Sore itu, langit Jakarta sewarna memar. Ungu kehitaman, seolah semesta pun sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku duduk di kursi kayu di teras rumah yang dulu penuh dengan aroma melati dan tawa anak-anak. Kini, rumah ini hanya menyisakan aroma debu dan kenangan yang membusuk.
Laki-laki itu, suamiku—ah, maksudku mantan suamiku, Mas Hanif—berdiri di depan pagar. Di sampingnya, seorang perempuan muda dengan riasan tebal dan pakaian yang kekurangan bahan kain bergelayut manja di lengannya. Perempuan itu bernama Tiara. Sosok yang menurut dunia adalah "pemenang", sosok yang berhasil merebut takhta di hati Hanif, setelah sepuluh tahun aku mengabdi dengan dahi yang selalu sujud mendoakannya.
"Aku cuma mau ambil sisa barang-ku, Sarah," ucap Hanif dingin. Matanya tidak lagi menatapku sebagai tempat pulang, tapi sebagai kerikil yang mengganggu sepatunya.
Tiara tersenyum sinis. Sebuah senyum yang seolah berkata: Lihat, aku mendapatkan apa yang kau miliki. Aku lebih muda, lebih cantik, dan aku pemenangnya.
Aku hanya diam. Dalam hatiku, aku berbisik pada Tuhan, "Ya Allah, jika sabar ini adalah ujian, maka kuatkanlah. Namun jika ini adalah kedzaliman, maka biarlah keadilan-Mu yang bicara."
Bulan-bulan berganti. Aku mendengar kabar mereka melalui desas-desus tetangga dan unggahan media sosial yang tak sengaja lewat. Mereka menikah dengan megah. Hanif menghabiskan tabungan yang sedianya untuk pendidikan anak-anak kami demi menggelar pesta di hotel bintang lima.
Tiara, sang "pelakor" yang dipuja Hanif, sering mengunggah foto-foto kemesraan. Caption-nya selalu menohok: "Jodoh takkan tertukar," atau "Kebahagiaan ini layak diperjuangkan meski banyak yang menjatuhkan."
Betapa sombongnya manusia yang merasa mendapat hidayah di atas pengkhianatan. Mereka lupa bahwa doa orang yang terdzalimi tidak memiliki hijab dengan Sang Pencipta. Mereka lupa bahwa setiap butir air mata yang jatuh dari mataku adalah saksi yang akan menuntut di pengadilan langit.
Hanif mulai melupakan kewajibannya pada anak-anak. Alasan klasiknya: "Ekonomi lagi sulit." Padahal, aku tahu dia baru saja membelikan Tiara mobil baru. Hanif telah berubah menjadi laki-laki yang kehilangan nalar dan nurani, disihir oleh pesona semu yang ia sebut cinta sejati.
Namun, Tuhan tidak pernah tidur. Keadilan-Nya seringkali datang dengan cara yang paling tidak terduga, paling lambat bagi mereka yang tak sabar, namun paling tepat pada waktunya.
Satu tahun setelah pernikahan itu, badai mulai datang. Perusahaan tempat Hanif bekerja melakukan perampingan besar-besaran karena kasus korupsi yang melibatkan atasannya. Hanif ikut terseret. Ia kehilangan pekerjaan, nama baiknya hancur, dan seluruh asetnya disita negara karena terindikasi pencucian uang.
Di titik inilah, wajah asli sang "pemenang" mulai terlihat.
Tiara, yang terbiasa hidup dengan uang bulanan puluhan juta, mulai merasa sesak. Ia yang terbiasa dengan salon dan barang mewah, mulai mengeluh saat Hanif hanya bisa memberinya makan nasi bungkus. Cinta yang katanya "sejati" itu ternyata hanya bertahan selama rekening masih berisi.
Puncaknya adalah malam itu. Hanif pulang ke kontrakan sempit mereka dengan tubuh letih setelah seharian mencari kerja serabutan. Ia mendapati Tiara sedang berkemas.
"Kamu mau ke mana?" tanya Hanif gemetar.
