kamu mau menjadi pacar ku" katanya Nolan yang sudah berdiri di hadapanku.
" Iya aku mau" jawabku.
Kami pun melanjutkan perjalanan;
" Aku mau jujur sesuatu" ucap Nolan.
" Sebenarnya aku punya motor, kebetulan saat pertama kali bertemu denganmu motor ku sedang di bengkel" ucap Nolan.
" Kenapa kamu naik angkot? Apa motor mu rusak lagi?" Tanya ku.
" Tidak rusak, cuma aku naik angkot karena ingin bertemu denganmu lagi. Aku beberapa hari yang lalu selalu lalu datang ke depan rumah mu cuma aku tidak melihat mu" ucap Nolan.
" Beberapa hari lalu yah, aku memang sering pulang agak larut karena kerjaan" jawabku.
" Tadi saja aku menunggu mu dari jam 4 sore, aku kira kita tidak akan bertemu lagi tapi pas aku baru duduk di dalam angkot aku melihat mu baru masuk juga" ucap Nolan.
" Kamu menunggu ku?" Ucap ku.
" Kalau saat itu ada yang duduk di samping ku akan aku usir demi kamu" ucap Nolan.
Aku tertawa dan tersenyum mendengar perkataan Nolan, kami terus bergandengan tangan hingga sampai di depan blok M.
" Rasanya aku tidak ingin berpisah " ucap Nolan.
" Aku juga tidak ingin berpisah " balasku.
" Apakah aku harus menginap di rumah mu?" Ucap Nolan.
" Kamu serius bilang gitu?" Ucap ku.
"Aku serius kalau kamu mengizinkan " jawabnya.
" Manggilnya masih aku kamu yah? Bukan kah tadi kita sudah sepakat menganggil sayang " ucap ku malu-malu.
" Jadi bagaimana? Apa sayang mengizinkan aku untuk menginap?" Tanya Nolan.
" Untuk sekarang jangan dulu" jawab ku.
Nolan langsung memelukku dan mencium pipi ku.
" Apapun demi kesayangan ku, jangan lupa chat aku yah sayang" ucap Nolan.
Kamipun berpisah, aku terus melihat ke arah Nolan. Melihat Nolan yang melambaikan tangan padaku dan membentuk hati menggunakan kedua tangannya, akupun melakukan hal yang sama dan akhirnya kami berjalan ke arah rumah masing-masing.