Malam itu, kota metropolitan Jakarta seakan tidak pernah tidur. Setidaknya bagi penghuni griya tawang di lantai 54 itu, tidur adalah konsep bagi orang-orang medioker yang harus mengejar kereta pagi. Di sini, di balik dinding kedap suara yang dilapisi marmer Italia, waktu hanyalah angka di layar iPhone 17 Pro Max yang retak.
Ada Caca Blue Ocean, influencer kecantikan dengan 10 juta pengikut yang wajahnya ada di setiap papan iklan skincare. Ada Rio Denindro, aktor muda yang baru saja memenangkan penghargaan tapi lebih sering memenangkan kompetisi minum tequila. Ada Vane Malechia, si "Rich Girl" yang kontennya hanya seputar memamerkan koleksi tas seharga rumah subsidi. Dan tiga orang lagi yang merupakan pemeran pendukung yang siap jadi babu : Gian, Manda dan Leo.
Mereka adalah geng "The Royals". Begitu sebutan para pemuja di kolom komentar Instagram. Mereka adalah standar kebahagiaan bagi jutaan remaja yang rela tidak makan demi membeli lipstik yang mereka promosikan. Tapi di sini, tanpa ring light, muka mereka terlihat kusam. Ada lingkaran hitam di bawah mata yang tak bisa ditutup oleh concealer termahal sekalipun.
Musik techno berdentum, menggetarkan dada hingga ke tulang rusuk. Botol-botol vodka dan champagne berserakan seperti sampah plastik di pinggir selokan. Di tengah meja kaca, benda itu tergeletak: puluhan tabung kecil perak berisi nitrous oxide. Orang awam menyebutnya laughing gas, mereka menyebutnya "Whip-Pink" karena sensasi melayang yang singkat namun menagih.
"Lagi, Ca? Lo udah ngabisin lima hari ini," suara Rio hampir tenggelam oleh dentum bas. Ia sendiri memegang gelas kristal berisi cairan amber yang entah sudah keberapa kali diisi ulang.
Caca tertawa, tawa yang kering dan hampa. "Dunia ini terlalu berisik, Yo. Gue cuma butuh sepuluh detik buat nggak denger apa-apa. Lagian, bokap gue baru kirim transferan lagi. Dia ngerasa bersalah karena bulan ini nggak pulang dari Singapura. Money is the best apologize, right?"
Caca meraih satu tabung, memasukkannya ke dalam cracker, lalu menghirup gas itu dalam satu tarikan napas panjang. Kepalanya terkulai ke belakang. Matanya mendelik ke atas. Selama sepuluh detik, Caca merasa dia adalah tuhan. Dia melayang di atas kemacetan Jakarta, di atas tagihan pajak yang menumpuk, di atas komentar kebencian netizen yang menyebutnya "artis tanpa karya".
Kehampaan yang Tak Terbeli
Orang tua mereka? Mereka adalah sosok-sosok gaib yang hadir dalam bentuk mutasi rekening. Ayah Vane adalah pejabat yang terlalu sibuk mencitrakan diri sebagai pelayan rakyat untuk sekadar tahu anak perempuannya sudah tiga hari tidak pulang. Ibu Rio adalah sosialita yang menganggap membelikan mobil sport adalah bentuk kasih sayang tertinggi.
Mereka adalah anak-anak yang dibesarkan oleh algoritma. Mereka lapar, tapi bukan lapar akan makanan. Mereka lapar akan pengakuan. Dan ketika pengakuan itu terasa hambar, mereka lari ke botol. Ketika botol mulai membosankan, mereka lari ke pil. Dan malam ini, mereka berlari ke gas perak itu.
"Siapa yang mau live?" Vane berteriak, memegang tongsisnya. Wajahnya yang tadi terlihat lelah tiba-tiba berubah drastis saat layar ponsel menyala. Senyum palsu yang sempurna langsung terpasang. Filter memperhalus pori-porinya.
"Hai guys! Kita lagi private party nih! Vibe-nya pecah banget!" Vane berbicara ke kamera dengan nada ceria yang menjijikkan. Ribuan orang menonton, memberikan love, memuji kecantikan mereka, mengidamkan hidup mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik layar itu, bau muntah dan asap rokok memenuhi ruangan.
Leo, Manda dan Gian nantinya yang akan membereskan sisa-sisa yang ada.
Pukul tiga pagi. Atmosfer ruangan semakin berat. Caca kembali meraih tabung "Whip-Pink". Kali ini dia melakukannya sambil tertawa histeris bersama Rio.
"Bayangin kalo kita mati sekarang," ucap Caca pelan, suaranya parau. "Mungkin engagement Instagram kita bakal pecah rekor. Bakal banyak yang bikin video tribut pakai lagu sedih."
"Jangan ngomong gitu, Ca. Lo belum bayar cicilan apartemen ini kan?" Rio terbahak, lalu dia sendiri menghirup gas dari balon besar.
Caca menarik napas dalam-dalam dari tabungnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tiba-tiba, tawa Caca berhenti. Matanya yang tadi sayu mendadak melotot. Tubuhnya menegang, lalu mulai bergetar hebat. Dia seperti sedang menari, tapi tanpa musik. Seizure. Kejang-kejang.
"Woi, Ca! Cool banget akting lo!" Vane tertawa, masih sibuk membalas komentar di live streaming-nya. "Lihat deh, Caca lagi akting jadi zombie! Keren banget kan?"
Para penonton di live mengirimkan emotikon tertawa. Mereka pikir itu bagian dari pertunjukan. Rio pun hanya menonton sambil memegang kepalanya yang pening karena alkohol.