"Aku nggak bisa hidup begini, Mas! Kamu itu sekarang cuma laki-laki pecundang! Aku masih muda, aku nggak mau tua di tempat kumuh kayak gini!" teriak Tiara tanpa belas kasihan.
Hanif bersimpuh di kaki perempuan itu. Laki-laki yang dulu dengan gagahnya menceraikanku, kini bersujud di kaki perempuan yang hanya mencintai hartanya. "Jangan tinggalkan aku, Tiara. Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Aku meninggalkan istriku, anak-anakku, demi kamu!"
Tiara tertawa, tawa yang menyayat dan sadis. "Itu bodohnya kamu, Mas. Kalau kamu bisa meninggalkan istri yang tulus demi aku, apa yang membuatmu berpikir aku nggak bisa meninggalkanmu demi laki-laki yang lebih kaya?"
Tiara melangkah pergi, meninggalkan Hanif yang meraung di lantai semen yang dingin.
Keadilan belum selesai. Tiara pergi dengan laki-laki lain, seorang pengusaha tua yang menjanjikannya kemewahan kembali. Namun, di tengah perjalanan menuju pelariannya, sebuah kecelakaan beruntun terjadi di tol.
Mobil mewah yang ditumpangi Tiara ringsek. Supirnya tewas di tempat. Tiara selamat, tapi dengan harga yang sangat mahal. Wajah yang selama ini ia banggakan, yang ia gunakan untuk memikat suami orang, hancur terkena pecahan kaca dan terbakar mesin yang meledak.
Saat ia terbangun di rumah sakit, tidak ada pengusaha kaya yang menunggunya. Tidak ada Hanif. Tidak ada siapapun. Ia menatap cermin dan berteriak histeris melihat wajahnya yang kini menyerupai monster. Kecantikannya, satu-satunya senjatanya, diambil paksa oleh takdir.
Sementara itu, Hanif? Ia menjadi gelandangan mental. Ia mencoba kembali ke rumahku, mengetuk pintu dengan wajah memelas dan air mata buaya.
"Sarah, maafkan aku... aku khilaf. Aku ingin kembali pada kalian," ucapnya lirih di depan pintu yang kini telah kuganti catnya menjadi warna putih bersih.
Aku menatapnya dari balik jendela. Tidak ada lagi benci, hanya ada rasa iba yang mendalam. "Mas Hanif, pintu ini sudah lama tertutup. Bukan karena aku dendam, tapi karena tidak ada lagi ruang untuk orang asing di rumah ini. Pergilah, temui Tuhanmu, minta maaflah pada-Nya."
Akhir cerita ini bukanlah tentang aku yang menikah lagi dengan pangeran kaya. Bukan. Akhir cerita ini adalah tentang sunyi.
Tiara menghabiskan sisa hidupnya di panti sosial. Wajahnya yang cacat membuatnya dikucilkan. Ia sering terlihat duduk di pojok ruangan, meracik imajinasi bahwa ia masih seorang selebgram terkenal, sambil terus-menerus memoles wajahnya yang hancur dengan gincu murah yang ia curi dari penghuni lain. Ia gila dalam bayang-bayang kecantikannya yang hilang.
Hanif? Dia ditemukan meninggal dalam kesendirian di sebuah mushola pasar. Tak ada yang mengenalnya sebagai mantan manajer sukses. Ia meninggal dengan memegang foto anak-anak kami yang sudah lusuh.
Dunia mungkin melihat ini sebagai tragedi. Tapi bagiku, ini adalah pengingat yang sadis: bahwa setiap tawa yang dibangun di atas air mata orang lain, akan berakhir dengan isak tangis yang takkan pernah menemukan ujungnya.
Mereka tidak pernah tobat hingga akhir hayat. Hanif mati dalam penyesalan yang terlambat, dan Tiara mati dalam kegilaan yang memuja diri sendiri. Itulah harga dari sebuah pengkhianatan. Mahal, berdarah, dan tak menyisakan apa-apa selain debu.