Caca jatuh dari sofa. Kepalanya terbentur meja kaca. Suara benturannya cukup keras, tapi musik techno itu lebih keras. Mulut Caca mulai mengeluarkan busa putih. Tangannya menggapai-gapai udara, seolah berusaha menangkap oksigen yang sudah lama ia khianati.
Sepuluh menit berlalu. Caca berhenti bergerak. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah lampu gantung kristal yang harganya setara dengan biaya sekolah anak yatim selama sepuluh tahun.
"Ca? Udahan kali becandanya," Rio menendang kaki Caca pelan. Dingin.
Rio mengerutkan kening. Dia berjongkok, menyentuh leher Caca. Tidak ada denyut. Dia mendekatkan telinga ke dada Caca. Tidak ada degup.
"Eh... Vane... Caca nggak napas," bisik Rio. Suaranya gemetar, tapi lebih karena ketakutan akan skandal daripada kesedihan.
Vane menurunkan ponselnya. "Hah? Jangan bercanda. Bentar lagi gue mau review tas baru nih."
Vane melihat ke bawah. Wajah Caca sudah membiru. Di saat itulah, kegelapan yang sesungguhnya datang.
BRAAAKKK!
Pintu apartemen didobrak. Bukan oleh malaikat pencabut nyawa—dia sudah lebih dulu datang—tapi oleh polisi dari satuan narkoba. Kilat lampu senter membelah kegelapan.
"JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!"
Rio langsung histeris. Vane mencoba menyembunyikan ponselnya di bawah bantal sofa. Polisi menemukan semuanya. Tabung gas berserakan, sisa-sisa bubuk putih di atas piring, dan tentu saja, tubuh kaku Caca.
"Ada yang tewas!" teriak salah satu petugas.
Di tengah kekacauan itu, Rio dan Vane digiring keluar dengan tangan terborgol. Pun dengan Gian, Manda,dan Leo yang berusaha kabur tapi akhirnya tertangkap basah! Kamera wartawan yang entah bagaimana sudah tahu langsung menyerbu di lobi. Cahaya flash kamera memburu mereka. Inilah puncak popularitas yang mereka inginkan, bukan? Menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi.
Tapi tahukah kalian apa yang terjadi di kantor polisi?
Dua jam setelah penangkapan, pengacara-pengacara mahal dengan tas kulit buaya sudah berdatangan. Orang tua mereka? Tidak ada yang datang. Hanya asisten dan pengacara.
"Tenang saja, Vane. Ayahmu sudah bicara dengan atasanku," bisik salah satu pengacara. "Kita akan bilang ini overdosis karena kesalahan sendiri. Kalian cuma korban. Rehabilitasi dua bulan, lalu kalian bisa liburan ke Bali."
Rio menangis, tapi bukan karena menyesal Caca mati. Dia menangis karena kontrak film horornya kemungkinan besar akan dibatalkan.
"Caca gimana?" tanya Rio pelan.
"Urusan dia sudah selesai. Keluarganya sudah sepakat untuk tidak melakukan autopsi agar nama baik mereka tetap terjaga. Dia akan dikubur besok pagi secara tertutup," jawab si pengacara dingin. "Tiga teman kalian : Gian, Manda dan Leo sepertinya harus kita jadikan tumbal buat kasus ini!". Rio dan Vane mengangguk-angguk.
Kematian Caca bagi mereka bukan tentang kehilangan nyawa, tapi tentang bagaimana menjaga agar harga saham dan jumlah followers tidak terjun bebas.
Tiga bulan berlalu.
Jakarta tetap panas dan penuh polusi. Di sebuah kelab malam eksklusif di kawasan SCBD, sebuah meja VIP telah dipesan atas nama "Rio & Vane".
Mereka kembali.
Vane mengunggah foto di Instagram. Foto dirinya mengenakan gaun hitam elegan dengan caption: "Healing is a journey. Terkadang kita harus jatuh untuk tahu siapa teman sejati kita. Rest in love, Caca."
Unggahan itu mendapat satu juta likes dalam satu jam. Komentar penuh simpati membanjir. "Strong queen!" "We miss you, Vane!" "Caca pasti bangga lihat kamu bangkit!"
Di atas meja mereka, tidak ada lagi "Whip-Pink". Polisi sedang gencar melakukan razia benda itu. Sebagai gantinya, ada botol-botol kecil berisi cairan baru yang mereka sebut "Magic Drop".
"Lebih nendang dari yang kemarin," bisik Rio sambil meneteskan cairan itu ke dalam minumannya. Matanya merah, lebih merah dari sebelumnya.
Vane tertawa. Tawa yang sama. Tawa yang hampa. "Hidup ini cuma sekali, Yo. Kalau nggak dinikmatin sekarang, kapan lagi? Lagian, bokap gue baru beli apartemen baru di London buat gue 'menenangkan diri' bulan depan."
Mereka mengangkat gelas. Berdentang. Di luar, nisan Caca mulai berlumut, jarang dikunjungi, bahkan oleh mereka yang menyebut diri sebagai sahabat sehidup semati.
Dunia terus berputar. Manusia-manusia ini tidak pernah belajar. Karena bagi mereka, neraka bukanlah tempat di akhirat, melainkan ketika mereka tidak lagi menjadi pusat perhatian. Mereka akan terus berpesta, terus mabuk, terus menghancurkan diri, sampai suatu saat nanti, giliran salah satu dari mereka yang menjadi "akting zombie" di lantai dansa, sementara yang lain sibuk mencari sudut foto terbaik untuk konten duka cita.
Karena di sirkel ini, pertobatan adalah hal yang lebih tabu daripada kematian itu sendiri.